C. Al-Mardiyyah
II. ISLAM AWAL DAN PERIODE KEHIDUPAN SYEKH LOKIYA
Imbatu. Pembahasan ini akan melihat keberadaan keluarga dan
2 Dalam tulisan ini saya hanya akan menyebutnya Lokiya saja, mengingat tambahan syekh pada namanya belum memiliki dasar historis yang kuat. Sesekali dalam tulisan ini saya akan menyebutnya sebagai Hadji Lokiya, juga Tua Hadji.
pewarisnya. Pada akhirnya tanpa sengaja akan menghadirkan konflik kepentingan di antara para pewarisnya tersebut. (2) Ajaran dan peninggalannya selama berada di Towale. (3) Cara yang dilakukan masyarakat Towale mengenang jasa Lokiya. Ketiga pertanyaan itu ditelusuri lebih lanjut dengan menggunakan perspektif sejarah untuk aspek historis dari setiap peristiwa yang terjadi. Sebab sejarah tu bukan hanya soal unik, kronologi, otentik, valid dan obyektif, melainkan juga bicara soal subyektifitas dan eksplanasi. Mitos dapat dijelaskan fenomena sesungguhnya dengan melihat latar sosial budaya, serta sejarah masyarakatnya. Kisah mengenai Lokiya dijelaskan dengan cara demikian.
II. ISLAM AWAL DAN PERIODE KEHIDUPAN SYEKH LOKIYA
Lokiya dikenal dengan nama Pue Imbatu oleh masyarakat Towale dan sekitarnya. Beliau adalah putra dari Gunci Lembah (ayah) dan Maina (ibu). Menurut silsilah yang dikutip oleh Abdul Muis Thaher bahwa Lokiya memiliki tiga orang saudara, yaitu Sabana, Bonanggi, dan Bobo. Lokiya, anak ketiga dari empat bersaudara ini. Leluhur Lokiya dari pihak ayahnya tidak diketahui, namun dari ibunya dapat dijelaskan lebih jauh lagi.3
Ibu Lokiya, Maina adalah anak ketiga dari lima bersaudara, anak dari Siguya dengan Toribosei. Anak tertua bernama Jaina, kedua bernama Pueboya, ketiga Maina, keempat Gilibata, dan Daeng Macinio anak kelima. Belum banyak yang dapat dijelaskan dari lima bersaudara ini, karena tidak ada informasi lebih lanjut yang dapat diakses. Kecuali orang tua mereka, yakni Siguya bersaudara dengan Siyundantawewe. Mereka berdua keturunan langsung dari Daiyama yang menikah dengan Raja Kilombu. Daiyama dikenal sebagai anak kandung Yapantabaro.
3 Abdul Muis Thahir, Sejarah Tanah Kaili Dan Perkembangannya (t.t., t.p., t.t), hlm. 79.
Yapantabaro, anak tertua dari tiga bersaudara. Dua orang adiknya adalah Sayodula dan Kadanggaluku. Ketiganya merupakan anak hasil perkawinan antara Dumanda dan Tomuraya. Seperti diketahui dalam beberapa cerita rakyat di Limboro, Kola-Kola, Lumbu Dolo dan Towale bahwa Dumanda, anak dari Raja Tundusi. Hal ini mengartikan juga, Dumanda mememiliki keterkaitan dengan beberapa cerita rakyat di wilayah tersebut. Salah satunya yaitu cerita rakyat Pusentasi. Tokoh utama cerita ini ada Yamamore, adik terakhir dari Raja Tundusi atau anak ketujuh Daiyama dan Tugiama.
Daiyama adalah puteri dari Tegi dan Pogudu. Tegi sendiri merupakan anak pertama dari hasil perkawinan antara Lule dan Damobana. Tegi juga mempunyai dua orang adik yakni Tugiama dan Dumanda. Menurut silsilah yang dibuat oleh Abdul Muis Tahhir bahwa orang tua Lule adalah Ginakkinta, anak tertua Tinao dan Morodago. Ginakkinta menikah dengan Gilimpatola. Sebagaimana diyakini oleh masyarakat Towale bahwa Tinao adalah putera dari Sintobulava dari hasil pernikahannya dengan Sitti Siyuntobulava.4
Hal paling menarik dari penyampaian di atas yaitu runutan silsilah Lokiya, menjelaskan bahwa Islam telah lama masuk dan berkembang di Towale dan sekitarnya. Hampir semua orang yang ditemui selama penelusuran ini dilakukan menyebutkan bahwa sebelum Lokiya datang dari Mekah, agama Islam telah dianut oleh masyarakat Towale, tetapi mereka belum melaksanakan syariat dengan baik. Masyarakatnya belum memahami ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka masih makan daging babi dan anjing. Ini dapat dilihat dalam cerita mengenai menghilangnya Kokoma di Puntanah. Diceritakan bahwa karena beliau tidak mau menghentikan kebiasaannya memelihara – dan mungkin juga makan daging babi – maka ia pun pergi dan menghilang di suatu tempat yang sampai
4 Ibid, hlm. 78.
sekarang masih dikeramatkan oleh orang Towale.5 Ketika berada di Donggala sebagai tawanan Raja Banawa, David Woodard punya kenangan mengenai seorang Haji dari Travalla (Baca: Towale) yang menjadi penerjemahnya dan bahkan berteman baik dengannya. Tentang Tuan Hadji ini diceritakan cukup panjang olehnya.6
Nama Sitti Siyuntombulava juga menandakan sebuah ciri ke-Islam-an masyarakat di mana sang pemilik nama itu tinggal.
Walaupun setelah itu, saya hanya menemukan dua nama lagi yang memiliki nuansa Islam, bahkan kearab-araban, yaitu Nun dan Yusya Bin Nun. Secara kritis dapat dilihat bahwa apakah benar nama yang bernuansa Islam tersebut benar-benar ada ataukah hanya sebuah penggelaran saja?
Soal lain yang perlu dikomentari lebih jauh yakni periode awal Islam di Towale. Berdasarkan pada silsilah keturunan Raja Kaili pertama itu, maka saya dapat menyatakan bahwa Islam telah ada di Towale sekitar 300-360 tahun sebelum kelahiran Lokiya. Bila merujuk pada pernyataan Abdul Muis Thahir bahwa:
Menurut catatan dan pesan orang tua bahwa Lokiya dilahirkan tepat pada waktu Shubuh jam 04.00 malam Jum’at atau hari Jum’at tanggal 1 Juni 650 M. Menurut data yang ditulis oleh S.M. Syuaib tentang biodata Lokiya, beliau meninggal tepat pada tanggal 1 Juni 720 M pada hari Jum’at. Beliau tidak kawin dan makamnya berada di atas bukit Desa Limboro sebelah kiri ke Desa Kola-Kola.7 Pernyataan saya di atas, yaitu Islam telah berkembang 300-360 tahun sebelum kelahiran Lokiya, sebenarnya ingin menyatakan bahwa tidak mungkin bila Towale lebih awal
5 Muhammad Subhan, Wawancara di Towale, 30 Maret 2015.
6 William Vaughan, 1804, The Narrative of Captain Woodard and Four Seaman (London: S. Hamilton, 1804), hlm. 94-118.
7 Abdul Muis Thahir, Op.Cit., hlm. 76.
Sejarah Islam di Lembah Palu
— 66 —
I Pue Imbatu atau Syekh Lokia
— 67 —
menerima Islam sebelum tanah Arab. Tiga ratus tahun sebelum tahun 650 Masehi, berarti abad III-IV Masehi.
Sebuah pertanyaan pun muncul, yakni dari mana sumber angka 300-360 tahun tersebut? Penentuan ini didasarkan pada pandangan Ian Cadwell ketika meneliti masa berkuasanya seorang raja di Luwu’ dengan menggunakan silsilah raja-raja Luwu di Sulawesi Selatan. Masa pemerintahan seseorang dapat dirunut ke belakang.8 Dalam ilmu antropologi, memang seringkali ditemukan adanya silsilah atau urutan raja-raja yang pernah memerintah di suatu negeri yang tidak disertai dengan angka tahun masa pemerintahannya. Olehnya itu, para ilmuwan, khususnya Antropologi menghitungnya dengan menggunakan sistem generasi. Asumsinya adalah bahwa setiap generasi berusia 25-30 tahun. Hal ini didasarkan bahwa usia ideal untuk menikah adalah antara 25-30 tahun. Walaupun pada dasarnya tidak semua individu dalam setiap generasi memiliki usia yang sama. Terkadang ada yang pendek dan ada juga yang panjang. Pengakuan beberapa informan di Towale menyebutkan bahwa usia orang-orang Towale sangat panjang.
Ada yang lebih dari seratus tahun umurnya.9
Tugas pokok selanjutnya yakni menentukan masa atau periode penyebaran Islam yang dilakukan oleh Lokiya. Hal ini juga sulit ditemukan angka pastinya, karena susahnya mengakses sumber-sumber tempatan yang masih disimpan oleh para ahli warisnya di Towale. Namun demikian, dengan menggunakan metode yang sama persis ketika mencari tahu kapan Islam masuk ke Towale seperti di atas tadi.
Runutan diawali dengan memulai dari pengakuan seorang ahli waris Lokiya, yakni Pak Badrun dan isterinya. Mereka
8 Ian Cadwell, “Kronologi Raja-Raja Luwu’ Hingga Tahun 1611”
dalam Kathryn Robinson dan Mukhlis PaEni (Peny.), Tapak-Tapak Waktu:
Kebudayaan, Sejarah, dan Kehidupan Sosial di Sulawesi Selatan (Makassar:
Ininnawa, 2005), hlm. 63.
9 Hamling, wawancara di Towale, 29 Maret 2015.
mengakui bahwa bila Pak Badrun adalah generasi ketujuh setelah Syekh Lokiya, sedangkan isterinya adalah generasi ke sembilan.10 Pembuktiannya agak rumit juga, karena tidak akuratnya susunan silsilah yang mereka berikan. Badrun adalah anak dari Abdullah Lahani. Ketika Badrun baru berusia dua tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Begitu juga dengan nasib Abdullah atau biasa dipanggil Dollah, diusianya yang baru dua tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Dollah menikah dengan Ina Bada. Abdullah adalah putera dari Lahani Laguliga. Lahani mempunyai dua orang saudara, yaitu Lanuhu dan Lajoe. Ayah mereka, Laguliga bersaudara dengan Mutmainnah dan Zaina. Ketiganya adalah anak atau keturunan dari Deama. “Setelah itu ada dua lagi leluhur saya, tapi saya tidak dapat sampaikan kepada bapak.”11 Pernyataan Pak Badrun yang saya kutip ini, sebenarnya berisi penegasan mengenai adanya pamali di kalangan orang Kaili untuk menyebut nama leluhurnya.
Bila hal ini benar, maka periodisasi kehidupan dan penyebaran Islam di Towale oleh Lokiya dapat dirunut ke belakang dari masa kini. Jika pernyataan tujuh atau sembilan generasi dari sekarang ke masa hidup Lokiya, berarti telah mencapai 175-210 tahun yang lalu. Apabila tidak, maka angka lain dapat dikemukakan yaitu 225-270 tahun lalu.
Penentuan ini tidak mengabaikan usia beberapa orang dalam setiap generasi yang mencapai lebih dari seratus tahun, seperti Laguliga dan Pua Camba. Menurut informasi bahwa Laguliga berusia 120 tahun(?).12
Tugas terberat sekarang adalah memperkirakan masa hidup Lokiya di Towale. Perkiraan ini saya menggunakan tahun Masehi sebagai dasar pijak. Jika mengambil tujuh generasi
10 Badrun Lahani, Wawancara di Towale, 29 Maret 2015.
11 Badrun, wawancara di Towale, 29 Maret 2015.
12 Informasi dari berbagai sumber hasil wawancara di Donggala, Towale, Lembah Sada dan Watatu.
ditambah dengan 25 tahun usia anak-anak Pak Badrun, maka didapat angka tahun 1825 atau 1785. Ini agak berbeda jauh, jika menggunakan sembilan atau sepuluh generasi dari isteri Pak Badrun, ditemukan angka tahun 1790 atau 1745.13
Asumsi-asumsi lewat angka tahun di atas kembali dikorelasikan dengan satu berita yang disampaikan oleh David Woodard ketika ia ditahan di Banawa antara tahnu 1794- 1796. David Woodard menyatakan bahwa Orang-Orang Travalla merupakan pemeluk Islam yang taat. Mereka tidak makan daging babi.14 Hal ini senada dengan pendapat orang- orang Towale masa kini bahwa setelah kembali dari Mekah, Lokiya berhasil menegakan syariat Islam sebagaimana adanya.
Sekembalinya dari Mekah, Lokiya dapat disebut sebagai seorang haji. Namun dari beberapa sumber lisan yang saya dapatkan, gelar haji kepada Lokiya tidak pernah disebutkan.
Sekembalinya dari Mekah itu, Lokiya ditahbiskan menjadi Imam di Towale. Inilah awal munculnya pengharfiahan Towale sebagai To Ale yang berarti orang saleh. Hal ini dapat dimaknai sebagai bentuk ekspresi masyarakat Towale.
Apabila mendasarkan diri pada pemikiran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Lokiya hidup pada periode akhir abad ke 17 hingga awal abad ke 18. Menurut cerita turun-temurun