• Tidak ada hasil yang ditemukan

TOMAI LASUPU” (1798-1880)

Berhaji dengan Kapal Pribadi ke Tanah Suci

5

BAB

Haji Ahmad Lagong adalah saudagar elit dari tiga komponen; kaya, berilmu, dan bangsawan bugis Matowa Wajo. Misi dakwah terpatri dalam dirinya, sebagai hamba Allah yang telah menerima ajaran Islam. Dalam kajian ilmu dakwah, ditandai bahwa orang-orang yang telah menerima Islam, didorong oleh semangat tauhid untuk menyampaikan ajaran agama Islam kepada sesama manusia. Karena dengan menyampaikan dakwah diyakini sebagai usaha untuk menyelamatkan orang lain yang disiksa api neraka. Setiap umat Islam memiliki semangat dakwah sehingga, agama Islam segera menyebar di segala penjuru dunia. Namun untuk menjangkau wilayah dakwah, membutuhkan kemampuan ilmu, logistik, dan akuistik.

Keberangkatan Ahmad Lagong ke Palu untuk berniaga disebabkan karena ketidakharmonisan hubungan dengan isterinya yang masih kerabat dekatnya. Pada perkawinannya itu, Haji Ahmad Lagong dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Lasupu (Muhammad Yusuf), sehingga dikenal di Palu dengan sapaan akrab Tomai Lasupu. Lasupu meninggal dunia menjelang usia remaja sebelum Haji Ahmad Lagong berangkat ke Palu.

Sebagai manusia biasa, Ahmad Lagong mengalami duka dan lara akibat dua hal yaitu, ketidakharmonisan dengan isteri dan meninggalnya anak yang sangat dicintainya. Hal ini, pernah juga terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW, ketika sang isteri Khadijah bin Khuwailid dan sang paman Abu Thalib yang selalu melindunginya, meninggal dunia. Tahun kejadian itu disebut amul khuzni artinya tahun kesedihan.

Untuk menghibur Nabi, Allah SWT memperjalankan pada peristiwa Isra dan Mi’raj pada 27 Rajab Tahun 10 kenabian bertepatan 26 Februari 621 Masehi.

Demikian pula, Ahmad Lagong yang berjalan (merantau) dari kampung halamannya di Tempe Kerajaan Wajo menuju

Lembah Palu. Rute yang dilalui adalah bertolak dari Danau Tempe melalui Sungai Welanae, memasuki Teluk Bone, kemudian Selat Makassar hingga masuk di cekungan sabit Teluk Palu, hingga berlabuh di Kampung Lere.

Kedatangannya di Lembah Palu pada tahun 1841 Masehi, menggunakan perahu layar miliknya sendiri dengan membawa anak buah kapal sebayak lima orang. Yaitu; Lasoso, Labutiti, Latjule, Lakulu, dan Labandulu. Kapal yang dikendarai mereka bernama Sikko Nyarang dilengkapi dengan sebuah gong besar yang senantiasa menggaung bila dipukul ketika menjelang tiba dan sesaat sebelum berangkat ke tempat yang dituju. Kapal itu adalah pemberian dari ayahnya.1

Tiba di Kampung Lere pada dini hari menjelang subuh.

Masyarakat Kampung Lere dibangunkan oleh suara merdu yang nyaring menembus kesepian malam dari suara gong kapal,2 yang dalam bahasa Kaili disebut tawa-tawa. Masyarakat Lere pada waktu itu terbangun dan berlarian menuju pantai melihat kapal dan barang-barang dagangan yang sedang dibongkar untuk selanjutnya dijual kepada masyarakat Lembah Palu.

Interaksi bisnis Ahmad Lagong dengan masyarakat Kampung Lere, ternyata berkembang menjadi interaksi sosial, budaya, dan kekeluargaan. “Asam di gunung, Garam di laut, bertemu dalam belanga,” telah dialami oleh perantau dari Wajo ini. Ahmad Lagong mendapat tambatan hati di Kampung Lere, yakni berhasil menikahi gadis Kaili. Jalinan bahtera rumah tangga di Kampung Lere telah melahirkan keturunan, yang hingga sekarang ini banyak menempati status sosial

1 Dokumen Drs. Ali Husain Raja Singi. Haji Ahmad Lagong dan Daliyama Dalam Silsilah Keluarga,. Tidak diterbitkan.

2 Benda yang sama juga dibawa oleh Datokarama pada tahun 1650 ketika berlabuh di Karampe. Gong, pada mulanya bukan hanya untuk parade dan prosesi (penampilan) kesenian, tapi merupakan kelengkapan navigasi kapal laut. Pada durasi waktu tertentu, gong ditabuh untuk memberikan isyarat informasi kepada kapal lain untuk menghindari tabrakan di tengah laut.

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 222 —

Haji Ahmad Lagong atau “Tomai Lasupu”

— 223 —

terhormat di bidang pemerintahan, sosial, budaya, ekonomi, agama, dan ilmu pengetahuan. Dari isteri di Kampung Lere telah melahirkan sosok H. Abd. Aziz Lamadjido, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Tengah Periode 1986-1996. Kemudian putranya H. Rully Lamadjido adalah Walikota pertama Kota Palu dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Periode 2001-2006. Rendy Lamadjido, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Dokter Reny Lamadjido pernah mendudukan jabatan Direktur Rumah Sakit Umum Anutapura Palu.

Demikian pula Sigit Purnomo Said yang dikenal Pasha Ungu, Wakil Walikota Palu, Periode 2016-2021. Ajenkris SE, berturut-turut jabatan yang telah diemban. Camat Palu Barat, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Palu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbangpol) Kota Palu, dan kini adalah Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi Kota Palu.

Perjalanan hidup Ahmad Lagong bukan hanya di pesisir pantai Teluk Palu, tapi juga merambah dataran lembah yaitu bergerak ke arah selatan tepatnya di Kalukubula. Di desa ini, Ahmad Lagong mempersunting perempuan dari kalangan bangsawan yaitu Pue Daliyama. Keturunan mereka di Kalukubula berhasil juga menempati status sosial di bidang keagamaan, ekonomi, sosial, dan budaya.

KH. Muhammad Qasim Maragau adalah Kepala Kantor Wilayah Pertama Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, dengan sejumlah perubahan nomenklatur organisasi.

Kepala Perwakilan Jawatan Urusan Agama Sulawesi Utara di Palu tahun 1960-1967. Kepala Jawatan Urusan Agama Sulawesi Tengah tahun 1965-1975. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tengah tahun 1975- 1977. Burhanuddin Maragau pernah menduduki jabatan Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Sulawesi

Tengah. Djafar Karama, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Sigi Biromaru, 1994-1997.

Ali Hoesain Radja Singi adalah alumni “pesantren” Radja Singi putra Ahmad Lagong kemudian datang Sayyid Idrus bin Salim Aldjufri mendirikan Alkhairaat Kalukubula. Karir Ali Hoesain di Madrasah Alkhairaat Ranting Kalukubula dan Madrasah Alkhairaat Pusat Palu ditekuni sebagai guru Bahasa Arab pada rentang waktu 1960-1972. Kemudian pada perjalanan karir dari tahun 1972 hingga 1982, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang. Kini menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Setelah IAIN Alauddin, Ali Hoesain diangkat menjadi dosen tetap pada Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, ditekuni dari tahun 1972 hingga 2000. Mengabdi hingga ajal menjemputnya di tahun 2000.

Ahmad Lagong merupakan seorang ulama Islam dari Bugis Wajo yang melakukan perantauan ke Palu Sulawesi Tengah.

Beliau dipanggil Tomai Lasupu yang menikah di Kaluku Bula dan Kampung Lere Palu Sulawesi Tengah. Demikian juga sebelum ke Palu Sulawesi Tengah, juga telah menikah di Wajo Sulawesi Tengah. Adapun silsillah keturunan Haji Ahmad Lagong dapat dilihat pada gambar sebagaimana terlampir.

II. AJARAN MAPPIDECENG (PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN)

Karir dakwah di Kalukubula, berhasil dibangun setelah terlebih dahulu menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal miliknya bersama lima orang awak kapal yang sama-sama berasal dari Wajo. Di Makkah, Ahmad Lagong membeli Al-Qur’an berukuran 40 cm X 30 cm, ditulis dengan tinta emas dengan tulisan khat naskhi. Al-Qur’an tersebut memberikan semangat para santri atau anak-anak mengaji, bahwa pedoman Islam betul-betul berasal dari Tanah Suci Makkah, tempat kelahiran

dan tempat tinggal Nabi Muhammad SAW. Ketenaran mushaf tersebut terkenal dengan nama “Koralompu”.

Koralumpu artinya Al-Qur’an besar. Disebut Al-Qur’an besar, karena orang Bugis menyebut ada Al-Qur’an kecil atau “korabiccu”. Penamaan dua istilah tersebut sebenarnya tertumpu pada metode pembelajaran Al-Qur’an. Bermula dari pengajian alefu yang dimaksud adalah Metode Bagdadiyah, yang di dalamnya adalah Juz Amma, sebagai aplikasi kemampuan membaca aksara Arab.

Jadi, bagi orang Bugis, Juz Amma disebut Korabiccu.

Sedangkan Al-Qur’an yang berisi 30 juz disebut Koralompu.

Itulah sebabnya, bagi orang Kaili, membaca ayat sesudah membaca Al-Fatihah sewaktu shalat, bilamana yang dibaca itulah isi Juz Amma disebut membaca ayat. Bilamana membaca beberapa ayat pada surah-surah tertentu disebutnya membaca surah.

Koralumpu di Kalukubula menandai adanya pengembangan pendidikan Islam. Al-Qur’an yang berisi 30 juz, diperkenalkan oleh Haji Ahmad Lagong untuk meningkatkan pemahaman ajaran Islam. Para peserta pengajian yang memang sudah berlangsung dari generasi ke generasi, terbukti ketika Sayyid Idrus bin Salim Aldjufri menjadikan Kalukubula sebagai persinggahan dalam perjalanan dakwahnya ke arah Selatan Lembah Palu. Rumah Wakaf yang kini berdiri kokoh di Kalukubula menunjukkan adanya perisai pengembangan ajaran Islam yang berlangsung dai masa ke masa. Ditambah lagi kehadiran Universitas Alkhairaat Kampus II Kalukubula, semakin menambah hasrat untuk melihat dinamika pendidikan Islam di Kalukubula.

Kedatangan Haji Ahmad Lagong di Kalukubula pada mulanya hanyalah urusan berdagang, menawarkan barang- barang dagangan bersama lima orang pendampingnya yang semenjak dalam pelayaran. Haji Ahmad Lagong sempat

memperhatikan keadaan masyarakat di Kalukubula yang terdiri atas tiga tingkatan. Pertama, tingkatan kaum bangsawan sebagai pemegang otoritas pelaksana adat yang mengutamakan pada pihak wanita daripada pihak pria. Kedua, tingkatan kaum pemangku adat. Ketiga, tingkatan masyarakat biasa.

Pelaksanaan adat sangat ketat, apabila seseorang telah divonis mati, bentuk eksekusinya adalah dengan cara dicincang, dalam bahasa Kaili disebut nisasa. Ahmad Lagong dalam melihat eksekusi tidak sesuai dengan ajaran Islam, bukan langsung ditegur, tapi ia melakukan pendekatan yaitu menawarkan sejumlah pembayaran untuk tidak mencincang orang tersebut.

Kemudian para petinggi adat menerima tawaran sejumlah pembayaran untuk tidak melaksanakan eksekusi mati.3

Hal tersebut pernah dilakukan oleh Abu Bakar Ash- Shiddiq, yakni memberikan tebusan sejumlah pembayaran ketika melihat Bilal bin Rabah dianiaya oleh majikannya karena memeluk Islam. Sebelum kedatangan ajaran Islam, kebiasaan membeli manusia dilakukan dalam rangka kegiatan perbudakan. Budak melanggar hak asasi manusia, karena menjadikan manusia sebagai obyek perdagangan. Para pemimpin muslim berupaya menebus beberapa budak lalu dimerdekakan.

3 Dokumen Drs. Ali Husain Raja Singi. Haji Ahmad Lagong dan Daliyama Dalam Silsilah Keluarga,. Tidak diterbitkan.

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 226 —

Haji Ahmad Lagong atau “Tomai Lasupu”

— 227 —

I. PENGANTAR

Lasatande Dunia merupakan seorang Ulama Agama Islam yang berdarah Kaili asli dari Sulawesi Tengah. Ulama ini merupakan bukti bahwa di pertengahan abad ke-19, telah ada seorang ulama Kaili yang disegani karena selain sebagai seorang cendekiawan Agama Islam, beliau juga merupakan seorang Baligau di Kerajaan Tatanga Lembah Palu. Tulisan ini akan menjelaskan sekaligus menguraikan: Pertama, Lasatande Dunia sebagai seorang Baligau juga sekaligus seorang Ulama Kaili. Kedua, Menjelaskan dan menguraikan dikembangkan oleh Lasatande Dunia yakni ajaran yang Sanggamu, Sanggata, dan Sanggakamu.

II. SEORANG BALIGAU DAN ULAMA PALU SULAWESI TENGAH

Lasatande Dunia lahir dari perkawinan antara La Sarata dengan Lulumaburi. Lasatande Dunia menikah dengan isteri pertama bernama Raelino dan Raetija sebagai isteri kedua. Perkawinan antara Lasa Tande Dunia dengan Raelino menurunkan keturunan masing-masing Lakamase dan Dandi