• Tidak ada hasil yang ditemukan

(pembagian akhlak) dan contoh contoh akhlak itu sendiri.

Syarat agar disebut berakhlak: Perbuatan yang baik atau buruk, Kemampuan melakukan perbuatan, Kesadaran akan perbuatan itu, dan Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik atau buruk.

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 298 —

Habib Sayyid Baharullah Al-Aidid

— 299 —

syiar Agama Islam dengan mengembangkan peradaban Islam seperti pelaksanaa Maulid.

Habib Sayyid Jalaluddin Al Aidid tiba di Sulawesi Selatan pada tahun 1628 Masehi untuk mengembangkan Agama Islam di Cikoang Sulawesi Selatan. Kemudian, Ulama ini memiliki murid termasuk Syekh Yusuf ketika dia berumur 15 tahun belajar di Cikoang. Kemudian, keturunan Habib Sayyid Jalaluddin Al Aidid menjadi salah satu ulama di Lembah Palu Sulawesi Tengah yang biasa disebut oleh orang Kaili dengan sebutan Tuan Ngeta atau Habib Sayyid Baharullah. Habib Sayyid Baharullah mengembangkan dakwah Islam dengan peradaban dan kebudayaan Islam berupa maulid (maudu).

II. HABIB SAYYID BAHARULLAH AL AIDID DAN BUDAYA MAUDU PALU

Habib Sayyid Baharullah memiliki kuburan di Kompleks Masjid Jami Palu Sulawesi Tengah. Habib Sayyid Baharullah lahir di Makassar sebagai generasi keempat keturunan langsung dari Sayyed Jalaluddin Al Aidid sebagai peletak dasar dari Maulid di Cikoang, sedangkan Habib Sayyid Baharullah (Tuan Ngeta) sebagai peletak dasar pelaksanaan Maulid di Besusu Palu.

Sayyed Baharullah meninggal di akhir abad ke-19 di Palu Sulawesi Tengah. Menurut silsillah keluarga, beliau memiliki enam orang anak satu orang perempuan dari isteri yang bernama Syarifah Dg. Fitri. Setelah beliau di Palu, menikah lagi dengan putri Pua Tengko sebagai Galara Mangasa di salah satu adat Patanggota dan dikaruniai lima orang anak yang disebut Karaeng. Kelima orang tersebut adalah: Sayyid Mohyidin (Karaeng Tanah Lapang), Sayyid Muhammad Din (Karaeng Karaeng Paleleh), Sayyid Muhammad Syah (Karaeng Pelawa), Sayyid Muhammad Amin (Karaeng Loroloro), dan Sayyid Abdul Rasyid (Karaeng Tiba).

Kelima orang anak dari Sayyid Baharullah Al Aidid atau

Tuan Ngeta ini yang menyebarkan Agama Islam di akhir abad ke-19 di Lembah Palu termasuk beberapa wilayah di Sulawesi Tengah. Pengembangan budaya Islam melalui maulid di wilayah Parigi dikembangkan oleh Sayyid Muhammad Syah atau Karaeng Pelawa karena bermukim dan mengembangkan Islam di Pelawa dan sekitarnya. Sedangkan yang menjadi Karaeng di Buol adalah Sayyid Muhammad Din yang biasa dipanggil dengan sebutan Karaeng Paleleh, karena beliau yang mengembangkan Budaya Agama Islam di wilayah Paleleh Buol.

Ulama-Ulama Islam keturunan Sulawesi Selatan dari Cikoang ini melakukan dakwah Islam dengan melakukan perayaan Maulid (Nomaulu). Maulid adalah peringatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. yang selalu diperingati setiap tahun pada bulan 12 Rabiul awal. Pemimpin kelompok yang masih mempertahankan budaya Islam di Besusu tanah Kaili Palu Sulawesi Tengah disebut “Karaeng.”

Karaeng ini yang selalu memimpin upacara adat yang berkaitan dengan budaya-budaya Islam di Lembah Palu. Persyaratan Karaeng ini dipangku oleh keturunan Habib Sayyid Jalaludin Al Aidid dari Cikoang Makassar untuk menjaga keaslian keturunan yang menjaga peradaban dan kebudayaan Islam dari keturunan Sayyid di Cikoang Makassar. Kelompok Sayyid ini menggunakan istilah lokal “karaeng” dan “maudu” sebagai bentuk pengembangan peradaban dan kebudayaan Agama Islam di Cikoang dan Palu Sulawesi Tengah. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Amin Abdullah sebagai “agama” ternyata mempunyai banyak wajah (multifaces) bukan seperti yang dipahami hanya persoalan ketuhanan kepercayaan, keimanan dan seterusnya.2

Selain persyaratan tersebut, juga persyaratan menjadi Karaeng harus memiliki empat persyaratan sebagai pemimpin

2 Mircea Aliade dkk., Metodologi Studi Agama (Editor: Ahmad Norma Permana) (Pengantar: Amin Abdullah) (Bandung: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 1

dalam budaya Islam, yakni: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat. Sidiq atau kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Contoh kata “rajulun shaduq (sangat jujur),” yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur). Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash- shiddiq ialah orangyang terus menerus membenarkan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan. Adil dan bersih juga dikembangkan oleh ulama-ulama ini.

Selanjutnya, terpercaya atau amanah merupakan kwalitas wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan di atas pundaknya.

Kepercayaan maskarakat berupa penyerahan segala macam urusan kepada pemimpin agar dikelola dengan baik dan untuk kemaslahatan bersama. Tablig atau kemampuan berkomunikasi merupakan kualitas ketiga yang harus dimiliki oleh pemimpi sejati. Pemimpin bukan berhadapan dengan benda mati yang bisa digerakkan dan dipindah-pindah sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi pemimpin berhadapan dengan rakyat manusia yang memiliki beragam kecenderungan. Oleh karena itu komunikasi merupakan kunci terjainnya hubungan yang baik antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin dituntut untuk membuka diri kepada rakyatnya, sehingga mendapat simpati dan juga rasa cinta. Keterbukaan pemimpin kepada rakyatnya bukan berarti pemimpin harus sering curhat mengenai segala kendala yang sedang dihadapinya, akan tetapi pemimpin harus mampu membangun kepercayaan rakyatnya

untuk melakukan komunikasi dengannya.

Akhirnya, fathonah atau cerdas memiliki kecerdasan di atas rata-rata masyarakatnya sehinga memiliki kepercayaan diri. Kecerdasan pemimpin akan membantu dia dalam memecahkan segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat. Pemimpin yang cerdas tidak mudah frustasi menghadapai problema, karena dengan kecerdasannya dia akan mampu mencari solusi. Pemimpin yang cerdas tidak akan membiarkan masalah berlangsung lama, karena dia selalu tertantang untuk menyelesaikan masalah tepat waktu.

III. BUDAYA MAULID DI PALU SULAWESI TENGAH Ulama Islam di akhir abad ke-19 yang bernama Sayyid Baharullah Al-Aidid mengembangkan Agama Islam di Lembah Palu dengan sistem “Karaeng” sebagai pemimpin pengembangan Agama Islam. Ajaran Agama Islam yang dikembangkan di Palu Sulawesi Tengah adalah bacaan mengaji Bugis-Makassar, hingga kini pemangku Karaeng ditemukan di Sidondo dan murid-muridnya masih mengaji dengan eja Bugis.

Guru Ggaji di Sidondo bernama Sayyid Nuruddin Al Bafaqih dan juga masih mengembangkan ajaran Agama Islam dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sayyid Nurudin Al Bafaqih memiliki kitab Maulid, Kitab Shalat, Kitab Tulqiyamah, Kitab Taraban Tahura, Kitab Baital Maudjud, dan termasuk kitab Falaqiyah sebagai pemilik turunan dari keluarga Al Aidid dan Al Bafaqih.3 Berdasarkan kitab-kitab tersebut mengembangkan peradaban dan kebudayaan Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Peradaban dan kebudayaan Islam dikembangkan dalam sebuah ritual kebudayaan Maulid atau “Maudu

sebagaimana dilaksanakan juga di Cikoang Makassar Sulawesi Selatan. Maulid Nabi Muhammad SAW di Palu disebut juga

3 Wawancara Sayyid Nurudin Bafaqih di Sidondo Kabupaten Sigi, tanggal 29 Agustus 2016.

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 302 —

Habib Sayyid Baharullah Al-Aidid

— 303 —

dengan istilah “Maulid Syarafal Anam.”4

Maudu di Besusu Palu Sulawesi Tengah dipersiapkan selama kurang lebih 30 hari. Mulai dari 12 Rabiul awal hingga 30 Rabiul awal. Awal persiapan dengan menyambut Bulan Syafar (dilakukan dengan mandi pada bulan Syafar) oleh masyarakat setempat yang dipimpin sesepuh atau “Karaeng.”

Persiapan untuk hidangan khas pada puncak acara Maudu, pelaksanaannya membutuhkan waktu yang lumayan lama.

Hidangan itu berupa nasi ketan (biasa disebut nasi kabuli atau kadominya) dan lauk yang dibuat dari ayam kampung dan telur warna-warni yang penuh hiasan bunga kertas. Mereka menyebutnya “hiasan” terbuat dari guntingan kertas minyak yang menyerupai tubuh manusia. Demikian juga Bendera dan bunga disiapkan untuk menjadi hiasan. Keseluruhan hiasan tersebut dihiaskan pada tempat yang menyerupai ka’bah yang mereka sebut sebagai “paha” atau “paham.” Prosesnya lama karena ayam kampung yang digunakan untuk perayaan ini tidak boleh ayam sembarangan. Ayam harus dikurung 40 hari di tempat bersih dan diberi makan beras bagus sesuai dengan makanan manusia.

Tepat dua hari sebelum hari H, masyarakat yang akan mengikuti Maudu melakukan acara potong ayam dan menghias telur. Kemudian para ibu rumah tangga dibantu anak-anaknya mulai memasak beras ketan, ayam goreng dan aneka kue tradisional dengan menggunakan kayu bakar. Cara atau adab memasakpun mempunyai ketentuan, yakni harus dilakukan di tempat yang telah disediakan khusus, tidak boleh keluar pagar.

Perempuan harus memakai sarung dalam keadaan bersih dan mengambil air wudu’ sebelum memasak. Beras dicuci tujuh kali sebelum dimasak dan air cuciannya ditampung dalam lubang

4 Said Muda Hi. Baso, Menyingkap Asal Mula Rahasia Kejadian Nur Muhammad, (Kitab Khusus Maulid Syarafal Anam dilengkapi dengan Zikir, Shalawat, dan Doa) (Penanggungjawab/Pelindung Umar Samannudi) (Palu: stensilan, 2002), hlm. 8

yang sengaja dibuat. Pelaksanaan maulid dilakukan dengan membaca silsillah Nabi, membaca zikir berupa puji-pujian Kepada Nabi Muhammad SAW, diakhiri dengan meminum

saraba” kepada peserta, Memberikan hidangan makanan kepada semua yang hadir, membagikan berkah (barakah) kepada semua hadirin, akhirnya membaca doa.

Makna Filosofis dari prosesi Maudu didasarkan tiga faktor yaitu, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kejadian di alam Nur Hakiki, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW keadaan di alam rahim, dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kelahiran di alam dunia. Melalui hal ini mampu meningkatkan kecintaan umat Muhammad kepada Nabi Muhammad. Mereka yakin bahwa pada hari ini juga terciptanya manusia oleh Nur Muhammad, sehingga bermakna untuk mengingatkan seorang manusia tentang penciptaan dan memperkuat aqidah kepada Allah SWT. Perlengkapan maulid berupa beras, kelapa, ayam, dan telur menjadi simbol dari syariat, tarikat, hakikat, dan ma’rifat. Ayam sebagai simbol penciptaan dari Sang Pencipta, telur adalah simbol atau lambang dari kelahiran, bunga adalah simbol dari kehidupan dan seterunya.

IV. AJARAN HABIB SAYYID BAHARULLAH AL-AIDID Habib mewariskan ajaran tentang pentingnya bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pandangan Habib sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an pada Surah Al- Ahzab ayat 65:

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedang shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam ayat di atas, Allah telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu

‘alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi).5

Orang Bugis yang menerima ajaran salawat diberilah sebuah ritual yang rutin untuk selalu mempersembahkan salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan ritual yang rutin itu disebut Maudu Lompoa (maulid akbar). Naskah bacaan maulid yang terus dibaca oleh umat Islam yaitu antara lain riwayat Nabi Muhammad SAW pada saat meninggalkan dunia ini, yaitu Sure Mallinrunna Nabitta naskahnya sebagaimana berikut ini:

5 https://almanhaj.or.id/3276-anjuran-bershalawat-kepada-nabi- shallallahu-alaihi-wa-sallam.html.