• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN ISLAM MELALUI ORGANISASI ISLAM

DAENG KONDA DI TAVAELI (1660)

VI. PENGEMBANGAN ISLAM MELALUI ORGANISASI ISLAM

Masa ini adalah masa pengembangan Islam yang dilakukan, baik secara organisasi maupun melalui pendidikan sistem klasikal.

Masa ini ditandai oleh kedatangan organisasi-organisasi Islam di wilayah kerajaan Tawaeli. Organisasi Islam yang mulai tiba pengaruhnya di Tawaeli adalah serikat dagang Islam. Pada tahun 1917, H. Omar Said Cokrominoto datang di Donggala.

HOS Cokroaminoto melihat bahwa kondisi Donggala tidak memungkinkan untuk mendirikan syarikat Islam. Oleh karena itu dia menyebrang ke Wani. Dilihatnya di Wani para orang Arab dan orang Bugis merupakan para pedagang yang berduit.

Dengan demikian HOS Cokroaminoto membentuk Serikat Dagang Islam I di Wani. Sebagai presidennya adalah Sayid Muhammad Rifai bin Mohsen Rifai.

Awalnya Syarikat Dagang Islam (SDI) bergerak dalam perdagangan untuk membendung gerak laju para pedagang Cina. Tetapi lama kelamaan Syarikat Dagang Islam berubah menjadi Syarikat Islam yang bergrerak dalam bidang dakwah dan pendidikan. Sejak ini dakwah Islamiyah sudah mulai dilakukan oleh organisasi Islam. Dalam pembinaan generasi muda Islam, Syarikat Islam (SI) mendirikan Islamiyah School di kota Donggala yang dipimpin oleh dua orang mubalig asal Mingkabau yang bernama Baharuddin dan Djamaluddin Datuk Tumenggung. Di sekolah inilah putera-putera Islam di Wani menimba ilmu pengetahuan. Kemudian pada tahun 1932/1933 menyusul Muhammadiyah yang di pelopori oleh Buya Hamka dan Uma Efendi. Buya Hamka bersama umat Islam di Wani membentuk pergerakan sosial Muhammadiyah Sulawesi Tengah yang berpusat di Wani dengan ketua pertamanya K.

H. Arsyad.

Setelah terbentuk pengurusan Muhammadiyah Sulawesi Tengah yang berpusat di Wani, didirikanlah Pesantren Muhammadiyah di Wani dengan Pimpinannya K. H. Suprapto.

Lulusan-lulusan pesantren tersebut kemudian menyebrang ke Donggala melanjutkan pendidikannya untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Tahun 1952, pengurus Muhammadiyah pusat Wani mendirikan Sekolah Menengah Islam di Malambora. Alumni dari sekolah tersebut keluar Sulawesi Tengah melanjutkan pelajarannya di negeri lain.

Melihat hal tersebut, selanjutnya pengurus Muhammadiyah mendirikan IKIP Muhammadiyah Wani dijadikan Universitas Muhammadiyah Palu. Setelah pesantren Muhammadiyah dipindahkan dari Wani ke Palu, tidak ada lembaga pendidikan Islam yang dapat menampung anak-anak untuk belajar. Oleh

karena itu, Yayasan Mesjid Al Amin mendirikan lembaga pendidikan Taman Kanak- kanak Tahun 1985, Madrasah Tsanawiyah Tahun 1990, SMEA Jurusan Koperasi Tahun 1991, dan MIS (Madrasah Ibtidaiyah Swasta) Tahun 1992.

VII. DAENG KONDA:

Mengembangkan Ajaran Syekh Yusuf

Daeng Konda yang dikenal juga dengan nama Pue Bulangisi adalah bangsawan Sendana Mandar yang datang di Lembah Palu khususnya di Tawaeli untuk mengajarkan agama Islam.

Kerajaan Sendana, adalah salah satu kerajaan yang termasuk dalam kelompok kerajaan Pitu Babana Binanga, artinya tujuh kelompok kerajaan yang terdapat di pesisir dan membentuk kesepakatan sebagai suatu entitas yang bernama Mandar.

Kerajaan ini berposisi sebagai ibu dalam kelompok Babana Binanga mendampingi posisi kerajaan Balanipa sebagai bapak.

Pada awalnya Sendana ditemukan oleh seorang Tomakaka Tabulahan di Ulu Salu bernama Daeng Tumana, yang mendirikan perkampungan di wilayah Buttu Suso, daratan di puncak gunung Sendana. Tak lama setelah itu adik kandung Daeng Tumana yang bernama Daeng Palulung bersama istrinya Tomesaraung Bulawang menyusul ke daerah Buttu Suso dan mendirikan satu kerajaan yang diberi nama Sendana, yang asal kata penamaannya berasal dari sebatang tongkat kayu Cendana yang dimiliki oleh Tomesaraung Bulawang yang ditancapkan di puncak Buttu Suso.

Sebagaimana diketahui bahwa penyebaran Islam dari Kerajaan Gowa sampai di Kerajaan Balanipa Mandar. Dari Mandar menyebar agama Islam keTanah Kaili, yang nyatanya adalah Daeng Konda yang merupakan bangsawan Kerajaan Mandar. Kedekatan Mandar dengan Kaili, diabadikan pada lirik lagu “Bura’ Sendana” ciptaan H.A. Syaiful Sinrang, sebagai berikut:

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 126 —

I Pue Bulangisi atau Daeng Konda Di Tavaeli

— 127 —

Bura’ Sendana bura’ sendana lilion naun di kaeli poleo naun

ko’bi-ko’bianda kaka’u damo nadiong

masae mattoro’ lawuang kembang matau

mepatto sau di lawuang jappo mi dini

pasangan passinding dhadha’u najappo-jappo

uwai lolong di mata’u bulan diaya

meapa ami i kacici tumette ami

tumette jalepe bulawang inai natannungan ana’na karaeng di tallo pitu panona

mogeter-geter di dhadhanna u ala mesa

u paccobo’boang naiwaine diang la’binna

u pacco’boang tomawuweng

Pada event internasional yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Sail Tomini, 19 September 2015,

dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, ditampilkan tarian kolosal yang mengisahkan lelaki Mandar turun dari perahu sandeq lalu dijemput oleh perempuan Kaili, kemudian menjadi ikatan suami istri. Perahu Sandeq dari Mandar kemudian menjadi ikon utama dalam even Sail Tomini.

Perahu Sandeq adalah perahu tradisional suku Mandar.

Suku Mandar ini mendiami pulau Sulawesi bagian barat. Suku Mandar dikenal sebagai suku yang hidup dominan di wilayah maritim atau laut. Tak heran, banyak kalangan menilai bahwa mandar adalah pelaut ulung yang melintasi luasnya lautan dengan keberaniannya menggunakan perahu sandeq.

Penamaan sandeq berasal dari bahasa mandar yang sama

sande’” yang berarti runcing, sebagaimana bentuk perahu tersebut yang memang nampak runcing di bagian haluan dan buritannya. Haluan dan buritan ini masing-masing disebut sebagai paccong, paccong uluang untuk haluan dan paccong palaming untuk buritan.

Pada perjalanan penyebaran Islam, Daeng Konda melanjutkan Ajaran Syekh Yusuf. Syekh Yusuf adalah penerima ijazah sebagai mursyid Tarekat Khalwatiyah.

Penerimaan gerakan tarekat ini di Lembah Palu secara aplikatif disenandung dengan nama ajaran Syekh Yusuf. Sufi asal Makassar ini menjadi legenda bagi orang Makassar, Bugis, dan Mandar sehingga dengan otomatis, kehadiran orang-orang itu di Lembah Palu terjalin pula keakraban bagi pengikut Syekh Yusuf dari asal kampong mereka.

Daeng Konda atau disebut juga Pue Bulangisi tampil sebagai tokoh yang mampu menjadi magnet bagi orang Makassar, Bugis, dan Mandar untuk mengaktifkan pengajian tarekat Khalwatiyah. Orang Kaili yang memandang ajaran itu bukan dengan nama ajaran Syekh Yusuf tapi dengan sebutan

karaeng”. Nama karaeng memang menjadi sapaan kehormatan

bagi kasta tertinggi di suku Makassar. Sehubungan Syekh Yusuf adalah orang Makassar, lalu ajarannya itu disebut karaeng.

Ajaran Syekh Yusuf mendapat tempat di Lembah Palu karena dominan diamalkan oleh “orang selatan”, karena mampu memberi pencerahan spiritual dalam menghadapi fluktuasi hidup pada waktu itu. Begitu pula, ada sebagian umat Islam ingin menyempurnakan keislaman mereka dengan cara beribadah secara khusus yang berbeda dengan masyarakat Islam lainnya. Adapun ajaran Syekh Yusuf12 dapat diuraikan sebagai berikut: