• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa (hari) yang pertama: Ahad a. Kejadian Nur

WARTABONE

IV. LA IBOERAHIMA WARTABONE PUTRA MAHKOTA RAJA WARTABONE (1812-1897)

1. Masa (hari) yang pertama: Ahad a. Kejadian Nur

Pada masa ini Allah SWT dalam keadaan sendirian. Dalam kesendirian, Allah SWT melihat ke depan tak tampak sesuatu.

Allah SWT melihat ke kanan, tidak tampak sesuatu. Allah SWT melihat ke kiri, tidak tampak sesuatu. Allah SWT melihat ke belakang, tidak tampak sesuatu. Allah SWT melihat ke atas tidak ada sesuatu. Melihat ke bawah, tidak tampak sesuatu.

Tidak ada sesuatu di sekelilingNya. Dia sendirian dalam kegelapan. Lalu Alla SWT melihat diriNya.

Pada saat itu, sesuai dengan firmanNya, dalam Al-Qur’an pada Surah Yasin ayat 82:

Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “jadilah!”, maka terciptalah sesuatu itu.

Allah SWT menyeru “kun”, seketika itu keluarlah sesuatu (cahaya) dari diriNya menjelma di hadapanNya’ persis dengan diriNya. Itulah “nur” ciptaan Allah SWT yang pertama.

Lalu Allah SWT memerintahkan “nur” untuk bersujud dan menyembah Allah SWT sebagai Tuhan pencipta “nur.

Mendengar perintah Allah SWT, “nur” yang terjelma dari ZatNya, tidak langsung bersujud, melainkan terlebih dulu

22 Andi Bedduara, Al-Hikmah Wasiat Sepanjang Zaman, (Watampone, CV Ibadur Rahman, 2009), h. 47.

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 198 —

La Iboerahima Wartabone Putra Mahkota Raja Wartabone

— 199 —

melihat kepadaNya lalu melihat dirinya. Nur melihat Allah SWT sama dengan dirinya. Nur mengulangi tatapanya kepada Allah SWT lalu melihat dirinya, ternyata “masih sama”.

Lalu, Nur memandang Allah SWT dengan seksama, lalu memandang dirinya dengan seksama pula.

Dalam pandangan Nur, Allah SWT dengan dirinya tidak berbeda sedikitpun. Karenanya, Nur menyangka bahwa dirinya sama dengan Allah SWT, sehingga dia tidak mau bersujud menyembah menuruti perintahNya, lalu terjadi dialog sebagai berikut:

Nur berkata : Tidak! Engkaulah yang bersujud dan menyembah kepadaku, karena akulah tuhan dan akulah yang menciptakan Engkau.

Allah berfirman : Tidak, Akulah yang menciptakan engkau.

Akulah Tuhanmu

Nur berkata : Tidak! Akulah tuhan, akulah yang menciptakan Engkau.

Keduanya bersitegang, karena Nur tidak mau mengalah, melainkan mengaku pula sebagai Tuhan. Karena itu

Allah berfirman : Kalau begitu, untuk membuktikan siapa

“pencipta” di antara kita, mari kita bertaruh!

Nur berkata : Bertaruh bagaimana?

Allah berfirman : Kita masing-masing bersembunyi. Siapa yang tidak dapat ditemukan, dialah Tuhan.

Dialah pencipta dan dia pula yang berhak disembah.

Nur berkata : Baiklah!

Allah berfirman : Silakan bersembunyi wahai Nur.

Lalu Nur bersembunyi. Di manapun Nur bersembunyi, baik di belakang, di atas, di bawah, Allah selalu menebaknya tanpa Dia bergerak sedikitpun. Setelah Nur bersembunyi sebanyak

tiga kali, namun selalu ditebak oleh Allah, lalu Nur tidak menemukan lagi tempat persembunyian yang terlindungi dari tebakan Allah. Kini, tiba giliran Allah yang bersembunyi.

Nur berkata : Sekarang Engkaulah yang bersembunyi!

Allah berfirman : Baiklah! Dia menyelinap di belakang Nur.

Kemudian menyeru, wahai Nur carilah Aku.

Ketika Nur mendengar seruan Allah, langsung mencari. Nur menoleh ke belakang, karena didengar seruan itu seperti di belakang. Nur berputar, tapi gagal melihat Allah. Nur menjadi bingung, lalu bertanya:

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Mendengar seruan Allah, Nur dengan cepat berputar, karena mendengar seruan Allah seperti keluar dari dirinya, di belakang kepalanya. Nur berputar lagi, namun gagal menemukan Allah.

Nur bertanya lagi: Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Secepat kilat Nur menoleh ke belakang, karena seruan Allah seperti sebelumnya, seolah-olah keluar dari dirinya di belakang kepalanya. Namun, tetap gagal melihat Allah. Nur menjadi bingung, di mana Allah bersembunyi. SeruanNya didengar sangat dekat, tapi Nur tidak dapat melihatnya.

Nur berkata : Di mana Engkau bersembunyi sehingga aku tidak dapat melihatMu?

Allah berfirman : Aku di sini, “di belakang penglihatanmu”.

Nur berkata : Pantas aku tidak dapat melihatMu. Pindahla di tempat lain, supaya aku mencariMu!.

Allah langsung berpindah ke dalam “Rahasia Nur”, lalu berseru:

Carilah Aku! Mendengar seruan itu, Nur langsung berputar mencari Allah, karena didengarnya seruan itu sangat dekat dan seolah-olah keluar dari dirinya. Tapi Nur tidak melihat Allah.

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Nur mencari di sekeliling dirinya, karena didengarnya seruan Allah sangat dekat. Sekali lagi Nur bertanya.

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berfirman : Aku di sini.

Pada ketiga kalinya Nur berputar mencari di sekujur dirinya, namun tetap tidak dapat melhat Allah. Nur merasa tidak dapat menemukan Allah, lalu bertanya:

Nur berkata : Di mana Engkau bersembunyi sehingga aku tidak dapat melihatMu?

Allah berfirman : Aku di sini, “di dalam rahasiamu”

Nur berkata : Pantas aku tidak dapat melihatMu. Sekarang pindahlah ke tempat lain, lalu aku cari lagi, semoga kali ini aku dapat menemukanmu.

Allah berseru : Baiklah, carilah Aku!

Bersamaan dengan seruanNya, Allah langsung berpindah ke dalam “kepercayaan” atau “keyakinan” Nur. Nur langsung mencari sambil menunduk dengan cepat, karena didengarnya seruan Allah dari bawah. Namun, kali ini Nur tidak melihat sesuatu. Lalu Nur bertanya untuk meyakinkann pendengarannya.

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berseru : Aku di sini!

Serentak Nur menunduk, karena didengarnya seruan Allah dari bawah, sama seperti tadi. Akan tetapi, Nur tetap tidak melihat Allah. Nur mulai putus asa lalu sekali lagi dia bertanya:

Nur berkata : Di mana Engkau?

Allah berseru : Aku di sini!

Untuk ketiga kalinya, Nur secepat kilat menunduk mencari, dikiranya akan dapat melihat Allah, tetapi usahanya sia-sia.

Nur jadi putus asa. Nur sama sekali tidak dapat melihat atau menemukan Allah, di manapun Allah bersembunyi. Akhirnya Nur berkata:

Nur berkata : Di mana lagi Engkau bersembunyi sehingga tetap aku tidak dapat menemukanMu?

Allah berseru : Aku di sini, “di dalam kepercayaanmu”.!

Nur berkata : Pantas aku tidak dapat melihatMu. Aku mengaku kalah. Perlihatkanlah diriMu!

Aku mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan yang menciptakan aku. Aku bersedia bersujud, menyembah kepadaMu.

Allah berseru : Apa bukti atas semua pengakuanmu itu?

Nur berkata : Terserah kepadaMu!

b. Terciptanya “dua kalimat syahadat”

Allah berfirman : Kalau begitu ucapkan “asyhadu anlaa ilaha Illa Allah”

Nur melafalkan : “asyhadu anlaa ilaha Illa Allah”

Allah menjawab : “wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”.

Dengan demikian, terikrarlah dua kalimat pengakuan yang diucapkan dengan cara bersambut, yaitu:

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu utusan Allah.

Setelah dua kalimat syahadat terikrar, Allah berfirman “Hai Nur, sekarang gaiblah engkau, nanti di akhir zaman engkau lahir dengan naman Ahmad atau Muhammad. Inilah sebabnya, para ulama (ahli tasawwuf) berkata bahwa, “Nabi Muhammad lebih tua dari Nabi Adam”, karena sesungguhnya

Sejarah Islam di Lembah Palu

— 202 —

La Iboerahima Wartabone Putra Mahkota Raja Wartabone

— 203 —

Nabi Muhammad merupakan bentuk lahiriah dari Nur, ciptaan Allah yang pertama.