II. ULAMA PUE YODJOVURI DAN KELUARGANYA Menurut keterangan cucunya, Pue Yodjovuri berasal dari Banggai yang melakukan hijrah ke Palu untuk menjadi ulama Islam. Namun, setelah diteliti asal muasalnya, beliau adalah seorang bangsawan Palu Sulawesi Tengah, tetapi beliau belajar tentang agama Islam di Banggai. Setelah selesai belajar Agama Islam di Banggai kemudian Beliau kembali ke Palu dan beranak pinak di Palu Sulawesi Tengah. Pue Yodjovuri lahir dari pasangan Lamappanyompa dengan Madda seorang Madika Palu. Pue Yodjovuri memiliki empat orang saudara masing-masing Koti, Yodjobolo, Palawatika, Royantowale, dan Djaro atau Ladjadja. Pue Yodjovuri menikah dengan tiga orang perempuan bernama Tina Lamarupa, Daematjino dan Tina Abd. Rafid. Perkawinannya dengan Tina Lamarupa melahirkan anak masing-masing Lamarupa, Dg Marotja, Abd. Hafid.
Keturunan Pue Yodjovuri dari anaknya Lamarupa menurunkan tujuh orang anak, yakni: Dei Pelako, Dg Marau,Gaerah, Siu, Lamoho, Patima Sade dan Palisu Dg. Marau. Palisu Dg Marau menikah dengan Indoada.1 Keturunan Pue Yodjovuri ini sekarang ini telah menyebar di Lembah Palu, namun masih ada beberapa orang yang bermukim di Besusu Palu Sulawesi Tengah dan sebagian lagi masih bermukim di Kampung Baru Palu Sulawesi Tengah. Keturunan Saudara Pue Yodjovuri yang bernama Yojobolo sekarang ini kebanyakan bermukim di Poso Sulawesi Tengah.
Menurut keterangan yang diperoleh dari orang tua di Pesaku sesungguhnya Pue Yodjovuri berasal dari Dolo karena Beliau lahir dari perkawinan antara Rajamola yang berasal dari Dolo dengan Lanja Gamagi yang melahirkan empat orang anak, yakni: Rajamaili, Timamparigi, Timampero dan Pue Yodjovuri sendiri. Pue Yodjovuri pernah menikah di Bangga sebanyak dua
1 Moh. Noor R. Lembah, 1985. Salinan Silsillah Santina, Palu: belum dipublikasikan.
kali yang menurunkan keturunan masing-masing Bastama dan Dae Masiri dan Siparasi, lalu di Taipa sehingga menurunkan Intje Ili dan Andi Tanga, kemudian menikah di Pesaku yang menurunkan keturunan Manjaili, Selanjutnya menikah di Besusu yang menurunkan Sukara (Lamasukara).2 Selain itu, Pue Yodjovuri juga menikah di Balaroa sehingga menurunkan keturunan yang bernama Tembarindi. Perkawinan di Balaroa menurunkan dua orang anak yang bernama Toti dan Toto. Toti mengawini perempuan yang bernama Huna dan melahirkan tujuh orang anak masing-masing Amirullah, Aksa, Ridwan, Salma, Sadri, Maspa, dan Zulma.3 Keturunan Pue Yodjovuri yang dari Balaroa ini hingga kini masih juga bermukim di Balaroa Palu Sulawesi Tengah. Menurut keterangan orang tua di Balaroa bahwa Pue Yodjovuri juga memiliki keturunan di Kulawi Sulawesi Tengah.
Pue Yodjovuri melakukan pengembangan Agama Islam di Lembah Palu pada masa pemerintahan Magau Yojokodi (1888-1906). Pue Yodjovuri adalah seorang bangsawan Palu karena ibunya seorang bangsawan di Kerajaan Palu yang bernama Madda. Pada masa pemerintahan Magau Yojokodi, Pue Yodjovuri mengembangkan Agama Islam dikalangan keluarga sendiri dan kerabat dekat. Pue Yodjovuri juga pada masa ini bergabung dengan para pejuang di Kayumalue untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda di Palu Sulawesi Tengah. Pue Yodjovuri merupakan seorang ulama yang patriotik karena dalam hidupnya, beliau selalu membawa serta pistol VOC yang menjadi alat untuk melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda di Palu Sulawesi Tengah. Salah satu kejadian di Balaroa sewaktu beliau mau menikah dan mendapat tantangan dari keluarga perempuan, Pue Yodjovuri tidak segan-segan menembak dinding. Kejadian ini tidak pernah dilupakan oleh keluarga di Balaroa, sehingga anaknya
2 Wawancara Anwar Pantovana di Palu tanggal 30 April 2016.
3 Wawancara Amirullah di Biromaru tanggal 22 Agustus 2016.
Sejarah Islam di Lembah Palu
— 310 —
Pue Yodjovuri
— 311 —
yang lahir dari seorang ibu di Balaroa dinamakan dengan sebutan “Tembarindi” atau menembak dinding.
Pue Yodjovuri juga seorang pejuang pada perang Kayumalue melawan Kolonial Belanda di Palu hingga beliau dibuang ke Jawa dan juga menikah di tempat pembuangan yakni di Pati Semarang. Menurut keterangan keturunan Pue Yodjovuri dari Besusu keturunan beliau juga ada di Pati Semarang. Keturunan beliau di Semarang juga masih mengembangkan Agama Islam sebagai benih-benih ajaran dari kakeknya yang bernama Pue Yodjovuri dari Palu Sulawesi Tengah.
Pue Yodjovuri menurut keluarga yang ada di Besusu meninggalkan “Bulo” (Bahasa Kaili: Bambu) yang dibungkus oleh kain kuning yang tersimpan hingga kini di Besusu. “Bulo”
yang menjadi peninggalan Pue Yodjovuri masih digunakan oleh keluarga untuk penyembuhan penyakit dan untuk mandi kembang. Kepercayaan tentang “Bulo” merupakan kepercayaan yang masih dipengaruhi oleh sistem kepercayaan lama yang dianut oleh masyarakat Palu Sulawesi Tengah.
Isi daripada “Bulo” adalah beberapa jenis antara lain “sude”
sebagai alat memasak yang terbuat dari besi asli. Sebagian isi “Bulo” adalah anyaman dari daun lontar atau beberapa anyaman dari janur atau daun muda kelapa yang dianyam berbentuk burung. Selanjutnya, juga “Bulo” berisi beberapa peralatan untuk menangkap ikan seperti tombak ikan yang terbuat dari bambu sebagai alat menangkap ikan secara tradisional. Kepercayaan mengenai “Bulo” yang ditinggalkan oleh Pue Yodjovuri merupakan kepercayaan yang memadukan sistem kepercayaan lokal Palu Sulawesi Tengah dengan nilai- nilai Agama Islam. Kepercayaan ini masih bentuk sinkretisme antara nilai-nilai lokal dengan ajaran Agama Islam.
III. PUE YODJOVURI DAN AJARAN AGAMA ISLAM DI BESUSU
Inti ajaran Islam yang dikembangkan oleh Pue Yodjovuri adalah Karama dan Karma. Yodjovuri meletakkan ajaran keislaman pada hakikat kehidupan. Islam menuntun hamba-Nya untuk memberlakukan semesta alam ciptaanNya, sebagaimana halnya khalifah Allah di permukaan bumi. Perbedaan seseorang dengan orang lain ditentukan oleh karya dan mahakarya yang dilakoni oleh hamba. Perjalanan seseorang dalam rumpun sosial menyebabkan lahirnya konteks status sosial. Status sosial seseorang mencerminkan kandungan kemuliaan yang dimilikinya. Hal tersebut dikemukakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Isra’ ayat 70:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Kemuliaan pada ayat tersebut diletakkan pada kata
“karramna” dari fi’il madhiy yaitu “karuma” yang memiliki arti (1) amat berharga, (2) dermawan, (3) mulia, (4) menurunkan hujan.
Sedangkan “karramahu” artinya memuliakan, menghormati, dan mengagungkan.4 Telaah terminologis menunjukkan makna fungsional. Artinya, terjadinya kemuliaan karena adanya fungsi- fungsi strategis yang dilimiliki oleh seseorang, yang menybabkan
4 A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), h. 1203.
banyak orang memerlukan jasa dan pemikirannya.
Allah SWT memberikan kemuliaan kepada manusia, jika memiliki kemampuan mengolah alam dan mengarungi samudra. Daratan dan lautan adalah lapangan pekerjaan bagi manusia untuk memperoleh rezeki yang telah disediakan oleh Sang Pencipta. Pada pencarian rezeki tersebut, terdapat perbedaan kemampuan mendapatkannya. Ada yang mendapat rezeki lebih banyak (more than) dari yang lainnya.
Namun manusia sering terjebak pada pemburuan rezeki, karena berdasarkan pemahaman dan pengetahuan tentang rezeki yang berbeda-beda. Ada yang mengetahui rezeki itu adalah benda sebagai harta yang tampak di mata manusia. Pada golongan ini, manusia sering mengukur kemuliaan dengan jumlah rezeki yang dimilikinya. Golongan ini disebut faddalna.
Ada manusia memahami bahwa rezeki itu adalah anugerah dari Allah SWT, baik tampak maupun tak tampak.
Harta yang tampak bukanlah ukuran untuk membandingkan satu sama lain. Namun yang penting adalah kemampuan manusia merelasikan dirinya dengan orang lain. Harta yang tampak, uang yang banyak, atau perhiasan yang melimpah hanyalah sarana untuk saling memuliakan sesama makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Golongan ini disebut tafdilan.
Pue Yodjovuri mewariskan bambu, sebagai simbol kemampuan manusia untuk dapat berguna bagi orang lain. Bambu disebut bulo, karena memiliki makna untuk menghilangkan bala dalam setiap rentetan pencarian kebutuhan hidup. Bambu adalah tumbuhan fungsional, yang memiliki banyak manfaat, antara lain:
1. Bahan Kuliner
Tunas bambu adalah bahan baku untuk membuat sayur dan dapat bersinergi selera dengan berbagai jenis sayuran lainnya. Tunas bambu difermentasi dengan kunyit dan
minyak sayur, lalu dimasak dengan kentang menjadi masakan yang dimakan bersama nasi. Tunas bambu di potong tipis-tipis dan direbus bersama santan dan rempah- rempah untuk membuat gulai rebung.
2. Sebagai Alat Memasak
Ruas-ruas batang bambu tua digunakan sebagai alat memasak. Sup dan beras yang dimasak di dalam batang bambu dipaparkan ke api hingga matang. Memasak di dalam batang bambu dapat dipercaya menghasilkan rasa yang khas.
3. Sebagai bahan membuat alat memasak
Bambu juga digunakan untuk membuat sumpit dan alat memasak lain seperti spatula. Bambu disini memang menjadi bahan baku dari berbagai peralatan rumah tangga, seperti bakul nasi, tampah, perangkap ikan, topi bambu (caping).
4. Sebagai bahan untuk kontruksi rumah
Bambu menjadi tumbuhan yang sangat bagus untuk pelestarian alam. Penebangan untuk bahan bangunan dapat meninggalkan rumpun pepohonan yang tergantikan dengan tunas-tunasnya. Bambu merupakan sumber bahan bangunan yang dapat diperbarui. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di Dunia, 140 jenis atau 11% diantaranya berasal dari Indonesia. Bangunan berbahan bambu memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa.
5. Sebagai alat musik
Bambu sering dijadikan sebagai alat musik tradisional.
Salah satunya adalah alat musik “Angklung.” Tak hanya angklung, ada “Seruling” dari bambu yang berasal dari Sunda yang juga berbahan dari pohon bambu.
6. Sebagai Senjata
Pada zaman/masa perperangan bambu disini juga dimanfaatkan oleh pejuang arek-arek surboyo sebagai
Sejarah Islam di Lembah Palu
— 314 —
Pue Yodjovuri
— 315 —
senjata, yang disebut dengan Bambu Runcing. Kekeramatan yang terdapat pada bambu sebagai alat senjata diyakini oleh masyarakat, bahwa ada orang kebal dengan dengan parang, badik, celurit, dan pisau belati. Namun dengan bambu yang tajam mampu membuat tawar perisai kekebalan.
Selanjutnya, menurut Pue Yodjovuri, manusia memiliki kemuliaan (karamah) sepanjang mampu menjaga kebaikan yang terdapat dalam dirinya. Bukan hanya kebaikan yang tampak, tapi dari niat pun, manusia harus selalu menjaga pada pandangan yang selalu positif. Bilamana manusia sudah dihinggapi perasaan negatif, maka perasaan itulah yang akan merusak dirinya.
Pue Yodjovuri mewariskan bulo kepada generasinya sebagai media penyembuhan kepada beberapa jenis penyakit. Hal ini terbukti bahwa kadang-kadang ada penyakit yang diagnosis oleh medis, tidak ditemukan gejala-gejala penyakit, namun orang mengalami sakit yang perih. Biasanya kasus seperti ini akan dapat diobati oleh orang-orang tertentu yang memiliki keilmuan di bidang hal-hal yang gaib.
Jadi karma adalah sesuatu yang menimpa manusia akibat perbuatannya sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’ana pada Surah Ar-Rum ayat 41-42
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
IV. KESIMPULAN
Pue Yodjovuri merupakan seorang ulama Palu yang belajar tentang Agama Islam di Banggai Sulawesi Tengah, kemudian mengembangkan ajaran Agama Islam di Lembah Palu Sulawesi Tengah. Pue Yodjovuri berasal dari keturunan bangsawan Palu dari pihak perempuan dari Madda ibunya dan keturunannya bermukim di Kampung Baru Palu, Mamboro, Besusu, Balaroa, Bangga, Kulawi, Poso, hingga Pati Semarang Jawa Tengah.
Selain sebagai seorang ulama beliau juga menjadi salah seorang pejuang di Perang Kayumalue Palu Sulawesi Tengah di awal abad ke-20 hingga akhirnya diasingkan ke Pati Jawa Tengah dan masih dapat kembali pulang ke Palu. Beliau meninggal di Palu dan dikebumikan di samping belakang rumah anaknya yang bernama Dg. Marotja di Kampung Baru dekat Masjid Jami Palu Sulawesi Tengah.
Ajaran agama Islam yang disampaikan dan dikembangkan oleh Pue Yodjovuri adalah Karama dan Karma. Yodjovuri meletakkan ajaran keislaman pada hakikat kehidupan. Islam menuntun hambaNya untuk memberlakukan semesta alam ciptaan-Nya, sebagaimana halnya khalifah Allah di permukaan bumi. Perbedaan seseorang dengan orang lain ditentukan oleh karya dan mahakarya yang dilakoni oleh hamba. Perjalanan seseorang dalam rumpun sosial menyebabkan lahirnya konteks status sosial. kata “karramna” dari fi’il madhiy yaitu “karuma”
yang memiliki arti (1) amat berharga, (2) dermawan, (3) mulia, dan (4) menurunkan hujan. Sedangkan “karramahu” artinya memuliakan, menghormati, dan mengagungkan.
I. PENGANTAR
Islam ilmu pengetahuan adalah ajaran-ajaran agama Islam dijadikan sebagai ilmu pengetahuan dalam hidup dan kehidupan manusia. Menurut Kuntowijoyo bahwa ilmu ditandai dengan sifat yang obyektif. Metodologi ilmu pengetahuan mementingkan yang faktual. Dalam ilmu diajarkan tentang cara berpikir yang terbuka. Perode agama Islam ilmupengetahuan disebarkan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie yang biasa dipanggil dengan Ustadz Tua. Beliau adalah seorang yang berkebangsaan Hadramaut yang rela tinggal di Palu.
Secara ringkas beliau berasal dari Hadramaut. Tokoh Islam ini lahir dari Salim Bin Alawy seorang mukti Hadramaut dan dari ibu yang bernama Nur. Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Palu pada tahun 1929, kemudian pada tahun 1930-an di Kota Palu membangun perguruan Islan yang bernama Alkhairat. Dua puluh tahun kemudian, perguruan ini berkembang luas di sekitar Kota Palu hingga ke daerah Sangir Talaud di pulau-pulau kecil Utara pulau Sulawesi. Persebaran itu ke Tinombo, Ampana, Batui Luwuk Banggai, Kepulauan Togean, Banggai Kepulauan, dan Bungku hingga Tanjung Selor Kalimantan Timur juga di Kota Poso. Pada tahun 1960-an