Untuk mempelajari audiometri khusus di- perlukan pemahaman istilah rekrutmen (recruit-
ment) dan kelelahan (decaylfatigue).
Rekrutmen ialah suatu fenomena, terjadi peningkatan sensitifitas pendengaran yang bedebihan di atas ambang dengar. Keadaan ini
khas pada
tuli
koklea. Pada kelainan koklea pasien dapat membedakan bunyi1 dB,
se- dangkanorang
normalbaru dapat
mem-bedakan bunyi
5
dB. Misalnya, pada seorang yang tuli 30 dB, ia dapat membedakan bunyi 31 dB. Pada orang tua bila mendengar suara perlahan, ia tidak dapat mendengar, sedang- kan bila mendengar suara keras dirasakannya nyeri ditelinga.Kelelahan (decay/fatigue) merupakan adap tasiabnormal, merupakan tanda khas pada tuli retrokoklea. Saraf pendengaran cepat lelah bila dirangsang terus menerus. Bila diberi istirahat, maka akan pulih kembali.
Fenomena tersebut dapat dilacak pada pasien
tuli saraf
dengan melakukan peme- riksaan khusus, yaitu :-
tes StSl (short increment sensitivity indexl- tes ABLB
(altematebinaural
/oudness balans test)-
tes kelelahan (Tone decay)-
Audiometri tutur (speech audiometn)-
Audiometri BekesY1.
TES
SISITes ini
khas untuk mengetahui adanya kelainan koklea, dengan memakai fenomena rekrutmen, yaitu keadaan koklea yang dapatmengadaptasi secara berlebihan peninggian intensitas yang kecil, sehingga pasien dapat membedakan selisih intensitas yang kecil itu (sampai 1 dB).
Cara pemeriksaan itu, ialah dengan me- nentukan
ambang dengar pasien
terlebih dahulu, misalnya 30 dB. Kemudian diberikan rangsangan 20 dB di atas ambang rangsang,jadi 50 dB.
Setelahitu
diberikdn tambahan rangsang 5 dB, lalu diturunkan 4 dB, lalu 3 dB,2
dB, terakhir 1 dB. Bila pasien dapat mem- bedakannya, berarti tes SlSl positif.Cara lain ialah tiap lima detik dinaikkan 1 dB sampai 20 kali. Kemudian dihitung berapa kali
pasien itu dapat membedakan perbedaan itu.
Bila 20 kali benar, berarti 100%, jadi khas. Bila
yang benar sebanyak
10
kali, berarti50
%benar. Dikatakan rekrutmen positif, bila skor 70-1OOo/o.
Bila
terdapatskor
antara 0-70o/o,berarti tidak khas. Mungkin
pendengaran normal atau tuli perseptif lain.FREKUENSI (Hz)
t?5 ?50 300 rooc ?orjo 4000 8000 -o
o.^tt Je
i."
5."
o
it
'o o0co2
6ro :
< tOOGambar'1. Rekrutnen blnaural posltif
2. TES ABLB (ALTERNATE
BINAURALrouDNEss
BALANC1Pada tes ABLB diberikan intensitas bunyi tertentu pada frekuensi yang sama pada ke- dua telinga, sampai kedua telinga mencapai
persepsi yang sama, yang disebut balans negatif.
Bila balans tercapai, terdapat rekrutmen positif.
Catatan
:
Pada rekrutmen, fungsi koklea lebih sensitif.Pada MLB (monoaural /oudness balance fest). Prinsipnya sama dengan ABLB. Peme- riksaan ini dilakukan bila terdapat tuli perseptif bilateral.
Tes ini
lebih sulit, karena yang di- bandingkan ialah2
frekuensi yang berbeda pada satu telinga (dianggap telinga yang sakit frekuensi naik, sedangkan pada frekuensi turun yang normal).3. TES KELELAHAN (IONE DECAY Terjadinya kelelahan saraf
oleh
karena perangsangan terus menerus. Jadi kalau telingayang
diperiksa dirangsangterus
menerus,maka terjadi kelelahan. Tandanya ialah pasien tidak dapat mendengar dengan telinga yang diperiksa itu.
Ada2 cara:
-
TTD
= threshold tone decay- STAT = supra threshold adaptation test a.TTD
Pemeriksaan ini ditemukan oleh Garhart pada tahun 1957. Kemudian Rosenberg me- modifi kasinya setahun kemudian.
Cara
Garhartialah
dengan melakukan rangsangan terus menerus pada telinga yang dipedksa dengan intensitas yang sesuai de- ngan ambang dengar, misalnya40 dB.
Bila setelah60 detik masih dapat
mendengar, berarti tidak ada kelelahan (decay),jadi
hasiltes
negatif. Sebaliknya bila setelah60
detik terdapat kelelahan, berartitidak
mendengar, tesnya positif.Kemudian intensitas bunyi ditambah 5 dB fiadi
45
dB)imafa
pasien dapat mendengarlagi.
Rangsangan diteruskan dengan 45 dBE
F
Y
6 2
=GY
go
)
2rOO
90 80
7O
60 so
4O 30
?o
lo
o-
20 ']O
A = normal
50 60
B=konduktif C=koklea
D=retrokoklea rO20 30
40 dBAMBANG DENGAR
At 8t lc -D
tf
//
//)
I
I
Gambar 2. Hubungan lntensltas dengan nilai dlskrlmlnasl kata
dan seterusnya, dalam 60 detik dihitung berapa penambahan intensitasnya.
Penambahan 0-
sdB10-15d8 20-25d8
>30d8
normal
ringan (tidak khas) sedang (tidak khas) berat (khas ada
kelelahan)
'
Pada Rosenberg:
bila penambahan ku- rang dari 15 dB, dinyatakan normal, sedangkan lebih dari 30 dB : sedang.b. STAT
Cara pemeriksaan ini dimulai oleh Jerger pada tahun 1975. Prinsipnya ialah pemerik- saan pada 3 frekuensi: 500 Hz, 1000 Hz dan 2000 Hz pada 110 dB SPL. SPL ialah inten- sitas yang
ada
secara fisika sesungguhnya.110 dB SPL = 100 dB SL (pada frekuensi 500 dan 2000 Hz).
Artinya, nada murni pada frekuensi 500,
1000, 2000 Hz pada 110
dB
SPL, diberikan terus menerus selama 60 detik dan dapat men- dengar, berartitidak ada kelelahan. Bila kurqng dari 60 detik, maka ada kelelahan (decay).4. AUDTOMETRT TUTUR (SPEECH AUDTO- METRY
Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus (suku kata).
Monosilabus = satu suku kata
Bisilabus
= dua suku kataKata-kata
ini
disusun dalam daftar yang disebut : Phonetically balance word LBT (PB, LrsT)-Pasien diminta untuk mengulangi kata-
kata yang didengar melalui kaset
taperecorder. Pada tuli perseptif koklea, pasien sulit untuk membedakan bunyi S, R, N, C, H, CH, sedangkan pada tuli retrokoklea lebih sulit lagi.
Misalnya
pada tuli perseptif koklea,
kata"kadar" didengarnya "kasar", sedangkan kata
"pasar" didenganya "padar".
Apabila
kata yang betul :
speech dis- crimination score :90-100%
75-
90%60
-
75 o/o50-
60%<50 %
berarti pendengaran normal tuli ringan
tuli sedang
kesukaran mengikuti pembicaran"
sehari-hari tuli berat
Guna pemeriksaan ini ialah untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan se- hari-hari, dan untuk menilai untuk pemberian alat bantu dengar (hearing aid).
lstilah :
-
SRT (speech reception test)-
kemampuanuntuk
mengulangi kata-katayang
benar sebanyak 50 %, biasanya 20-30 dB di atas ambang pendengaran.-
SDS (speech discrimination scor)=
skortertinggi yang dapat dicapai oleh seseorang pada intensitas tertentu.
5.
AUDTOMETRTBEKESSY
(BEKESSY AUDTOMETRY)Macam audiometri
ini
otomatis dapat menilai ambang pendengaran seseorang.Prinsip pemeriksaan
ini
ialah dengan nadayang terputus (interupted sound)
dan
nada yang terus menerus (continues sound). Bila ada suara masuk, maka pasien memencet tombol.Akan
didapatkangrafik
sepertigigi
gergaji, garis yang menaik ialah periode suara yang dapat didengar, sedangkan garis yang turun ialah suara yang tidak terdengar.Pada telinga normal, amplitudo 10 dB.
Pada rekrutmen amplitudo lebih kecil.
oo
o
E
oz
uio o 1
t
I
Tipe I
:
Nada terputus dan terus menerus (continues) berimpit.FREKUENSI (He)
!t5 ?3O 5OO rtloo ?OOU rO(}<) d(ro('
l-. r ,.. I
!o ,o
SO
.o
50 co ro
to
90 rOO 1to
Bekesytipe
l:
NormalTipe ll :
Nada terputusdan
terus menerusberimpit hanya sampai
frekuensi '1000Hz dan
grafik kontinu makin kecil. Keadaan ini terdapat pada tuli perseptif koklea.FREKUENSI (HI)
| ? t ? sc 500 rooo ?ooo .Qoo or-rl!('
tt\i
C/fli.
4l 4i'Jl
Tipe lll:
Nada terputusdan terus
menerus berpisah. Keadaan ini terdapat pada tuli perseptif retrokoklea.FREKUENSI (HZ)
rt5 ?5C 3OC' !CO3 ?Ooc .$,tr FaJii'.
Bekesy Tipe lll : Tuli perseptif retro koklea Tipe lV, sama dengan grafik
lll
hanya amptitu- do lebih kecil.FREKUENST (Hz)
r?5 ?50 500
rooo ?ooo.ooo
looory YN
-ro o rC
?o JO
!D
6a)
EO
90 r0O 110
.rc
!C
2 rDEfc { rn
)-
o3C
660
3'c 9,
"oI \ar
(JO I r,3
o tO 20
€ro
<.O
J
o50c.
z660 uJ to o
9ro
o90 ( rooilO dt€
= 6 u
ata
z o
=
Bekesy Tipe ll : Tuli perseptif koklea Bekesy Tipe lV