Pemeriksaan fungsi n. fasialis
Tujuan
pemeriksaanfungsi n.
fasialisialah untuk menentukan letak lesi dan menen- tukan derajat kelumpuhannya.
Derajat kelumpuhan ditetapkan berdasar-
kan hasil
pemeriksaanfungsi
motorik yang dihitung dalam persen (%).L
Pemeriksaan fungsi saraf motorik Terdapat 10otototot
utama wajah yang bertanggungjawab
untuk terciptanya mimik dan ekspresi wajah seseorang. Adapun urutan ke sepuluh otot-otot tersebut secara berurutan dari sisi superior adalah sebagai bedkut :1.
m. frontalis : diperiksa dengan cara meng- angkat alis ke atas.2.
m. sourcilier:
diperiksa dengan cara me- ngerutkan alis.3.
m. piramidalis : diperiksa dengan cara meng- angkat dan mengerutkan hidung ke atas.4
m. orbikularis okuli : diperiksa dengan cara memejamkan kedua mata kuat-kuat.5 m.
zigomatikus:
diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi.6.
m. relever komunis : diperiksa dengan cara memoncongkanmulut ke
depan sambil memperlihatkan gigi.7.
m. businator : diperiksa dengan cara meng- gembungkan kedua pipi.8. m
orbikularis oris . diperiksa dengan me- nyuruh penderita bersiul.9.
m. triangularis : diperiksa dengan cara me- narik kedua sudut bibir ke bawah.10. m. mentalis
:
diperiksa dengan cara me- moncongkan mulut yang tertutup rapat ke depan.Pada
tiap
gerakandari ke
sepuluh otot ter- sebut, kita bandingkan antara kanan dan kiri:a
Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga (3)b.
Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu (1).c
Diantaranya dinilai dengan angka dua (2)d Tidak ada
gerakansama sekali
dinilai dengan angka nol (0).Seluruh
otot
ekspresitiap sisi
muka dalam keadaan normalakan
mempunyainilai
tiga puluh (30)2.
TonusPada keadaan istirahat tanpa kontraksi maka
tonus otot
menentukan terhadap ke- sempumaan mimiUekspresi muka. Freyss meng-anggap penting akan fungsi tonus sehingga mengadakan penilaian pada setiap tingkatan kelompok otot muka, bukan pada setiap otot.
Cawthorne mengemukakan bahwa tonus yang
jelek
memberikan gambaran prognosis yangjelek.
Penilaiantonus
seluruhnya berjumlah lima belas (15) yaitu seluruhnya terdapat lima tingkatan dikalikan tiga untuk setiap tingkatan Apabila terdapat hipotonus maka nilai tersebut dikurangi satu (-1) sampai minus dua (-2) pada setiap tingkatan tergantung dari gradasinya.3.
SinkinesisSinkinesis menentukan suatu komplikasi dari paresis fasialis yang sering kita jumpai
Cara
mengetahuiada tidaknya
sinkinosis adalah sebagai berikut :a. Penderita diminta untuk
memejamkanmata kualkuat
kemudiankita
melihat pergerakan otot-otot pada daerah sudut bibir atas. Kalau pergerakan normal padakedua sisi dinilai dengan angka dua (2).
Kalau pergerakan pada sisi paresis lebih
(hiper) dibandingkan dengan
sisi
normal nilainya dikurangi satu (-1) atau dua (-2), tergantung dari gradasinya.b.
Penderitadiminta untuk tertawa
lebar sambil memperlihatkan gigi, kemudian kitamelihat pergerakan otot-otot pada sudut mata bawah. Penilaian seperti pada (a)
c
Sinkinesis juga dapat dilihat pada waktupenderita berbicara (gerakan
emosi) dengan memperhatikan pergerakan otot- ototdi
sekitar mulut. Nilai satu (1) kalaupergerakan normal.
Nilai nol (0)
kalaupergerakan tidak simetris
4.
HemispasmeHemispasme merupakan suatu komplikasi
yang sering dijumpai pada
penyembuhan paresis fasialis yang berat. Diperiksa dengancara penderita diminta untuk
melakukan gerakan-ger4kan bersahaya seperti mengedip- ngedipkanmata
berulang-ulang maka akan jelas tampak gerakan otot-otot pada sudut bibirbawah atau sudut mata bawah. Pada penderita yang berat kadang-kadang otot-otot platisma di daerah leher juga ikut bergerak. Untuk setiap gerakan hemispasme
dinilai
dengan angka minus satu (-1).Fungsi motorik otot-otot
tiap sisi
wajah orang normal seluruhnya berjumlah lima puluh(50) atau 100
Yo. Gradasi paresis fasialis dibandingkan dengan nilai tersebut, dikalikan dua untuk prosentasenya.5.
GustometriSistem pengecapan
pada 2/3
anteriorlidah'dipersarafi oleh
n.
korda timpani, salahsatu
cabangn.
fasialis.pada
pemeriksaanfungsi n. korda timpani adalah
perbedaan ambang rangsangantara kanan dan
kiri.Freyss menetapkan bahwa beda 50% antara kedua sisi adalah patologis.
Supragenl(ule
lrtrrgrr*d!
Srgrartapediel
hlrrrUprd.l
Sr.p.r lod.l lrtr. konbl
6.
SCHIRMER Test atau Naso-Lacrymal RellexDianggap sebagai pemeriksaan terbaik untuk mengetahui fungsi serabut-serabut pada simpatis dari n.fasialis yang disalurkan melalui nervus petrosus superfisialis mayor setinggi ganglion genikulatum. Cara Pemeriksaan de-
ngan
meletakkan kertas hisapatau
lakmus lebar0,5 cm,
panjang 5-10cm
pada dasar konjungtiva. Freyss menyatakan bahwa kalauada beda
kanandan kiri lebih atau
sama dengan 50% dianggap patologis.7.
Refleks STAPEDIUSUntuk menilai refleks stapedius digunakan elektroakustik impedans meter, yaitu dengan cara memberikan rangsang pada m.stapedius yang bertujuan untuk mengetahui fungsi N.stapedius cabang N.Vll.
K.l. Lkffn rr
Gambar 1. Anatomi n. fasialis
Pemeriksaan lain ialah dengan alat gustometer
Dengan pemeriksaan gustometer
ini
dapatditentukan ambang kecap dari pasien.
Pemeriksaan tes Schirmer dilakukan de-
ngan meletakkan kertas lakmus pada bagian inferior konjungtiva.
Cara ini
dapat dihitung berapa banyak sekresi kelenjar lakrimalis.Untuk mengetahui ambang rangsang per- mukaan n
Vll
yang keluar dari foramen stilo- mastoid, dilakukan pemeriksaan NET (nerve exitability fesf) dengan membedakan kiri dan kanan, Perbedaan yang lebih dari 3,5 mA me- nandakan fungsi n Vll dalarn keadaan serius.Selain itu dilakukan pemeriksaan refleks otot stapedius dengan menggunakan impedans audiometer
Pada lesi yang terletak
di
atas ganglion genikulatum hampir selalu diikuti oleh kelainan audiovestibuler, oleh karena itu perlu diperiksa audiovestibuler. Pemeriksaan radiologi danelektromiografi, dilakukan
untuk
melengkapi pemeriksaan.Penetapan penurunan fungsi
n.Vll
juga dapat dilakukan dengan metode pemeriksaan menurut House-Brackman.Etiologi kelumpuhan n. fasialis
Penyebab kelumpuhan n. fasialis mungkin kongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah dan idiopatik.
Biasanya kelumpuhan yang didapat sejak lahir (kongenital) bersifat ireversibel dan ter- dapat bersamaan dengan anomali pada telinga dan tulang pendengaran.
Sebagai akibat proses infeksi
di
intra-kranial atau infeksi telihga tengah,
dapat menyebabkan kelumpuhann. fasialis
lnfeksi intrakranial yang menyebabkan kelumpuhan ini sindrom Ramsey-Hunt, herpes optikus, dan in- feksi telinga tengah ialah otitis media supuratif kronis yang telah merusak kanal Fallopi.Tumor intrakranial maupun ekstrakranial dapat menyebabkan kelumpuhan
n.
fasialis.Dari tumor
intrakranialdapat
berupa tumorserebelopontin, neuroma akustik dan neurilo-
ma
yang terletak intrakranial. Tumor ekstra- kranial yang menyebabkan kelumpuhan n.Vll ialah tumor telinga dan tumor parotis.Fraktur
pars
petrosaos
temporal oleh karena traumakepala dapat
menyebabkan kelumpuhan n. fasialis.Penyebab lain ialah gangguan pembuluh darah, misalnya trombosis arteri karotis, arteri maksilaris dan arteri serebri media
Etiologi kelumpuhan n.Vll kadang-kadang tidak jelas (idiopatik). Kelumpuhan ini disebut juga Bell's palsy.
Di
lndonesia khususnyadi
RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo, urutan penyebab yang terbanyak ialah idiopatik, radang dan trauma.
Penatalaksanaan
Pengobatan terhadap kasus parese N.Vll kita kelompokkan dalam 2 bagian'.
1.
Pada kasus dengan gangguan hantaran ri-ngan dan fungsi motor masih baik pengo- batan ditujukan untuk menghilangkan edema
saraf
dengan memakai obat-obat.
antiedem, vasodilatansia, dan neurotro-nika.
2.
Pada kasus dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi denervasi total tin- dakan operatif segera harus dilakukan de- ngan teknik dekompresi N.Vll transmastoid.Daftar Pustaka
1
Adour KK Facial paralysis. ln: Ballenger JJ, SnowJB, Otorhinolaryngology head and neck surgery, '15'h ed. William and Wilkin, 1996; p.1153-1165.
2
Freyss G, ChouardCH
Les lndicalion de Ladecompression Nervous d'urgence dans les paralysis faciaal a frigore. J. Frane. D'ORL. 1970;'19:225-229.
3.
Jangkus LBW. Test for Facial Nerve Function Arch.Otolaryngology 1 965; 81 :5'1 8-522
4.
Coker NJ Coker NJ. Acute paralysis of the facial nerve,in:
Boyle BJ. Head and neck surgery otolaryngologi. JB Lippincott Co, Philadelphia 1993:p.171'l-1727.