melalui mekanisme neurogenik dan/atau neuropeptida.
Gejala
Kinik
Pada rinitis vasomotor, gejala sering di- cetuskan oleh berbagai rangsangan non-spesifik,
seperti
asap/rokok,bau yang
menyengat,parfum, minuman beralkohol, makanan pedas, udara dingin, pendingin dan pemanas ruangan, perubahan kelembaban, perubahan suhu luar, kelelahan dan stres/emosi. Pada keadaan nor- mal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.
Kelainan ini mempunyai gejala yang mirip dengan
.rinitis alergi, namun gejala
yang dominan adalah hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung pada posisi pasien.Selain
itu
terdapat rinore yang mukoid atau serosa. . Keluhanini jarang
disertai dengan gejalg mata.Gejala dapat'memburuk pada pagi hari
waktu bangun tidur oleh karena
adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.Berdasarkan gejala yang menonjol, ke-
lainan ini dibedakan dalam
3
golongan, yaitu1) golongan bersin (sneezers), gejala biasanya memberikan respon yang baik dengan terapi antihistamin
dan
glukokortikosteroid topikal;2)
golonganrinore
(runners),gejala
dapat diatasi dengan dengan pemberian anti kolinergik topikal ; dan 3) golongan tersumbat (blockers), kongesti umumnya memberikan respon yang baik denganterapi
glukokortikosteroid topikal dan vasokonstriktor oral.Dragnosls
Diagnosis umumnya ditegakkan dengan cara eksklusi, yaitu menyingkirkan adanya rinitis
infeksi, alergi, okupasi, hormonal dan akibat
obat.
Dalam anamnesis dicari .faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala.Pada pemtiriksaan rinoskopi anterior tam-
pak
gambaranyng khas berupa
edema mukosa hidung, konka benvarna merah gelap atau merah tua, tetapi dapat pula pucat. Hal iniperlu
dibedakan denganrinitis alergi.
Per- mukaan konka dapat licin atau berbenjol-benjol(hipertrofi). Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit.
Akan tetapi
pada golongan rinore sekret yang ditemukan ialah serosa dan banyak jumlahnya.Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan
rinitis
alergi.Kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah sedikit. Tes cukit kulit biasanya negatif. Kadar lgE spesifik tidak meningkat.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada rinitis vasomotor bervariasi, tergantung pada faktor penyebab dan gejala yang menonjol. Secara garis besar dibagidalam :
'1.
Menghindari stimulus/faktor pencetus.2.
Pengobatan sirntomatis, dengan obatobatan dekongestanoral, cuci
hidung dengan larutan garam fisiologis, kauterisasi konka hipertrofi dengan larutan AgNO3 25Yoalau triklor-asetat pekat. Dapatjuga
diberikan kortikosteroid topikal 100 - 200 mikrograml.Dosis dapat
ditingkatkansampai
400 mikrogram sehari. Hasilnya akan terlihat setelah pemakaian paling sedikit selama 2minggu.
Saat ini
terdapat kortikosteroidtopikal
baru dalam larutan aqua seperti flutikason propionat dan mometason furoat dengan pemakaian cukup satu kali sehari dengan dosis 200 mcg. Pada kasus de- ngan iinore yang berat, dapat ditambahkan antikolinergik topikal (ipatropium bromida).Saat
ini
sedang dalam penelitian adalah terapi desensitisasi dengan obat capsaicin topikal yang mengandurlg lada.3.
Operasi, dengan cara bedah-beku, elektro-kauter, atau
konkotomiparsial
konka inferior.4.
Neurektomi n.vidianus, yaitu dengan me- lakukan pemotongan pada n.vidianus, bila dengancara di atas tidak
memberikan hasil optimal. Operasi ini tidaklah mudah,dapat
menimbulkan komplikasi, seperti sinusitis, diplopia, buta, gangguan. lakri- masi, neuralgia atau anestesis infraorbitadan
palatum. Dapatjuga
dilakukan tin- dakan blocki ng ganglion sfenopalatina.Prognosis pengobatan golongan obstruksi
lebih baik
daripada golonganrinore.
Oleh karena golongan rinore sangat mirip dengan rinitis alergi, perlu anamnesrs dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosisnya.RtNtTts MEDTKAMENTOSA
Rinitis medikamentosa adalah suatu ke-
lainan hidung berupa gangguan respons nor- mal vasomotor yang diakibatkan
oleh
pema-kaian vasokonstriktor topikal (tetes hidung atau semprot hidung) dalam waktu lama dan ber- lebihan,
sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Dapat dikatakan bahwa hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang berlebihan (drug abuse).Patofisiologi
Mukosa hidung merupakan organ yang sangat peka terhadap rangsangan atau iritan, sehingga harus berhati-hati memakai topikal vasokonstriktor.
Obat
topikal vasokonstriktordari
golongan simpatomimetikakan
menye- babkan siklus nasi terganggu dan akan ber- fungsi normal kembali apabila pemakaian obat itu dihentikan.Pemakaian topikal vasokonstriktor yang berulang dan dalam waktu lama akan menye- babkan terjadinya fase dilatasi berulang (rebound
dilatation)
setelah
vasokonstriksi, sehingga timbul gejala obstruksi, Adanya gejala obstruksi ini menyebabkan pasien lebih sering dan lebihbanyak
lagi
memakaiobat
tersebut. Padakeadaan
ini
ditemukankadar agonis
alfa- adrenergik yang tinggidi
mukosa hidung. Halini akan diikuti dengan penurunan sensitivitas reseptor alfa-adrenergik
di
pembuluh darahsehingga terjadi suatu toleransi. Aktivitas dari
tonus simpatis yang
menyebabkan vaso- konstriksi (dekongesti mukosa hidung) meng-hilang. Akan terjadi dilatasi dan
kongesti jaringan mukosa hidung. Keadaan ini disebut juga sebagai rebound congestion.,
Kerusakanyang terjadi pada
mukosa hidungpada
pemakaianobat tetes
hidung dalam waktu lama ialah:
1) silia rusak, 2) sel goblet berubah ukurannya, 3) membran basalmenebal, 4) pembuluh darah melebar, 5) stroma tampak edema, 6) hipersekresi kelenjar mucus dan perubahan pH sekret hidung, 7) lapisan sub-
mukosa menebal,
dan 8)
lapisan periostium menebal.Oleh karena itu pemakaian obat topikal vaso- konstriktor sebaiknya tidak lebih dari satu minggu,
dan sebaiknya yang bersifat isotonik dengan sekret hidung normal (pH antara 6,3 dan 6,5).
Gejala dan Tanda
Pasien mengeluh hidungnya tersurnbat terus menerus dan berair. Pada pemeriksaan tampak edema
/
hipertrofi konka dengan sekret hidung yang berlebihan. Apabila diberi tampon adrenalin, edema konka tidak berkurang.Penatalaksanaan
1.
Hentikan pemakaian obat tetes atau semprot vasokonstriktor hidung.2.
Untuk mengatasi sumbatan berulang (re-.
bound congestion)', dapat diberikan kortiko- steroid oral dosis tinggijangka pendek dan dosis diturunkan secara bertahap (tappeing off) dengan menurunkan dosis sebanyak 5 mg setiap hari, (misalnya hari 1: 40 mg, hari 2. 35 mg dan seterusnya) Dapat juga denganpemberian
kortikosteroid topikal selama minimal2
minggu untuk mengem- balikan proses fisiologik mukosa hidung.3.
Obat dekongestan oral (biasanya mengan- dung pseudoefedrin).Apabila dengan cara
ini
tidak ada perbaikan setelah 3 minggu, pasien dirujuk ke dokter THT.Daftar pustaka
'1.
Boies S: Fundamental of Otolaryngology, 5'n ed.WB Saunders Co., Philadelphia, 1978.
2.
Mullarkey MF. Eosinophilic Non-allergic Rhinitis and Vasomotor Rhinitis. ln: Settipane GA Ed.Rhinitis 2"d Ed Rhode lsland 1991: p 169-71,
3.
Druce HM. Chronic Sinusitis and Non-allergic Rhinltis.ln: Rhinits 2"d Ed. Rhode lsland 1991:185-90
4.
TogiasAG
Non-allergic Rhinitis. ln: Mygyn'..i N.Naderio RM. Allergic and Non-allergic Rhiniiis Clinical Aspects. Munksgaard. .1983: p.159-66.
5.
6.
7.
Non-infectious, non-allergic rhinilis. ln : Bousquet J, Cauwenberge P, Khaltaev N. Allergic Rhinitis and its impact on Asthma. J Allergy and Clin lmmunol (Suppl) 2001, 108: 5:S196-7.
Nasal cavity and Septum. ln : Burton M, ed. Hall &
Colman'S Disease of the Ear, Nose and Throal.
14h ed. Churchill Livingstone, London, 1992, p. 1015 Malm L, Druce HM, Holgate ST. Vasocontrictors and antihistamines. ln : Mygind N, Weeke B, eds.
Allergic and Vasomotor rhinitis : clinical aspects.
Copenhagen, Munksgaard, 1985: p.'l 42.
Wihl JA, Kunkel G, Middleton E. Perennial rhinitis.
ln : Mygind N, Weeke B, eds. Allergic and Vasomotor rhintis : clinical aspects. Copenhagen, Munksgaard, 1985: p.39.
Holgate ST, Church MK. Rhintis : patophysiology and classificalion.
ln :
Allergy. London, Gower Medical Publishing, 1993.Lal D, Corey JP. Vasomotor rhinitis update. Curr Opin Otolaryngol Head lGck Surg , 2004; 12:243-7.
I I
10.