Nistagmus adalah gerak bola mata kian kemari yang terdiri dari dua fase, yaitu fase lambat dan fase cepat. Fase lambat merupa-
kan
reaksi sistem vestibuler terhadap rang- sangan, sedangkanfase cepat
merupakan reaksi kompensasinya.Nistagmus merupakan parameter yang
akurat untuk
menentukanaktivitas
sistem vestibuler. Nistagmus dan vertigo adalah gejalayang
berasaldari satu
sumber, meskipun nistagmusdan vertigo tidak selalu
timbul bersama. Dalam keadaan terlatih baik, vertigobisa tidak dirasakan, meskipun nistagmus ada.
Pada kelainan vestibuler peiifer, gejala vertigo dapat dihilangkan dengan latihan yang baik.
Nistagmus
juga
diberi nama sesuai de- ngan arah komponen cepatnya, sehingga adayang
dinamakan nistagmus horizontal, nis- tagmus vertikal dan nistagmus rotatoar.Nistagmus, merupakan parameter penting dalam tes kalori. la dapat menentukan normal tidaknya sistem vestibuler,
dan
dapat juga menduga adanya,kelainan vestibuler sentral.Nistagmus yang juga penting sebagai pegang-
an
dalam menentukan diagnosis adalah de- ngan tes nistagmus posisi.Cara pemeriksaan
Dalam anamnesis ditekankan mengenai keluhan vertigo, kapan mulai serangan per- tama, dan sudah berapa kali serangan sampai sekarang ini. Ditanyakan pula intensitas berat- nya serangan apakah tetap, makin berat atau malahan menurun. Pada penyakit Meniere se- rangan pertama yang paling berat dan pada serangan-serangan berikutnya kekuatan se- rangan menjadi
lebih
ringan. Harus diwas- padai adanya serangan yang makin meningkat, sebagai tanda kemungkinan adanya tumor NVlll.
Pada setiap serangan harus ditanyakanpula
kemungkinan adanya fluktuasi pende- ngaran, yaitu bila terdapat serangan pende- ngaran menjadi berkurang, akan tetapi bila tidak ada serangan, pendengaran baik kembali.Tinitus biasanya menyertai vertigo dan fluktuasi pendengaran. Sering tinitus ini men-
dahului
serangan vertigo, sehingga pasien merasa akan terjadi serangan bila mendengarsuara
berdengungPenyakit Meniere
bisa didiagnosis hanya dengan anamnesis, melalui wawancara yang baik, sistematis dan terarah.Tabel. Tes kalori
Penyakit lain yang juga menimbulkan ke- luhan vertigo harus ditanyakan, misalnya; trau- ma kepala, intoksikasi streptomisin, hipertensi, hipotensi, diabetes, infeksi telinga tengah, dan penyakit kardiovaskuler.
Sebelum pemeriksaan fungsi vestibuler dilakukan, pasien harus bebas obat penenang,
obat tidur,
antihistamindan
obat-obat anti muntah selama seminggu.Untuk memeriksa fungsi vestibuler dilaku- kan tes kalori cara Kobrak, tes kalori bitermal, elektro nistagmografi dan tes nistagmus posisi.
Tes kobrak
Posisi pasien tidur telentang,dengan ke-
pala fleksi 30
derajat,atau
duduk dengan kepala ekstensi 60 derajat.Digunakan semprit
5 atau
10ml,
ujung jarum disambung dengan kateter. Perangsang-an
dilakukan dengan mengalirkanair es
(0derajat C), sebanyak
5
ml, selama20
detik.Nilai dihitung dengan mengukur lama nistag- mus, dihitung sejak mulai air dialirkan sampai nistagmus berhenti.
Harga normal 120-150 detik. Harga yang kurang dari 120 detik disebut paresis kanal.
Tes kalorl bitermal
Tes kalori ini
dianjurkanoleh Dick
&Hallpike. Pada cara ini dipakai
2
macam air,dingin dan panas. Suhu air dingin adalah 30 derajat C, sedangkan suhu air panas adalah 44 derajat C. Volume air yang dialirkan ke dalam liang telinga masing-masing
250 ml,
dalam waktu40
detik. Setelahair
dialirkan, dicatat lama nistagmus yang timbul. Setelah telinga kiri diperiksa dengan air dingin, diperiksa te-Langkah Telinga Suhu air Arah Nistagmus Waktu nistagmus
Pertama Kedua Ketiga Keempat
Kiii Kanan Kiri Kanan
Kanan Kanan Kanan Kanan
a... detik
b... detik
c... detik
d... detik 300c
300c 44'C 440C
Kanan Kanan Kanan Kanan Hasil tes kalori dihitung dengan mempergunakan rumus :
Sensitivitas
L-
R : (a + c)-(b + d)=.
40 detik(L=|eft, R=right)
linga kanan dengan air dingin juga. Kemudian
telinga kiri
dialirkanair
panas,lalu
telingakanan. Pada
tiap-tiapselesai
pemeriksaan (telinga kiri atau kanan atau air dingin atau air panas) pasien diistirahatkan selama5
menit (untuk menghilangkan pusingnya). (lihat tabel Tes kalori).Dalam rumus
ini
dihitung selisih waktu nistagmus kiri dan kanan. Bila selisih ini kurang dari 40 detik maka berarti kedua fungsi vesti- buler dalam keadaan seimbang. Tetapi bilaselisih
ini lebih
besardari 40 detik,
maka berarti yang mempunyai waktu nistagmus lebih kecil mengalami paresis kanal.ELEKTRON TSTAGMOGRAFT (ENG)
ENG gunanya untuk memonitor gerakan bola mata. Prinsipnya sederhana saja, yaitu bahwa komea mata itu bermuatan positif. Muatan positif ini sifatnya sama dengan muatan positif
listrik atau
magnityang selalu
mengimbas daerah sekitarnya. Begitu pula muatan positif kornea ini mengimbas kulit sekitar bola mata.Dengan
meletakkanelektroda pada
kulitkantus lateral mata kanan dan kiri,
makakekuatan muatan kornea kanan dan kiri bisa direkam. Rekaman muatan ini disalurkan pada sebuah galvanometer.
Bila muatan kornea mata kanan dan kiri sama, maka galvanometer akan menunjukkan angka nol (di tengah). Bila mata bergerak ke kanan, maka elektroda kanan akan bertambah muatannya, sedangkan elektroda
kiri
akanberkurang, jarum galvanometer akan bergerak ke satu arah. Jadi kesimpulannya, jarum galvano- meter akan bergerak sesuai dengan gerak bola mata. Dengan demikian nistagmus yang terjadi bisa dipantau dengan baik. Bila gerak jarum galvanometer diperkuat, maka akan mampu menggerakkan sebuah tuas, dan gerakan tuas ini akan membentuk grafik pada kertas, yang disebut elektronistagmografi (ENG).
. Dalam
grafik ENG dapat mudah dikenalgerakan nistagmus fase lambat dan fase cepat,
arah
nistagmus serta frekuensidan
bentuk grafiknya. Yang menjadi pegangan utama ada- lah kecepatan fase lambat dari nistagmus yang dapat dihitung di dalam derajat perdetik.Rumus perhitungan yang dipakai sama dengan rumus yang dianjurkan Dick & Hallpike, hanya parameter yang dipakai adalah kecepat- an fase lambat yang dihitung dengan derajat perdetik.
Rumus l.
(a+c)-(b+d)
Sensitivitas L-R : X100%=<20o/o (a+c+b+d)
Bila hasil rumus di atas kurang daii 20 o/o maka kedua fungsi vestibuler dalam keadaan seimbang,
dan bila hasilnya melebihi
15 derajat perdetik, maka kedua fungsi vestibuler dalam keadaan normal.Bila
hasilnya lebih besar dari 2Ao/o, maka vestibuler yang hasilnya kecil berarti mengalami paresis kanal.Rumus ll.
(a+d)-(b+c)
Kuat Nist. R-L : X 100% = < 20 o/o
(a+d+b+c)
Bila hasil rumus lebih besar dari
20
Yo,maka nistagmus berat
ke
kanan (directional preponderanceto
the right), berarli kemung- kinan terdapat lesi sentraldi
sebelah kanan, atau ada fokus iritatif sentral di sebelahkiri.\
Tes nistagmus spontan
Nylen memberikan kriteria dalam menen- tukan kuatnya nistagmus
ini.
Bila nistagmus spontanini
hanya timbul ketika mata melidk searah dengan nistagmusnya, maka kekuatan nistagmusitu sama dengan
Nylen-1. Bilanistagmus
timbul
sewaktumata
melihat kedepan, maka disebut Nylen
2,
dan bila nis- tagmus tetap ada meskipun mata melidk ber- lawanan arah dengan arah nistagmus, maka kekuatannya disebut Nylen 3.Bila terdapat nistagmus spontan, maka harus dilakukan
tes
hiperventilasi. Caranya ialah pasien diminta mengambil napas cepat dan dalam selama satu menit, dan sejak mulai setengah menit terakhir direkam. Bila terdapat perbedaan7
derajal perdetik maka berarti teshiperventilasi positif. Tes valsava caranya adalah dengan menahan napas selama 30 detik, dan sejak mulai menahan napas itu direkam, dan interpretasi sama dengan hiperventilasi.
Tes nistagmus
posisi
Tes nistagmus posisi ini dianjurkan oleh Halpike dan cara ini disebut Perasat Hallpike.
Caranya
adalah,
mula-mulapasien
duduk, kemudian tidur telentang sampai kepala meng- gantungdi
pinggir meja periksa, lalu kepala diputar ke kiri, dan setelah itu kepala diputar kekanan. Pada setiap posisi nistagmus diper- hatikan, terutama pada posisi akhir. Nistagmus yang terjadi dicatat masa laten, dan intensitas-
nya. Juga
ditanyakan kekuatan vertigonya secara sujektif. Tes posisi ini dilakukan berkali- kali dan diperhatikan ada tidaknya kelelahan.Dengan tes posisi ini dapat diketahui kelainan sentral atau perifer. Pada kelainan perifer akan ditemukan masa laten dan terdapat kelelahan
dan vertigo
biasanyaterasa berat.
Pada kelainan sentral sebaliknya, yaitutidak
ada masa laten, tidak ada kelelahan dan vertigo ringan saja.Gambar 3. Perasat Hallpike
Nistagmus posisi yang berasal dari perifer dapat dibedakan dari nistagmus yang disebab- kan oleh debris (nistagmus paroksismal tipe jinak), atau oleh kelainan servikal, atau kedua- duanya (kombinasi).
Tes
nistagmusposisi
dengan bantuan elektronistagmografi menjadi sederhana. Pada pemeriksaan,kita hanya
memerlukan dua posisi, yaitu HL/
HR dan BL/
BR. Posisi HLadalah tidur telentang dengan leher diputar, sehingga posisi kepala dengan telinga kiri ada
di
bawah, ataubila HR
maka dilakukan halyang sama sehingga telinga kanan berada di
bawah. Posisi
BL
adalah tidur miringke
kiri dengan leher tetap lurus, dan posisi BR ialah tidur miring ke kanan.Pada posisi HL mungkin terjadi dua ma-
cam
rangsangan,yaitu
rangsangan yang berasal dari debris (kotoran yang menempel pada kupula kss), kita sebut saja nistagmus yang timbul adalah nistagmus debris (ND), dan nistagmuslain mungkin
disebabkan oleh putaran servikal,kita sebut saia
nistagmus servikal (NS).Dalam perhitungan :
Misal
HL = a derajat perdetik BL=bderajatperdetikMaka A =NS+ND
ND
adalah sama dengan harga BL, yaitu besarnya sama dengan B derajat perdetik.Jadi NS = A - B derajat perdetik
Dengan pemeriksaan yang telah kita lakukan seperti di atas maka kita harus mampu menen- tukan apakah kelainan terdapat di'sentral atau perifer.
Tanda yang
kita
Kelainansentral
Kelainan perifer ketahui1.
Nistagmus
Vertikalspontan
2.
Nistagmus
Tidak adaposisi
kelelahanHorizontal/
rotatoir Ada kelelahan 3.
Nistagmus Normal/
Paresiskalori
PreponderanceKelainan perifer dapat ditentukan dengan pemeriksaan khusus, misalnya
: tes
gliserin, tes fistula dan tes posisi.Tes gliserin, khusus untuk mengetahui adanya hidrops endolimfa pada penyakit Meniere. Cara melakukannya ialah pasien diberikan minuman
gliserin 1,2
ml/kgBB, setelah diperiksa tes kalori dan audiogram. Kemudian setelah 2 jam dilakukan kembalites
kaloridan
audiogram dan hasilnya dibandingkan dengan hasil peme- riksaanyang
pertama.Bila ada
perbedaan yang bermakna, maka terbukti adanya hidrops endolimfa. Perbedaan bermaknabila
padahasil E.N.G. perbedaan 7 deralal perdetik lebih
baik.
Pada audiogram perbedaan bermakna bila selisih 10 dB lebih baik.Tes fistula, untuk mengetahui adanya hubung- an (fistel) antara telinga tengah dengan telinga dalam. Caranya ialah dengan memberikan te- kanan udara pada liang telinga tengah. Bila terjadi nistagmus setelah diberikan tekanan, maka berarti terdapat fistel.
Tes nistagmus posisi, dapat untuk menentukan adanya debris atau adanya pengaruh putaran leher, sebagai yang telah diterangkan sebe- lumnya.
Bila tidak ditemukan tanda sentral atau perifer, maka diagnosis sesuai dengan pe- nyakit yang ada, baik sebagai penyebab atau sebagai pencetus, atau mungkin juga penyakit yang tidak diketahui.
Pengalaman
di klinik
Neurotologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, dari keluhan vertigo, ternyata masih banyak yang masih belum diketahui penyebabnya, yaitu
16%. Kelainan sentral ditemukan 9,3 %. Pe- nyakit gangguan vestibuler perifer yang di- ketahui penyebabnya, ialah
:
nistagmus ser- vikal, nistagmus gabungan, (nistagmus servikal+
nistagmus debris), nistagmus debris, hiper-tensi,
labirintitis, penyakit jantung, sklerosis multipel, hipotensi, intoksikasi kina dan strepto-misin,
penyakit Meniere, neudtis vestibuler, diabetes melitus, fraktur labirin, kemurungan (depresi), kolesteatom, tumor NVlll,
kontusio labirin.Daftar pustaka
'1. Andrew JC, Honrubia V, Meniere's Disease. ln :
Baloh RW, Holmagyi GM, editors. Disorders of the Vestibular System. New York; Oxford University Press, 1 996 1300
-
327.2.
Lonsburry Martin BL, Martin GK, Luebke AE.Physiology of The Auditory and Vestibular System.
ln :
Ballenger JJ, Snow JB.eds Otolaryngology Head and Neck $urgery. 'l5rn ed. Philadelphia. WB Saunders; 1 996 i 879-
91 0.3.
Masaaki Kitahara. Concepts and diagnostic criteriafor Meniere's diseases. Springer Verlag, Tokyo, Berlin Heideberg, Berlin, Paris, Hongkong, Barcelona, 1990:i10,1 1 .
4.
Hain TC . Benign Parorysmal Positional Vertigo.Available frorn
:
htto:/www.dizziness-anddisitasi June16h.2@6