KELAUTAN DAN PERIKANAN
3.2.3 Proyeksi Belanja Pemerintah Pusat Jangka Menengah Tahun 2024 – 2026
3.2.3.1 Belanja Pemerintah Pusat Menurut Organisasi
Menurut Organisasi, belanja pemerintah pusat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu:
(1) BPP yang dialokasikan melalui Bagian Anggaran (BA) Kementerian/Lembaga (K/L);
dan (2) BPP yang dialokasikan melalui Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BUN) atau belanja non-K/L.
3.2.3.1.1. Belanja Kementerian/Lembaga Untuk kebijakan jangka menengah belanja K/L masih berpedoman pada RPJMN tahun 2020–2024 yang merupakan titik tolak untuk mencapai sasaran Visi Indonesia 2045 yaitu Indonesia Maju. Dalam RPJMN tersebut Presiden menetapkan 5 (lima) arahan utama sebagai strategi dalam pelaksanaan misi Nawacita dan pencapaian sasaran Visi Indonesia 2045. Kelima arahan tersebut mencakup Pembangunan Sumber Daya Manusia, Pembangunan Infrastruktur, Penyederhanaan Regulasi, Penyederhanaan Birokrasi, dan Transformasi Ekonomi. Secara umum, penjabaran atas kelima arahan tersebut dari sisi kebijakan fiskal pada jangka menengah 2024-2026, diarahkan untuk melanjutkan dan mendorong pengelolaan fiskal yang sehat, fleksibel, berkelanjutan, dan mendukung arah kebijakan konsolidasi dan pendisiplinan fiskal sebagai respon diberlakukannya kembali batas defisit maksimal 3 persen dari PDB sesuai UU nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara. Keberlanjutan kebijakan fiskal jangka menengah masih difokuskan untuk mendukung pemulihan dan transformasi ekonomi, reformasi struktural dan reformasi fiskal, serta untuk memitigasi risiko dalam rangka penguatan fondasi ekonomi agar mampu keluar dari middle income trap ditengah kondisi ketidakpastian perekonomian global.
Karena itu, dari sisi kebijakan belanja K/L dalam jangka menengah diarahkan untuk tetap mendukung pencapaian target pembangunan sebagaimana tertuang dalam RPJMN secara lebih berhati-hati dengan memperhatikan ruang fiskal yang tersedia dan skala prioritas yang ada guna mendukung kebijakan makro fiskal dalam merespon dinamika perekonomian dan menjawab tantangan yang ada.
Pemerintah memperkirakan bahwa penanganan berbagai permasalahan yang muncul pasca pandemi Covid-19, adanya tantangan geo politik, kenaikan harga komoditas, inflasi di negara-negara maju, dan masih berlanjutnya ketidakstabilan ekonomi sebagai akibat adanya ketidakpastian perekonomian global masih perlu dilakukan langkah-langkah mitigasi dalam jangka menengah. Tantangan-tantangan pembangunan dan fiskal yang dialokasikan berkembang dalam jangka menengah dan perlu diantisipasi dan direspon yaitu: (1) penanganan pasca pandemi Covid-19 dan proses pemulihan kesehatan dan ekonomi yang perlu diakselerasi;
(2) ketidakpastian perekonomian global dan domestik; (3) reformasi struktural dan transformasi ekonomi; (4) isu perubahan iklim dan disrupsi ekonomi digital; (5) pergeseran aktivitas ekonomi yang berbasis TIK; dan (6) ruang fiskal yang terbatas.
Reformasi struktural perlu dilakukan terutama untuk peningkatan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk
merespon tantangan middle income trap dan meningkatkan kemampuan daya saing. Saat ini bangsa Indonesia memiliki bonus demografi dimana banyak SDM dalam usia produktif yang masih perlu dioptimalkan pemberdayaannya.
Pembangunan SDM terutama pada bidang pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial masih dihadapkan pada berbagai tantangan.
Tantangan pembangunan pendidikan diantaranya adalah indikator human capital index (HCI) yang belum optimal, rendahnya rata-rata lama sekolah, skor PISA yang tidak meningkat signifikan, ketimpangan akses pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana yang belum merata, dan adanya mismatch pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.
Sementara itu, tantangan pembangunan kesehatan masih dihadapkan antara lain pada ketimpangan pemerataan sumber daya (supply side) kesehatan, baik tenaga kesehatan, kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan, farmasi, maupun alat kesehatan; pengendalian penyakit;
pengembangan teknologi informasi dalam layanan kesehatan; dan stunting. Selanjutnya, tantangan di bidang perlindungan sosial antara lain penargetan program perlindungan sosial yang belum sepenuhnya akurat, data penerima manfaat belum termutakhirkan dengan baik dengan konsep yang berkesinambungan dan terkoneksi antar program.
Tantangan berikutnya adalah diperlukannya dukungan keberlanjutan pembangunan infrastruktur yang bersifat prioritas. Hal ini menjadi faktor penting untuk mempermudah pelaksanaan transformasi ekonomi, mengingat ketersediaan dukungan infrastruktur khususnya untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar dan konektivitas yang dapat menghubungkan antar titik pertumbuhan ekonomi sehingga pada akhirnya dapat menciptakan trikcle down effect (kegiatan ekonomi yang besar akan
memberikan efek kepada kegiatan ekonomi yang lebih kecil dan juga daerah penyangga di sekitarnya), masih belum sepenuhnya tersedia.
Melalui langkah pemilihan skala prioritas pembangunan infrastruktur, maka hasil pembangunan lebih dapat dirasakan, merata, memperkecil ketimpangan pendapatan, dan membantu pemutusan mata rantai kemiskinan.
Selanjutnya, Pemerintah juga masih dihadapkan pada tantangan ruang fiskal yang terbatas.
Terbatasnya ruang fiskal dapat mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam mengalokasikan anggaran belanja pada program-program prioritas. Oleh karena itu, Pemerintah menempuh berbagai strategi kebijakan yang diarahkan untuk penyehatan fiskal. Upaya yang dilakukan adalah dengan terus melakukan penguatan kualitas belanja dan juga reformasi penganggaran yang antara lain melanjutkan kebijakan spending better dalam pengalokasian anggaran K/L.
Untuk merespon tantangan tersebut, kebijakan belanja K/L dalam periode tahun 2024–2026 akan tetap diarahkan untuk melanjutkan agenda pembangunan sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2020- 2024 sebagai masa transisi penyusunan RPJMN tahap berikutnya untuk mendukung:
(1) penguatan kualitas SDM untuk meningkatkan kualitas dan daya saing serta produktivitas;
(2) peningkatan efektivitas perlindungan sosial;
(3) percepatan pembangunan infrastruktur layanan dasar, konektivitas, pangan, energi, teknologi informasi dan komunikasi;
(4) reformasi penganggaran; dan (5) penguatan reformasi birokrasi.
3.2.3.1.2. Belanja Non Kementerian/
Lembaga
Program Pengelolaan Utang Negara Meskipun kondisi pasar keuangan dalam jangka menengah masih diliputi ketidakpastian, ke depannya pengelolaan utang dialokasikan semakin membaik. Hal ini searah dengan upaya konsilidasi fiskal pemerintah dan membaiknya kinerja APBN.
Dalam periode 2024-2026, Pemerintah akan tetap mengambil langkah kebijakan fiskal ekspansif dengan defisit fiskal yang semakin terukur dan terarah untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional.
Kebijakan ekspansif ini tentunya akan memiliki konsekuensi pada penggunaan pembiayaan utang untuk menutup defisit tersebut, sehingga akan berdampak pada pembayaran bunga utang.
Kebijakan belanja pembayaran bunga utang terutama difokuskan pada pemenuhan kewajiban Pemerintah kepada pemberi pinjaman dan investor secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menjaga akuntabilitas dan kredibilitas pengelolaan utang.
Selanjutnya, Pemerintah juga akan terus berupaya untuk meningkatkan efisiensi bunga utang. Hal ini antara lain dilakukan melalui:
(1) pendalaman dan pengembangan pasar keuangan yang berkesinambungan untuk mendorong penurunan imbal hasil SBN;
(2) mengoptimalkan komposisi pembiayaan utang yang memiliki biaya dan risiko yang lebih baik; (3) optimalisasi potensi pendanaan utang dari dalam negeri untuk mendorong kemandirian pembiayaan, termasuk SBN Ritel; (4) sumber utang dari luar negeri sebagai pelengkap untuk menghindari crowding out effect dan sebagai upaya natural hedging; dan (5) pelaksanaan pengelolaan portofolio utang (liability management) dengan melanjutkan upaya
debt swap, konversi pinjaman debt switch dan buyback untuk mengendalikan risiko utang.
Program Pengelolaan Subsidi
Kebijakan program pengelolaan subsidi jangka menengah akan diarahkan untuk:
(1) pelaksanaan transformasi subsidi energi lebih tepat sasaran dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi berbasis penerima manfaat; (2) pengelolaan belanja subsidi (energi dan non-energi) secara lebih efisien dengan memperhatikan ketepatan sasaran penerimanya; (3) pengendalian anggaran subsidi; (4) penggunaan metode perhitungan subsidi yang didukung dengan perbaikan basis data yang transparan; dan (5) penataan ulang sistem penyaluran subsidi agar lebih akuntabel.
Program Pengelolaan Hibah
Dalam jangka menengah Program Pengelolaan Hibah akan tetap diarahkan untuk memperkuat tujuan dan kepentingan nasional Indonesia di tataran global melalui pemberian hibah kepada pemerintah asing/lembaga asing.
Program Pengelolaan Belanja Lainnya Kebijakan pada Program Pengelolaan Belanja Lainnya dalam jangka menengah diarahkan antara lain untuk: (1) antisipasi perubahan asumsi ekonomi makro dan kebijakan fiskal;
(2) antisipasi penanggulangan bencana;
(3) antisipasi pembayaran atas kewajiban Pemerintah yang timbul sesuai hasil audit;
(4) antisipasi tambahan pegawai baru, honorarium, tunjangan khusus, dan belanja pegawai lainnya; (5) antisipasi dukungan kebijakan ketahanan pangan dan stabilisasi harga pangan; dan (6) antisipasi keperluan mendesak.
Program Pengelolaan Transaksi Khusus Kebijakan belanja pemerintah pusat pada Program Pengelolaan Transaksi Khusus dalam jangka menengah antara lain diarahkan untuk: (1) mendukung implementasi UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional khususnya untuk aparatur negara; (2) melanjutkan kontribusi terhadap pemenuhan kewajiban pemerintah terhadap pensiunan ASN dan TNI/Polri;
(3) memenuhi kewajiban Pemerintah terhadap komitmen internasional melalui kontribusi Pemerintah Indonesia kepada organisasi internasional; (4) mendukung percepatan infrastruktur yang dilaksanakan melalui skema KPBU dengan prioritas pada sektor- sektor infrastruktur layanan dasar perkotaan (urban) seperti sektor air, perumahan, kesehatan/rumah sakit, pengelolaan sampah, jaringan gas dan transportasi perkotaan; dan (5) memberikan dukungan pengelolaan loss limit atas pelaksanaan pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi Covid-19.
3.2.3.2 Belanja Pemerintah Pusat Menurut