• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belanja Perpajakan

Dalam dokumen Buku II Nota Keuangan APBN 2023 (Halaman 103-107)

PENDAPATAN NEGARA

2.1 Pendahuluan

2.1.1.3 Belanja Perpajakan

jasa tertentu yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat, seperti bahan kebutuhan pokok, jasa pendidikan, dan jasa kesehatan.

Selanjutnya, Tabel 2.3 menyajikan belanja perpajakan berdasarkan sektor perekonomian.

Apabila dilihat dari belanja perpajakan yang ditujukan secara spesifik pada sektor tertentu, sektor yang paling banyak menerima fasilitas perpajakan adalah sektor industri pengolahan, disusul dengan sektor jasa keuangan, serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Nilai belanja perpajakan yang tinggi untuk sektor industri pengolahan bukan hanya berasal dari insentif yang ditujukan kepada industri besar, tetapi juga kepada industri UMKM dan

pengolahan kebutuhan pokok. Adapun untuk sektor jasa keuangan memiliki nilai belanja perpajakan yang tinggi karena termasuk dalam jenis jasa yang dikecualikan sebagai jasa kena pajak (non-JKP). Demikian pula untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sebagian besar barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut merupakan barang yang dikecualikan dari barang kena pajak (non-BKP).

Sementara itu, berdasarkan subjek penerima, belanja perpajakan dibagi menjadi dua, yaitu dunia usaha dan rumah tangga sebagaimana disajikan pada Tabel 2.4. Penerima dari dunia usaha terdiri dari (i) UMKM dan (ii) multi skala (UMKM dan non-UMKM). Mayoritas

2018 2019 2020 2021

Spesifik Sektor

Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 34,3 35,5 31,5 41,5 Pertambangan dan Penggalian 2,3 3,2 4,2 3,4 Industri Pengolahan 63,6 64,5 58,4 72,1 Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas 6,4 6,7 6,8 6,9 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah dan Limbah 1,0 1,0 0,9 1,2 Konstruksi 3,7 4,2 1,9 6,1 Perdagangan 11,7 16,3 11,2 13,4 Transportasi dan Pergudangan 15,6 15,6 14,5 18,6 Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum 1,1 1,0 0,5 1,7 Informasi dan Komunikasi 1,2 2,0 1,9 2,5 Jasa Keuangan dan Asuransi 40,9 45,6 43,1 43,8 Real Estat 4,8 6,8 3,4 5,5 Jasa Perusahaan 2,6 2,7 1,9 2,2 Administrasi Pemerintahan dan Jaminan Sosial Wajib 12,2 16,5 22,2 23,0 Jasa Pendidikan 18,6 18,8 17,0 19,3 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 3,7 3,9 4,4 7,2

Lainnya 10,4 22,3 8,5 19,2

Multi sektor 28,6 9,8 9,3 11,6 Total 262,8 276,3 241,6 299,1 Sumber: Kementerian Keuangan

Berdasarkan Sektor Estimasi

TABEL 2.3

ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN SEKTOR PEREKONOMIAN (triliun rupiah)

2018 2019 2020 2021

PPN & PPnBM 150,5 155,2 140,8 175,0

PPh 99,9 109,7 87,0 107,2

Bea Masuk dan Cukai 12,3 11,3 13,7 16,9 PBB Sektor P3 0,1 0,1 0,05 0,04

Bea Materai - - - -

Total 262,8 276,3 241,6 299,1 Sumber: Kementerian Keuangan

Berdasarkan Jenis Pajak Estimasi

TABEL 2.2

ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN JENIS PAJAK (triliun rupiah)

belanja perpajakan tahun 2021 yaitu sekitar 43,7 persen diterima oleh rumah tangga.

Hal ini sejalan dengan nilai estimasi belanja perpajakan terbesar adalah untuk jenis pajak PPN dan PPnBM, yang merupakan pengenaan pajak atas konsumsi akhir. Estimasi belanja perpajakan tahun 2021 yang diterima oleh rumah tangga meningkat seiring peningkatan konsumsi masyarakat dan pemanfaatan fasilitas yang diberikan untuk pemulihan perekonomian akibat pandemi Covid-19 seperti PPnBM ditanggung pemerintah (DTP) kendaraan bermotor dan PPh Pasal 21 DTP.

Untuk kategori berikutnya, belanja perpajakan dibagi berdasarkan tujuan pemberiannya sebagaimana Tabel 2.5. Nilai estimasi belanja perpajakan terbesar tahun 2021 adalah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yaitu sebesar Rp159.916,4 miliar atau 53,5 persen terhadap total belanja perpajakan, yang sebagian besar berupa pengecualian barang dan jasa kena pajak seperti bahan kebutuhan pokok, jasa angkutan umum, serta jasa

pendidikan dan kesehatan, yang ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat. Hal ini menunjukkan kehadiran pemerintah dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, belanja perpajakan dibagi berdasarkan fungsi belanja pemerintah. Kategori ini menyajikan estimasi belanja perpajakan yang tujuan pemberiannya relevan dengan fungsi belanja pemerintah di APBN sehingga menjadi pelengkap dukungan pemerintah dari sisi belanja negara. Sebagian besar belanja perpajakan tahun 2021 yaitu sekitar 56,9 persen digunakan untuk mendukung fungsi ekonomi, dimana fungsi ini sebagian besar bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian. Seiring dengan perbaikan kondisi perekonomian, belanja perpajakan pada fungsi ekonomi meningkat cukup tinggi pada tahun 2021 sehingga nilainya sama besarnya dengan level prapandemi (tahun 2019). Belanja perpajakan pada fungsi kesehatan meningkat dari Rp6.126,0 miliar di tahun 2020 menjadi Rp15.891,9 miliar

2018 2019 2020 2021

Dunia Usaha

Multi Skala 72,3 83,9 85,9 99,3

UMKM 62,3 65,9 59,0 69,0

Rumah tangga 128,2 126,5 96,7 130,8 Total 262,8 276,3 241,6 299,1 Sumber: Kementerian Keuangan

Berdasarkan Subjek Estimasi

TABEL 2.4

ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN SUBJEK PENERIMA MANFAAT (triliun rupiah)

2018 2019 2020 2021

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat 139,8 141,8 121,1 159,9 Mengembangkan UMKM 62,3 65,9 59,0 69,0 Mendukung dunia bisnis 33,5 42,6 32,1 38,5 Meningkatkan iklim investasi 27,1 25,9 29,3 31,6 Total 262,8 276,3 241,6 299,1 Sumber: Kementerian Keuangan

Berdasarkan Tujuan Estimasi

TABEL 2.5

ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN TUJUAN KEBIJAKAN (triliun rupiah)

pada tahun 2021 atau meningkat sebesar 159,4 persen untuk mendukung pemulihan akibat dampak Covid-19. Perkembangan belanja perpajakan berdasarkan fungsi belanja Pemerintah disajikan pada Tabel 2.6

Sejak tahun 2020, Pemerintah memberikan insentif perpajakan dalam rangka penanggulangan dampak pandemi Covid-19, baik yang dikategorikan sebagai belanja perpajakan maupun yang tidak termasuk ke dalam definisi belanja perpajakan. Suatu insentif

pajak tidak termasuk ke dalam definisi belanja perpajakan apabila sifatnya hanya menunda pemenuhan kewajiban pembayaran pajak dari Wajib Pajak dan belum menyebabkan hilangnya penerimaan pajak seperti pembebasan PPh pasal 22, pengurangan angsuran PPh pasal 25, serta pengembalian pendahuluan PPN.

Total belanja perpajakan yang telah dilaporkan sebesar Rp299.124,7 miliar sudah termasuk yang dikeluarkan untuk penanggulangan dampak pandemi Covid-19, dengan perincian sebagaimana Tabel 2.7.

2020 2021*

PPN DTP atas penyerahan BKP/JKP untuk kegiatan penanganan COVID-19 1,9 4,5

PPN DTP Kertas Koran dan atau Kertas Majalah - ~

PPN DTP atas penyerahan rumah tapak dan unit hunian rumah susun ~ 0,3

PPN DTP atas sewa ruangan atau bangunan ~ 0,2

PPnBM DTP atas penyerahan BKP yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor tertentu ~ 4,9 Sumbangan dalam rangka penanganan Pandemi COVID-19 Yang Dapat Dibebankan Sebagai Biaya 0,2 4,5

Investment Allowance atas Produksi Alat Kesehatan 0 0,0003

PPH Final WP P3-TGAI DTP 0,013 0,007

PPh Final UMKM DTP 0,7 0,8

PPh Pasal 21 DTP 1,7 4,3

PPh Final 0% atas tambahan penghasilan yang diterima oleh tenaga kesehatan dalam rangka penanganan

COVID-19 0,3 0,6

Bea Masuk DTP atas Impor Barang dan Bahan untuk Memproduksi Barang dan/atau Jasa oleh Industri

Sektor Tertentu yang Terdampak COVID-19 0,1 0,3

Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai serta Perpajakan atas Impor Barang untuk keperluan

Penanganan Pandemi COVID-19 0,7 0,4

Pembebasan Bea Masuk Dan/Atau Cukai Atas Impor Barang Kiriman Hadiah/ Hibah Untuk

Keperluan Ibadah Untuk Umum, Amal, Sosial, Atau Kebudayaan 0,05 0,007

Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai serta Perpajakan atas Impor Pengadaan Vaksin dalam

rangka Penanganan Pandemi COVID-19 0,01 2,2

Total 5,7 23,0

~ peraturan belum berlaku/telah dicabut Sumber: Kementerian Keuangan

Tabel 2.7

ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN

DALAM RANGKA PENANGGULANGAN DAMPAK PANDEMI COVID-19 (triliun rupiah)

Perlakuan khusus atau fasilitas Realisasi

2018 2019 2020 2021

Pelayanan Umum 22,9 24,0 21,4 24,8

Ekonomi 159,5 163,6 136,4 170,1

Perlindungan Lingkungan Hidup 1,8 2,2 3,0 2,4 Perumahan dan Fasilitas Umum 14,3 16,8 7,4 10,2 Kesehatan 3,0 3,1 6,1 15,9

Agama 0,1 0,1 0,1 0,1

Pendidikan 18,6 18,8 17,0 19,3 Perlidungan Sosial 42,4 47,7 50,1 56,2 Total 262,8 276,3 241,6 299,1 Sumber: Kementerian Keuangan

Berdasarkan Fungsi Belanja Pemerintah

Estimasi TABEL 2.6

ESTIMASI BELANJA PERPAJAKAN BERDASARKAN (triliun rupiah)

FUNGSI BELANJA PEMERINTAH

Rincian kebijakan insentif belanja perpajakan dapat dilihat dalam Laporan Belanja Perpajakan yang terbit setiap tahunnya. Selanjutnya, perlu diketahui bahwa selain kebijakan belanja perpajakan, Pemerintah juga memberikan berbagai insentif yang tidak termasuk ke dalam kategori belanja perpajakan yang berperan besar dalam mendukung perekonomian nasional.

Daftar kebijakan yang dimaksud dapat juga dilihat dalam Laporan Belanja Perpajakan.

2.1.2 Perkembangan Penerimaan Negara

Dalam dokumen Buku II Nota Keuangan APBN 2023 (Halaman 103-107)