ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO
1.2 Perkembangan Perekonomian Global dan Domestik Tahun 2018–2022 dan
1.2.2 Perekonomian Domestik
untuk mengambil langkah responsif melalui penerapan aturan pembatasan sosial demi melindungi keselamatan masyarakat. Perubahan pola hidup baru dengan melakukan mayoritas kegiatan sehari-hari dari rumah menjadi faktor utama dalam perlambatan ekonomi di tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 2,1 persen.
Ekonomi nasional kemudian menunjukkan tren pemulihan yang kuat di tahun 2021.
Indikasi pemulihan ekonomi yang telah terlihat sejak akhir tahun 2020 terus menguat di sepanjang tahun 2021 di mana pada tahun tersebut pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 3,7 persen. Peran APBN khususnya melalui program PC-PEN dinilai efektif dalam menahan kembali tertekannya ekonomi yang lebih dalam di setidaknya dua gelombang pandemi di tahun 2021, yaitu pasca liburan Natal dan Tahun Baru 2021 dan masa puncak varian Delta di triwulan III 2021. Selain itu, upaya penanganan pandemi yang cepat dan efektif, termasuk percepatan program vaksinasi, juga berperan besar dalam keberlangsungan pemulihan ekonomi.
Laju pemulihan juga semakin kuat dengan mulai membaiknya kesejahteraan masyarakat, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran nasional.
Tahun 2022 akan menjadi tahun yang penuh tantangan. Faktor ketidakpastian pada periode ini sangat tinggi. Gejolak geopolitik yang memanas di masa konflik Rusia dan Ukraina menambah tekanan kepada pemulihan ekonomi dunia. Pengetatan kebijakan moneter global akibat tingkat inflasi yang tinggi dan berkelanjutan dapat mendorong cost of fund baik untuk pembiayaan sektor swasta maupun publik. Meskipun sebagian dari tekanan eksternal telah dan akan terus diserap oleh
APBN tahun 2022, percikan dari dinamika ekonomi dunia kepada keberlangsungan pemulihan ekonomi domestik tetap perlu diantisipasi dan dimitigasi.
Dengan fundamental ekonomi yang kuat dan kebijakan yang akomodatif, perekonomian nasional tetap berpotensi tumbuh menguat.
Meski masih dalam tahap dini, pemulihan ekonomi nasional terus menguat yang tecermin pada triwulan II 2022 yang tumbuh 5,4 persen (yoy), atau tumbuh 3,7 persen (qtq). Tingkat keparahan dari infeksi virus Covid-19 yang berangsur-angsur mereda akan menjadi poin krusial dalam pembentukan rasa percaya diri dan kenyamanan bagi masyarakat dan dunia usaha dalam beraktivitas.
Kualitas pemulihan ekonomi juga terus dijaga dengan penguatan peran APBN sebagai shock absorber, khususnya dalam melindungi pemulihan kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Pengendalian stabilitas tingkat inflasi serta pasar keuangan domestik akan menjadi kunci dalam menjaga momentum pemulihan di tahun 2022. Perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh di kisaran 5,1–5,4 persen di tahun 2022. Proyeksi ini sejalan dengan kalkulasi lembaga internasional termasuk Bank Dunia (5,1 persen), IMF (5,3 persen), dan Consensus Forecast (5,1 persen).
Secara spasial, struktur ekonomi Indonesia tahun 2021 masih didominasi provinsi-provinsi di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 57,9 persen, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,7 persen (yoy). Posisi kedua ditempati oleh Pulau Sumatera dengan kontribusi sebesar 21,7 persen sementara posisi ketiga adalah Pulau Kalimantan dengan kontribusi sebesar 8,25 persen diikuti Pulau Sulawesi, Pulau Bali dan Nusa Tenggara, serta Pulau Maluku dan Papua masing-masing sebesar 6,9 persen, 2,8 persen,
BOKS 1.1
DISPARITAS PEMBANGUNAN EKONOMI ANTARDAERAH
Pemerataan pendapatan antardaerah terutama dipengaruhi oleh adanya konsentrasi kegiatan ekonomi, alokasi investasi, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, dan perbedaan kekayaan sumber daya alam (SDA) antarprovinsi. Provinsi yang memiliki infrastruktur yang baik dan lengkap akan memiliki aktivitas ekonomi yang lebih tinggi. Ketersediaan sumber daya manusia juga akan memengaruhi level pembangunan di masing-masing daerah. Kondisi penting lainnya yaitu ketersediaan sumber daya alam terutama dari hasil minyak dan gas bumi (migas), juga sangat memengaruhi ketimpangan pendapatan antarprovinsi.
Ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat pemerataan pendapatan antarprovinsi adalah Indeks Williamson (IW). Dalam menghitung IW digunakan indikator PDRB riil perkapita dan jumlah penduduk. Guna melihat ketimpangan pendapatan karena adanya faktor perbedaan SDA masing-masing provinsi maka juga dapat dilakukan penghitungan dengan menggunakan PDRB riil perkapita non migas.
Dengan mengeluarkan faktor kekayaan sumber daya alam secara tidak langsung juga melihat dampak kebijakan Pemerintah terhadap pemerataan pembangunan antarwilayah (infrastruktur dan juga kualitas sumber daya manusia). Nilai IW berkisar antara 0 < IW < 1, di mana semakin mendekati nol berarti pendapatan antarprovinsi semakin merata, sedangkan mendekati satu maka semakin timpang. Klasifikasi atas hasil perhitungan juga dapat merujuk pada kriteria apabila angka IW > 0,50 maka ketimpangan pendapatan dikategorikan tinggi, dan sebaliknya IW < 0,50 ketimpangan pendapatan dikategorikan rendah.
Hasil perhitungan IW dengan memperhitungkan sumber daya alam (migas) memperlihatkan ketimpangan pendapatan antarprovinsi yang relatif tinggi. Dalam kurun 2015–2020 nilai IW cenderung tinggi, berada pada level 0,756. Hal ini menunjukkan bahwa faktor keragaman kepemilikan SDA (initial endowment) menjadi faktor yang cukup dominan yang menyebabkan ketimpangan yang relatif tinggi antarwilayah.
Sebagai contoh gap antara PDRB riil perkapita untuk provinsi penghasil SDA migas (Kalimantan Timur:
Rp127,3 juta) dengan provinsi miskin SDA migas (Nusa Tenggara Timur: Rp13,1 juta) sangat lebar.
Hasil perhitungan IW dengan mengeluarkan kekayaan SDA atau hanya memperhitungkan PDRB perkapita non migas, terlihat bahwa tingkat ketimpangan antarwilayah di Indonesia relatif rendah dan cenderung menurun. Jika pada tahun 2015 nilai IW berada pada level 0,391, sedangkan pada tahun 2020 turun menjadi 0,339, mengindikasikan adanya perbaikan tingkat kemerataan antarwilayah.
Dengan demikian tingkat ketimpangan antarwilayah lebih disebabkan oleh faktor kepemilikan SDA migas (initial endowment). Di sisi lain, upaya pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah terlihat dapat menurunkan tingkat ketimpangan antarwilayah yang ditunjukkan dengan penurunan IW non migas yang lebih mencerminkan perbaikan struktur dan kualitas SDM.
0,757 0,751 0,754 0,755 0,759 0,757
0,391 0,380 0,374 0,369 0,367 0,339
2015 2016 2017 2018 2019 2020
PERKEMBANGAN INDEKS WILLIAMSON NASIONAL, 2015-2020
PDRB per Kapita PDRB per Kapita Nonmigas Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
dan 2,5 persen. Kondisi struktur ekonomi tersebut tidak lepas dari variasi potensi yang dimiliki setiap wilayah, baik berupa sumber daya alam (SDA), kondisi geografis, dan kemampuan daerah dalam mengelola potensi yang dimiliki. Kesenjangan antarwilayah berpotensi menjadi persoalan di masa depan yang dipicu oleh adanya persepsi ketidakadilan antar warga masyarakat. Kondisi demikian harus diminimalisir dengan strategi dan kebijakan pembangunan yang tepat. Terkait hal tersebut, Pemerintah Pusat sudah mengalokasikan anggaran transfer ke daerah dan dana desa yang meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Dana transfer baik DAK Fisik maupun Dana Desa diharapkan mampu memberikan stimulus dan meningkatkan kemandirian fiskal daerah. Pemerintah Pusat juga mengalokasikan belanja K/L yang dibelanjakan di daerah untuk mendanai program-program prioritas seperti pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan.
Salah satu yang menjadi isu penting dalam pembangunan ekonomi nasional adalah ketimpangan pendapatan antar provinsi.
Agenda pembangunan ekonomi nasional selain diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, juga untuk perbaikan pemerataan pendapatan antar provinsi.
Pemerintah juga secara khusus meningkatkan program pembangunan konektivitas antar daerah untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di daerah-daerah yang tertinggal, sehingga peningkatan pertumbuhan dapat tercapai secara nasional dan mendukung pemerataan pembangunan antar provinsi.
Tingkat ketimpangan antarwilayah selama beberapa tahun terakhir terlihat menurun jika mengeluarkan faktor kekayaan sumber daya alam (initial endowment).
Tahun 2021 merupakan titik balik bagi pemulihan konsumsi rumah tangga. Tingkat vaksinasi yang naik dengan pesat terus membangun daya tahan kesehatan masyarakat dalam menghadapi virus Covid-19 serta membangun optimisme atas dimulainya era pemulihan ekonomi. Kemampuan adaptasi masyarakat dalam menghadapi fluktuasi gelombang pandemi juga menjadi aspek penting dalam stabilitas pemulihan konsumsi rumah tangga. Dampak dari dinamika pembatasan mobilitas masyarakat terhadap aktivitas konsumsi menjadi dapat diminimalisir sehingga konsumsi rumah tangga dapat tumbuh positif pada level 2,0 persen di tahun 2021.
Di tahun 2022, tren pemulihan konsumsi rumah tangga diperkirakan masih menguat secara gradual. Hingga semester I tahun 2022, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen.
Aktivitas-aktivitas konsumsi yang selama pandemi tertahan dapat terus menguat, seperti konsumsi transportasi serta konsumsi yang terkait pariwisata misalnya restoran dan hotel.
Di sisa tahun 2022, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tetap akan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2021. Pertumbuhan konsumsi yang sempat tertahan di semester II tahun 2021 akibat varian Delta juga akan menciptakan base effect bagi pertumbuhan di semester II tahun 2022. Sementara itu, daya beli masyarakat secara agregat juga tetap berpotensi meningkat, terutama akibat dari pembukaan lapangan kerja baru yang di sepanjang tahun 2022 diperkirakan masih terus berlanjut.
Meskipun demikian, tingkat konsumsi rumah tangga diperkirakan belum akan sekuat yang diharapkan sebelumnya. Dinamika tingkat inflasi serta fluktuasi nilai tukar berpotensi menciptakan sentimen negatif pada aktivitas
konsumsi. Memerhatikan potensi dorongan maupun risiko yang ada, konsumsi rumah tangga tahun 2022 diproyeksi tumbuh pada kisaran 5,1–5,4 persen.
Pengeluaran konsumsi Pemerintah (PKP) melanjutkan tren pertumbuhan positif di tahun 2021. Kebijakan countercyclical APBN dilanjutkan di tahun 2021 melalui program PC-PEN yang kembali diperkuat dalam menghadapi masa puncak varian Delta. Tinggi dan cepatnya penambahan kasus harian pada periode ini mengharuskan Pemerintah untuk kembali melakukan pembatasan mobilitas masyarakat. Bantalan kepada masyarakat berpenghasilan rendah kembali ditingkatkan dan belanja penanganan kesehatan juga meningkat tajam. Pertumbuhan konsumsi Pemerintah meningkat hingga mencapai 4,2 persen.
Pertumbuhan PKP tahun 2022 diperkirakan mengalami kontraksi pada rentang 3,8–3,4 persen. Pertumbuhan negatif PKP tersebut seiring dengan membaiknya kondisi pandemi sehingga kebutuhan belanja untuk penanganan Covid-19 menurun. Meskipun demikian, dalam merespons dinamika kasus Covid-19, APBN tetap fleksibel untuk membantu pengendalian serta penanganan dampaknya terhadap masyarakat.
Dorongan permintaan yang kuat baik dari dalam maupun luar negeri telah menjadi stimulan besar bagi dunia usaha untuk mulai kembali berinvestasi. Seiring dengan pemulihan konsumsi serta dimulainya kembali proyek infrastruktur strategis Pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (investasi) dapat kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,8 persen pada tahun 2021.
Kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat
akibat varian Delta tidak berpengaruh secara signifikan pada keberlangsungan proyek- proyek konstruksi. Insentif fiskal pembelian mobil dan rumah juga memiliki andil dalam memulihkan investasi di dalam negeri.
Tren pertumbuhan investasi juga diperkirakan akan menguat di tahun 2022. Secara historis investasi menguat di saat ekonomi mengalami commodity boom sebagaimana terjadi di tahun 2011–2012. Seiring dengan adanya windfall profit dari harga komoditas yang tinggi di tahun 2022, dorongan investasi dari jenis mesin dan kendaraan bermotor diproyeksikan cukup kuat dalam menopang pertumbuhan PMTB.
Selain itu, keberlanjutan program-program pembangunan infrastruktur termasuk program padat karya PC-PEN juga akan menyokong aktivitas investasi jenis bangunan. Sementara itu, peran intermediasi perbankan melalui penyaluran kredit investasi yang tumbuh mencapai 10,25 persen (yoy) di bulan Juni 2022 juga akan turut menstimulus kinerja investasi.
Namun, tingginya harga komoditas global juga memiliki risiko tersendiri bagi laju investasi domestik. Peningkatan harga energi berpotensi mendorong peningkatan harga semen dan besi baja sebagai material utama bangunan.
Hal ini menjadi krusial, mengingat investasi jenis bangunan merupakan komponen dengan proporsi terbesar bagi perhitungan PMTB.
Dengan demikian, pertumbuhan investasi tahun 2022 diperkirakan moderat pada kisaran 3,8–4,1 persen.
Pemulihan perekonomian global di tahun 2021 turut mendorong perbaikan kinerja ekspor nasional. Kinerja ekspor riil Indonesia tumbuh 24,0 persen di tahun 2021. Bahkan akibat dari aktivitas ekspor yang sangat kuat ini, sepanjang tahun 2021, neraca perdagangan barang Indonesia sempat mencatatkan rekor surplus
tertinggi pada bulan Oktober 2021 (surplus US$5,7 miliar). Selain dorongan permintaan yang kuat, peningkatan daya saing produk ekspor juga menopang pertumbuhan ekspor nasional, khususnya atas produk-produk olahan sumber daya alam.
Pemulihan kinerja ekspor dan impor diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2022.
Ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh di kisaran 16,1–16,7 persen, sementara impor tumbuh di kisaran 14,0–14,7 persen. Kinerja ekspor terutama diperkirakan didorong oleh perbaikan daya saing produk ekspor Indonesia, khususnya produk terkait olahan sumber daya alam. Sementara kinerja impor diperkirakan terkait dengan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik. Namun, prospek kinerja ekspor impor ke depan dibayangi oleh eskalasi tensi geopolitik yang berimplikasi pada terganggunya rantai pasok. Laporan IMF (WEO, Juli 2022) mengoreksi ke bawah proyeksi pertumbuhan volume perdagangan global tahun 2022 dari sebelumnya 5,0 persen menjadi 4,1 persen.
Hal ini juga tidak terlepas dari perkiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara mitra dagang, khususnya AS dan Tiongkok.
Perkembangan sektor-sektor strategis ini diperkirakan akan masih terus menguat di tahun 2022. Meskipun harus dihadapkan oleh tekanan harga di lapisan produsen dan potensi perlambatan permintaan dari negara mitra dagang utama, laju ekspansi sisi produksi nasional diprediksi tetap akan berlanjut.
Pemulihan permintaan dalam negeri akan menjadi katalisator utama bagi pelaku usaha nasional dalam meningkatkan produksinya.
Peningkatan dukungan pembiayaan oleh perbankan juga akan semakin mendorong appetite dunia usaha untuk melakukan ekspansi bisnis.
Dari sisi sektoral, kinerja sektor pertanian, pada umumnya sangat ditentukan oleh faktor cuaca. Hal ini yang kemudian menjadi alasan perlambatan pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2021 menjadi 1,8 persen. Kondisi cuaca yang kurang kondusif menyebabkan gagal panen, terutama pada subsektor tanaman pangan. Sementara kinerja subsektor kehutanan dan perikanan masih tertahan akibat hambatan logistik yang terjadi di tahun 2021. Di sisi lain, subsektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, mampu ekspansif akibat kenaikan permintaan olahan dalam memenuhi kebutuhan ekspor.
Pada tahun 2022, sektor pertanian diperkirakan tumbuh menguat. Perkiraan menguatnya kinerja sektor pertanian terutama didukung oleh peningkatan permintaan produk perkebunan khususnya kelapa sawit. Selain itu, ekspansi sektor ini juga didorong oleh perbaikan manajemen sektor perikanan melalui sistem penangkapan kuota di 4 zona industri perikanan dan penerapan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN). Namun demikian masih terdapat downside risk pada sektor pertanian yakni faktor cuaca dan perubahan iklim, serta isu terkait peralihan pemanfaatan lahan yang dapat memengaruhi produksi tanaman perkebunan. Selain itu, tingginya harga impor pakan ternak dan ikan juga dapat memengaruhi kinerja dari sektor pertanian. Di tahun 2022, sektor pertanian diperkirakan tumbuh pada kisaran 1,1–1,4 persen.
Sektor manufaktur mampu bangkit di tahun 2021, dengan tumbuh sebesar 3,4 persen.
Pemulihan ekonomi negara mitra dagang memegang peranan utama dalam mendorong perbaikan permintaan produk unggulan manufaktur dalam negeri. Sementara itu peningkatan permintaan dunia atas produk- produk ramah lingkungan juga ikut mengambil
bagian dalam pengembangan sektor manufaktur dalam negeri, khususnya sektor pengolahan logam dasar. Popularitas produksi olahan nikel nasional, dimana Indonesia sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, terus meningkat. Ekspor dari produk ini bahkan tumbuh signifikan di tahun 2021.
Ekspansi sektor manufaktur terus berlanjut di sepanjang semester II tahun 2022. Sektor industri pengolahan mampu tumbuh dengan solid sebesar 4,0 persen di triwulan II, melanjutkan tren pertumbuhan yang kuat sejak triwulan I. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan sektor ini secara konsisten berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja sektor manufaktur diyakini masih akan resilien di sisa tahun 2022. Kapasitas produksi hingga triwulan II, terus meningkat dan mendekati kapasitas produksi di level prapandemi. Selain itu, permintaan produk olahan sumber daya alam diperkirakan cukup stabil, terutama di tengah disrupsi pasokan pangan dan energi di masa konflik geopolitik. Meskipun demikian, risiko tingginya harga barang modal dan bahan baku tetap perlu diantisipasi. Tingkat inflasi harga produsen telah mencapai 4,1 persen pada Juni 2022. Selain itu potensi perlambatan ekonomi di negara mitra dagang juga dapat berdampak pada permintaan beberapa produk barang konsumsi, seperti produk sandang. Sektor manufaktur diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,2–4,6 persen, lebih kuat dari pertumbuhan ekonomi secara agregat.
Dengan kuatnya aktivitas ekspor serta pemulihan konsumsi dalam negeri, sektor perdagangan tahun 2021 mampu tumbuh sebesar 4,7 persen. Setelah terkontraksi di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19, aktivitas
perdagangan mulai kembali menggeliat seiring dengan membaiknya mobilitas masyarakat.
Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan positif subsektor perdagangan besar dan eceran sebesar 3,1 persen di tahun 2021, setelah terkontraksi 1,4 persen di tahun 2020.
Kebijakan pemberian insentif PPnBM nol persen pada mobil dengan local-purchase tinggi juga mendongkrak kinerja sektor perdagangan mobil, sepeda motor, dan reparasinya yang tumbuh 12,1 persen pada tahun 2021.
Prospek kinerja sektor perdagangan pada tahun 2022 diperkirakan masih cukup baik.
Upaya APBN dalam menyerap tekanan inflasi global kepada tingkat harga domestik memiliki implikasi positif kepada keberlanjutan pertumbuhan sektor perdagangan. Pada triwulan II tahun 2022, baik sektor perdagangan besar dan eceran dan sektor perdagangan kendaraan bermotor mampu tumbuh masing- masing sebesar 4,7 dan 3,3 persen. Aktivitas belanja masyarakat yang relatif stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh data transaksi merchant Bank Mandiri (Mandiri Spending Index), juga diproyeksikan akan menopang sektor ini. Selain itu juga terdapat beberapa periode penting di semester II yang akan menopang pertumbuhan sektor ini, termasuk masa tahun ajaran baru sekolah serta hari raya Natal di akhir tahun.
Dilanjutkannya kembali proyek-proyek infrastruktur Pemerintah mendorong pemulihan sektor konstruksi. Di tahun 2021 sektor konstruksi mampu tumbuh positif sebesar 2,8 persen. Setelah tertahan di awal masa pandemi, Pemerintah memperbolehkan proyek-proyek konstruksi untuk tetap beroperasi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di masa pemberlakuan PPKM. Selain itu, Pemerintah juga mendorong program
pembangunan infrastruktur berskala kecil di daerah melalui program PC-PEN Padat Karya.
Kebijakan ini dimaksudkan untuk mendorong penyerapan tenaga kerja lokal secara instan di tengah pemulihan ekonomi.
Potensi pertumbuhan sektor konstruksi masih cukup kuat di tahun 2022. Dukungan akselerasi pembangunan berbagai infrastruktur Pemerintah, seperti penyelesaian PSN maupun proyek prioritas nasional lainnya, diperkirakan akan dapat menopang pertumbuhan sektor konstruksi. Selain itu, pemberian Insentif PPN untuk pembelian rumah sampai dengan September 2022 juga diharapkan dapat terus mendorong pembangunan kawasan tempat tinggal secara konsisten. Sektor konstruksi juga akan terdorong oleh pembangunan kawasan-kawasan industri baru sebagai upaya diversifikasi pusat perekonomian nasional.
Hingga triwulan II, sektor konstruksi mampu tumbuh sebesar 3,0 persen. Sejalan dengan risiko investasi, peningkatan harga semen dan besi baja berpotensi memengaruhi magnitude ekspansi dari sektor konstruksi. Tingginya harga bahan penunjang ini dapat menekan kapasitas pelaku usaha untuk mencetak keuntungan di tahun 2022. Memerhatikan potensi sekaligus mempertimbangkan risiko yang ada, sektor konstruksi diperkirakan tumbuh pada rentang 2,0–2,4 persen di tahun 2022.
Pengaruh dinamika ekonomi global kepada laju perekonomian domestik diperkirakan masih akan berlanjut di tahun 2023. Potensi keberlanjutan perlambatan ekonomi negara utama dunia, seperti AS dan Tiongkok, akan memberikan tekanan kepada intensitas perdagangan internasional. Sementara di tengah ketidakpastian konstelasi dunia, disrupsi perdagangan komoditas berpotensi meningkatkan risiko krisis pangan dan energi
global. Selain itu, berlanjutnya pengetatan likuiditas pasar keuangan dunia dapat menyebabkan masih tingginya cost of fund.
Di masa penuh tantangan seperti ini, reformasi struktural menjadi agenda yang sangat krusial. Relaksasi ruang ekspansi dan inovasi bagi sisi suplai harus terus diperkuat demi munculnya sumber-sumber pertumbuhan baru yang produktif dan inklusif. Perbaikan kelembagaan dan peraturan melalui deregulasi dan kemudahan berusaha sangat krusial dalam mendorong upaya ini. Koordinasi bauran kebijakan baik di pusat maupun daerah perlu terus dipererat demi memperlancar agenda reformasi struktural nasional.
Selain itu, keberlanjutan perbaikan ekosistem/
enabler transformasi ekonomi juga akan berperan besar dalam menstimulus perkembangan sektor potensial. Manfaat dari akselerasi proyek-proyek infrastruktur yang telah berjalan dalam setidaknya lima tahun terakhir akan mulai dapat dirasakan, khususnya dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang lebih merata. Program-program perbaikan kualitas sumber daya manusia juga diharapkan akan substansial dalam meningkatkan daya saing perekonomian domestik. Sementara dari sisi pembiayaan, stabilitas pasar serta upaya penguatan sistem keuangan nasional melalui reformasi sektor keuangan akan menjadi bagian penting dalam menopang perbaikan struktur perekonomian Indonesia.
Secara umum, kinerja sektor eksternal yang terekam dalam posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dalam periode 2018–2021 menunjukkan arah yang positif. Setelah mencatatkan defisit sebesar US$7,13 miliar pada tahun 2018, NPI terus mencatatkan surplus pada tahun-tahun selanjutnya hingga
meningkat menjadi US$13,46 miliar pada tahun 2021. Peningkatan tersebut ditopang oleh terus membaiknya kinerja neraca transaksi berjalan dan masih terjadinya surplus neraca transaksi modal dan finansial.
Tekanan terberat pada NPI terjadi di tahun 2018. Pada periode tersebut telah terjadi defisit neraca transaksi berjalan (current account) dan neraca perdagangan akibat dampak trade war dan perlambatan ekonomi global, serta meningkatnya kebutuhan impor untuk akselerasi pembangunan infrastruktur domestik. Pada saat yang sama, telah terjadi penurunan arus modal masuk ke dalam negeri, khususnya pada tiga triwulan pertama 2018, sebagai dampak kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan kebijakan kontraksi posisi balance sheet The Fed. Kondisi tersebut telah menyebabkan penurunan signifikan pada neraca transaksi modal dan finansial (capital and financial account).
Kombinasi neraca transaksi berjalan dan neraca modal dan finansial ini pada gilirannya telah menyebabkan defisit NPI di tahun 2018.
Perkembangan NPI sedikit membaik di tahun 2019. Meredanya tekanan di pasar keuangan global telah membawa peningkatan pada neraca transaksi modal dan finansial, walaupun neraca transaksi berjalan masih mengalami defisit, dibayang-bayangi pengaruh trade war dan pelemahan ekonomi global. Namun
demikian, perkembangan yang terjadi mampu mendorong terjadinya surplus NPI.
Di tahun 2020 dan 2021, dampak pandemi membawa perubahan positif bagi perkembangan NPI, khususnya bagi perkembangan neraca transaksi berjalan.
Pelemahan dan kontraksi ekonomi domestik telah menyebabkan penurunan impor secara signifikan sehingga mendorong peningkatan surplus neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan di tahun-tahun tersebut.
Walaupun demikian terjadi perkembangan yang kurang menggembirakan dimana terjadi penurunan tajam penerimaan dari ekspor jasa pariwisata yang menjadi salah satu andalan ekspor jasa Indonesia. Secara umum, kinerja neraca transaksi berjalan membaik di kedua tahun tersebut, dan di tahun 2021 mampu mencatat surplus. Perkembangan neraca pembayaran Indonesia dalam periode 2018–
2022 dapat dilihat pada Grafik 1.3.
Sementara itu, kinerja neraca transaksi modal dan finansial mengalami penurunan pada masa-masa pandemi. Penurunan terutama terjadi pada komponen investasi portofolio sebagai dampak meningkatnya tekanan aktivitas ekonomi global dan domestik.
Sementara itu, komponen investasi langsung relatif stabil walau sedikit menurun di tahun 2020. Walaupun terjadi penurunan pada neraca
-7,13
4,68
2,60 13,46
-1,82
-40,0 -20,0 0,0 20,0 40,0 60,0
2018 2019 2020 2021 Q1-2022
GRAFIK 1.3
PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (US$ miliar)
Transaksi Berjalan Transaksi Modal dan Finansial Selisih Perhitungan Bersih Neraca Keseluruhan Sumber: Bank Indonesia, diolah