• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERLAKUNYA HUKUM ADAT

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 112-116)

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, sebagaimana dinyatakan oleh Selo Soemardjan:

“Kalau masyarakat diartikan sebagai sejumlah manusia yang hidup bersama cukup lama sehingga dapat menciptakan suatu kebudayaan, maka di Indonesia sekarang ada banyak masyarakat. Tiap-tiap suku bangsa adalah masyarakat tersendiri”.

Dengan demikian tiap-tiap suku bangsa yang memiliki kebudayaan sendiri-sendiri, masing-masing juga merupakan masyarakat (hukum adat tersendiri, yang memiliki hukum adat yang berlainan dengan masyarakat hukum adat yang lain).

Di dalam bukunya yang berjudul “Beginselen en stelsel van het Adatrecht” Ter Haar merumuskan masyarakat hukum adat, merupakan (B Ter Haar Bzn 1950:16): “kelompok-kelompok teratur yang bersifat ajeg dengan pemerintah sendiri yang memiliki benda-benda materiil maupun immateriil”.

Sudah tentu perumusan yang pendek didahului dengan suatu penjelasan panjang lebar, yang disertai contoh-contoh dari pelbagai daerah di Indonesia.

Penjelasan Ter Haar tersebut, kemudian disajikan kembali oleh Soepomo di dalam bukunya yang berjudul “Bab-bab tentang Hukum Adat” (Soepomo 1977:49.50).

Hazairin memberikan suatu uraian yang relatif panjang mengenai masyarakat hukum adat, sebagai berikut (Hazairin 1970:44):

“Masyarakat-masyarakat hukum adat seperti desa di Jawa, marga di Sumatera Selatan, negeri di Minangkabau, kuria di Tapanuli, wanua di Sulawesi Selatan, adalah kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang mempunyai kelengkapan-kelengkapan untuk sanggup berdiri sendiri, yaitu mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan kesatuan lingkungan hidup berdasarkan hak bersama atas tanah dan air bagi semua anggotanya...Bentuk hukum kekeluargaannya (patrilineal, matrilineal, atau bilateral) mempengaruhi sistem pemerintahannya terutama berlandaskan atas pertanian, peternakan, perikanan dan pemungutan hasil hutan dan hasil air ditambah sedikit dengan perburuan binatang liar, pertambangan dan kerajinan tangan. Semua anggota sama dalam hak dan kewajibannya.

Penghidupan mereka berciri komunal, yaitu gotong royong, tolong menolong, serasa dan selalu mempunyai peranan yang besar. Selanjutnya, Hazairin menyatakan, bahwa masyarakat-masyarakat hukum adat tersebut juga terangkum di dalam Pasal 18 Undang-undang Dasar 1945, yang isinya adalah sebagai berikut.

“Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyarawatan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah- daerah yang bersifat istimewa”.

(Penjelasannya) adalah, sebagai berikut.

1. Oleh karena negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat, maka Indonesia tak akan mempunyai daerah di dalam lingkungan yang bersifat staat juga. Daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah provinsi dan daerah provinsi akan dibagi pula dalam daerah yang lebih kecil. Di daerah- daerah yang bersifat otonom atau daerah administrasi belaka, semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang. Di daerah- daerah yang bersifat otonom akan diadakan badan perwakilan daerah.

2. Dalam teritorial negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 Zelfbesturende landschappen dan Volksgemeenschapen, seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa.

Apabila setiap masyarakat hukum adat tersebut ditelaah secara seksama, maka masing-masing mempunyai dasar dan bentuknya. Menurut Soepomo, masyarakat hukum adat di Indonesia dapat dibagi dua golongan menurut dasar susunan, yaitu berdasarkan peralihan suatu keturunan (genealogi) dan berdasar lingkungan daerah (teritorial); kemudian hal ini ditambah lagi dengan susunan yang didasarkan pada kedua dasar tersebut (Soepomo 1977:51). Dari sudut bentuknya, masyarakat hukum adat ada yang berdiri sendiri, menjadi bagian dari masyarakat hukum adat yang lebih tinggi atau mencakup beberapa masyarakat hukum adat yang lebih rendah, serta merupakan perserikatan dari beberapa masyarakat hukum adat yang sederajat. Masing-masing bentuk masyarakat hukum adat, dapat dinamakan masyarakat hukum adat tunggal, bertingkat dan berangkai. Ter Haar dan Soepomo mempunyai pandangan yang berbeda dan akan diusahakan untuk menggabungkan agar diperoleh suatu gambaran yang lebih luas.

Secara teritorial, mungkin terjadi kombinasi-kombinasi, sebagai berikut.

1. Masyarakat hukum adat genealogis yang:

a. tunggal.

b. bertingkat.

Masyarakat Hukum Adat

Dasar Bentuk

Teritorial

Genealogis Genealogis

Teritorial Tunggal Bertingkat Berangkai

c. berangkai.

2. Masyarakat hukum adat teritorial yang;

a. tunggal.

b. bertingkat.

c. berangkai.

3. Masyarakat hukum adat ganealogis-teritorial (atau sebaliknya hal itu tergantung dari faktor yang lebih dahulu berpengaruh):

a. tunggal.

b. bertingkat.

c. berangkai.

Dapat diperoleh suatu skema dasar dan bentuk masyarakat hukum adat, sebagai berikut.

Van Vollenhoven pernah membuat lingkungan-lingkungan hukum adat di Indonesia (lihat bukunya yang berjudul “Het Adatrecht van Nerderlandsch Indie” jilid I, bagian pertama, yang terbit pada tahun 1925). Dasar yang dipergunakan oleh C Van Vollenhoven adalah klasifikasi bahasa-bahasa Austronesia, bahasa-bahasa Indonesia dan bahkan bahasa-bahasa di Madagaskar sampai Lautan Teduh.

Mula-mula C Van Vollenhoven mengadakan analisis terhadap ciri-ciri khusus yang berlaku di setiap lingkungan hukum adat. Ciri-ciri tersebut kemudian diujikan terhadap sistem-sistem hukum adat yang terdapat pada masyarakat-masyarakat di daerah-daerah yang semula diidentifikasi sebagai tempat-tempat, yang secara hipotetis diberi nama lingkungan hukum adat.

Sistem-sistem hukum adat yang tidak mempunyai ciri-ciri tersebut, kemudian dikeluarkan serta diberi klasifikasi tersendiri yang selanjutnya merupakan suatu lingkungan hukum adat tersendiri.

Terhadap masing-masing lingkungan hukum adat tersebut, Van Vollenhoven melakukan suatu analisis deskriptif, dengan sistematika yang tersusun sebagai berikut.

1. Tempat melakukan hukum adat lingkungan hukum adat masing-masing.

2. Ruang lingkup lingkungan hukum adat yang bersangkutan.

3. Bentuk-bentuk masyarakat hukum adat.

4. Tentang pribadi.

5. Pemerintah peradilan dan pengaturan.

6. Hukum adat masyarakat:

a. Hukum kekeluargaan adat, b. Hukum perkawinan adat, c. Hukum waris adat, d. Hukum tanah adat,

e. Hukum hutang piutang adat, f. Hukum delik adat,

g. Sistem sanksi,

h. Perkembangan hukum adat.

Ciri-ciri khas lingkungan hukum adat tampak dari penjelasan secara analitis terhadap bidang-bidang tersebut. Di dalam tulisan yang berjudul

”Daftar Sementara Suku Bangsa Suku Bangsa di Indonesia berdasarkan klasifikasi letak pulau atau Kepulauan” yang diterbitkan dalam majalah Sosiografi Indonesia Nomor 1 Tahun 1959, M.A Jaspan mencoba mengklasifikasi suku bangsa di Indonesia. Jaspan telah mengumpulkan data tersebut semenjak tahun 1959 dengan mengambil patokan kriteria bahasa daerah kebudayaan serta susunan masyarakat.

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 112-116)