• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH TERBENTUKNYA NEGARA

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 164-167)

Kegi atan Bel ajar 1 Ilmu Negara

lmu Negara Umum disusun oleh George Jellinek, merupakan bapak dari Ilmu Negara. Ilmu ini sebenarnya merupakan sebagian dari ilmu kenegaraan atau Plato menyebutnya dengan politeia atau Politica berdasarkan pendapat dari Aristoteles. Pada ilmu kenegaraan, maka yang dibahas adalah segala sesuatu tentang negara (de wetenschap nopens de staat). Staatswissenshaft dalam arti luas meliputi ilmu pengetahuan mengenai negara yang menekankan pada negara sebagai objeknya dan rechtswissenshaft yang merupakan ilmu pengetahuan mengenai negara yang menekankan segi hukumnya.

Ilmu pengetahuan negara sebagai objeknya (staatswissenschaft) terdiri dari Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara dan Hukum Antar Negara, sedangkan ilmu pengetahuan yang menekankan dari segi hukumnya yaitu Hukum Perdata, Hukum Pidana dan Hukum Acara Perdata/Pidana.

Staatswissenschaft sebagai ilmu pengetahuan terdiri dari Statenkunde atau ilmu pengetahuan yang melukiskan atau menceritakan negara atau yang disebut juga dengan history of state atau political history, Staatslehre atau perumusan dari bahan tentang negara dalam bentuk teori tentang negara dan Kunstlhehre atau politikologi yaitu ilmu pengetahuan yang menggunakan hasil praktik dari staatslehre.

Pada ilmu negara (staatslehre), yang diutamakan adalah nilai-nilai ilmiahnya sehingga disebut dengan seinwissenshaft. Pada ilmu negara tidak terdapat nilai yang praktis, sehingga bila kita mempelajarinya tidak akan mendapatkan hasil yang langsung dapat digunakan dalam praktik. Ilmu ini lebih mementingkan nilai teoritisnya.

Pada ilmu negara yang dipelajari adalah teori-teori tentang asal mula negara, hakikat negara, tujuan negara, pengertian bentuk negara.

hidupnya, manusia tinggal pada tempat tertentu yang mereka anggap baik untuk sumber kehidupan, kepada pemimpin kelompok diberi kekuasaan- kekuasaan tertentu dan harus ditaati oleh anggotanya. Lambat laun peraturan- peraturan itu mereka tulis, jalani dan ditaati. Untuk mengatasi segala kesulitan yang datang dari dalam maupun luar, dirasakan perlu suatu organisasi yang lebih teratur dan lebih berkekuasaan. Organisasi ini sangat diperlukan demi melaksanakan dan mempertahankan peraturan-peraturan yang hidup agar berjalan dengan tertib. Organisasi yang mempunyai kekuasaan inilah yang dinamakan ”Negara”.

Istilah negara yang dikenal sekarang mulai timbul pada zaman renaissance di Eropa pada abad ke-15. Pada masa itu dikenal istilah Lo Stato yang berasal dari bahasa Italia, yang kemudian menjadi L’Etat dalam bahasa Prancis, The State dalam bahasa Inggris atau Des Staat dalam bahasa Jerman dan De Staat dalam bahasa Belanda. Di Indonesia diterjemahkan sebagai

”Negara” yang pada waktu itu diartikan sebagai suatu sistem tugas-tugas atau fungsi-fungsi publik dan alat-alat perlengkapan yang teratur di dalam wilayah (daerah) tertentu.

Apeldoorn menyebutkan bahwa istilah ”negara” dipergunakan:

1. Oleh ”penguasa” untuk menyatakan orang atau orang-orang yang melakukan kekuasaan tertinggi atas persekutuan rakyat yang bertempat tinggal dalam suatu daerah.

2. Dalam arti persekutuan rakyat, untuk menyatakan sesuatu bangsa yang hidup dalam suatu daerah, di bawah kekuasaan yang tertinggi, menurut kaidah-kaidah hukum yang sama.

3. Menunjukkan suatu wilayah tertentu, yaitu daerah yang di dalamnya diam suatu bangsa di bawah kekuasaan tertinggi.

4. Menunjukkan suatu ”kas negara atau fiscus” untuk menyatakan harta yang dipegang oleh penguasa guna kepentingan umum, misalnya dalam istilah ”domain negara” pendapatan negara dan lain-lain.

Terjadinya Negara, terdapat dua (2) teori yang membahas yaitu:

1. Terjadinya negara secara primer (Primairies Wording) adalah teori yang membahas terjadinya negara yang tidak dihubungkan dengan negara yang telah ada sebelumnya. Perkembangan negara secara primer melalui beberapa fase, yaitu:

a. Fase Genootschap (kelompok). Pada fase ini, pengelompokan dari orang-orang yang menggabungkan dirinya untuk kepentingan

bersama, dan didasarkan pada persamaan. Mereka menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan kepemimpinan di sini dipilih secara primus interpares atau yang terkemuka di antara yang sama, sehingga yang penting pada masa ini adalah unsur bangsa.

b. Fase Reich (kerajaan). Pada fase ini orang-orang yang menggabungkan diri telah sadar akan hak milik atas tanah hingga muncullah tuan yang berkuasa atas tanah dan orang-orang yang menyewa tanah. Yang terjadi kemudian adalah timbulnya sistem feodalisme, dan yang penting adalah unsur wilayah.

c. Fase Staat (Negara). Pada fase ini masyarakat telah sadar dari tidak bernegara menjadi bernegara dan mereka telah sadar bahwa mereka berada pada suatu kelompok. Jadi yang penting pada masa ini adalah bahwa unsur negara adalah bangsa. Wilayah dan pemerintah yang berdaulat sudah dipenuhi.

d. Fase Democratische Natie dan Fase Diktator. Fase ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari pada fase staat, dimana democratische natie terbentuk atas dasar kesadaran demokrasi nasional, kesadaran kedaulatan di tangan rakyat. Fase diktator muncul karena perkembangan lebih lanjut dari democratische natie atau tidak saja berkembang tetapi perkembangannya telah diselewengkan.

2. Terjadinya negara secara sekunder (Secondaire Staat Wording) adalah teori yang membahas tentang terjadinya negara dihubungkan dengan negara-negara yang telah ada sebelumnya. Yang terpenting dari teori sekunder adalah adanya suatu pengakuan (Erkening). Mengenai masalah Pengakuan ini ada tiga (3) teori, yaitu:

a. Pengakuan secara de facto (sementara). Pengakuan yang bersifat sementara ketika muncul atau terbentuknya suatu negara baru, karena kenyataannya negara baru tersebut memang ada namun yang perlu diperjelas adalah apakah prosedurnya berdasarkan atas hukum.

Pengakuan ini bisa meningkat bila negara baru tersebut dapat menunjukkan eksistensi dan berlakunya hukum dalam pembentukannya.

b. Pengakuan secara De Jure (Yuridis). Pengakuan ini adalah seluas- luasnya dan bersifat tetap terhadap muncul, timbul atau

terbentuknya negara, karena alasan terbentuknya negara baru tersebut jelas berdasarkan hukum.

c. Pengakuan atas Pemerintahan De Facto. Pengakuan ini dimunculkan untuk kasus Indonesia oleh Van Haller, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Pada waktu itu yang dilakukan oleh pihak Belanda adalah melakukan pengakuan hanya pada pemerintahannya saja, sedangkan pada wilayah dan rakyatnya tidak. Hal tersebut tentunya tidak cukup memenuhi unsur-unsur suatu negara.

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 164-167)