• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BENTUK NEGARA TERHADAP BERLAKUNYA HUKUM

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 168-173)

Peninjauan bentuk negara dapat dianggap sebagai peninjauan dalam Ganzheit (keseluruhan). Di dalam sejarah teori kenegaraan ada beberapa bentuk klasik yang terkenal, yaitu :

1. Monarki, Aristokrasi dan Demokrasi yang lazimnya diukur dari jumlah akhir orang yang menentukan kata akhir mengenai kenegaraan dengan bentuk-bentuk kemerosotannya.

2. Diktator, oklokrasi/plutokrasi dan mobrokrasi pembagian yang lebih baru adalah Monarki dan Republik, yang kriteria utamanya adalah terpilihnya kepala negara. Sedang diktator dan demokrasi sering dipakai sebagai sifat untuk menunjuk pemerintahan.

Sejarah kenegaraan menunjukkan bahwa walaupun dari segi ” bentuk”

itu sama, tetapi struktur organisasinya dapat berbeda yaitu seperti:

1. Republik dengan sistem parlemen.

2. Republik dengan sistem pengawasan langsung dari rakyat dengan referendum dan inisiatif rakyat.

3. Republik dengan sistem presiden dan check and balances.

Masalah ini banyak mendapat sorotan dalam teori-teori bernegara, karena masalah dalam praktik pelaksanaan, yaitu:

a. Adanya kemungkinan penyelenggara/pelaksana negara tidak tunduk pada hukum.

b. Seberapa jauh penyelenggara/pelaksana dapat menyimpang dari ketentuan-ketentuan hukum.

Pada zaman modern ini penyimpangan tersebut tidak dimungkinkan karena hukum merupakan penjelmaan dari keinginan masyarakat seluruhnya yang merupakan kekuasaan tertinggi dalam negara modern.

1) Jelaskan perkembangan asal kata negara pada beberapa negara dan apakah artinya pada masa itu!

2) Sebutkan dua teori yang menjelaskan terjadinya suatu negara!

3) Negara pada masa kini adalah negara yang memiliki kedaulatan, sebutkan ciri dari suatu negara modern!

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Pada masa itu dikenal istilah Lo Stato yang berasal dari bahasa Italia, yang kemudian menjadi L’Etat dalam bahasa Prancis, The State dalam bahasa Inggris atau Des Staat dalam bahasa Jerman dan De Staat dalam bahasa Belanda. Di Indonesia diterjemahkan sebagai ”Negara” yang pada waktu itu diartikan sebagai suatu sistem tugas-tugas atau fungsi- fungsi publik dan alat-alat perlengkapan yang teratur di dalam wilayah (daerah) tertentu.

2) Teori secara primer dan sekunder 3) Pada negara modern ini berlaku:

a. Asas demokrasi.

b. dianutnya paham negara hukum.

c. Susunan negaranya kesatuan.

Ilmu negara (staatslehre), yang diutamakan adalah nilai-nilai ilmiahnya sehingga disebut dengan seinwissenshaft. Pada ilmu negara tidak terdapat atau dibahas nilai yang praktis, sehingga bila kita mempelajari tidak akan mendapatkan hasil yang langsung dapat digunakan dalam praktik. Ilmu ini lebih mementingkan nilai teoritisnya.

Logemann berpendapat bahwa negara adalah suatu organisasi kekuasaan/kewibawaan. Djokosutono juga melihat negara sebagai suatu

LA T I HA N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

RA NG K UM A N

organisasi manusia atau kumpulan manusia-manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Sedangkan G. Pringgodigdo, selain sebagai organisasi kekuasaan/kewibawaan, negara juga harus memenuhi unsur-unsur tertentu yaitu harus ada pemerintah yang berdaulat, wilayah tertentu dan rakyat yang hidup dengan teratur sehingga merupakan suatu nation (bangsa).

Terdapat dua (2) teori yang membahas tentang terjadinya negara, yaitu terjadinya negara secara primer (Primairies Wording) adalah teori yang membahas terjadinya negara yang tidak dihubungkan dengan negara yang telah ada sebelumnya dan terjadinya negara secara sekunder (Secondaire Staat Wording) adalah teori yang membahas tentang terjadinya negara dihubungkan dengan negara-negara yang telah ada sebelumnya

Menurut teori-teori modern sekarang yang terpenting adalah negara kesatuan (Unitarisme) dan negara serikat (Federasi). Negara kesatuan ialah suatu negara yang merdeka dan berdaulat di mana di seluruh negara yang berkuasa hanyalah satu pemerintahan (pusat) yang mengatur seluruh daerah.

1) Teori yang membahas tentang sejarah terbentuknya negara adalah ....

A. teori negara secara primer B. teori negara secara sekunder C. pengakuan secara de facto

D. teori negara secara primer dan sekunder 2) Yang dimaksud dengan negara kesatuan adalah ....

A. suatu negara yang merdeka, berdaulat dimana yang berkuasa hanyalah satu pemerintahan (Pusat) yang mengatur seluruh daerah B. gabungan dari beberapa negara yang membentuk suatu

pemerintahan

C. suatu gabungan dari beberapa negara yang menjadi bagian dari negara tersebut

D. suatu kekuasaan yang mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri

3) Negara pada masa kini adalah ....

A. suatu negara yang memiliki kekuasaan penuh T E S FO RM A T IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

B. negara yang memiliki kedaulatan C. suatu negara yang makmur

D. negara besar yang ditakuti banyak negara

4) Di dalam sejarah teori kenegaraan ada beberapa bentuk klasik tentang teori ini, yaitu ....

A. Monarki, Absolut, Demokrasi

B. Monarki, Aristokrasi, Demokrasi, Diktator, Oklokrasi, Mobrokrasi C. Demokrasi, Absolut.

D. Absolut, Diktator

5) Termasuk ke dalam ilmu pengetahuan negara sebagai objeknya adalah....

A. HTN, HAN, hukum antarnegara B. hukum pidana dan hukum perdata

C. hukum kewarganegaraan dan hukum asasi manusia D. ilmu negara itu sendiri

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.

Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%

Jumlah Soal 

Kegi atan Bel ajar 2 Hukum Tata Negara

ukum Tata Negara (HTN) termasuk keluarga ilmu hukum kenegaraan (staatslehre). George Jellinesk, ahli hukum dari Austria menguraikan pohon ilmu kenegaraan atau staatswissenschaft dalam arti luas yang mencakup cabang-cabang dan ranting-ranting ilmu pengetahuan.

Wirjono Projodikoro berpendapat bahwa apabila kita membahas norma- norma hukum yang mengatur hubungan antara subjek hukum orang atau bukan orang dengan sekelompok orang atau badan hukum yang berwujud negara atau bagian dari negara maka kita memasuki kajian mengenai HTN.

(Wirjono Projodikoro, 1989, 2). Pendapat para ahli mengenai definisi hukum tata negara sangat dipengaruhi oleh perbedaan sistem yang dianut oleh negara yang dijadikan objek penelitian oleh sarjana hukum itu masing-masing, misalnya ahli dari negara-negara common law tentunya berbeda pandangan dengan ahli dari negara-negara civil law. Bahkan sesama common law pun bisa terdapat perbedaan seperti Inggris dan Amerika.

Van Vollenhoven berpendapat bahwa HTN adalah hukum yang mengatur semua masyarakat hukum atasan dan masyarakat hukum bawahan menurut tingkatan-tingkatan, yang masing-masing menentukan wilayah atau lingkungan rakyatnya sendiri-sendiri, dan menentukan badan-badan dalam lingkungan masyarakat hukum yang bersangkutan beserta fungsinya masing- masing serta menentukan pula susunan dan kewenangan badan-badan yang dimaksud.

Paul Scholten menyebutkan bahwa HTN adalah hukum yang mengatur tata organisasi negara, sehingga Scholten sebenarnya hanya membedakan antara organisasi negara dengan organisasi non-negara seperti organisasi gereja atau organisasi perdata lainnya. Logemann berpendapat bahwa HTN adalah hukum yang mengatur organisasi negara dan negara adalah organisasi jabatan-jabatan. Jabatan merupakan pengertian yuridis dari fungsi, sedangkan fungsi merupakan pengertian yang bersifat sosiologis. Karena negara merupakan organisasi yang terdiri dari fungsi-fungsi dalam hubungan satu dengan yang lain maupun dalam keseluruhannya maka dalam pengertian yuridis, negara merupakan organisasi jabatan. HTN hanya bersangkut paut dengan gejala historis negara (Logemann, 1975, 88).

H

Constitutional law menurut Mac-Iver adalah hukum yang mengatur negara, sedangkan hukum yang oleh negara dipergunakan untuk mengatur sesuatu selain negara disebut sebagai hukum biasa (ordinary law). Hanya ada dua golongan hukum, yaitu HTN atau constitutional law yang merupakan hukum yang memerintah negara sedangkan ordinary law dipakai negara untuk memerintah. (MacIver, 1955, 250).

Wade and Philips dalam bukunya constitutional law yang menjadi buku teks di Inggris menentukan bahwa HTN mengatur alat-alat perlengkapan negara, tugas dan wewenang, serta mekanisme hubungan di antara alat-alat perlengkapan negara itu. A.V. Dicey, dalam bukunya An introduction to the study of the Law of the Constitution pada tahun 1968 menyebutkan bahwa HTN mencakup semua peraturan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi distribusi atau pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat dalam negara. Dicey lebih menitikberatkan pada distribusi atau pembagian kekuasaan dan pelaksanaan kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. (A.V Dicey, 1968, 23).

Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim berpendapat bahwa HTN dapat dirumuskan sebagai kumpulan peraturan yang mengatur organisasi negara, hubungan antar alat perlengkapan negara dalam garis vertikal dan horizontal, serta kedudukan warga negara dan hak asasinya. (Kusnardi dan Ibrahim, 1983, 29).

Dari beberapa pendapat para ahli, Jimly Assidiqie menyimpulkan bahwa HTN adalah ilmu yang termasuk salah satu cabang ilmu hukum yang berada dalam ranah hukum publik. Kajiannya mencakup organ negara, fungsi dan mekanisme hubungan antar organ negara, termasuk mekanisme hubungan antar organ-organ negara dengan warga negara. HTN mencakup wet (norma hukum tertulis = perundang-undangan), juga recht (hukum) dan lehre atau teori. Dalam arti luas HTN mempelajari negara dalam keadaan diam (staat in rust) dan juga mempelajari negara dalam keadaan bergerak (staat in beweging).

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 168-173)