• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM TERTULIS YANG DIKODIFIKASI

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 127-132)

dikodifikasikan. Hukum tertulis yang telah kodifikasi adalah Burgerlijk Wetboek (diterjemahkan secara salah kaprah sebagai “Kitab Undang-undang Hukum Perdata” dan Wetboek van Koophandel (diterjemahkan secara salah kaprah sebagai “Kitab Undang-undang Hukum Dagang“. Terjemahan yang menggunakan nama “Kitab Undang-undang Hukum Perdata” dan “Kitab Undang-undang Hukum Dagang” tersebut benar-benar suatu kesalahan yang sangat fatal, dengan alasan:

1. Menurut sistem hukum Indonesia, Undang-undang adalah produk bersama antara Presiden dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Padahal sampai saat ini Presiden dan DPR belum pernah menetapkan suatu undang-undang tentang hukum perdata maupun hukum dagang.

Kedua terjemahan tersebut tidak dapat disebut sebagai “Undang-undang Hukum Perdata” dan ‘Undang-undang Hukum Dagang’.

2. Sebagai sumber hukum, yang berlaku sebenarnya bukanlah terjemahan BW dan WvK dalam bahasa Indonesia (ada beberapa terjemahan yang satu sama lain ada perbedaan) tetapi adalah Burgerlijk Wetboek dan Wetboek van Koophandel yang asli, yaitu dalam Bahasa Belanda.

Kesalahan yang fatal tersebut berakibat timbul salah pengertian di kalangan warga masyarakat bahkan di lingkungan mahasiswa fakultas hukum bahwa seolah-olah di Indonesia saat ini sudah ada undang-undang hukum perdata dan hukum dagang yang berlaku bagi siapa pun yang menjadi subjek hukum di wilayah hukum Indonesia.

Berikut ini akan dikemukakan secara singkat hukum perdata barat baik yang tidak tertulis maupun tertulis baik yang dikodifikasikan maupun yang tidak dikodifikasikan.

BW berisi hukum perdata materiil maupun hukum perdata formal.

Hukum perdata materiil adalah semua kaidah hukum yang menentukan dan mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata. Sedangkan hukum perdata formal adalah kaidah-kaidah hukum yang menentukan dan mengatur bagaimana cara me1aksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata.

Individu-individu dalam masyarakat tersebut memiliki hak-hak, tertentu dapat memiliki harta kekayaan. Pada suatu saat, setelah cukup memiliki bekal, pribadi-pribadi tersebut mencari pasangan masing-masing untuk membentuk keluarga. Kehidupan masing-masing pribadi tersebut tidak kekal, karena pada suatu saat pasti akan meninggalkan jasad/jasmaninya, termasuk juga meninggalkan harta kekayaan, yang kemudian akan diwariskan kepada para ahli warisnya. Dengan urutan kehidupan manusia tersebut, telaah terhadap isi BW tidak lagi mengikuti sistematika Kitab Pertama, Kedua, Ketiga, dan Keempat, tetapi akan didasarkan pada sistematika sebagai berikut.

a. Hukum Pribadi.

b. Hukum Harta kekayaan.

c. Hukum Keluarga.

d. Hukum Waris.

Hukum Pribadi adalah semua kaidah hukum yang mengatur tentang siapa-siapa yang dapat menjadi pembawa hak dan kewajiban dalam hukum, yaitu subjek hukum.

Hukum Harta Kekayaan meliputi kaidah-kaidah hukum yang mengatur hak-hak apa saja yang dapat dimiliki oleh suatu subjek hukum (baik pribadi kodrati/manusia maupun pribadi hukum) dalam hubungannya dengan subjek hukum lain, dalam hubungan yang memiliki nilai ekonomis, jadi dapat dinilai dengan uang.

Hukum Keluarga adalah semua kaidah hukum yang mengatur hubungan abadi antara dua orang yang berlainan kelamin (perkawinan) dan segala akibat-akibat yang timbul dari hubungan tersebut.

Hukum Waris adalah kaidah-kaidah hukum yang mengatur peralihan hak dan kewajiban dari seseorang yang meninggal dunia.

2. WvK

WvK adalah hukum perdata khusus, jadi segala ketentuan yang terdapat dalam BW berlaku bagi W.v.K . Kalau begitu kenapa perlu ada suatu hukum

dagang tersendiri di samping hukum perdata yang sudah ada, padahal kegiatan perdagangan sebenarnya merupakan suatu kegiatan yang berada di bidang perdata juga? Sekali lagi hal ini karena pengaruh dari sistem hukum Perdata yang sangat kuat pengaruhnya terhadap sistem hukum Negara-negara Eropa Barat, termasuk Negeri Belanda. Di Perancis selain Code Civil juga ada Code de Commerce maka di Negeri Belanda (dengan demikian juga di Hindia Belanda) di samping B.W juga terdapat W.v.K.

Apa sebabnya maka di Perancis hukum perdata dikodifikasikan dalam Code Civil dan Code de Commerce?

Ketika Perancis memu1ai kodifikasi pada permulaan Revolusi Perancis dan selesai pada permulaan abad XIX maka di sana telah terdapat satu setengah abad lamanya, satu hukum dagang di samping hukum sipil. Ketika Mazarin meninggal dunia (1660) maka negara ditinggalkan dalam kedudukan yang kuat terhadap luar negeri, dan dalam keadaan tertib di dalam negeri tetapi keadaan industri dan perdagangan sangat menyedihkan. Untuk memperbaiki diperlukan seorang organisator yang ulung. Raja Louis XIV (1643-1715) menemukan orang tadi dengan mengangkat Colbert sebagai Menteri Keuangan.

Untuk memperbaiki industri ia tidak saja melindungi perusahaan yang ada, perusahaan sejenis berkumpul dalam suatu organisasi bernama gilde, tetapi ia juga mengadakan aturan-aturan untuk gilde-gilde ini. Untuk memperbaiki perdagangan dikeluarkan sebuah peraturan Ordonnance du Commerce (1673). Maksud peraturan ini ialah memperoleh kesatuan hukum yang sangat diperlukan, karena pengadilan-pengadilan consulair mengadili perkara-perkara menurut keadaan setempat dan kalau ini tidak ada, menurut asas-asas hukum yang berlaku umum, tetapi selalu mencari hubungan dengan keadaan-keadaan yang terdapat dalam masyarakat. Sesungguhnya

“Ordonansi” ini mengadakan kodifikasi hukum dagang sebagai hukum dari kaum dagang. Suatu cara perlakuan yang masuk akal karena keadaan masyarakat pada waktu itu, perdagangan merupakan suatu lapangan usaha dari beberapa golongan tertentu saja perjanjian istimewa yang ditimbulkan dalam lapangan perdagangan ini, jarang sekali terdapat orang-orang yang bukan orang dagang.

Ordonnance du Commerce ini dalam tahun 1681 disusul dengan suatu Ordonnance de la Marine, suatu kodifikasi dan hukum perdagangan lewat laut, suatu usaha untuk menutup kekurangan yang terdapat dalam hukum biasa.

Pada akhir abad XVII di Perancis berlaku dua macam hukum perdata, hukum yang berlaku umum droit commun dan suatu hukum dagang yang dikodifikasikan dan hanya berlaku di kalangan kaum dagang saja. Keadaan demikian ini berlaku sampai pecahnya Revolusi (1987) dan revolusi ini, yang dengan semboyannya liberte egalite fraternite telah mengadakan perubahan- perubahan yang fundamental dalam masyarakat, tetapi prinsip “egalite ini ternyata tidak sanggup me1enyapkan perlakuan yang istimewa terhadap golongan pedagang. Dalam kodifikasi yang kemudian diadakan tetap hukum dagang dikodifikasikan dalam Code de Commerce, dipisahkan dari hukum yang berlaku umum (ius civile, droit cummun, droit civil) yang dikodifikasikan dalam Code Civil.

Tetapi sesungguhnya apa yang dikerjakan oleh Calbert dengan Ordonance commerce dan Ordonnance de Ja Marine itu melanjutkan, menguatkan keadaan yang telah ada, yaitu di samping droit commun terdapat hukum dagang, sungguhpun aturan perdagangan berlainan dari tempat ke tempat bersama dan dengan demikian membawa diadakannya gilde perdagangan. Ini membawa hasrat untuk mempunyai peraturan-peraturan guna kepentingan mereka sendiri.

Perdagangan yang maju dengan pesat, menimbulkan kebutuhan baru.

Juga di lapangan hukum timbul kebutuhan-kebutuhan, soal waktu pembayaran, cara pembayaran, soal tanggung gugat dan sebagainya.

Tetapi tidak demikian keadaan pada abad X. Mereka yang mempelajari hukum, secara ilmiah dalam mempelajari hanya terbatas pada memberi tafsiran dari kodifikasi Justisianus dan apa yang menjadi asas-asasnya.

Tidaklah mereka sampai kepada memperkembangkan hukum itu sehingga cocok dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Dua hal yang mempengaruhi tumbuhnya hukum tersendiri untuk para pedagang adalah:

a. adanya gilde, yang berdiri sendiri, dengan mengadakan aturan-aturan sendiri dan membentuk “pengadilan-pengadilan” sendiri pula.

b. tidak mempunyai para sarjana hukum serta pengadilan-pengadilan untuk memperkembangkan hukum sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Keadaan demikian tidak saja di Italia dan Perancis Selatan, tetapi juga di lain-lain bagian Perancis, dengan pengertian, bahwa hukum dagang itu berlainan dari tempat ke tempat. Keadaan inilah yang dijumpai Colbert pada pertengahan abad ke XVII, yang kemudian diatur. Perpisahan antara hukum

dagang dan hukum sipil itu tidak saja perpisahan “tempat” akan tetapi antara dua hal tersebut terdapat perbedaan yang prinsipal, hukum dagang ialah hukum yang ber1aku hanya untuk pedagang, dengan hukum-hukum pembuktian sendiri dengan pengadilan-pengadilannya sendiri (seperti masih demikian di Perancis).

a. Susunan WvK

Seperti BW pun WvK terdiri dari kitab-kitab. Asal mulanya WvK terdiri dari 3 Kitab. Di samping kedua kitab yang sekarang masih ada, dulu terdapat Kitab Ketiga yang berjudul: “Perihal ketentuan-ketentuan dalam keadaan pedagang-pedagang tidak mampu”.

Berdasarkan asas konkordansi, karena Kitab Ketiga dari WvK di Nederland dengan S. (Ned) 1896 No. 9 dihapuskan dan diganti dengan suatu undang-undang tersendiri (Undang-undang Pailit S. (Ned) 1893 No. 140), Kitab Ketiga dan WvK itu dihapuskan pula dengan S. 1906 No.348 dan diganti dengan peraturan tersendiri “Peraturan tentang Pailit” (S. 1905 No.

217).

b. Isi W.v.K

Isi W.v.K. adalah sejenis Hukum Kekayaan dari Hukum Perdata, ialah sebagian besar Hukum Pengikatan di samping sebagian kecil Hukum Benda, bahkan dari Hukum Pengikatan ini isi W.v.K merupakan “Perjanjian bersama”. Oleh karena itu, kedudukan isi W.v.K dalam lingkungan Hukum Perdata adalah setaraf dengan perjanjian-perjanjian bernama lainnya, seperti jual beli sewa menyewa dan lain-lain.

Siapa-siapa yang dapat menjadi subjek hukum dalam perjanjian bernama dari W.v.K itu adalah juga mereka yang ditentukan oleh hukum pribadi, tentang syarat-syarat yang diperlukan untuk terjadinya perjanjian, berakhirnya perjanjian, dan sebagainya. Ini semua mengikuti ketentuan- ketentuan dari bagian umum hukum pengikatan BW.

W.v.K merupakan satu lex specialis terhadap BW sebagai lex generalis.

Maka sebagai lex specialis, kalau andaikata dalam WvK terdapat ketentuan mengenai suatu soal yang terdapat aturan pula dalam B.W, maka ketentuan dalam W.v.K itulah yang berlaku.

B. HUKUM PERDATA BARAT TERTULIS TIDAK

Dalam dokumen BOOK Sistem Hukum Indonesia (Halaman 127-132)