mengurus soal kawin, pegat (cerai), puasa, fitrah, zakat, tempat ibadah, kelahiran, kematian, keramat, pengajian dan pemeliharaan anak yatim.
Pada umumnya Hukum Adat yang berlaku di lingkungan masyarakat di Indonesia masa itu didasarkan pada pedoman hidup yang berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang maha Esa, percaya pada hukum karma dan ancaman kesaktian, hidup saling percaya mempercayai sesama manusia, rasa kekeluargaan-kerukunan dan keselarasan sebagai sendi ketertiban dan keadilan dimana segala sesuatunya ditempatkan di atas kepentingan kebendaan dan pribadi. (Hilman Hadikusuma, 1978; 63).
Pelaksanaan Hukum Adat berjalan atas dasar musyawarah dan mufakat, harga menghargai dan hormat menghormati antara satu sama lain. Barang siapa melanggar hukum, maka ia dihukum termasuk kerabatnya ikut bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Bentuk hukuman hanya berupa celaan atau penyingkiran dari pergaulan, pengusiran atau pembuangan, denda atau pengampuan. Hukum adat tidak mengenal hukum penjara, kurungan atau tutupan, siksaan badan, pukulan atau perantaian, karena anggapan hidup tidak ada manusia yang tidak akan bertaubat.
Hukum adat tumbuh, dianut dan dipertahankan sebagai peraturan penjaga tata tertib sosial dan tata tertib hukum di antara manusia, yang bergaul di dalam suatu masyarakat, supaya dengan demikian dapat dihindarkan segala bencana dan bahaya yang mungkin atau telah mengancam. Ketertiban yang dipertahankan oleh Hukum Adat itu baik bersifat batiniah maupun jasmaniah, kelihatan dan tidak kelihatan, tetapi diyakini dan dipercaya sejak kecil sampai berkubur berkalang tanah. Dimana ada masyarakat, di situ ada hukum (adat). (Iman Sudiyat, 1978; 33). Pada hukum adat memiliki empat sifat yang merupakan suatu kesatuan, yaitu sifat religio-magis; sifat komun (commuun); sifat kontant (tunai); dan sifat konkret (visual).
Soekanto berpendapat bahwa jika kita mengeluarkan pertanyaan, hukum apakah menurut kebenaran, keadaan, yang bahagian terbesar terdapat dalam hukum adat Indonesia, jawabannya adalah: Hukum melayu-polinesia yang asli itu dengan di sana-sini sebagai bahagian yang sangat kecil, hukum agama. (Surojo Wignyodipuro, 1973; 18).
Sejarah hukum Islam telah menempuh suatu perjalanan yang panjang, yaitu dimulai sejak masa Muhammad SAW yang pada periode Negara Madinah mengemban dua tugas yaitu sebagai Rasulullah SAW dan sebagai Kepala Negara Madinah (Tahir Azhary: 1992; 12-13). Hukum Islam tumbuh dan berkembang, bahkan pernah mengalami masa gemilang yang dimanifestasikan dalam bentuk aliran-aliran pemikiran yang terkenal dengan mazhab-mazhabnya, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. (Tahir Azhary: 1992; 32).
Dalam melakukan pendekatan pada sejarah Islam, dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu (1) pendekatan Islami yang menggunakan data Al Quran, Sunnah Rasul, doktrin para sahabat dan ulama pada masa klasik, (2) pendekatan sosio-historis yang tidak merujuk pada Al Quran dan Sunnah Rasul serta doktrin para sahabat dan ulama tetapi menggunakan fenomena sosial dan perkembangan masyarakat muslim. Kedua pendekatan itu mengakibatkan perbedaan dari hasil penelitian.
Perbedaan tersebut tampak dari hasil kapan Hukum Islam lahir. Para sarjana Muslim yang menggunakan pendekatan Islami menyimpulkan bahwa hukum Islam lahir sejak masa Nabi Muhammad SAW, karena selama periode (Negara) Madinah Al Quran yang diturunkan ketika itu mengandung ayat- ayat hukum, politik, sosial dan aspek-aspek kemasyarakatan lainnya. Berbeda dengan periode Mekkah sebagai periode pertama turunnya Al Quran, ayat- ayat yang diturunkan aspek-aspek keimanan dan akhlak.
Kalangan sarjana Barat mengasumsikan bahwa Hukum Islam lahir setelah masa Rasulullah dan para sahabat. Asumsi itu didasarkan pada perkembangan hukum Islam bukan dilakukan oleh Nabi beserta sahabatnya tetapi para Qadhi yang ditunjuk oleh para Gubernur pada masa dinasti Amawiya (Umayyah). Para Qadhi telah mentransformasikan praktek-praktek administrasi yang populer pada masa itu ke dalam hukum Islam (Faisar Ananda Arfa, 1995; 52-53). Hukum Islam adalah hasil rekayasa para Qadhi pada masa Amawiya tersebut. Asumsi yang dikemukakan oleh Joseph Scahcht tersebut mendapat tantangan dari sejumlah pakar baik dari Muslim sendiri maupun pakar Non-Muslim, antara lain MM Al Asmani, Wael N Hallaq dan S.D. Goiten (Faisar Ananda Arfa, 1995; 52-53).
Sejarah hukum Islam pada hakikatnya tidak mungkin lepas dari proses awal kelahiran hukum Islam itu bergandengan dengan sejarah Al Quran dan Sunnah Rasul termasuk sejarah Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Hukum Islam tidak mungkin dilepaskan dari fakta sejarah Muhammad SAW
sebagai Rasulullah dan sebagai Kepala Negara Madinah. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah bapak sejarah hukum Islam, terutama melalui tradisi Nabi (Sunah) dalam mengembangkan hukum Islam.
(Tahir Azhary: 1992; 34)
Dalam Al Quran ada ketentuan bahwa bagi orang Islam pada dasarnya diperintahkan untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya (Al Quran S.4: 59; S. 24:
51). Orang Islam tidak dibenarkan untuk mengambil pilihan lain kalau ternyata Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan hukum yang pasti dan jelas (Al Quran S.33 : 36). Memilih hukum lain selain hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, dianggap zalim, kafir, dan fasik (Al Quran S.5: 44, 45, 47). Oleh sebab itu dari segi ajaran Islam sendiri tanpa dikaitkan dengan hukum lain dalam masyarakat, maka berlaku prinsip bahwa bagi orang Islam berlaku hukum Islam. Orang Islam diperintahkan taat kepada Hukum Islam (Al Quran S.4:59; S.24: 51, 52). (Icjtianto: 1990, 9).
Hukum Islam pada dasarnya sudah terkodifikasi (bila pengertiannya adalah hukum tertulis) sejak pembukaan Al Quran. Setidaknya ayat-ayat muhkamat yang terdapat dalam Al Qur’an telah terwujud dalam bentuk tulisan, yang kemudian lahir kompilasi hadits dan penulisan fikih. Kodifikasi tersebut berasal dari ide Napoleon dengan Code Napoleon-nya. Turki pada tahun 1876 telah merampungkan Code Majallah yang materinya berasal dari Mazhab Hanafi Mesir mengikuti hukum Barat sejak 1875, yang isinya antara lain adalah code penal, commercial dan maritime. Hukum sipil diambil dari hukum Perancis, tetapi Code Civil Mesir (1949) bukanlah merupakan pengambilalihan Code Napoleon secara keseluruhan, tetapi merupakan kombinasi hukum-hukum sipil yang ada, code contemporer dan asas-asas Syari’ah (hukum Islam). Pasal 1 Code Sipil Mesir 1949 ini menyatakan bahwa mengenai hal-hal yang tidak diatur secara khusus dalam code ini pengadilan harus mengikuti hukum Adat, asas-asas hukum Islam dan asas- asas kepatutan dan keadilan (H.M Rasjidi, 1976: 27-28).
Sebelum Belanda menguasai Indonesia (Nusantara) pada waktu itu, Islam telah ada dan mempengaruhi bentuk dan perilaku masyarakat dan tata hukum yang ada. Misalnya Al Ahkam AL Sulthaniyah mempengaruhi pembentukan unit-unit masyarakat di Aceh, di bidang pemahaman dan pengamalan ketatanegaraan. Islam mempunyai kebijaksanaan dalam menerapkan aturan Islam di dalam kehidupan bermasyarakat, ialah dengan kebijaksanaan Tasyrik, Taklif dan Tatbiq.
Tasyrik, adalah kebijaksanaan pengundangan suatu hukum Allah dan Rasul sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Bila masyarakat belum matang untuk menerima suatu ketentuan hukum, maka dibuat ketentuan hukum yang ringan, kemudian meningkat sesuai dengan pemahaman masyarakat pada aturan tersebut. Contoh dari penerapan tasyrik dalam Islam adalah dalam hal minuman keras, Wahyu pertama menyebutkan bahwa minuman keras itu ada manfaatnya dan ada dosanya, tetapi dosanya lebih besar (Q.S.: 2: 219). Dalam perkembangannya, ketika kesadaran hukum para sahabat meningkat, turun wahyu kedua yang menyebutkan bahwa kalau akan mengerjakan shalat jangan minum-minuman keras (Q.S. 4: 43). Wahyu ketiga turun, ketika tingkat pemahaman hukum pada sahabat semakin meningkat, yaitu yang menyebutkan bahwa berjudi dan minuman keras adalah perbuatan syaitan, maka jauhilah (Q.S. 5: 90, 91).
Kebijaksanaan taklif merupakan kebijaksanaan dalam penerapan suatu ketentuan hukum terhadap manusia sebagai mukallaf (subyek hukum) dengan melihat kepada situasi dan kondisi pribadi manusia itu; melihat pada kemampuan fisik dan rohani (sudah dewasa), mempunyai kebebasan dan mempunyai akal sehat; di samping mempunyai kondisi pribadi yang sangat khusus ada padanya. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan taklif, hukum suatu perbuatan bagi seseorang dapat berbeda dengan hukum perbuatan bagi orang lain. Contohnya adalah mencuri. Ketentuan hukum bagi pencuri laki- laki dan perempuan adalah dipotong tangan (Q.S. 5: 38), tetapi dalam penerapannya dilihat situasi dan kondisi orang tersebut. Bila ternyata pencurian tersebut benar-benar semata-mata untuk makan, maka tangan pencuri tidak dipotong, bahkan waktu Khalifah Umar bin Khattab harus menerapkan hukum bagi pencuri tersebut, pencuri dilepas bahkan diberi makan. Penerapan hukum Islam dalam masyarakat manusia memerlukan kesadaran manusia dari segi batin dan imannya.
Penaatan Hukum Islam bagi orang Islam, menurut Al Quran (S.4: 59, S1: 5; S.24: 51-52; S.33:36), digantungkan pada kesadaran hukum dan cita- cita moral kesadaran hati nuraninya. Bagi pribadi manusia muslim, tiap saat dipanggil untuk menaati hukum Islam (Al Quran S.1: 5; S.24: 51)). Penaatan Hukum Islam bagi pribadi muslim sangat dikaitkan dengan kesadaran dan ketaatan agama pribadi muslim tersebut.
Hukum Islam sebagai tatanan hukum yang ditaati oleh mayoritas penduduk dan rakyat Indonesia, adalah hukum yang telah hidup di masyarakat, merupakan sebagian dari ajaran dan keyakinan Islam dan ada
dalam kehidupan hukum nasional dan merupakan bahan dalam pembinaan dan pengembangannya. Ketika Belanda mulai menguasai sebagian pulau- pulau di Nusantara, mereka menganut paham kenyataan dalam masyarakat bahwa orang Islam menaati Hukum Islam; bagi orang Islam berlaku hukum Islam, atau Belanda menyebutnya dengan theorie Receptio in Complexu.
Setelah tiga abad lebih berkuasa, Belanda ingin memantapkan penjajahannya dan berusaha menjauhkan Hukum Islam dari masyarakat Islam dengan ditimbulkan dan diterapkannya Theorie Receptie. Teori ini dikembangkan oleh Snouck Hurgronye yang didukung oleh Van Vollenhoven dan Ter Haar Bzn. Setelah Indonesia Merdeka, Prof Dr. Hazairin mengembangkan theorie receptie exit, yang kemudian diikuti oleh H. Sayuti Thalib yang mengembangkan theorie receptio a contrario.
Dalam perkembangannya teori-teori tentang berlakunya hukum Islam di Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Ajaran Islam tentang Penaatan Hukum
Teori ini dikemukakan oleh HAR Gibb, yang mengatakan bahwa orang Islam kalau telah menerima Islam sebagai agamanya maka ia menerima otoritas hukum Islam terhadap dirinya. Secara sosiologis orang-orang yang sudah beragama Islam, menerima otoritas hukum Islam, taat kepada Hukum Islam. Tingkatan ketaatan tiap manusia muslim berbeda-beda, tergantung takwanya kepada Allah. Ada yang tingkatan ketaatan dalam keseluruhan aspek hukum, ada yang hanya beberapa bidang hukum saja.
Gibb menyebutkan bahwa hukum Islam bukanlah hasil karya budaya yang gradual dari manusia; hukum Islam adalah ketentuan agama. Sifat hukum Islam yang luwes berpadu, mengadopsi dengan ajaran hukum dan keadaan yang telah ada dalam masyarakat. Dalam praktek kehidupan sehari- hari, praktek hukum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Islam bersumber pada kaidah fiqhiyah.
Dari ayat-ayat Al Quran terungkap bahwa memang di dalam Islam ada ajaran tentang penaatan hukum, lengkap dengan doktrin penaatannya. (Al Quran S.1: 5; S.2: 179; S.4: 13, 1; S.4: 49, 63, 105; S.5:44, 45, 47, 48, 49, 50;
S.24: 51, 52).
2. Teori Penerimaan Otoritas Hukum
Teori ini dikemukakan oleh Lodewijk Willem Christian van den Berg (1845-1927) yang mengatakan bahwa bagi orang Islam berlaku penuh hukum
Islam sebab dia telah memeluk agama Islam walaupun dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan-penyimpangan. L.W.C van den Berg adalah ahli dalam hukum Islam dan disebut “orang yang menemukan dan memperhatikan berlakunya hukum Islam di Indonesia,” walaupun sebelumnya telah banyak penulis yang membicarakannya. Van den Berg juga mengusahakan agar hukum kewarisan dan hukum perkawinan Islam dijalankan oleh hakim-hakim Belanda dengan bantuan para penghulu kadhi Islam.
Ketika Belanda berkuasa, pada tahun 1855 dikeluarkan Regeerings Reglement yang memperkuat berlakunya hukum Islam dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Sebelum Belanda masuk dan berkuasa, hukum Islam telah dijalankan oleh beberapa kerajaan di tanah air, yang pada umumnya menganut paham Syafii. Beberapa kerajaan yang telah menerapkan hukum Islam adalah: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Demak, Kesultanan Mataram, Cirebon, Banten, Ternate, Kesultanan Buton, Sumbawa, Kalimantan Selatan, Kutai Pontianak, Surakarta, Palembang dan lain-lain. Pada negara tersebut terdapat suatu lembaga peradilan agama dengan berbagai nama, seperti Kerapatan Kadhi, Hakim Syara’, Pengadilan Surambi.
3. Theorie Receptie in Complexu
Teori ini sebenarnya merupakan kondisi nyata yang ada di masyarakat, dimana hukum Islam berlaku dan berkembang di masyarakat. Belanda pada saat itu juga mengakui bahwa hukum Islam merupakan hukum yang berlaku di masyarakat dan kemudian menjadi politik hukum bagi pemerintahan Belanda.
Berlakunya hukum agama (Islam) bagi rakyat pribumi kemudian dikenal sebagai theorie receptio in complexu. Staatsblad 1882 No. 152 yang berisi ketentuan bahwa bagi rakyat pribumi atau rakyat jajahan berlaku hukum agamanya yang berada dalam lingkungan hidupnya. Karena yang berlaku adalah hukum Islam maka segala bentuk peradilan agama yang waktu Belada datang sudah ada dan berjalan, dilanjutkan dan diakui kewenangan hukumnya.
Reglement op het beleid der Regering van Nederlandsch Indie (RR) S.1885 No. 2 menegaskan dalam Pasal 75 dan 78 sebagai berikut (Sayuti Thalib: 1982, 16).
Pasal 75 ayat (3) oleh hakim Indonesia (pribumi-Hindia Belanda) itu hendaklah diberlakukan undang-undang agama (goodsdientige wetten) dan kebiasaan penduduk Indonesia itu.
Ayat (4) Undang-undang Agama, instelling dan kebiasaan itu jugalah yang dipakai untuk mereka oleh hakim Eropa untuk pengadilan yang lebih tinggi andaikata terjadi hoger beroep atau pemeriksaan banding.
Pasal 78 ayat (2) Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang Indonesia itu atau dengan mereka yang dipersamakan dengan mereka, maka mereka tunduk kepada putusan hakim agama atau kepala masyarakat mereka menurut undang-undang agama atau ketentuan-ketentuan agama mereka.
4. Theorie Receptie
Teori ini menyatakan bahwa bagi rakyat pribumi pada dasarnya berlaku hukum Adat, hukum Islam berlaku kalau norma hukum Islam itu telah diterima oleh masyarakat sebagai hukum adat. Teori ini dikemukakan oleh Christian Snouck Hurgronye (1857 sampai dengan 1936), seorang penasihat Pemerintah Hindia Belanda tentang soal-soal Islam dan anak negeri, merupakan ahli hukum Islam dan hukum Adat di sebagian daerah Indonesia.
Theorie Receptie kemudian dikembangkan oleh Van Vollenhoven dan Ter Haar Bzn. Teori ini mendasarkan pada keinginan Snouck Hurgronye untuk jangan sampai orang-orang pribumi rakyat-rakyat jajahan kuat memegang Islam, sebab pada umumnya orang-orang yang kuat memegang agama Islam dan hukum Islam, tidak mudah dipengaruhi oleh peradaban barat.
Menurut Snouck Hurgronye, penerapan theorie receptio in complexu merupakan suatu kesalahan atau ketidakmengertian Pemerintah Belanda terhadap situasi masyarakat pribumi khususnya Islam, sehingga ia berpendapat bahwa sebaiknya Pemerintah Belanda mengubah kebijakannya karena pada kenyataannya banyak merugikan Pemerintahan Belanda sendiri.
Snouck Hurgronye mengajukan nasihat yang terkenal dengan nama Islam Policy, yaitu di dalam mengurus Islam di Indonesia dengan berusaha menarik rakyat pribumi lebih mendekat kepada kebudayaan Eropa dan Pemerintah Hindia Belanda. Islam Policy ini kemudian dikenal dengan nama Theorie Receptie, yaitu hukum Islam berlaku kalau sudah diterima oleh masyarakat adat menjadi adatnya, maka di Indonesia dikembangkan 19 wilayah hukum adat dan dalam 19 wilayah tersebut digambarkan adanya hukum adat yang berbeda.
Pasal 134 IS menyatakan bagi orang-orang pribumi kalau mereka menghendaki diberlakukannya hukum Islam selama hukum itu telah diterima oleh masyarakat hukum Adat. Pasal ini sering disebut sebagai pasal Receptie.
Inti dari teori ini adalah bahwa bagi rakyat pribumi yang diberlakukan bukanlah hukum Islam tetapi adat istiadatnya. Hukum Islam baru merupakan hukum kalau sudah diterima oleh masyarakat adat. Alfian berpendapat bahwa teori receptie berpijak dari asumsi pemikiran bahwa kalau orang-orang pribumi mempunyai kebudayaan yang sama/dekat dengan kebudayaan Eropa maka penjajahan atas Indonesia akan berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan goncangan-goncangan terhadap kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. (Alfian, 1977, 207-209)
Akibat dari kebijakan Pemerintah Belanda dengan pasal Receptie tersebut adalah adanya tekanan yang begitu kuat terhadap pelaksanaan hukum Islam, yang menempatkan hukum Islam menjadi hukum rendahan.
Tokoh-tokoh Adat didekati oleh Belanda untuk menghidupkan hukum adat dan “menarik” mereka supaya menjadi bagian dari pelaksanaan pemerintahan di Hindia Belanda.
5. Theorie Receptie Exit
Setelah Indonesia Merdeka dan memiliki konstitusi sendiri, dimana pada UUD 1945 terdapat pasal peralihan, yang berarti masih memberlakukan hukum-hukum Belanda selama belum dibentuk hukum yang baru bahkan sampai saat ini (2007), “memaksa” pasal receptie tetap diberlakukan. Hal tersebut ditentang oleh Prof Hazairin. Dalam bukunya Tujuh Serangkai tentang Hukum, Hazairin mengemukakan bahwa seluruh peraturan Hindia Belanda yang berdasarkan ajaran-ajaran teori receptie tidak berlaku lagi karena bertentangan dengan UUD 1945. Teori Receptie harus exit karena bertentangan dengan Quran dan Sunnah Rasul, bahkan Hazairin menyebut bahwa teori receptie sebagai teori iblis.
Pada buku tersebut Hazairin mengungkapkan bahwa setelah Indonesia merdeka, hendaknya orang Islam Indonesia menaati hukum Islam karena hukum itu merupakan ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya, dan bukan karena hukum tersebut telah diterima oleh hukum Adat (seperti yang disebutkan dalam teori receptie).
6. Theorie Receptio a Contrario
Teori ini sebenarnya merupakan pengembangan dari teori exit-nya Hazairin. Dikembangkan oleh Sayuti Thalib berdasarkan penelitiannya yang ditulis dalam sebuah buku yang berjudul Receptio A Contrario. Pada buku tersebut pada Bab VIII (Receptio A Contrario), bab IX (Hukum Perkawinan Islam berlaku penuh dan hukum kewarisan Islam berlaku , tetapi dengan beberapa penyimpangan) dan Bab X (Hasil penelitian tentang Hukum Perkawinan dan Kewarisan) sebagai satu keseluruhan. Hasil penelitian dan uraian tentang hukum yang berlaku (perkawinan dan kewarisan) menghasilkan kesimpulan bahwa (Sayuti Thalib: 1980; 15 s.d. 70).
a. Bagi orang Islam berlaku hukum Islam.
b. Hal tersebut adalah sesuai dengan keyakinan dan cita-cita hukum, cita- cita batin dan moralnya.
c. Hukum Adat berlaku bagi orang Islam kalau tidak bertentangan dengan Agama Islam dan Hukum Islam.
Teori ini dinamakan Receptio A Contrario karena memuat ajaran teori yang merupakan kebalikan dari Theorie Receptie.
Antara teori exit dan teori receptio a contrario memiliki titik pangkal yang berbeda, yaitu pada teori exit berpangkal dari kondisi dimana kita tetap memberlakukan hukum-hukum Belanda yang tidak sesuai dengan jiwa bangsa (pasal receptie), terutama Islam, yang berakibat orang Islam tidak lagi menjalankan perintah Al Quran dan sunah Rasul sebagai mana adanya, sehingga kita harus keluar dari aturan itu. Sedangkan teori receptio a contrario berpangkal pada kebebasan menjalankan perintah-perintah agama (Islam) yang dijamin oleh UUD, sehingga, orang Islam diberlakukan hukum Islam, hukum Adat dapat diberlakukan bagi orang Islam bila hukum Adat tersebut tidak bertentangan dengan hukum Islam.
Dibandingkan dengan teori receptie maka pada teori receptio a contrario mendudukkan hukum Islam sebagai yang utama baru kemudian menjalankan hukum Adat bila tidak bertentangan, sedangkan teori receptie mendahulukan hukum Adat sebagai hukum yang berlaku.
7. Teori Eksistensi
Teori ini dalam kaitannya dengan hukum Islam adalah teori yang menerangkan tentang adanya hukum Islam dalam Hukum Nasional Indonesia. Teori ini mengungkapkan pula bentuk eksistensi hukum Islam dan hukum nasional , yaitu
a. Ada, dalam arti sebagai bagian yang integral dari hukum Nasional Indonesia.
b. Ada, dalam arti adanya dengan kemandiriannya yang diakui adanya dan kekuatan wibawanya oleh hukum nasional serta diberi status sebagai hukum nasional.
c. Ada, dalam hukum nasional dalam arti norma hukum Islam (Agama) berfungsi sebagai penyaring bahan-bahan hukum nasional Indonesia.
d. Ada, dalam arti sebagai bahan utama dan unsur utama Hukum Nasional Indonesia.
Eksistensi hukum Islam terlihat dalam bentuk adanya peraturan perundang-undangan (hukum tertulis) dan hukum tidak tertulis, serta praktek ketatanegaraan dan sosial keagamaan bangsa Indonesia.