Kegi atan Bel ajar 2 Sejarah Hukum di Indonesia
epublik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi, Undang-Undang Dasar 1945 Republik Indonesia yang pertama disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sebelum orang-orang Belanda datang pada tahun 1596, Hukum yang berlaku di daerah-daerah di Indonesia adalah hukum yang tidak tertulis, atau sering disebut dengan Hukum Adat.
Hukum-hukum yang ada di Indonesia antara lain:
1. Hukum Adat.
2. Hukum Islam.
3. Hukum Perdata Barat.
pegawai tinggi dengan sebutan “Tu-ka-ya-na” dan pegawai rendah disebut dengan “Tu-ka-si-na,” dengan hukum pidana yang berlaku adalah potong tangan bagi kejahatan pembunuhan atau pencurian dan diikat dengan rantai untuk perbuatan zina.
Masa Ćriwijaya dan kaum Ćailendra pada abad ke-7 sampai dengan ke-9 meliputi daerah jajahan Jawa, Sumatera, Malaya sampai Kamboja, tetapi tidak banyak tercatat hukum adat yang dipergunakan pada masa itu, tetapi diperkirakan Hukum Budha berpengaruh atas jalannya pemerintahan di pusat-pusat pemerintahan, sedangkan di pedalaman tetap berlaku hukum adat zaman Malaio Polinesia. (Hilman Hadikusuma, 1978; 18).
Buchori mengemukakan bahwa salah satu dari unsur kebudayaan India yang diambil oleh masyarakat atau pemerintahan pada zaman itu adalah bentuk kerajaan yang “patrimonial,” dengan unsur kerajaan yang tujuh (sapta) yaitu raja, wilayah kerajaan, birokrasi, rakyat, perbendaharaan negara, angkatan bersenjata dan negara-negara sahabat.
Pada abad ke-10, kerajaan Mataram (kuno) yang meliputi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ibukotanya Medang (saat ini di Grobogan) dan rajanya Balitung, membawahi 28 “kabupaten,” yang diawasi oleh 4 pejabat tinggi sebagai menteri di bawah pimpinan seorang Perdana Menteri.
Selain itu raja memerintah di samping Rakryah Hino (putra mahkota).
Selanjutnya, pada beberapa masa kerajaan seperti zaman Airlangga (1010), tidak tercatat perkembangan hukum adat, kecuali pada masa itu sudah ada menteri raja yang berkepala Garuda, berbagai macam pajak dan penghasilan yang harus dibayar kepada raja. Zaman Singasari (antara tahun 1222 sampai dengan 1292) negara yang didirikan oleh Ken Arok, sudah mulai berkembang tatanan pemerintahan, terutama setelah Singasari dipimpin oleh Kartanegara. Pada masa ini sudah ada tata hukum berupa “Sapta Menteri” dengan Mahkamah “Sapta Upapati” dengan tiga orang pamegat yaitu Tirwan, Mandamuri dan Manghuri.
Zaman Majapahit, ketika kerajaan negara itu dipimpin oleh Hayam Wuruk (1350-1389) dan Patih Mangkubumi Majapahit Gajah Mada, terdapat pembagian pemerintahan yang jelas, seperti pembagian penjaga pusat kedudukan pemerintahan dan mahkota yang disebut Darmaputra dan penjaga keamanan dan kehormatan negara yang disebut dengan Bhayangkara. Prabu Hayam Wuruk adalah Ketua sidang mahkota (Sapta-prabu), sidang yang mengurus urusan rumah tangga keraton dan anggota keluarga prabu,
mengatur soal-soal perkawinan, peralihan mahkota, kedudukan mahkota dan ketentaraan negara.
Sang Prabu memerintah Negara dengan empat badan pemerintahan yang terdiri dari “Mantri Katrini,” Panca ring Wilwatikta,” Dharmajaksa” dan
“Sapta Pappatti.” Memiliki tiga Maha Menteri atau Matri Katrini, yaitu Manteri Hino, Manteri Sirikan dan Manteri Halu. Panca ring Wilwatikta merupakan departemen-departemen yang terdiri dari “Rakryan” yang empat dan seorang “Mahapatih.” Mahapatih dijabat oleh Gajah mada, dan yang menyangkut politik negara dibicarakan dan dilaksanakan oleh Panca ring Wilwatikta dan Matri Katrini. Dharmajaksa adalah jabatan keagamaan yang terdiri dari Kepala Agama Budha dan Kepala Agama Syiwa. Sapta Pappati atau Upapati terdiri dari Pamegar Agama Syiwa dan dua petugas agama Budha dengan tugas utama di bidang keagamaan. Kedudukan Hakim langsung di bawah Sang Prabu. Di Dalam memutus perkara didasarkan pada hukum adat setempat dengan mengindahkan hukum adat yang tertulis dari negara.
Pada masa Majapahit ini, dikenal tiga kitab hukum, yaitu Kutaramanawa yang bersendikan kitab Kutarasyatra, dan Manawasyatra. Keputusan pengadilan atau jayasong atau jayapatra memiliki arti yang luas pada masa itu, karena saat itu tidak dikenal pembagian kekuasaan Trias Politika dari Locke-Mostesque, sehingga keputusan tersebut juga menyangkut atau ada andil dari pemerintahan umum.
Masa berikutnya adalah masuk dan berkembangnya Islam. Dimulai pada abad ke-12 di Aceh Timur terdapat dua negara kecil yaitu Pasai (Samudra Aca Pasai) (berdiri tahun 1128) dan Perlak (Peureulak) (berdiri tahun 1028).
Berkembangnya Islam di Aceh tidak dengan serta merta terserap dalam masyarakat sampai ke pedalaman, bahkan Sultan Malikul Saleh (wafat 1297) pada awalnya merupakan pimpinan persekutuan hukum adat di hulu sungai Peusangan. Pengaruh itu sempat sampai ke Tapanuli, Minangkabau dan Bengkulu, tetapi tidak di tanah Batak yang dikuasai oleh Si Singamangaraja (Hilman Hadikusuma, 1978; 31).
Di daerah Minangkabau, yaitu pada tahun 1513, penguasa Aceh di Pariaman, maka nagari-nagari dalam Laras Koto Piliang dan Laras Bodi Chaniago mengatur pemerintahan persekutuan hukum adatnya dengan sistem
“orang empat jenis” yaitu Penghulu, Malim (ulama), Manti dan Dubalang. Di masa kekuasaan Pagaruyung, Adityawarman, sebagai memimpin, memerintah hanya berdasarkan hukum adat tanpa ada kedudukan ulama
sebagai Malin. Tetapi setelah masuknya Islam maka masyarakat Minang tidak hanya hidup berdasarkan hukum adat tetapi juga berdasarkan hukum Syariat yang disebut “suluh nan terang,” hukum adat bersendi pada halur dan patut, sedangkan hukum Syariat bersendi pada kitab Allah.
Masuk dan berpengaruhnya hukum Islam di Minangkabau tidak membawa pengaruh pada kedudukan “rumah gadang,” yaitu rumah adat yang mempunyai 5 sampai dengan 15 ruang lebih, dikemudikan oleh ibu dengan bantuan saudara lelaki ibu sebagai “mamak” yang ikut bertanggung jawab atas rumah dan isinya. Anak lelaki tidak mempunyai ruang di dalam rumah gadang itu, jika ia sudah dewasa maka ia harus keluar dari rumah, karena yang berhak adalah anak perempuan.
Pada masyarakat Batak, hanya suku Mandailing dan Angkola yang menerima Islam, sedangkan suku lainnya tetap menghormati Si Singamangaraja. Di kemudan hari, agama Kristen dapat menembus daerah pedalaman Batak. Islam dan Kristen pada kenyataannya hanya mengisi sisi kerohanian orang Batak. Hal itu terbukti dengan tidak berubahnya struktur masyarakat dan hukum adatnya. Sampai sekarang yang kita lihat hanya pada acara perkawinan nampak unsur agama, sedangkan pada bidang perdata dan tata masyarakat masih tetap berpedoman pada tradisi dari zaman Hindu- Malaio Polinesia. (Hilman Hadikusuma, 1978; 38).
Dalam struktur kekerabatan Batak tidak nampak unsur Islam dan Kristen, seperti garis keturunan lelaki (patrilineal) bersendikan tiga unsur yang disebut dengan “dongan sebutuha,” “hula-hula,” “ dan “boru.” Badan pemerintahan adat tradisional dalam masyarakat Batak terdiri dari orang pertama adalah Marga Tanah yang disebut “Raja Parjolo’ (Toba Balige),
“Raja Doli” (Samosir) atau “Raja Panusunan” (Tapanuli Selatan). Orang kedua adalah dari Boru Marga yang di Tapanuli Tengah disebut “Raja Imboru” atau “Bayo bayo na godang” di Tapanuli Selatan. Orang ketiga adalah wakil dari Marga Rakyat yang disebut “Natoras.”
Di Sumatera Selatan, sampai masa kekuasaan Arya Damar (1456 s.d.
1474) agama Islam belum begitu meluas di daerah pedalaman. Lebih-lebih di daerah pegunungan. Pada masa pemerintahan Ratu Senuhan Seding (1630) Hukum Adat mulai dibukukan dalam aksara Arab Melayu yang kemudian terkenal dengan “Undang-undang Sibur Cahaya.” Hukum adat dalam bentuk tertulis ini mulai dipengaruhi oleh Hukum Islam, dengan adanya ketentuan- ketentuan tentang kedudukan kaum (pejabat) agama yang terdiri dari
“Mudin” (khatib), “Bilal,” “Merbut” dan “Penghulu,” dengan tugas-tugas
mengurus soal kawin, pegat (cerai), puasa, fitrah, zakat, tempat ibadah, kelahiran, kematian, keramat, pengajian dan pemeliharaan anak yatim.
Pada umumnya Hukum Adat yang berlaku di lingkungan masyarakat di Indonesia masa itu didasarkan pada pedoman hidup yang berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang maha Esa, percaya pada hukum karma dan ancaman kesaktian, hidup saling percaya mempercayai sesama manusia, rasa kekeluargaan-kerukunan dan keselarasan sebagai sendi ketertiban dan keadilan dimana segala sesuatunya ditempatkan di atas kepentingan kebendaan dan pribadi. (Hilman Hadikusuma, 1978; 63).
Pelaksanaan Hukum Adat berjalan atas dasar musyawarah dan mufakat, harga menghargai dan hormat menghormati antara satu sama lain. Barang siapa melanggar hukum, maka ia dihukum termasuk kerabatnya ikut bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya. Bentuk hukuman hanya berupa celaan atau penyingkiran dari pergaulan, pengusiran atau pembuangan, denda atau pengampuan. Hukum adat tidak mengenal hukum penjara, kurungan atau tutupan, siksaan badan, pukulan atau perantaian, karena anggapan hidup tidak ada manusia yang tidak akan bertaubat.
Hukum adat tumbuh, dianut dan dipertahankan sebagai peraturan penjaga tata tertib sosial dan tata tertib hukum di antara manusia, yang bergaul di dalam suatu masyarakat, supaya dengan demikian dapat dihindarkan segala bencana dan bahaya yang mungkin atau telah mengancam. Ketertiban yang dipertahankan oleh Hukum Adat itu baik bersifat batiniah maupun jasmaniah, kelihatan dan tidak kelihatan, tetapi diyakini dan dipercaya sejak kecil sampai berkubur berkalang tanah. Dimana ada masyarakat, di situ ada hukum (adat). (Iman Sudiyat, 1978; 33). Pada hukum adat memiliki empat sifat yang merupakan suatu kesatuan, yaitu sifat religio-magis; sifat komun (commuun); sifat kontant (tunai); dan sifat konkret (visual).
Soekanto berpendapat bahwa jika kita mengeluarkan pertanyaan, hukum apakah menurut kebenaran, keadaan, yang bahagian terbesar terdapat dalam hukum adat Indonesia, jawabannya adalah: Hukum melayu-polinesia yang asli itu dengan di sana-sini sebagai bahagian yang sangat kecil, hukum agama. (Surojo Wignyodipuro, 1973; 18).