Kegi atan Bel ajar 2
Hukum Islam
oleh pemerintah penjajah Belanda pada tahun 1904 untuk tujuan memperlancar usaha pengkristenan penduduk Hindia Belanda. Tokoh lain yang mendukung teori ini adalah Christian Snouck Hurgronje (1857-1936), seorang tokoh yang berhasil membantu pemerintah penjajah Belanda dalam mengatur strategi untuk memenangkan Perang Aceh. C Snouck Hurgronje adalah ahli hukum Islam dan hukum adat dari mazhab Leiden yang menentang pendapat LWC van den Berg, seorang tokoh mazhab Delf.
Para penganut theori receptie berpendapat bahwa sebenarnya yang berlaku bagi orang-orang Indonesia asli di Hindia Belanda adalah hukum adat mereka masing-masing. Pada sebagian dari hukum adat ini memang telah masuk pengaruh hukum Islam. Tetapi pengaruh hukum Islam baru mempunyai kekuatan kalau dikehendaki dan diterima oleh hukum adat, dan dengan demikian dia berwujud sebagai hukum adat, bukan sebagai hukum Islam.
Sebagai reaksi atas theori receptie, beberapa tokoh mengemukakan teori lain lagi. Hazairin, seorang ahli hukum adat dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia menentang theori receptie yang disebutnya sebagai teori Iblis.
Pada tahun 1950 dalam suatu konferensi yang diselenggarakan oleh Departemen Kehakiman di Salatiga mengemukakan pandangannya agar hukum Islam berlaku di Indonesia tidak berdasarkan hukum adat. Berlakunya hukum Islam di Indonesia hendaknya berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri.
Sampai sekarang terdapat berbagai pendapat mengenai keberlakuan hukum Islam di Indonesia. Perbedaan pendapat ini mempunyai pengaruh yang kuat sampai ke badan peradilan, sehingga antara badan peradilan dengan badan peradilan lain sering kali tidak terdapat kesamaan pendapat.
Tentang pemberlakuan hukum Islam di Indonesia, terdapat beberapa macam pendapat dari para tokoh hukum. Dalam hal ini yang menjadi perdebatan para ahli tersebut adalah:
Apakah hukum Islam di Indonesia itu berlaku atas kekuatannya sendiri, atau hukum Islam tersebut baru dapat berlaku bagi orang Indonesia asli yang tunduk pada hukum adat, apabila bagian tertentu dari hukum Islam sudah diresepir oleh hukum adat.
Untuk lingkup berlakunya tidak lagi dipermasalahkan, baik hukum Islam berlaku karena merupakan bagian dari hukum adat atau karena kekuatannya sendiri. Para ahli sepakat bahwa lingkup berlakunya terbatas pada:
a. Hukum Keluarga (Hukum perkawinan).
b. Hukum Waris, bagi orang Indonesia yang beragama Islam di daerah tertentu.
1) Apakah yang menyebabkan para ahli memperdebatkan cara berlakunya hukum Islam di Indonesia?
2) Jelaskan teori Receptio in complexu!
3) Jelaskan teori Receptie!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Para ahli melihat keberlakuan hukum Islam dari cara pandang yang berbeda, sehingga muncul perbedaan pendapat.
2) Teori ini menjelaskan tentang berlakunya hukum Islam di Indonesia dengan kekuatannya sendiri.
3) Teori ini menjelaskan tentang berlakunya hukum Islam di Indonesia dengan penyerapan di hukum adat.
Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang keberlakuan hukum Islam di Indonesia. Pendapat pertama menyebutkan bahwa hukum Islam berlaku atas kekuatannya sendiri. Pendapat kedua menyatakan bahwa hukum Islam baru dapat berlaku bagi orang Indonesia asli yang tunduk pada hukum adat, bila bagian tertentu dari hukum Islam(misalnya hukum waris atau perkawinan) memang telah ”diresepir”, yaitu telah diterima sebagai bagian hukum adat. Berdasarkan kedua pendapat ini kemudian muncul berbagai macam teori.
Penganut teori receptio in Complexu berpendapat bahwa bagi orang Indonesia asli, bila mereka beragama Islam secara otomatis berlaku hukum Islam. Dalam hal ini berlakunya hukum Islam adalah atas dasar kekuatan sendiri.
LA T I HA N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!
RA NG K UM A N
Penganut teori theori receptie berpendapat bahwa bagi orang-orang Indonesia asli, di Hindia Belanda adalah hukum adat mereka masing- masing. Ada di antara hukum adat ini yang telah dipengaruhi oleh hukum Islam, tetapi pengaruh hukum Islam baru mempunyai kekuatan berlaku kalau memang dikehendaki dan diterima oleh hukum adat itu sendiri.
1) Para ahli sepakat hukum Islam lingkup lakunya ....
A. terbatas pada hukum keluarga dan hukum waris
B. terbuka bagi seluruh ketentuan yang ada dalam Hukum Islam C. sesuai dengan kehendak masing-masing hukum adat yang ada di
Indonesia D. berlaku umum
2) Terdapat pengecualian berlakunya hukum Islam pada masyarakat Islam, yaitu hukum kewarisan menganut ....
A. hukum Islam B. hukum Adat C. matrilineal D. patrilineal
3) Pada perkawinan masyarakat Minang, juga terjadi pengecualian berlakunya hukum Islam, yaitu masyarakat Minang melakukan berdasar prinsip ....
A. exogami B. poligami C. monogami D. poliandri
4) Hukum Islam hanya berlaku untuk orang-orang yang beragama Islam di Hindia Belanda. Teori ini disebut teori ....
A. receptie
B. receptio in complexu C. konkordansi
D. doplex
T E S FO RM A T IF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
5) Hukum Islam berlaku bila telah terserap oleh hukum adat dan keberlakuannya bila dikehendaki dan diterima oleh hukum adat, teori ini disebut teori ....
A. receptie
B. receptio in complexu C. konkordansi
D. doplex
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.
Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%
Jumlah Soal
Kegi atan Bel ajar 3 Hukum Barat
engertian hukum barat sebenarnya adalah hukum yang berdasarkan ketentuan Pasal 131 jo Pasal 163 IS yang dinyatakan berlaku untuk pihak-pihak yang dimasukkan ke dalam golongan Eropa, atau untuk pihak- pihak yang dipersamakan dengan mereka. Hukum ini sengaja disebut sebagai hukum barat, karena berdasarkan asas konkordansi, hukum yang berlaku untuk golongan Eropa di “Hindia Belanda” harus meniru hukum (perdata) yang berlaku di Negeri Belanda. Sedangkan hukum yang berlaku di Negeri Belanda, seperti halnya hukum di negara-negara Eropa Barat lainnya banyak dipengaruhi prinsip-prinsip yang merupakan hasil revolusi Perancis, yaitu liberte (kemerdekaan), egalite (persamaan), dan fraternite (persaudaraan).
Sebagai contoh Burgerlijk Wetboek (BW) banyak mengambil alih ketentuan- ketentuan yang terdapat pada Code Civil (Kitab Undang-undang Hukum Perdata Perancis). Semua asas yang terkandung pada Code Civil dijadikan sebagai asas BW juga, misalnya:
1. Konsep individualistis terhadap hak eigendom (Pasal 570 BW).
2. Asas kebebasan berkontrak (Pasal 1338 BW).
3. Sifat “netral” atau “keduniawian” dari hukum perdata. Jadi, agama bukan unsur hukum, sehingga perkawinan menurut undang-undang hanya dianggap sebagai “kontrak perdata” (Pasal 26 BW). Dengan demikian semua lembaga hukum baru bersifat keduniawian.
4. Dalam hukum keluarga berlaku prinsip matrimonial dan ketidakmampuan bersikap tindak sendiri bagi wanita yang sudah bersuami (Pasal 105, 108, 110, 300 ayat (1) BW).
5. Berlaku asas “monogami” dalam hukum perkawinan (Pasal 271 BW).
Berbagai asas tersebut di negara asal, yaitu Perancis dan Belanda, telah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat. Tetapi di Indonesia semenjak dinyatakan berlaku asas-asas utama dalam BW tersebut mengalami perubahan yang berarti.
Hukum perdata barat ada yang berbentuk hukum tertulis di samping ada juga yang berbentuk hukum tidak tertulis (kebiasaan). Sedangkan hukum tertulis ada yang dikodifikasikan, di samping ada hukum tertulis yang tidak
P
dikodifikasikan. Hukum tertulis yang telah kodifikasi adalah Burgerlijk Wetboek (diterjemahkan secara salah kaprah sebagai “Kitab Undang-undang Hukum Perdata” dan Wetboek van Koophandel (diterjemahkan secara salah kaprah sebagai “Kitab Undang-undang Hukum Dagang“. Terjemahan yang menggunakan nama “Kitab Undang-undang Hukum Perdata” dan “Kitab Undang-undang Hukum Dagang” tersebut benar-benar suatu kesalahan yang sangat fatal, dengan alasan:
1. Menurut sistem hukum Indonesia, Undang-undang adalah produk bersama antara Presiden dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Padahal sampai saat ini Presiden dan DPR belum pernah menetapkan suatu undang-undang tentang hukum perdata maupun hukum dagang.
Kedua terjemahan tersebut tidak dapat disebut sebagai “Undang-undang Hukum Perdata” dan ‘Undang-undang Hukum Dagang’.
2. Sebagai sumber hukum, yang berlaku sebenarnya bukanlah terjemahan BW dan WvK dalam bahasa Indonesia (ada beberapa terjemahan yang satu sama lain ada perbedaan) tetapi adalah Burgerlijk Wetboek dan Wetboek van Koophandel yang asli, yaitu dalam Bahasa Belanda.
Kesalahan yang fatal tersebut berakibat timbul salah pengertian di kalangan warga masyarakat bahkan di lingkungan mahasiswa fakultas hukum bahwa seolah-olah di Indonesia saat ini sudah ada undang-undang hukum perdata dan hukum dagang yang berlaku bagi siapa pun yang menjadi subjek hukum di wilayah hukum Indonesia.
Berikut ini akan dikemukakan secara singkat hukum perdata barat baik yang tidak tertulis maupun tertulis baik yang dikodifikasikan maupun yang tidak dikodifikasikan.