• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANUSIA, ILMU, DAN KEBENARAN

H. CARA BERPIKIR INDUKTIF

Dalam logika deduktif, kita mulai dengan pernyataan yang bersifat umum;

dengan hukum atau teori yang sudah ada dan selanjutnya kita melangkah pada kenyataan khusus yang ingin disimpulkan. Sebaliknya cara berpikir induktif dimu­

lai dengan pernyataan yang bersifat khusus. Karena itu dalam berpikir induktif ini dimulai dengan penalaran yang mempunyai ciri khas dan terbatas ruang lingkupnya dan kemudian ditarik suatu konklusi yang bersifat umum. Dalam logika deduktif, konklusi yang disimpulkan adalah benar apabila kedua premis sebelumnya benar dan cara penarikan kesimpulan juga benar, tetapi tidak demikian dalam logika induktif.

Pernyataan khusus yang dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan hanya terbatas pada atau sampai pernyataan khusus itu dibuat, tetapi belum tentu untuk masa datang. Sering juga terjadi kesalahan dalam pengambilan kesimpul an, karena konklusi tidak bersumber dari sampel yang mewakili populasi.

Contoh:

Tanggal satu bulan Maret 1986 hari hujan Tanggal satu bulan April 1986 hari hujan Tanggal satu bulan Mei 1986 hari hujan

………

Tanggal satu bulan Agustus hari hujan Tanggal satu bulan September hari hujan

………

Tanggal satu bulan November hari hujan Tanggal satu bulan Desember hari hujan

Konklusi: Tanggal satu, tiap-tiap bulan hari hujan.

Contoh lain:

Antara kota 1 dan 2, dapat diamati: Burung gagak hitam Antara kota 2 dan 3, dapat diamati: Burung gagak hitam Antara kota 3 dan 4, dapat diamati: Burung gagak hitam Antara kota 4 dan 5, dapat diamati: Burung gagak hitam Disimpulkan: Semua burung gagak hitam

Berdasarkan argumen satu sampai empat, kesimpulan yang dibuat adalah benar.

Tetapi perlu diingatkan bahwa masih banyak kota lain yang belum dapat diamati, bagaimana warna burung gagak di sana. Apakah juga hitam, putih, dan/atau ada warna lain. Umpama: Apabila kita melihat pada pukul 08.00 pagi hari, sekolah be­

lum mulai belajar, maka janganlah langsung menyimpulkan: Sekolah lambat mulai belajar. Carilah terlebih dahulu dalam daerah yang lebih luas dan dalam waktu yang relatif lama, barulah membuat kesimpulan.

Cara berpikir induktif ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap penalaran de­

duktif, yang bersumber terlebih dahulu pada hal yang bersifat umum. Cara ini dimo­

tori oleh Bacon, yang lebih terkenal sebagai tokoh Empirisme. Ia kurang sependapat bahwa logika model deduktif itu dapat menguasai alam, sebab alam itu jauh lebih kompleks dari kepelikan argumen yang dikemukakan oleh seseorang. Karena itu ia menganjurkan untuk mengadakan pengamatan langsung atau melakukan observa­

si ke objek yang sebenarnya dalam waktu yang relatif lama dan mencukupi untuk menarik kesimpulan yang benar. Ia menjadi perintis yang mencoba menerobos ke­

perkasaan logika deduktif dan menolak logika kebenaran berdasarkan otoritas, atau pendapat para ahli sebagai sumber kebenaran untuk menemukan bukti­bukti empiris berdasarkan pengamatan seseorang. Kelemahan cara Bacon ini adalah kurang efektif dan banyak memakan waktu. Secara skematis sebagai berikut:

Khusus Umum

Teori Gejala

I. CARA BERPIKIR KEILMUAN

Seperti telah disinggung pada bagian terdahulu, bahwa ilmu itu bersifat tentatif, dilakukan secara sistematis menurut cara berpikir yang memenuhi persyaratan keil­

muan. Tujuan utama dari ilmu yaitu untuk mengerti, menerangkan, dan me ramalkan fenomena alam, karena itu dibutuhkan berpikir rasional dan kembali kepada alam se­

cara empiris, dengan melakukan penyelidikan yang saksama tentang fenomena alam.

Berpikir deduktif dengan mendambakan kekuatan rasional pada prinsipnya bukanlah murni deduktif semata­mata. Karena kebenaran yang telah diterima se­

bagai teori, bersumber dari mana. Apakah semata­mata lahir dari deduksi, tanpa ber­

pengalaman sebelumnya? Tidak mungkin dilakukan deduksi secara canggih kalau ilmu itu tidak memiliki validitas eksternal, atau teruji dalam pengamalan secara em­

piris. Juga tidak mungkin menguji atau mencari kebenaran melalui fenomena alam saja, atau melakukan induksi semata­mata. Dengan mengamati fenomena alam, tan­

pa memiliki dasar teori yang kuat sebelumnya juga tidak mungkin. Andai kata hal itu dilakukan dengan mengabaikan teori sebelumnya, apa yang dilakukan merupakan

trial and error” dan bagaimana untuk menyatakan sesuatu itu benar kalau tidak ada teori yang mendukung sebelumnya.

Sehubungan dengan itu, cara berpikir keilmuan mencoba menggabungkan ke­

dua cara berpikir tersebut, yaitu deduktif­induktif, yang merupakan satu kesatuan dalam mencari atau menemukan kebenaran, sebab cara berpikir deduktif akan mem­

bawa para pemikir cenderung untuk membenarkan cara sendiri, sedangkan cara ber­

pikir induktif juga tidak sampai kepada kebenaran kalau fakta yang ada tidak diberi arti oleh pencari ilmu. Tanpa memberikan arti yang sesungguhnya pada fakta yang telah terkumpul, maka fakta itu akan menyesatkan dan memberi informasi yang sa­

lah. Fakta yang dikumpulkan sebagai hasil kerja empiris akan berubah menjadi ong­

gokan fakta yang tidak berarti, kalau kekuatan untuk memberi arti yang benar tidak ada. Dalam hal ini, teori yang ada (deduktif) akan membantu menerjemahkan data empiris itu.

Cara berpikir keilmuan merupakan cara berpikir induktif­deduktif atau de­

duktif­induktif. Kebenaran yang telah ada secara relatif akan ditinjau kembali un­

tuk selanjutnya diuji secara empiris, menurut langkah­langkah dalam metoda ilmi­

ah. De ngan demikian, jelaslah bahwa kebenaran keilmuan dapat didekati melalui pengkajian penalaran secara teoretis untuk mencari, menguji, maupun menemukan sesuatu ke sulitan, kelemahan maupun ketidaktepatan dari ilmu/teori yang telah ada dan untuk selanjutnya diuji secara empiris berdasarkan fenomena di lingkungannya.

Masyarakat ilmiah menurut bidangnya masing­masing akan menilai terlebih da­

hulu apakah sesuatu pengetahuan itu benar atau tidak secara ilmiah, sebelum penge­

tahuan itu merupakan teori yang akan menempatkan dirinya dalam khazanah ilmu untuk masa datang. Kebenaran yang telah diteliti dengan pembuktian secara ilmiah, akan memasuki masyarakat ilmiah menurut pembidangannya ma sing­masing. Hasil

penelitian itu akan dikaji ulang, dikritik, maupun dipelajari secara lebih terperinci oleh kelompok tertentu. Apabila masyarakat ilmiah dapat menerima hasil tersebut, maka kebenaran yang pada mulanya bersifat hipotesis akan berubah menjadi teori dan memperkaya khazanah ilmu.

Kekuatan utama metode keilmuan (scientific method) ini adalah ketepatan (pre- cision), kontrol, dapat diuji, dan dimungkinkan untuk menemukan sebab akibat.

Dengan kata lain, dapat menyediakan jawaban lebih tegas dan kukuh daripada akal sehat, intuisi, atau otoritas seseorang, sedangkan kelemahannya sering gagal da­

lam memahami keunikan manusia, termasuk di dalamnya kemampuan berpikir dan menginterpretasikan pada masing­masing insan manusia.

Seperti telah disinggung sebelum ini teori dapat dikaji/digunakan sebelum pe­

nelitian dilaksanakan, tetapi dapat juga sesudah pengumpulan data menjelang ana­

lisis dan pembahasan. Teori sebagai pijakan utama dan mula­mula, dalam berpikir ilmiah serta awal yang bermakna untuk menghasilkan temuan­temuan baru dapat diperhatikan pada Gambar 1.2.

Kebenaran/Dalil Masalah

Data Teori

Pembuktian Hipotesis Berinteraksi

dalam khazanah ilmu

Pembahasan observasi hubungan

Penelitian lapangan/

observasi gejala Generalisasi

Kesimpulan

Hipotesis Deduktif

Induktif

Pembahasan teoretik/

silogisme

GAMBAR 1.2 Teori sebagai Landasan Berpikir Ilmiah.

mengerti, baca kembali uraian pada Bab 1!

1. Apakah perbedaan kebenaran mutlak dan kebenaran keilmuan?

2. Jelaskan perbedaan konsep ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge).

3. Apakah yang dimaksud dengan pendekatan non-ilmiah dalam mencari pengetahuan?

4. Sebutkan empat cara yang dapat digunakan dalam pendekatan non-ilmiah.

5. Apakah yang dimaksud dengan otoritas ilmiah? Beri contoh.

6. Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan berdasarkan akal sehat?

7. Diskusikan dengan teman Anda, apakah perbedaan intuisi dan akal sehat?

8. Apakah yang dimaksud dengan trial and error (coba dan salah). Jelaskan dengan contoh.

9. Menurut John Dewey ada lima langkah dalam memecahkan masalah. Jelaskan kelima lang- kah tersebut dengan contoh.

10. Apakah yang dimaksud dengan pengambilan keputusan secara induktif? Beri contoh.

11. Apakah yang dimaksud dengan logika deduktif? Beri contoh.

12. Apakah beda antara logika deduktif dengan berpikir keilmuan?

13. Cobalah Anda terangkan keterbatasan berpikir induktif dalam mencari kebenaran. Beri contoh.

14. Apakah yang dimaksud dengan premis mayor, premis minor, dan silogisme? Beri contoh.

Bab 2