DAN JENIS-JENIS PENELITIAN KUANTITATIF
B. JENIS-JENIS PENELITIAN KUANTITATIF
6. Penelitian Eksperimen
tindakan (act). Pada setiap tahap tersebut terdapat beberapa subkegiatan sebagai berikut:
1. Lihat : Kumpulkan informasi yang relevan.
Rumuskan dan deskripsikan situasi.
2. Pikirkan : Eksplorasi dan analisis apa yang terjadi.
Interpretasikan dan jelaskan: bagaimana dan mengapa itu ada dan terjadi.
3. Tindakan : Susun rencana tindakan/action.
Implementasikan rencana.
Evaluasi.
c. Jenis Penelitian Tindakan
Secara konseptual penelitian tindakan mempunyai kerangka dasar yang sama, namun dalam pelaksanaannya terdapat penekanan yang berbeda. Grundy (1988) menekankan tiga model penelitian tindakan, yaitu:
1) Technical.
2) Practical.
3) Emancipating.
Adapun Holter dan SchwartBarcott mengemukakan tiga tipe pula, yaitu:
1) Technical collaborative approach.
2) Mutual collaborative approach.
3) Enhancement approach.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat di atas, McKernan (1993) mengemukakan pula tiga jenis penelitian tindakan, yaitu:
1) Scientific technical view of problem solving.
2) Practical deliberate action research mode.
3) Critical emancipating action research (Berg: 2000; 185).
Oleh karena itu, penelitian tindakan dapat dilakukan dalam bentuk kolaborasi secara teknis, kolaborasi praktik secara bersamasama atau memberikan kebebasan (emancipating) lebih besar pada praktisipeneliti, sampai pada akhirnya tindakan dapat dilakukan dengan benar dan secara utuh sesuai dengan yang seharusnya dan tujuan yang direncanakan tercapai dengan baik.
hubungan sebab akibat. Hal itu dimungkinkan karena dalam penelitian eksperimen peneliti berdaya dan dapat melakukan pengawasan (kontrol) terhadap variabel bebas baik sebelum penelitian maupun selama penelitian. Di samping itu, dapat pula dimi
nimalkan pengaruh komponen lain yang diduga akan memengaruhi hasil penelitian, seperti pengaruh lingkungan di sekitar responden penelitian. Atau, dapat pula dika
takan bahwa melalui penelitian eksperimen, peneliti mampu dan dapat memanipulasi variabel bebas dan mengatur situasi penelitian dengan benar sehingga dapat meng
ungkapkan faktorfaktor sebab dan akibat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ide dasar daripada penelitian eksperimen yaitu coba sesuatu dan secara sistematis amati apa yang terjadi. Melalui penelitian eksperimen ini peneliti dapat pula me
ngontrol kondisi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Fraenkel dan Wallen (1993) menyatakan bahwa keunikan penelitian eksperimen adalah: (1) satusatu
nya tipe penelitian yang memberi kesempatan kepada peneliti untuk secara langsung dapat memengaruhi variabel penelitian; dan (2) satusatunya pula tipe penelitian yang dapat menguji hipotesis tentang relasi hubungan sebab akibat. Ini berarti bahwa suatu perlakuan (treatment) dapat dijadikan faktor penyebab terjadi suatu perubahan pada individual. Karena itu, variabel bebas disebut juga dengan variabel eksperimen atau variabel perlakuan.
Penelitian eksperimen merupakan suatu penyelidikan yang dirancang sedemiki
an rupa, sehingga fenomena atau kejadian itu dapat diisolasi dari pengaruh lain.
Campbell dan Stanley (1966) menyatakan: penelitian eksperimental merupakan suatu bentuk penelitian di mana variabel dimanipulasi sehingga dapat dipastikan pengaruh dan efek variabel tersebut terhadap variabel lain yang diselidiki atau di
observasi. Adapun Bailey (1978) menyatakan bahwa: “The experiment is a highly controlled method of attempting to demonstrate the existence of causal relationship between one or more independent variabel and one or more dependent variabel.” De
ngan demikian, jelaslah bahwa dengan melakukan eksperimen kita dapat menun
jukkan pengaruh secara langsung satu variabel yang diteliti, dan dapat menunjuk
kan dan memperlihatkan hubungan sebab akibat antara variabel bebas dan variabel tergantung atau menguji suatu hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Esensi suatu eksperimen dinyatakan Cohen dan Manion (1980) dengan katakata: bahwa dalam suatu penelitian eksperimen, peneliti dengan sengaja mengontrol dan mema- nipulate kondisi yang menentukan kejadian di mana peneliti itu tertarik. Oleh karena itu, dalam penelitian eksperimen peneliti dapat meramalkan variabel Y dari variabel X, dengan mengontrol variabel lain yang mungkin akan memengaruhi perubahan.
Dengan demikian, variabel yang akan memberikan pengaruh diisolasi, dimanipulate sehingga pengaruh variabel lain dapat diminimalkan kalau tidak mungkin ditiadak an sama sekali.
Contoh: Pengaruh pemberian makanan tambahan pada ayam petelur.
Dalam contoh di atas pengaruh variabel lain seperti bibit, suhu udara, pengaturan pemberian makanan dikontrol. Semua ayam percobaan mempunyai kualitas petelur yang sama. Udara dan kelembaban, kondisi kandang ataupun keadaan lingkung an lainnya antara ayam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen disamakan.
Secara spesifik dapat dikemukakan beberapa kondisi yang perlu mendapat per
hatian oleh peneliti dan dilakukan pengawasan sehingga membantu dalam mengon
trol ketelitian hasil penelitian, yaitu:
a) Membentuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang sama karakter
istiknya, antara lain: mempunyai nilainilai (values) yang sama, dan mempunyai status yang sama atau disebut juga “matched group”.
b) Memilih responden secara random (randomization) pada masing kelompok.
c) Mengontrol variabel bebas atau variabel penyebab (causal variable). Dapat juga dilakukan dengan mengontrol variabel extraneous (variabel lain di luar variabel bebas yang akan memengaruhi hasil pada variabel terikat).
d) Mengukur dengan teliti dan akurat nilainilai variabel terikat, baik sebelum di
administrasikan variabel bebas maupun sesudah dilaksanakan penelitian.
a. Jenis Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen dapat dibedakan atas tiga tingkatan, yaitu:
1) Pre-Experiment, yaitu penelitian eksperimen yang pada prinsipnya hanya meng
gunakan satu kelompok. Ini berarti bahwa dalam tipe penelitian tidak ada ke
lompok kontrol. Karena itu pre-experiment tidak memenuhi syarat penelitian eksperimen yang sesungguhnya.
Ke dalam tipe penelitian ini termasuk antara lain:
■ The one shot case study,
■ The onegroup pretest-posttest design,
■ The static group comparison design.
2) Quasi Experiment, merupakan salah satu tipe penelitian eksperimen di mana peneliti tidak melakukan randomisasi (randomnes) dalam penentuan subjek ke
lompok penelitian, namun hasil yang dicapai cukup berarti, baik ditinjau dari validitas internal maupun eksternal.
Beberapa jenis penelitian yang termasuk kategori ini yaitu:
■ The nonrandomized control group pretest-posttest design.
■ The time series experiment.
■ The control group time series.
■ The equivalent time samples design.
3) True experiment, yaitu suatu jenis penelitian eksperimen yang sesungguh nya, di mana peneliti mengontrol variabelvariabel yang diteliti dengan baik serta me
ngendalikan situasi penelitian dari ancaman yang mungkin me rusak hasil pe
nelitian dari keadaan yang sesungguhnya. Ini berarti bahwa da lam eksperimen yang sesungguhnya, validitas internal dan eksternal merupakan kondisi utama yang perlu mendapat perhatian para peneliti dalam menata ran cangan penelitian yang dilakukannya.
Beberapa rancangan penelitian yang termasuk ke dalam rancangan eksperimen yang sesungguhnya ini sebagai berikut:
1) The randomized pretest-posttest control group.
2) The rendomized posttest only control group design.
3) The randomized Solomon four-group design.
Rancangan penelitian eksperimen secara terperinci akan dibicarakan pada bagi
an lain dalam buku ini.
b. Kelemahan dan Keuntungan Penelitian Eksperimen
Walaupun dalam penelitian eksperimen peneliti dapat mengontrol variabel yang diteliti dan situasi pelaksanaan penelitian, namun tidak berarti bahwa tipe penelitian eksperimen tidak mempunyai kelemahan di samping keuntungannya. Lebih lagi ka
lau peneliti kurang tepat memilih rancangan penelitian yang akan digunakan. Secara umum dapat dikatakan beberapa kelemahan penelitian eksperimen:
1) Situasi lingkungan yang artificial.
Setiap melakukan eksperimen peneliti selalu dihadapkan pada situasi yang di
buat, dikontrol, dan bukan dalam latar alami (natural setting) yang sesungguh
nya atau keadaan riil yang sebenarnya. Tingkah laku sosial ditempatkan dalam suatu lingkungan yang dibuat dan penuh kontrol, seperti di laboratorium.
2) Adanya efek peneliti sendiri (experimenter effect).
Dengan rancangan yang dibuat khusus untuk membuktikan atau menemukan sesuatu, peneliti mengharapkan sesuatu yang ingin dicapainya, penghargaan pe
neliti akan efek eksperimen akan membawa pengaruh pada pencapaian hasil.
Peneliti bersikap reaktif tentang eksperimen yang dilakukannya.
Rosenthal (1966) membuktikan bahwa peneliti (experimenter) yang mencerita
kan apa yang diharapkannya dari suatu eksperimen lebih menyelaraskan dengan hipotesis penelitiannya daripada peneliti yang tidak menceritakan apa yang di
harapkannya.
3) Meletakkan objek penelitian di laboratorium memang dapat dikontrol dengan baik; tetapi kalau melakukan eksperimen ilmu sosial di lingkungan alami akan
sangat sulit mengontrol variabel extraneous, sehingga memberi pengaruh pada variabel terikat.
Adapun beberapa keuntungan penelitian eksperimen yaitu:
1) Dapat ditentukan pengaruh atau akibat variabel bebas terhadap variabel terikat atau pengaruh variabel yang lain terhadap variabel terikat.
2) Dengan dapat dilakukannya kontrol terhadap berbagai variabel dan kondisi pe
nelitian, maka pembuktian hipotesis menjadi lebih baik dan ukuran sampel lebih kecil. Di samping itu, temuan penelitian lebih akurat dan teliti.
3) Eksperimen memberikan dan menyediakan kesempatan kepada peneliti untuk mempelajari perubahan sepanjang waktu penelitian (dengan melakukan analisis longitudinal).