MASALAH PENELITIAN
A. HAKIKAT DAN KRITERIA PEMILIHAN MASALAH
Memahami dan memilih masalah yang wajar untuk diteliti bukanlah sematama
ta mencabut sesuatu yang kelihatannya kurang berarti dan rusak dalam suatu waca
na kehidupan. Sesuatu itu hendaklah dilihat dalam konteks dan realitasnya; ditelusu
ri, diamati, dibandingkan, dan dibedakan dengan menggunakan berbagai kriteria.
Berikut ini beberapa contoh:
1. Seorang pemuda menatap hari depan dengan penuh kehampaan. Ia ialah je
bolan SMA dan berasal dari keluarga baikbaik. Selama di SMA ia tekun belajar dan lulus tes akhir dengan nilai ratarata 7,6.
Ia ingin melanjutkan studinya keperguruan tinggi, tetapi malang baginya ke
adaan berubah sebelum ujian masuk perguruan tinggi diadakan. Bapaknya yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga selama ini meninggal, sedangkan ibunya tidak mampu membiayai studinya. Ibunya mengharapkan agar ia segera bekerja. Ia kecewa dan raguragu.
2. Sebelum meninggalkan kota kelahirannya, keluarga X hidup dalam keseder
hanaan, sopan santun, dan penuh tenggang rasa. Sebagai seorang seniman ia mendambakan kehidupan keluarga yang lebih baik. Ia dan keluarganya pindah ke kota besar; merambah kehidupan kota dengan cara mereka sendiri. Suami sibuk dan istri pun sibuk. Anak pun sibuk dengan kegiatan masingmasing. Apa yang mereka dambakan menjadi kenyataan. Dewi fortuna seakanakan berpihak pada mereka. Tata kehidupan keluarga berubah sudah. Sopan santun menjadi hilang; saling hormatmenghormati menjadi sirna. Bapak datang, istri entah di mana; anak pulang menurut kehendak hatinya.
Dari contoh “a” di atas, dapat diambil beberapa fenomena, antara lain:
■ Anak itu berasal dari keluarga baikbaik.
■ Lulus SMA dengan nilai ratarata 7,6.
■ Ia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.
■ Orangtua lakilaki meninggal sebelum ia dapat mengikuti ujian masuk per
guruan tinggi.
■ Sekarang ia menganggur.
Dari fenomena itu memang ada kesenjangan antara apa yang diharapkannya, yaitu ingin melanjutkan ke perguruan tinggi dengan apa yang menjadi kenyataannya sekarang (ia menganggur). Di lain pihak, ada pula berbagai kondisi yang mungkin menyebabkan apa yang diharapkannya tidak tercapai.
Di samping itu, timbul pula berbagai kondisi yang terkait dengan apa yang di
harapkannya “mengapa ia menganggur dan tidak menyadari kondisi ia dewasa ini?”
Ataukah masih ada pertimbangan lain yang tersembunyi di samping fenomena yang ditampilkan secara nyata?
Jawaban untuk kasus ini bukan “ya” atau “tidak”, melainkan sejumlah alternatif yang perlu ditelusuri secara ilmiah. Apa yang tampak baru gambaran pendahuluan yang perlu dijajaki secara intensif, logis, dan sistematis. Hanya karena masalah yang ditampilkan bersifat kasus, maka rancangan penelitian yang dipilih hendaklah yang bersifat kasus pula.
Dalam contoh “b” tetap ada masalah, antara lain:
■ Cara menjadi kaya dalam waktu relatif pendek.
■ Pola kehidupan yang berubah dan faktor yang memengaruhinya.
■ Hubungan antaranggota keluarga.
■ Hubungan keluarga dengan keluarga lain.
Sifatsifat masalah yang terdapat pada contoh “b” lebih rumit dan kompleks.
Di dalamnya terkandung masalah nilai, sikap, dan interelasi di antara nilai dan sikap sehingga menampilkan perilaku seseorang. Keadaan yang demikian membutuhkan pula pendekatan penelitian yang lebih spesifik, yang mampu mengungkapkan masa
lah tersebut.
Dengan memperhatikan contoh yang telah dikemukakan, jelas bahwa sesuatu hal dikatakan masalah apabila mempunyai ciriciri tertentu. Apakah masalah itu?
Dalam Dictionary of Education dinyatakan, bahwa: “A problem is a perplexing situation ... translated into a question or series of questions that help determine the direction of subsequent inquiry.” Masalah merupakan suatu situasi senjang dan rumit yang membutuhkan suatu pemecahan. Kondisi itu dapat diterjemahkan ke dalam sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dan menentukan arah penyelidik
an. Adapun Nachmias (1981) mengemukakan bahwa: A problem is an intellectual stimulus calling for an answer in the form of scientific inquiry. Masalah merupakan stimulus intelektual yang membutuhkan jawaban dalam bentuk penyelidikan yang bersifat ilmiah.
Perhatikan situasi berikut:
Sejumlah murid SD di desa tertinggal tidak naik kelas, sebagian lagi putus sekolah. Yang naik kelas banyak pula yang tidak meneruskan sekolahnya. Mereka itu berasal dari orang- tua dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, status sosial yang berlainan dengan pendapatan yang relatif kurang. Mereka mempunyai lingkungan belajar yang kurang menunjang pengoptimalan kegiatan belajar.
Situasi itu menggugah sebagian warga masyarakat yang peduli terhadap masa depan bangsa, terutama sekali putraputri dari desa tertinggal. Seorang peneliti akan tergugah hatinya untuk mengubah situasi itu menjadi berbagai masalah penelitian.
Beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam memilih masalah penelitian se
bagai berikut.
1. Masalah harus jelas dan tidak meragukan.
Seperti telah disinggung dalam berbagai contoh sebelum ini, masalah ialah titik pangkal suatu penelitian. Sebagai awal kegiatan ilmiah, masalah itu harus jelas dan dapat didekati dengan pendekatan ilmiah. Masalah yang kabur akan mem
bawa kerancuan dan sekaligus akan memberikan dampak negatif pada hasil pe
nelitian.
Contoh:
Orang Kaya Baru.
Kaya Mendadak.
Kehidupan malam “keluarga jet set”.
Ketiga contoh tersebut, secara konseptualteoretis sulit ditemukan acuannya se
cara kuat. Orang kaya, kehidupan malam, jelas ada batasannya, namun likuliku kehidupan bagaimana seseorang menjadi orang kaya baru atau kaya mendadak, sulit ditelusuri secara ilmiah dan sulit untuk dibuktikan dengan data empiris.
Bahkan lebih sulit lagi untuk melakukan replikasinya. Konsepnya; kabur dan meragukan. Konstruk yang disusun dan batasan yang dibuat akan mengambang dan tidak terarah pada pola yang telah disepakati oleh ma syarakat ilmiah. Di lain pihak, masalah tersebut lebih mengacu pada personal dan bukan researchable.
2. Masalah hendaklah berarti, baik bagi diri pribadi, institusi, masyarakat, maupun perkembangan ilmu pengetahuan
Dalam hal ini, pemilihan masalah hendaklah selalu mengacu pada nilai guna, dukungan, dan sumbangan yang diberikan hasil penelitian terhadap individu, keluarga, masyarakat, dan ilmu pengetahuan. Ini tidak berarti sesuatu yang su
dah ada tidak perlu diteliti lagi.
Contoh:
Masalah pendidikan di desa tertinggal.
Masalah HIV dan AID.
Masalah Pupuk Urea tablet.
Mutu pendidikan yang menurun.
3. Masalah yang diteliti hendaklah berada dalam batas kemampuan dan jangkauan peneliti.
Dalam era informasi dan globalisasi, dunia tambah transparan, kehidupan sosial bergerak maju seirama dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Banyak masa
lah yang dihadapi manusia dalam kehidupan itu . Di samping itu, banyak pula masalah yang timbul dalam kehidupan manusia.
Sebagai peneliti, masalah yang akan dipilih hendaklah masalah yang berada da
lam batas kemampuan dan jangkauan peneliti. Dari segi disiplin ilmu, masalah itu hendaklah dalam cakupan disiplin ilmu peneliti sehingga yang bersangkut
an mengakomodasi masalah itu secara tuntas dan jelas sehingga memberikan deskripsi yang tepat terhadap masalah yang dipecahkan.
Kekurangmampuan peneliti dalam memecahkan suatu masalah karena berada di luar bidang keahliannya atau terlalu luas akan mengakibatkan analisis yang salah, kurang bermakna, dan seadanya. Keadaan itu akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Contoh yang benar:
Ahli pertanian meneliti tentang: masalah-masalah pertanian, seperti pupuk, bibit, pe- ningkatan hasil pertanian atau pendidikan pertanian; sedangkan ahli pendidikan me- neliti tentang masalah pendidikan, seperti mutu pendidik an, proses pendidikan, media pendidikan, drop-out, atau tinggal kelas.
Contoh yang tidak benar:
Ahli pendidikan meneliti masalah transmigrasi, sarang burung walet (layang); se dang- kan ahli ekonomi meneliti masalah pendidikan dasar dan menengah.
4. Masalah itu menarik minat peneliti.
Secara sederhana dapat dikatakan minat merupakan sikap individu dalam hu
bungannya dengan objekobjek tertentu. Ada orang yang mempunyai minat yang kuat tetapi ada pula lemah. Minat yang kuat akan mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan baik. Karena itu minat menunjukkan pula jenis peng alaman perasaan seseorang terhadap suatu objek dan/atau merupakan ke
terlibatan perhatian pada suatu objek atau tindakan.
Sehubungan dengan itu, masalah yang dipilih hendaklah masalah yang menarik bagi seseorang, sehingga dapat memotivasi yang bersangkutan melakukan se
suatu dengan baik, bersikap serius, serta mampu memfokuskan perhatiannya pada masalah tersebut. Pemusatan perhatian dan minat akan sangat membantu peneliti dalam menyusun proposal, melaksanakan, dan menganalisis hasil pene
litian dengan baik.
5. Dalam penelitian kuantitatif, masalah itu hendaklah menyatakan hubungan dua variabel atau lebih, sedangkan dalam penelitian kualitatif hendaklah menyatakan keterpautan suatu objek dalam konteksnya.
Apabila peneliti akan menggunakan penelitian kuantitatif, sejak dini ia seku
rangkurangnya harus memilih masalah yang mencakup dua variabel, yaitu va
riabel bebas (independent variable) dan variabel terikat/tergantung (dependent variable).
Contoh:
Dua variabel
Motivasi belajar dan hasil belajar.
Income dan kesejahteraan keluarga.
Latar belakang pendidikan dan kenakalan remaja.
Pengairan dan hasil pertanian.
Status sosial dan penghargaan masyarakat.
Tingkat pendapatan dan kesehatan masyarakat.
Tingkat pendidikan dan kriminalitas.
Lebih dari dua variabel
Income, kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan.
Status sosial, ekonomi dan pendidikan anak.
Inteligensi, motivasi, sikap dan hasil belajar.
Seandainya peneliti lebih terampil dengan penelitian kualitatif, masalah yang di
pilih hendaklah lebih terfokus dan terpaut dalam konteksnya secara alami (nat- ural setting).
Contoh:
Pola hidup suku Dani Irian Jaya.
Nilai budaya suku Anak Dalam.
6. Pemilihan masalah hendaklah mempertimbangkan faktor biaya yang digunakan.
Hal itu dimaksudkan untuk memberikan hasil penelitian yang akurat dan tepat guna. Makin luas ruang cakupan dan makin kompleks tingkat kesulitan, makin besar biaya yang akan digunakan dan makin sukar prosedur penelitian. Karena itu pilihlah masalah dan luas cakup penelitian sesuai dengan biaya yang mung
kin disediakan.
7. Data dapat dikumpulkan dengan cepat, tepat, dan benar.
Banyak masalah yang dihadapi, tetapi tidak semua data dapat diungkapkan de
ngan cepat, tepat, dan teliti dari masalah itu. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari responden penelitian. Jangan dipilih masalah yang datanya secara benar tidak mungkin dikumpulkan. Sebaliknya jangan cepat percaya terhadap data atau sumber data yang tersedia. Selalu adakan check dan recheck terhadap data
dan sumber data penelitian.
Sehubungan dengan itu, peneliti sejak dini perlu membayangkan objek peneli
tian dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada dirinya:
■ Apakah jenis data yang akan dikumpulkan?
■ Mengapa informasi itu diperlukan?
■ Apakah data itu data primer atau data sekunder?
■ Apakah sumber data cukup tersedia, mudah dihubungi, dan data dapat di
kumpulkan dengan cepat?
Dari sisi lain perlu pula mendapat perhatian, apakah data yang dikumpulkan mempunyai validitas internal dan eksternal.
Validitas internal berkaitan dengan seberapa jauh hasil penelitian merupakan fungsi dari perlakuan. Ini berarti bahwa tingkat ketepatan dan ketelitian hasil penelitian dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya. Dalam kaitan itu ba
nyak faktor yang perlu mendapat perhatian, yang pada dasarnya memengaruhi validitas internal, yaitu: (1) perkembangan selama penelitian (history), (2) ke
matangan (maturity), (3) pengetesan (testing), (4) penggunaan instrumen (in- strumenation), (5) regresi statistika (statistical regression), (6) perbedaanperbe
daan dalam pemilihan subjek/responden (differential selection of subjects), (7) kehilangan subjek/responden selama penelitian berlangsung (mortality), dan (8) interaksi seleksi dan kematangan atau kombinasi lain (interaction of selection and maturation, selection and history, etc.) (Campbell dan Stanley, 1966).
Validitas eksternal merujuk kepada tingkat sampai di mana dapat menggenera
lisasi hasil temuan suatu penelitian untuk dapat menjelaskan atau meramalkan kejadiankejadian yang serupa. Oleh karena itu populasi, sumber data/informa
si, responden, instrumen, jenis, cara mengumpulkan data, perlu sekali menda
pat perhatian peneliti, sehingga dapat memberikan jawaban yang tepat terhadap masalah yang diteliti.
Andai kata data tidak mungkin dikumpulkan secara benar, lebih baik menunda pemecahan masalah itu dan memilih masalah lain yang lebih tepat.
8. Masalah itu hendaklah sesuatu yang aktual dan hangat pada waktu penelitian diadakan.
9. Yang dijadikan masalah hendaklah sesuatu yang baru dan telah wajar untuk diteliti atau akan menemukan bentuk baru dari sesuatu yang sudah ada.
10. Pemilihan masalah hendaklah mempertimbangkan waktu yang tersedia.
Ada masalah yang membutuhkan waktu yang lama dan ada pula yang relatif singkat. Lama waktu yang digunakan juga terkait dengan kemampuan peneliti, luas cakupan, biaya, dan tenaga pengumpul data. Jangan hendaknya memilih
masalah di luar jangkauan waktu yang tersedia.
Contoh:
Waktu yang tersedia 6 bulan.
Masalah yang aktual: Mutu pendidikan menurun
Walaupun berbagai pendekatan penelitian dapat digunakan untuk dapat meng
ungkapkan informasi tentang mutu pendidikan, tetapi karena waktu yang terse
dia hanya 6 bulan, maka hindarilah penelitian yang bersifat longitudinal dengan participant observer. Segera pilih yang bersifat cross sectional, seperti “Hubung
an motivasi berprestasi dan inteligensi dengan prestasi belajar. Jangan pilih pola interaksi gurusiswa dalam proses belajarmengajar serta pendekatan yang di
gunakannya.”
11. Untuk peneliti pemula sebaiknya lebih hatihati dalam memilih masalah.
Kalau belum mampu, tunda dahulu meneliti masalah sikap dan perilaku yang mewakili agama, moral (morale), dan nilainilai (values), karena masalah ini bersifat personal dan lebih sukar dihayati. Jangan terjadi: yang diinginkan sikap dan perilaku seseorang tentang agama yang dianutnya, tetapi kenyataan yang diteliti adalah pengetahuan seseorang tentang agama.
Pemberdayaan berbagai kriteria di atas hendaklah dilakukan seoptimal mung
kin, sehingga masalah yang diteliti jelas, berarti, feasable, dan researchable (layak dan wajar untuk diteliti). Masalah yang bersifat umum dan luas hendaklah dipi
lahpilah menjadi lebih spesifik dan operasional, dan juga dikaitkan dengan literatur pen dukung yang mungkin tersedia. Gunakan bahasa yang baik dan benar. Batasilah sesuai dengan kemampuan peneliti dan pilihlah rancangan yang tepat sesuai dengan masalah yang akan diteliti.
Dalam merumuskan suatu masalah hendaklah dielaborasi sedemikian rupa se
hingga tergambar secara ekplisit ada jurang dan/atau ketimpangan antara apa yang seharusnya ada secara konseptual teoretis dan kenyataan yang terdapat di dalam masyarakat secara empiris. Hal itu perlu didukung oleh teori yang ada dan temuan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.