Bab 4 Etika dan Etiket dalam Pelayanan Publik
4.7 Implikasi Etika Pelayanan Publik
peraturan yang berlaku. Demikian halnya dengan Napitupulu, dkk (2020) menyatakan bahwa sesuatu dikatakan akuntabel apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Pada dasarnya akuntabel adalah nilai yang harus ada berkaitan dengan wewenang dan tugas yang telah diberikan kepada birokrasi dan wajib dipertanggungjawabkan kepada pejabat yang mengangkatnya.
Widodo (2001) menyatakan pelayanan publik yang profesional adalah pelayanan publik yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah).
Dengan demikian, kode etik berfungsi sebagai landasan dalam berbuat dan bertindak serta berperilaku sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas dalam berbagai sektor kepada masyarakat dan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Selanjutnya, dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 2004 tertulis secara rinci tentang etika seorang ASN. Ada beberapa jenis etika ASN yaitu:
1. Etika bernegara, terdiri dari beberapa unsur yaitu: a) melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; b) mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara; c) menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia; d) menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas; e) akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa; f) tanggap, terbuka, jujur, dan akurat, serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program Pemerintah; g) menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif; h) tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar.
2. Etika dalam berorganisasi, yaitu terdiri dari unsur-unsur: a) melaksanakan tugas dan wewenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku; b) menjaga informasi yang bersifat rahasia; c) melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang; d) membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi; e) menjalin kerjasama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan; f) memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas; g) patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja; h) mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi; i) berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja.
3. Etika dalam bermasyarakat, terdiri dari unsur-unsur: a) mewujudkan pola hidup sederhana; b) memberikan pelayanan dengan empati hormat dan santun tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan; c) memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka dan adil serta
tidak diskriminatif; d) tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat; e) berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas
4. Etika terhadap diri sendiri, yaitu meliputi unsur-unsur: a) jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar; b) bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan; c) menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan; d) berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap; e) memiliki daya juang yang tinggi; f) memelihara kesehatan jasmani dan rohani; g) menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga; h) berpenampilan sederhana, rapi dan sopan.
5. Etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil, meliputi: a) saling menghormati sesama warga negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan; b) memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil; c) saling menghormati antara teman sejawat, baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja, instansi, maupun antar instansi; d) menghargai perbedaan pendapat; e) menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil; f) menjaga dan menjalin kerjasama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil; g) berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPI) yang menjamin terwujudnya solidaritas dan soliditas semua Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya.
Bab 5
Core Values dan Employer Branding ASN
5.1 Pendahuluan
Pada hakikatnya tugas seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah melayani negara dan masyarakat. Masyarakat merupakan pelanggan yang harus dilayani dengan sebaik mungkin, baik itu layanan berupa kebijakan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat, maupun layanan yang diberikan secara langsung untuk membantu masyarakat dalam mendapatkan kebutuhan dasar dan kesejahteraanya.
Menurut Mursyidah dan Choiriyah (2020), pelayanan merupakan serangkaian kegiatan sehingga proses pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan organisasi dalam masyarakat. Proses yang dimaksud dilakukan sehubungan dengan saling memenuhi kebutuhan antara penerima dan pemberi pelayanan.
Moenir (2002), menjelaskan bahwa “pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung”. Jadi dapat dikatakan bahwa pelayanan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membantu menyiapkan atau mengurus apa yang diperlukan orang lain.
Undang Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atau barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara publik.
Pada hakikatnya pelayanan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan penerima layanan. Pelayanan diberikan untuk mempermudah penerima layanan dalam memenuhi kebutuhannya dan dilakukan secara dua arah, antara pemberi dan penerima layanan.
Pelayanan yang diberikan oleh para abdi negara atau ASN kepada masyarakat harus berkesinambungan dan optimal guna mendukung penyelenggaraan pemerintah yang efektif dan efisien dalam segala aspek. Dibutuhkan kinerja yang baik dari seluruh ASN untuk mewujudkan setiap target dan tujuan yang telah ditentukan serta dalam rangka optimalisasi pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan dapat terlihat dari performa kinerja setiap ASN.
Kinerja menjadi tolak ukur dalam penilaian performa kerja, baik individu maupun kelompok. Kinerja yang baik dapat mendukung pencapaian tujuan dari suatu institusi maupun perusahaan. Berbagai profesi dan juga pekerjaan menempatkan kinerja dalam jenjang penilaian tertinggi, hal ini berlaku untuk sektor pemerintahan maupun swasta. Dalam sektor pemerintahan penilaian kinerja ditujukkan untuk ASN yang terdiri dari PNS dan juga PPPK.
Kinerja para ASN dijadikan sebagai ukuran dari tingkat keberhasilan penyelenggaraan birokrasi dan berkaitan erat dengan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Berbagai strategi telah diluncurkan guna meningkatkan performa kerja para ASN melalui pembentukan budaya kerja yang baik untuk menuju pemerintahan kelas dunia atau world class government. Berbagai strategi dirancang untuk mewujudkan peningkatan budaya kerja ASN, salah satu yang tengah dikembangkan adalah konsep core values ASN berkakhlak sebagai branding employer.
5.2 Aparatur Sipil Negara (ASN)
Sumber daya manusia (SDM), adalah aset yang berharga dalam peningkatan dan pengembangan suatu organisasi, perusahaan, atau instansi pemerintahan.
SDM yang kompeten dapat mendorong kemajuan suatu organisasi, sehingga organisasi tersebut dapat terus berkembang dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta keberhasilan. Setiap pegawai memiliki latar belakang pendidikan, usia, serta pemikiran yang berbeda-beda, jika perbedaan tersenut dapat disatukan maka akan menjadi kekuatan yang sangat besar.
Mengembangkan sumber daya manusia (SDM) bertujuan untuk mempersiapkan kompetensi yang diharapkan bagi perubahan posisi atau jabatan pada jangka panjang sebagai bentuk antisipasi jika ada kemungkinan perubahan dalam masyarakat atau lingkungan lembaga yang bersangkutan.
Mengembangkan SDM merupakan faktor penentu dalam keunggulan kompetitif yang berkaitan dengan kebutuhan organisasi akan pegawai yang memiliki potensi yang tinggi. SDM yang berkualitas baik harus dimiliki oleh setiap organisasi, baik swasta maupun pemerintah. SDM dalam pemerintahan ialah Aparatur Sipil Negara.
Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan profesi yang terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK/P3K). ASN merupakan profesi yang sangat diminati oleh masyarakat, hal ini terbukti dari tingginya angka peserta yang mendaftar pada saat pembukaan penerimaan ASN diberbagai instansi dan daerah. Animo masyarakat yang luar biasa terhadap profesi jni menjadikan ASN sebagai profesi idaman. Tidak mudah untuk menjadi seorang ASN, banyaknya pesaing dan test dengan tingkat kesulitan tinggi menjadikan seleksi ASN sebagai bagian dalam perekrutan SDM yang kompeten.
Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya pemerintah dalam menyelenggarakan pembangunan.
Oleh karenanya tidak bisa dipungkiri bahwa faktor manusia menjadi hal penting yang harus diperhatikan di dalam pemerintahan. Kualitas sumber daya manusia menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara menyebutkan bahwa peran ASN adalah sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan
nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Tugas ASN sesuai dengan undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara adalah sebagai berikut: 1) Melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2) Memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas, dan 3) Mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
ASN adalah unsur aparatur negara, abdi negara, dan juga abdi masyarakat yang setia dan taat kepada segala peraturan perundang-undangan serta kode etik yang melekat dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan. ASN diberikan tugas-tugas sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsinya masing-masing untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan dan melayani masyarakat. Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat setiap ASN harus mampu mengutamakan kepentingan negara dan juga masyarakat di atas kepentingan pribadinya. ASN memiliki tanggung jawab penuh dalam meberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk masyarakat.
5.2.1 ASN dan Pelayanan Publik
Kata pelayanan tidak asing lagi bagi para ASN, karena pada hakikatnya tugas utama seorang ASN adalah melayani bangsa, negara, dan masyarakat. pada dasarnya terdapat dua istilah dalam pelayanan, yaitu pelayanan dan melayani.
Pelayanan merupakan usaha untuk melayani segala kebutuhan dari masyarakat, sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan a=apa yang diperlukan oleh masyarakat.
Wasistiono mendefinisikan bahwa pelayanan merupakan pemberian jasa baik oleh pemerintah, pihak swasta atas nama pemerintah ataupun pihak swasta kepada masyarakat dengan atau tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat (Mursyidah dan Choiriyah, 2020).
Batinggi (2005), menyebutkan bahwa pelayanan umum lahir dikarenakan adanya kepentingan umum. Pelayanan umum bukan merupakan tujuan melainkan proses untuk mencapai sasaran tertentu yang telah ditetapkan.
Pelayanan terdiri dari empat faktor yaitu: 1) sistem, prosedur, dan metode, 2) personel, terutama ditekankan pada perilaku aparatur, 3) sarana dan prasarana, dan 4) masyarakat sebagai pelanggan. Pelayanan publik diartikan sebagai
pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuaidengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:
63/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menegaskan pedoman umum tentang pelayanan publik, di antaranya sebagai berikut:
1. Pelayanan Publik sebagai segala kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan Peraturan Perundang–undangan;
2. Penyelenggara pelayanan publik adalah Instansi Pemerintah;
3. Instansi Pemerintah yaitu sebutan kolektif meliputi satuan kerja satuan organisasi Kementrian, Departemen, Kesekretariatan Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara, dan instansi Pemerintah lainnya, baik pusat maupun daerah termasuk Badan Usaha Milik Daerah;
4. Unit penyelenggara pelayanan publik yaitu unit kerja pada instansi pemerintah yang secara langsung memberikan pelayanan kepada penerima pelayanan publik;
5. Pemberi pelayanan publik yaitu pejabat/pegawai instansi pemerintah yang melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
6. Penerima pelayanan publik merupakan orang, masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum yang menerima pelayanan dari instansi pemerintah.
Pada dasarnya terdapat tiga bentuk layanan yang dapat diberikan oleh para ASN, yaitu:
1. Layanan lisan
Layanan secara lisan dilakukan oleh pegawai yang ada di bidang hubungan masyarakat, bidang informasi dan bidang lainnya yang mempunyai tugas untuk memberikan penjelasan atau keterangan kepada siapa saja yang membutuhkan pelayanan. Agar layanan secara lisan dapat berhasil sesuai dengan harapan maka terdapat
syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pemberi. Contoh layanan lisan, antara lain: Memahami masalah-masalah yang terdapat di bidangnya, 2) Memberikan penjelasan yang diperlukan secara lancar, benar, singkat dan jelas, Bersikap sopan dan ramah, Disiplin.
2. Layanan tulisan
Layanan dengan tulisan adalah bentuk layanan yang paling menonjol dalam pelaksanaan tugas. Tidak hanya secara jumlah tetapi dalam pelayanannya juga. Layanan dengan tulisan cukup efisien khususnya bagi layanan yang diberikan jarak jauh dikarenakan faktor biaya.
Layanan dengan tulisan dibagi ke dalam dua bagian yaitu: Layanan yang berupa petunjuk informasi dan Layanan yang berupa dokumen tertulis atas permohonan, keluhan, pemberian, laporan, dan pemberitahuan.
3. Layanan perbuatan
Layanan dalam bentuk perbuatan biasanya terkombinasi dengan layanan secara lisan. Hal ini dikarenakan hubungan lisan yang paling banyak dilakukan dalam hubungan pelayanan namun focus lebih pada perbuatan yang ditunggu oleh orang yang berkepentingan.
Tujuan utamanya yaitu mendapatkan layanan dalam bentuk perbuatan atau hasil perbuatan bukan hanya sekedar penjelasan dan/atau kesanggupan secara lisan.
Dwiyanto (2005), menyatakan bahwa pelayanan publik merupakan produk birokrasipublik yang diterima oleh warga pengguna maupun masyarakat secara luas, karena itu pelayanan publik dapat didefinisikan sebagai serangkaian akivitas yang dilakukan oleh birokrasi publik untuk memenuhi kebutuhan warga pengguna. Pengguna yang dimaksud disini adalah warga negara yang membutuhkan pelayanan publik seperti pembuatan kartu tanda penduduk, akta kelahiran, akta nikah, akta kematian, sertifikat tanah, izin usaha, izin mendirikan bangunan (IMB), izin gangguan (HO), izin pengambilan air bawah tanah, listrik dan sebagainya.
5.2.2 Asas Pelayanan
Tamrin (2013), menjelaskan bahwa pelayanan publik pada dasarnya bertujuan untuk memuaskan masyarakat. Selain itu, untuk memberikan standar
pelayanan publik bagi masyarakat, terutama untuk meningkatkan kualitas masyarakat, sebenarnya telah dikeluarkan Keputusan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara 63 tahun 2003 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik.
Keputusan Mentri tersebut juga mengandung asas-asas pelayanan publik yang baik, yang selanjutnya dapat dilihat dan dirinci sebagai berikut:
1. Transparansi
Asas ini menghendaki ada nya sifat terbuka, mudah, dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
2. Akuntabilitas
Asas ini menghendaki bahwa dalam pelayanan publik harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
3. Kondisional
Asas ini dimaksudkan dalam pelayanan public harus sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengann tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
4. Partisipatif
Asas ini diharapkan agar dapat mendukung/mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan public dengan memperhatikan aspirasi, kenutuhan dan harapan masyarakat;
5. Kesamaan Hak
Asas ini menghendaki adanya perlakuan yang tidak deskriminatif, dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan status ekonomi;
6. Keseimbangan Hak dan Kewajiban
Asas ini menghendaki adanya keseimbangan antara Hak dan Kewajiban dari masyarakat dan pemerintah bahwa pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masingmasing pihak.
Asas pelayanan publik yang wajib untuk dipenuhi dalam proses pelayanan publik yaitu harus memiliki prinsip pelayanan dan asas transparansi,
kondisional, akuntabilitas, partisipatif, hak, keamanan, keseimbangan hak dan kewajiban. Asas tersebut diharapkan mampu memberikan kepuasan kepada masyarakat atas pelayanan. Hakikat pelayanan publik yaitu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat, maka dari itu asas-asas untuk mengembangkan kinerja aparatur pelayanan publik senantiasa menyangkut tiga pokok pelayanan publik yakni: unsur kelembagaan penyelenggaraan pelayanan, proses pelayanan, serta sumber daya manusia pemberi layanan.
5.3 Core Values ASN Berakhlak
Pemerintahan menerapkan ASN Berakhak untuk peningkatan kualitas kinerja ASN dan dikaitkan dengan komitmen Pemerintahan. Core values ASN
‘Berakhlak’ dan employer branding ASN ‘Bangga Melayani Bangsa’
merupakan nilai-nilai dasar yang harus diimplementasikan oleh seluruh ASN di Indonesia sebagai upaya dalam mewujudkan budaya kerja yang professional. Nilai dasar ‘Berakhlak’ dan employer branding ASN ‘Bangga Melayani Bangsa’ diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara virtual pada tanggal 27 Juli 2021.
Berakhlak merupakan akronim dari: Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Adanya Core Values ASN ini sebagai sari dari nilai-nilai dasar ASN sesuai dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN.
Sedangkan employer branding bangga melayani bangsa merupakan moto ASN yang mengharuskan melakukan pelayanan dengan sepenuh hati.
Pada hakikatnya tugas ASN adalah melayani publik atau masyarakat.
Meskipun memiliki jabatan yang tinggi, tetap saja setiap pekerjaannya memiliki tugas utama memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang dapat diberikan melalui berbagai hal, seperti Menyusun kebijakan atau program kerja yang berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Guna menjalankan tugas tersebut setiap ASN dibekali dengan kewenangan dan seluruh sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menjalankan tugasnya. Seluruh otoritas serta fasilitas yang disediakan harus digunakan
secara akuntabel dan bertanggungjawab, serta kepatuhan tinggi kepada bangsa dan negara guna menjaga keharmonnisan dalam hidup bermasyarakat.
Penetapan core values ASN Berakhlak dilakukan sebagai akselerasi transformasi ASN. Momentum perubahan ini mendukung pelaksanaan program prioritas kerja Presiden terkait Pembangunan SDM guna mewujudkan SDM yang memiliki profil pekerja keras, dinamis, terampil, dan menguasai IPTEK.
Core values ASN Berakhlak dilatarbelakangi oleh adanya penerjemahan yang berbeda-beda terhadap nilai-nilai dasar serta kode etik dan kode perilaku ASN yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN.
Penetapan core values ASN mendasari penerapan nilai-nilai dasar ASN ke dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN. Berbagai nilai-nilai yang ada di instansi pemerintah digabungkan dan dikerucutkan menjadi tujuh nilai yang dapat berlaku secara umum.
Dengan ditetapkannya core values memberikan penguatan budaya kerja ASN yang profesional sekaligus memudahkan proses adaptasi bagi ASN ketika melakukan mobilitas antar instansi pemerintah. Adanya satu core values yang berlaku secara umum turut memperkuat peran ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa.
5.3.1 Dasar Hukum Core Values ASN
Dasar hukum core values ASN adalah:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020;
3. SE Menpan RB Nomor 20 Tahun 2021 tentang Implementasi Core Value dan Employer Branding Aparatur Sipil Negara;
5.3.2 Pentingnya Core Values ASN
Berikut adalah beberapa alasan terkait dengan urgensi dari core values ASN, yaitu:
1. Mensarikan dan menyederhanakan nilai-nilai dasar ASN sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 dalam satu kesamaan persepsi yang lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh seluruh ASN;
2. Menggabungkan semua nilai-nilai yang telah disusun oleh instansi pemerintah dalam satu rumusan baku yang dapat berlaku secara umum (banyak kesamaan nilai instansi pemerintah yang bisa disimpulakn menjadi satu core values;
3. Core Value akan memberikan penguatan budaya kerja yang mendorong pembentukan karakter ASN yang profesional;
4. Memudahkan proses adaptasi bagi ASN ketika yang bersangkutan berpindah ke instansi pemerintah lain (talent mobility);
5. Menjadi unsur untuk memperkuat peran ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa;
6. Budaya kerja yang kuat akan mendorong kinerja organisasi dalam jangka panjang.
5.4 Indikator ASN Berakhlak
ASN bertugas melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan, memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas dan mempererat persatuan dan kesatuan NKRI. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa, ASN dituntut untuk dapat melaksanakan profesinya dengan sebaik-baiknya berdasarkan prinsip nilai dasar, kode etik, komitmen, integritas moral, tanggung jawab pada pelayanan publik, kompetensi sesuai bidangnya, kualifikasi akademik, jaminan perlindungan hukum, dan profesionalisme jabatan.
Kesemua prinsip itu dituangkan pada pelajaran Berakhlak yaitu: 1) Berorientasi Pelayanan, 2) Akuntabel, 3) Kompoten, 4) Harmonis, 5) Loyal, 6) Adaptif, dan 7) Kolaboratif. Berikut adalah penjelasannya:
1. Berorientasi Pelayanan
Memiliki komitmen dalam memberikan pelayanan prima demi kepuasan masyarakat. Seorang ASN dituntut memahami dan memenuhi kebutuhan masyarakat, ramah, cekatan, solutif, dan dapat diandalkan, serta melakukan perbaikan tiada henti. Sikap kunci dari orientasi pelayanan adalah responsif, kualitas pelayanan, dan kepuasan masyarakat.
2. Akuntabel
Bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan. Merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok, atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Sikap kunci dari akuntabel adalah integritas, konsisten, dapat dipercaya, dan tranasparan.
3. Kompeten
Maknanya ialah memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan atau melaksanakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Para ASN diharapkan mamiliki kemauan belajar yang tinggi untuk mengembangkan kompetensinya. Sikap kuncinya adalah kinerja terbaik, sukses, keberhasilan, learning agility, dan ahli dibidangnya.
4. Harmonis
Setiap ASN harus dapat menciptakan dan membangun lingkungan kerja yang kondusif dan harmonis dan nantinya akan mendorong atau memotivasi ASN untuk lebih produktif dalam bekerja. Sikap yang harus dimiliki ialah menghargai setiap orang, suka menolong, dan mamiliki kemampuan untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif.
5. Loyal
ASN harus dapat menjaga nama baik sesama ASN, nama baik pimpinan, nama baik instansi, dan harus selalu dapat menjaga nama