Bab 3 Pengembangan Kompetensi ASN dalam Pelayanan Publik
3.2 Pengertian dan Pentingnya Pengembangan Kompetensi ASN
Istilah kompetensi (competence) memiliki arti kecakapan, kemampuan, dan wewenang. Secara etimologi, kompetensi diartikan sebagai dimensi perilaku keahlian atau keunggulan seorang mempunyai keterampilan, pengetahuan, dan perilaku yang baik (Sutrisno, 2017). Kompetensi merupakan tingkat keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pegawai untuk mampu mencapai kinerja pelayanan tertentu dan menghasilkan pelayanan yang terbaik (Purba, 2010). Kompetensi merupakan suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan (Robbins, 1998).
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2003). Kompetensi menunjukkan keterampilan dan pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai sesuatu yang terpenting atau sebagai unggulan bidang tersebut, karena pada umumnya kompetensi menyangkut kemampuan dasar seseorang untuk melakukan pekerjaan (Moeheriono, 2009). Joko (2005) menyebutkan bahwa kinerja
individu dapat optimal apabila individu tersebut memiliki kompetensi yang handal dibidangnya. Berdasarkan pernyataan tersebut, kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan atau kapasitas individu yang dicirikan profesionalisme. Artinya, seseorang dikatakan kompeten apabila orang tersebut memiliki kemampuan yang memadai untuk menangani sesuatu, dalam hal ini ditinjau dari pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman orang tersebut dianggap memiliki suatu keahliannya.
Hornby (2000), mengelaborasikan bahwa pada dasarnya kompetensi adalah:
1. Menunjukkan kecakapan atau kemauan untuk mengerjakan suatu pekerjaan;
2. Merupakan suatu sifat orang-orang kompeten, yang memiliki kecakapan, kemampuan, otoritas, kemahiran, pengetahuan dan sebagainya untuk mengerjakan apa yang diperlukannya; dan
3. Menunjukkan tindakan (kinerja) rasional yang dapat mencapai tujuan-tujuan secara memuaskan berdasarkan kondisi.
Lebih lanjut, Alwi (2001) menyatakan kompetensi merupakan kewenangan setiap individu untuk melakukan tugas atau mengambil keputusan sesuai dengan perannya dalam organisasi yang relevan dengan keahlian, pengetahuan, dan kemampuan yang dimiliki. Kompetensi merupakan kemampuan yang dikuasai individu yang diperoleh melalui belajar (Janawi, 2012). Dengan perkataan lain, kompetensi merupakan suatu kemampuan untuk melakukan pekerjaan atau tugas dengan menggunakan keahlian, keterampilan serta ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam melaksanakan pekerjaannya yang menjadi tanggung jawabnya dan mengambil keputusan untuk menghasilkan kinerja atau pelayanan yang terbaik (Simarmata, et al, 2021). Hasil penelitian Becker, Huselid dan Ulrich (2001), yang menemukan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai. Kompetensi yang terdiri dari sejumlah perilaku kunci yang dibutuhkan untuk melaksanakan peran tertentu akan menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan (Ruky, 2003).
Aparatur sipil negara (ASN) menjadi salah satu aset birokrasi pemerintahan yang diharapkan bisa mewujudkan melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan bidang kerja dan cita-cita pemerintahan. ASN (Aparatur Sipil Negara) adalah profesi bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, yang mengabdi pada instansi pemerintah. Pegawai
ASN terdiri dari PNS dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pegawai ASN berfungsi sebagai pelaksana kebijakan publik; pelayanan publik; serta perekat dan pemersatu bangsa (Prasojo & Rudita, 2014). Dalam UU No. 5 Tahun 2014 menegaskan bahwa pegawai ASN memiliki tanggung jawab yang cukup berat karena harus mampu menjalankan tugas pelayanan publik, tugas pemerintahan, dan tugas pembangunan tertentu. Artinya, ASN dalam menjalankan tugasnya pada saat ini diharapkan mampu menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks, seperti volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang masif saat ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi ASN mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang serba cepat yang menuntut seorang untuk bias memberikan pelayanan yang cepat, segera dan akurat sehingga diharapkan dapat memenangi persaingan global. Artinya, tidak bisa dipungkiri bahwa globalisasi dan sistem digitalisasi menuntut ASN menjadi generasi pembelajar yang tidak hanya menerima, tetapi harus dapat beradaptasi, mengikuti perubahan ke arah yang positif. Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih, memungkinkan ASN dapat belajar, baik melalui pelatihan maupun belajar secara mandiri. ASN diharapkan produktif, kreatif, inovatif, berfikir jauh ke depan, representatif, responsif dan adaptif terhadap sebuah perubahan (Ningsih, 2021). Untuk bisa melaksanakan tugas pelayanan dengan persyaratan yang demikian, maka pegawai ASN dituntut memiliki profesionalisme yang ditunjang dengan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, wawasan global, serta memiliki kompetensi yang tinggi (Denhardt & Denhardt, 2007; dan Komara, 2019).
Kompetensi ASN adalah kemampuan yang relevan dan menunjang dengan tugas dan fungsi pokok seorang ASN. Pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 ini, menyebutkan kompetensi ASN meliputi :
1. Kompetensi teknis yang diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis;
2. Kompetensi manajerial yang diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan;
3. Kompetensi sosial kultural yang diukur dari pengalaman kerjaberkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka dalam rangka mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa (good governance), serta mewujudkan pelayanan publik yang baik, efisien, efektif, dan berkualitas, tentunya perlu didukung oleh ASN yang profesional, bertanggung jawab, adil, jujur, dan kompeten dalam bidangnya. Artinya, pegawai ASN dalam menjalankan tugasnya harus berdasarkan pada profesionalisme dan kompetensi, sesuai kualifikasi bidang ilmu yang dimilikinya (Ryngaert &
Wouters, 2005; Dwiyanto, 2014). Selain itu, tuntutan reformasi birokrasi saat ini, menuntut ASN selaku aparat birokrasi harus dapat bersikap dan berperilaku seperti yang diinginkan masyarakat, yaitu pemberian pelayanan publik yang mudah, murah, cepat, tepat waktu, serta tidak berbelit-belit (Dwiyanto, 2021). Pernyataan ini mengisyaratkan, dalam melaksanakan tugasnya ASN perlu melakukan perubahan orientasi, cara berpikir, dan bertindak dalam menghadapi perubahan yang dinamis.
Untuk itu, sangat penting dilakukan pengembangan ASN dan harus menjadi prioritas utama karena ASN merupakan sumber bergerak, yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan kemampuannya. Logisnya bahwa pentingnya pengembangan ASN merupakan suatu conditio sine quanon, yang harus ada dalam setiap organisasi pemerintah, baik pada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (Rakhmawanto, 2011). Lebih lanjut, Mathis (2002) menyatakan pengembangan adalah usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam lingkungan pekerjaan untuk menghadapi berbagai penugasan. Artinya, pengembangan ASN berarti memampukan dan memberi kesempatan kepada ASN untuk melakukan fungsi-fungsi manajemen dalam tugas yang menjadi tanggung jawabnya, baik secara individu maupun kelompok. Pengembangan didasarkan pada fakta bahwa seorang pegawai ASN membutuhkan serangkaian pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang harus ditingkatkan karena tuntutan perubahan dan berkembangnya tuntutan dalam pekerjaan agar pegawai ASN dapat bekerja dengan baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya selama kariernya.
Untuk pengembangan ASN dalam meningkatkan kualitasnya pada umumnya berfokus dengan cara memberikan pelatihan. Rulianto dan Nurtjahjani (1996) mengartikan pelatihan adalah suatu kegiatan yang dilakukan suatu instansi atau
perusahaan untuk dapat memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku, keterampilan, dan pengetahuan dari ASN atau karyawan sesuai dengan kebutuhan Instansi atau perusahaan. Pengembangan kompetensi bagi seorang