• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Pendidikan Karakter dalam Proses Pembelajaran

PEMBELAJARAN

A. Integrasi Pendidikan Karakter dalam Proses Pembelajaran

K

ata integrasi (integration) berarti percampuran, pengombinasian, dan perpaduan. Integrasi biasanya dilakukan dalam dua hal atau lebih, yang mana masing-masing dapat saling mengisi. Dalam pembelajaran akan dibahas beberapa pertanyaan apa, siapa, mengapa, bagaimana, dan seberapa baik tentang pembelajaran. Pertanyaan “apa” akan berhubungan dengan hal isu atau materi pembelajaran. Pertanyaan “siapa” berhubungan antara guru dan peserta didik sebagai subjek dari kegiatan pembelajaran.

Bagaimana kualifikasi, kompetensi, dan perilaku seorang guru yang lebih baik. Bagaimana cara memotivasi peserta didik untuk belajar.

Seharusnya guru mewujudkan partisipasi peserta didik sehingga dapat mengembangkan potensi individunya secara optimal. Pertanyaan

“mengapa” berhubungan dengan alasan dilakukannya proses pembelajaran. Bagaimana proses pembelajaran untuk semua mata pelajaran harus dilakukan.

Pertanyaan “bagaimana” adalah hal berkaitan dengan proses pembelajaran yang lebih baik. Bagaimana guru membuat proses pembelajaran yang sesuai dengan kehidupan peserta didik di masa kini dan masa mendatang. Bagaimana metode, strategi, dan teknik pembelajaran yang bisa membantu peserta didik untuk belajar lebih baik. Pertanyaan “seberapa baik” berhubungan dengan penilaian proses pembelajaran, yakni seberapa jauh mana peserta didik belajar dan

kompetensi peserta didik. Seberapa mampu guru merencanakan dan mengimplementasikan proses pembelajaran di kelas dan me ndapatkan umpan baliknya berpengaruh terhadap prestasi belajar. (Sumiati dan Asra, 2007: xii)

Kemudian, yang di maksud dengan implementasi pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, penginternalinasasian nilai-nilai ke dalam sikap peserta didik pada kegiatan sehari-hari melalui proses pembelajaran di luar maupun di dalam kelas pada semua mata pelajaran, dan fasilitas tercapainya pemahaman tentang urgensitas nilai-nilai. Oleh sebab itu, kegiatan pembelajaran, diharapkan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang untuk menghasilkan peserta didik yang peduli, menyadari, mengenal, dan menginternalisasi nilai- nilai kemudian menjadikannya perilaku.

Dalam prilaku kita, terstruktur dalam dua mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan Pendidikan kewargaan Negara (PKN). Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai serta sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai- nilai. Integrasi pendidikan karakter selain mata pelajaran pendidikan Agama dan Pkn juga perlu diterapkan untuk menginternalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui perantara proses pembelajaran dari tahapan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian.

Pengenalan nilai-nilai sebagai pengetahuan melalui bahan-bahan ajar dapat dilaksanakn, tetapi bukan dengan cara penekanan. Hal yang perlu ditekankan dan diutamakan yaitu, penginternalisasian nilai-nilai melalui kegiatan-kegiatan di dalam proses pembelajaran. (Sumiati dan Asra, 2007: 34)

Dalam hasil penelitiannya, Suwarna mengungkapkan bahwa pada umumnya buku-buku mata pelajaran tidak menyajikan pendidikan budi pekerti secara lugas, tetapi secara kias; tidak secara jelas tetapi kabur;

dan tidak tersurat tetapi tersirat (kecuali mata pelajaran Agama dan Pkn).

Bahkan, ada buku pelajaran yang sama sekali tidak memuat pendidikan budi pekerti. Dengan demikian, guru harus mempunyai kepekaan analisis terhadap fenomena pendidikan budi pekerti terimplisit.

Karena kadang disajikan secara tersirat, guru dan murid harus mencari pendidikan budi pekerti yang ada dalam contoh, bacaan,soal-soal, dan jawaban-jawaban. Seyogyanya pengajar dan pembelajar harus mencari

sendiri pendidikan budi pekerti yang terintegrasi tersebut. Jika tidak ditemuakan pendidikan budi pekerti, guru seharusnya menyisipkan dan mengembangkan pendidikan budi pekerti tersebut pada materi pelajaran yang selaras dengan konteks. Pada pembelajaran kontekstual dan pembelajaran berbasis kompetensi, guru diberi wewenang untuk mengembangkan bahan/materi pelajaran sesuai dengan tuntutan atau konteks pelajaran. Namun sayangnya, dari hasil penelitian Suwarna terungkap bahwa tidak semua guru mau dan mampu mencurahkan pemikirannya. Kebanykan yang terjadi, guru hanya mengajarkan apa yang ada, yang tersurat tanpa mencari pendidikan budi pekerti yang tersirat. (Suwarna, 2007: 25)

Pembelajaran terintegrasi bisa memberikan pengalaman berarti kepada peserta didik. Hal ini disebabkan mereka memahami berbagai konsep, keterampilan, dan nilai yang dipelajari dengan menghubungkan melalui konsep dan keterampilan lain yang telah dipahami. Konsep dan keterampilan tersebut berasal dari beberapa bidang . Pengalaman ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan, karena masalah yang dihadapi mungkin hanya dapat diatasi secara tuntas dengan memanfaatkan berbagai bidang ilmu secara interdisipliner atau multidisipliner.

Pembelajaran terpadu berpindah dari suatu tema sebagai pusat perhatian yang digunakan untuk menguasai beberapa konsep dan keterampilan. Hal ini dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuan secara simultan. Dengan menyatukan sejumlah konsep dan keterampilan, diharapkan peserta didik akan belajar dengan lebih baik, serius dan bermakna. Model pembelajaran terpadu, yaitu ada tiga, pertama, model terhubung (connected), kedua, model jaring laba-laba (webbed), dan ketiga, model terintegrasi (integreted). Model terhubung adalah model pembelajaran yang mengaitkan secara eksplisit suatu topik dengan topik selanjutnya, suatu keterampilan dengan keterampilan lainnya , suatu konsep dengan konsep lainnya,atau suatu tugas dengan tugas berikutnya, dalam satu bidang studi.

Selanjutnya, model jaring laba-laba adalah model pembelajaran yang menerapkan pendekatan tematik untuk mengintegrasikan berbagai bidang studi. Terakhir, model teruntegrasi ialah model pembelajaran yang menyatukan berbagai bidang studi dengan menemukan konsep, keterampilan, dan sikap yang saling tumpah tindih. Dari ketiga model tersebut, yang paling sering diterapkan yaitu pendekatan tematik.

Tema-tema yang digunakan untuk pendidikan karakter dengan pendekatan komprehensip diintegrasikan dalam pembelajaran dan

pengembangan kultur sekolah, antara lain ketaatan ibadah, kejujuran, kepedulian, kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, dan hormat kepada orang lain. Dengan demikian, diharapkan pengalaman nilai-nilai tersebut dapat berlangsung secara intensif dan lebih bermakna karena dikembangkan melalui berbagai (direncanakan semua) pembelajaran disertai pengembangan kultur diberbagai unit kerja sekolah. (Darmiyati Zuchri, 2010: 17)