• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAMA ISLAM

A. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

M

engkaji Pendidikan Agama Islam dengan pendidikan karakter secara filosofis memiliki arti yang esensial. Maka kajian ini akan lebih sistematis bila pembahasan dimulai dari pembahasan pendidikan agama Islam dan pendidikan karakter secara ontologis. Menurut Ahmad Tafsir (1992: 32) Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengembangkan pengetahuannya secara sempurna sesuai dengan ajaran agama islam”. Sedangkan Zakiah Darajat (1998:15), menyatakan bahwa pendidikan agama islam beruapa pekerjaan yang difokuskan pada peserta didik dalam sekolah, serta mampu menerapkan dan mengerti ajaran pendidikan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mencapai hal itu tentunya memerlukan materi sebagai bahan yang mampu mengantarkan siswanya menjadi muslim yang kaffah.

Adapun Materi ini meliputi empat dasar pokok yaitu:

a. Hubungan antara manusia dengan Allah SWT b. Hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri c. Hubungan antara manusia dengan sesama manusia

d. Hubungan antara manusia dengan makhluk lain dan alam lingkunga 2. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Menurut Majid, 2005:59. Pendidikan agama Islam di sekolah

bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian informasi atau pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman siswa sehingga menjadi manusia yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara.

Tujuan umum atau tujuan akhir adalah cermin atau arti kehidupan manusia dalam menjalankan kehidupan di akhir. Menurut Zakiah Daradjat “Tujuan umum adalah sesuatu yang ingin dicapai dalam semua kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain yang meliputi seluruh aspek kemanusiaan, sikap, tingkah laku, penampilan, dan pandangan”. (Daradjat, 2002:30)

Sedangkan Tujuan khusus dari pendidikan agama Islam yang bertujuan pada salah aspek umum ialah: “memberikan dan mengamalkan kemampuan atau skill khusus pada anak didik, sehingga mampu bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu yang berkaitan erat dengan tujuan umum. (Arifin, 1994:128) Tujuan Pendidikan Agama Islam di SMA :

Adapun tujuan pendidikan agama Islam di SMA adalah sebagai berikut:

a. Siswa diharapkan mampu membaca al-Qur’an, menulis dan memahami ayat al-Qur’an serta mampu mengimplemen-tasikannya didalam kehidupan sehari-hari.

b. Beriman kepada Allah Swt, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat dan qadha dan qadar-Nya.

Dengan mengetahui fungsi dan hikmahnya serta terefleksi dalam sikap, prilaku dan akhlak peserta didik pada dimensi kehidupan sehari-hari.

c. Siswa diharapkan terbiasa berperilaku dengan sifat terpuji dan menghindari sifat-sifat tercela, dan bertata kerama dalam kehidupan sehari-hari.

d. Siswa diharapkan mampu memahami sumber hukum dan ketentuan hukum Islam tentang ibadah, muamalah, mawaris, munakahat, jenazah dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

e. Siswa diharapkan mampu memahami, mengambil manfaat dan hikmah perkembangan Islam di Indonesia dan dunia serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. (Majid, 2005:42).

3.Ruang Lingkup Materi dalam Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup PAI sebagaimana yang dijelaskan oleh Marno (2011:92) meliputi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan antara manusia dengan sesama

manusia, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam tidak bisa dipisahkan dengan aspek-aspek hubungan antara manusia dengan tuhannya.

Sedangkan ruang lingkup pada setiap unsur matapelajaran PAI adalah sebagaimana tabel berikut:

Tabel 3.1 :

Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

No Unsur Mata

Pelajaran PAI Ruang Lingkup Kajian

1 Al-Qur’an

Lingkup kajiannya tentang membaca Al-Quran dan mengerti arti kandungan yang terdapat di setiap ayat- ayat Al-Quran. Akan tetapi dalam prakteknya hanya ayat-ayat tertentu yang di masukkan dalam materi Pendidikan Agama Islam yang disesuaikan dengan tingkat pendidikannya dan beberapa hadist terkait.

2 Aqidah

Lingkup kajian tentang aspek kepercayaan menurut ajaran Islam, dan inti dari pengajaran ini adalah tentang rukun iman.

3 Akhlak

Lingkup kajian mengarah pada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya dalam mencapai akhlak baik.

4 Fiqh/Ibadah

Lingkup kajian tentang segala bentuk ibadah dan tata cara pelaksanaannya, tujuan dari pengajaran ini agar peserta didik mampu melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Mengerti segala bentuk ibadah dan memahami arti dan tujuan pelaksanaan ibadah. Juga materi tentang segala bentuk-bentuk hukum Islam yang bersumber pada Al-Quran, sunnah, dan dalil- dalil syar’i yang lain. Tujuan pengajaran ini adalah agar peserta didik mengetahui dan mengerti tentang hukum-hukum Islam dan melaksanakan-nya dalam kehidupan sehari-hari.

5

Sejarah Kebudayaan

Islam

Lingkup kajiannya tentang pertumbuhan dan perkembangan agama Islam dari awalnya sampai zaman sekarang sehingga peserta didik dapat mengenal dan menelada-ni tokoh-tokoh Islam serta mencintai agama Islam.

Sumber: Marno (2011:93-94)

Selanjutnya ruang lingkup Pendidikan Agama Islam memiliki penekanan masing-masing sebagaimana dalam tabel di bawah ini.

Tabel 3.2

Penekanan Ruang Lingkup Kajian Pendidikan Agama Islam

No Unsur Mata

Pelajaran PAI Penekanan Kemampuan

1 Al-Qur’an Penekanan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari

2 Aqidah Penekanan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/ keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al- asma’ al-husna.

3 Akhlak Penekanan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.

4 Fiqh/Ibadah Penekanannya pada kemampuan cara

melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik.

5 Sejarah Kebudayaan

Islam

Penekanan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

4. Karakteristik Pendidikan Agama Islam

Sebagai mata pelajaran yang wajib dipelajari di sekolah, baik yang

karakteristik sebagaimana yang dalam Nita Helida sebagai berikut : a. Pendidikan yang tinggi (sakral)

Pada intinya, pendidikan Islam berusaha mempelajari pengetahuan yang bisa mengenal Allah. Dalam aspek aspeknya ini didasarkan pada nilai ketuhanan yang ditulis dalam Kitabullah dan hadis nabi. Dalam hal ini pendidikan Islam merupakan pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang segala hal yang diciptakan dan diajarkannya sehingga bisa membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan Tempat Tuhan secara tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaanNya.

b. Pendidikan yang komprehensif dan Integral

Sebagai ajaran yang komprehensif, Islam memiliki beberapa karakteristik yang perlu kita pahami bersama dan dijadikan sebagai landasan berpikir serta bergerak dalam kehidupan sehari-hari. Yang pertama, merupakan agama yang tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Islam tidak mengenal sekat-sekat geografis. Hal ini yang menjadikan Islam sebagai rahmatan li al-’alamin. Hal ini juga sekaligus menegaskan kepada kita bahwa Islam bukanlah agama untuk bangsa Arab saja, seperti yang banyak dikatakan oleh orang-orang sekuler, tapi untuk seluruh umat manusia di segala penjuru dunia. Islam sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya juga berlaku sampai kapan pun, tak peduli di zaman teknologi secanggih apa pun. Islam tetap berfungsi sebagai pedoman hidup manusia. Setelah kita paham akan hal tersebut, maka tidak ada lagi istilah bahwa di zaman modern, ajaran- ajaran Islam sudah tidak relevan lagi.

Islam mengatur ajaran yang integral, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dari masalah yang paling pribadi hingga kemasyarakatan dan kebangsaan. Mulai dari adab dalam melakukan kegiatan sehari-hari hingga urusan politik nasional dan internasional.

Islam tidak hanya berbicara mengenai masalah ideologi saja, tetapi juga mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia di sektor ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan sektor lainnya. Bukankah ayat terpanjang yang termaktub dalam al-Quran berisi aturan dalam bermuamalah dan perdagangan (QS Al Baqarah: 282). Islam juga tidak hanya mengatur ajaran tentang hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) saja, melainkan juga mengatur hubungan kemasyarakatan antar sesama manusia (hablun minannas). Itulah sebabnya dalam rukun Islam sebagai dasar peribadatan bagi kaum muslim, selain diwajibkan shalat sebagai sarana penghambaan secara langsung kepada Allah, juga ada ibadah

zakat yang berhubungan dengan kepentingan sesama manusia. Secara empiris, dampak ibadah diharapkan akan menyentuh sisi kesejahteraan masyarakat, tidak hanya peningkatan kualitas spiritual.

c. Pendidikan yang realistis

Ada fenomena yang muncul dalam masyarakat, Pendidikan Islam adalah suatu konsep utopis yang tidak mungkin dapat diwujudkan, sungguh ini merupakan pandangan yang keliru tentang pemahaman dalam memahami Pendidikan Islam. Karena Pendidikan Islam berjalan dalam bingkai yang jelas dan realistis terhadap kenyataan dalam masyarakat. Hanya saja, Pendidikan Islam berpijak pada idealisme keislaman yang kadang disalah pahami oleh pihak pelaksana Pendidikan Islam. Akibatnya idalisme Pendidikan Islam tersebut dipandang sebagai lembaga yang mengutamakan nilai-nilai ukhrawi dan tidak peduli dengan kenyataan yang ada tegasnya, Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berjalan seiring dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman sebagai landasan berpijaknya.

d. Pendidikan yang berkontinuitas

Proses pendidikan tidak mengenal istilah “Usai”. Setiap individu wajib belajar sepanjang hayat (long-life education). Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa menuntut ilmu wajib dilakukan dari buaian sampai ke liang lahat merupakan konsepsi pendidikan sepanjang hayat dalam makna tidak ada batasan waktu untuk terus belajar mendalami ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Konsepsi pendidikan sepanjang hayat telah menjadi dasar pijakan dan sekaligus pembuktian dari berbagai konsp pendidikan lain. Seperti yang dinyatakan oleh Sternberg ketika pendekatan triarchic diterapkan pada pendidikan sepanjang hayat ternyata memunculkan gagasan baru tentang hakekat kemampuan intelektual atau bagaimana kemampuan itu diukur (Sternberg, 1997).

e. Pendidikan yang seimbang

Ajaran Islam menekankan aspek keseimbangan dalam segala hal.

Seimbang dalam mengoptimalkan potensi akal, ruh dan jasad. Dalam Islam ditegaskan, seorang manusia akan mencapai sukses dalam kehidupannya, manakala bisa mengintegrasikan seluruh potensinya dengan kadar yang seimbang, baik segi intelektual, emosional, fisikal dan spiritual. Keseimbangan dalam menjalankan aktivitas dunia tanpa mengesampingkan aktivitas yang berorientasi akhirat. Ini adalah salah satu implementasi dari keimanan seseorang akan adanya hari akhir.

f. Pendidikan yang tumbuh dan berkembang

Pengembangan Ilmu Pengetahuan yang telah dikuasai harus diberikan dan dikembangkan kepada orang lain. Nabi Muhammad saw sangat membenci orang yang memiliki ilmu pengetahuan, tetapi tidak mau memberi dan mengembangkan kepada orang lain (HR. Ibn al-Jauzy).

Selain itu pendidikan Islam yang bersumber dari Al Quran dan Hadist wajib dikembangkan dan diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu sesuai kebutuhan manusia selama tidak bertentangan dengan kaidah agama Islam.

g. Pendidikan yang global dan internasional

Islam selalu sesuai untuk semua bangsa, zaman dan semua keadaan.

Sebagai agama yang universal (rahmatan lil alamin) Islam dapat diterima oleh semua golongan, suku, bangsa karena Allah sudah menurunkan Al Quran yang isinya tentang segala hal yang akan diperlukan manusia pada jaman dulu, sekarang, dan masa yang akan datang, oleh siapapun, dimanapun.

5. Konsep pendidikan karakter dalam Pendidikan Agama Islam

Kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai dan nilai itu selanjutnya diinstitusikan. Institusional nilai yang terbaik adalah melalui upaya pendidikan. Pandangan Freeman But dalam bukunya Cultural History Of Western Education yang dikutip Muhaimin dan Abdul Mujib menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi nilai. Proses pembiasaan terhadap nilai, proses rekonstruksi nilai serta proses penyesuaian terhadap nilai. (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993 :127) Dalam pendidikan Islam terdapat bermacam-macam nilai Islam yang mendukung dalam pelaksanaan pendidikan bahkan menjadi suatui rangkaian atau sistem didalamnya. Dengan banyaknya nilai-nilai Islam yang terdapat dalam pendidikan Islam, maka nilai-nilai tersebut harus ditanamkan kepada peserta didik melalui lembaga sekolah selain di rumah dan masyarakat. Pendidikan nilai-nilai Islam biasa juga disebut dengan pendidikan karakter.

Nilai-nilai dalam karakter adalah juga nilai-nilai dalam Pendidikan Agama Islam sendiri yang harus ditanamkan, ditumbuh kebangkan melalui proses pendidikan, baik pendidikan dalam PAI sendiri maupun dalam pendidikan umum lainnya, sehingga akan terbentuk peserta didik yang cerdas, pembangun bangsa dan Negara dan berakhlak mulia

Abdurrahman An Nahlawi, 1995:28 Pandangan hidup yang mendasari seluruh kegiatan pendidikan karakter dalam pendidikan Islam ialah pandangan hidup muslim yang merupakan nilai-nilai luhur yang bersifat

universal yakni Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih juga pendapat para sahabat dan ulama sebagai tambahan.

Kedudukan Al Qur’an sebagai sumber ajaran Islam dapat dilihat dari kandungan surat Al Baqarah ayat 2 :

Artinya:“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah/2:2)

Selanjutnya firman Allah SWT dalam surat Asy Syura ayat 17:

Artinya: “Allahlah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). dan tahukah kamu, boleh Jadi hari kiamat itu (sudah) dekat ?” (QS. Asy-Syura/42: 17) Al-Qur’an menjelaskan ajaran yang mengenai prinsip-perinsip yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan Sebagai contoh dapat lihat dalam Q.S. Al-Luqman. (Daradjat, 2000:20) Al-Qur’an adalah petunjuk- Nya yang bila dipalajari akan membantu menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam mengatasi kehidupan sehari-hari untuk menghayati serta mengamalkannya sesuai dengan tuntunan ajaran agama islam (Shihab, 1996:13)

Selain Al-Qur’an, pendidikan karakter dalam pandangan Islam sebagai dasar sumber dalam kurikulum pendidikan yang Secara harfiah sunnah itu berarti jalan, pedoman, metode dan program. Secara istilah sunnah adalah sesuatu yang dijelaskan melalui sanad yang shahih baik itu berupa perkataan perbuatan atau sifat Nabi Muhammad Saw. (Abdurrahman An Nahlawwi, 1995 31) Sebagaimana Al-Qur’an, sunah ialah berisi tentang petunjuk-petunjuk untuk kemaslahatan manusia dalam kehidupan yang membina manusia menjadi muslim yang bertaqwa. Dalam dunia pendidikan sunah memiliki dua faedah yang sangat besar, yaitu:

a. Menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an atau menerangkan hal-hal yang tidak terdapat didalamnya.

b. Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah Saw bersama anak-anaknya dan penanaman keimanan kedalam jiwa yang dilakukannya. (Abdurrahman An Nahlawwi, 1992:47

Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan sumber ajaran Islam, khususnya yang menyangkut Akidah, Al-Qur’an-Hadits, Akhlak, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terkandung ajaran- ajaran Islam yang merupakan pedoman dan aturan bagi ummat Islam