PENGEMBANGAN MATERI PAI BERKARAKTER
D. Prinsip-prinsip Pemilihan Materi Pembelajaran
Menurut Marno (2011:34) prinsip-prinsip pemilihan materi pembelajaran terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu; (1) prinsip relevansi;
(2) prinsip konsistensi, dan (3) prinsip kecukupan. Prinsi utama dalam pemilihan materi pembelajaran adalah prinsip relevansi. Materi yang dipilih hendaknya relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi yang telah ditentukan untuk diajarkan oleh guru dan untuk dipelajari peserta didik hendaknya materi yang sungguh-sungguh menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Pertama; Prinsip relevansi artinya keterkaitan atau kesesuaian. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau memiliki keterkaitan dengan pencapaian standar kompetensi/kompetensi inti dan kompetensi
dasar. contohnya jika kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa berupa menghafal informasi atau pengetahuan tentang fakta, maka materi pembelajaran yang disampaikan guru terhadap siswa harus berupa fakta atau bahan hafalan. Kedua; Prinsip konsistensi artinya keajegan. Apabila kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa memiliki 4 (empat) indikator, maka bahan ajar atau uraian materi yang hendak diajarkan juga harus mengandung 4 (empat) indicator pula. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengertian Thaharah (bersuci), macam-macam hadats dan najis, dan cara mensucikan hadats dan najis, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi pengertian Thaharah, macam-macam hadats dan najis, dan cara mensucikan hadats dan najis. Ketiga; Prinsip kecukupan. Maksudnya ialah bahwa materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam mendukung siswa dalam rangka menguasai kompetensi dasar yang diharapkan dapat dikuasai siswa. Dengan kata lain, uraian materi yang disampaikan guru tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika materi yang guru ajarkan terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi/
kompetensi inti dan kompetensi dasar. Begitu pula kebalikannya, jika materi yang disampaikan guru terlalu banyak maka akan membuang- buang waktu shingga alokasi waktu yang ada tidak akan cukup untuk membahas keseluruhan materi tersebut dan guru juga tidak perlu mengeluarkan tenaga secara berlebihan jika tidak perlu untuk digunakan mempelajarinya.
Menurut Ibrahim dan Syaodih (2003:100) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan materi pelajaran, yaitu:
1. Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan/menunjang tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Sebagaimana contoh pada table dibawah ini:
Tabel 5.0 :
Kesesuaian Antara Tujuan Pembelajaran dan Materi Pembelajaran Tujuan Pembelajaran Materi Pembelajaran
1. Siswa mampu
menyebutkan pengertian Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Ijtihad.
2. Siswa dapat menjelaskan kedudukan Al-Qur’an, Al- Hadits, dan Ijtihad.
3. Siswa dapat menjelaskan fungsi Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Ijtihad.
1. Pengertian Al-Qur’an, Al- Hadits, dan Ijtihad.
2. Kedudukan Al-Qur’an, Al- Hadts, dan Ijtihad.
3. Fungsi Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Ijtihad.
.
2. Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan jenjang dan tingkat pendidikan/perkembangan siswa pada umumnya. Materi pembelajaran ditentukan dengan memperhatikan tingkat kemampuan siswa . satu materi dengan tema yang sama dapat berbeda uraiannya karena harus disesuaikan dengan tingkat kedalaman untuk tingkat/
kelas yang berbeda.
3. Materi pembelajaran hendaknya diorganisasikan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan sistematis dan berkelanjutan yang dimaksudkan bahwa antara materi yang dismpaikan pada satu pertemuan memiliki hubungan fungsional dengan materi yang akan disampaikan pada pertemuan selanjutnya, dimana materi yang satu menjadi dasar/berkaitan dengan materi selanjutnya. Misalnya materi pada mata pelajaran PAI kelas X, dibahas tentang pengertian, fungsi, dan kedudukan Al-Qur’an, maka pada mata pelajaran PAI kelas XII, dibahas tentang ayat-ayat Al-Qur’an tentang toleransi, etos kerja, dan IPTEK, sebagaimana dijelaskan dalam tabel di bawah ini
Tabel 5.1.
Pengorganisasian Materi Pembelajaran secara Sistatematis dan Berkesinambungan
Materi Pemlajaran PAI Kelas X Materi Pembelajaran PAI Kelas XII Pengertian, fungsi, dan
kedudukan Al-Qur’an
Ayat-ayat Al-Qur’an tentang toleransi, etos kerja, dan IPTEK 4. Materi pembelajaran mencakup hal-hal yang bersifat faktual dan konseptual. Materi pembelajaran yang faktual sifat konkret dan mudah diingat, sedangkan materi pembelajaran yang konseptual berisikan konsep-konsep abstrak dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam. Contohnya materi pembelajaran faktual adalah materi SKI (Sejarah Dakwah Nabi, pemerintahan Khulafaurrasyidin, pemerintahan dinasti Umayah dan Abbasiyah) dan materi konseptual yaitu materi tentang Aqidah. (Konsep keimanan pada Allah, Malaikat, Nabi, Al-Qur’an, Hari Akhirat dan Qadha dan Qadar)
Selanjutnya menurut Ibrahim dan Syaodih (2003:104) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih/menetapkan msteri pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
1. Tujuan pembelajaran, materi pembelajaran ditetapkan dengan mengacu pada tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan yang ingin dicapai.
2. Pentingnya materi, materi yang diberikan merupakan materi yang betul-betul penting, baik dilihat dari tujuan yang akan dicapai maupun fungsinya untuk mempelajari materi berikutnya.
3. Nilai praktis, materi yang dipilih adalah materi yang bermakna bagi siswa dalam arti mengandung nilai praktis/bermaaanfaat bagi kehidupan sehari--hari.
4. Tingkat perkembangan peserta didik, kedalaman materi yang dipilih ditetapkan dengan mempertimbangan tingkat perkembangan berpikir siswa.
Materi pembelajaran mengacu pada kurikulum persekolahan yang berlaku.Materi pembelajaran yang termuat dalam kurikulum merupakan materi esensial dalam suatu ilmu yang harus dimiliki oleh siswa. Karhami (2000:293) menyatakan bahwa beberapa kriteria materi esensial dari suatu ilmu yang dimuat ke dalam kurikulum, antara lain yaitu :
1. Materi yang mengungkapkan gagasan kunci dari ilmu.
2. Materi sebagai struktur pokok suatu mata pelajaran.
3. Materi menerapkan penggunaan metode Inquiry secara tepat pada setiap mata pelajaran.
4. Konsep dan prinsip memuat pandangan global secara luas dan lengkap terhadap dunia.
5. Keseimbangan antara materi teoritis dan materi praktis.
6. Materi yang mendorong daya imajinasi peserta didik.
Pemilihan materi pembelajaran dituangkan dalam kurikulum senantiasa berdasarkan pada analisis scope dan sequence. Scope atau ruang lingkup isi kurikulum dimaksudkan untuk menyatakan keluasan dan kedalaman bahan, sedangkan sequence menyangkut urutan isi kurikulum.(Taba, 1962:291-292).Sedangkan scope bahan pelajaran memerlukan beberapa. Menurut Nasution (1994:233-235), kriteria- kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bahan pelajaran harus ditentukan berdasarkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
2. Bahan pelajaran ditentukan karena dianggap berharga sebagai warisan pengetahuan yang harus dijaga keberadaannya dari generasi yang lalu.
3. Bahan pelajaran ditentukan karena sangat besar pengaruh dan manfaatnya dalam menguasai suatu disiplin ilmu.
4. Bahan pelajaran ditentukan sebab dianggap berharga bagi manusia.
Menentukan sequence atau urutan isi kurikulum dilakukan dengan mempertimbangkan aspek perkembangan kognitif siswa. Teori perkembangan kognitif dikembangkan oleh Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1986. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan pertambahan usia. Perkembangan kognitif siswa menurut Piaget (dalam Komalasari, 2010:29)
1. Periode sensorimotor (usia 0-2 tahun) 2. Tahapan praoperasional (usia 2-7 tahun) 3. Tahapan operasional konkret (usia 7-11 tahun) 4. Tahapan operasional formal (usia 11 tahun-dewasa) E. Pendekatan Penentuan Scope Materi
Chapin J.R dan Messick, R.G. (dalam Komalasari, 2010:32) mengemukakan bahwa penyusunan scope dan sequence materi dalam kurikulum sekolah menggunakan tiga pola pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan lingkungan/masyarakat yang semakin meluas (expanding environment/communities), dimulai dari lingkungan masyarakat yang paling dekat dengan siswa (diri sendiri, orang lain, dan keluarga), lingkungan tetangga, desa, sekolah, Negara, dan lingkungan yang lebih luas adalah dunia.
2. Pendekatan spiral (spiralled approach) yang terutama dikemukakan oleh Hilda Taba. Pada model pendekatan ini, konsep-konsep dasar dan proses penyelidikan yang pokok dari disiplin ilmu diajarkan pada tiap kelas/tiap tahun, tetapi dengan kadar yang semakin mendalam dan meluas, semakin lanjut, atau semakin mempunyai abstraksi yang lebih tinggi.
3. Pendekatan Web (jaringan tema). Pada model pendekatan ini, pelaksanaan pembelajaran diawali dengan penentuan tema yang akan dibahas dengan memadukan beberapa kompetensi dasar dari disiplin ilmu pendukung atau beberapa mata pelajaran yang diberikan di sekolah.