131
pantulan dari cahaya lain berupa penguapan air dan butir-butir debu yang bergantung di udara.
3) Selain itu, al-Kindi juga banyak mengarang kitab dalam bidang teknik mesin, kimia industri, kimia, kimia logam, matematika, geometri, kedokteran, filsafat, farmasi, dan di bidang musik.
d. Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali al-Husin bin Abdullah Ibn Sina.
Ilmuwan Eropa menyebut namanya dengan Avicenna. Ia lahir di Avazna di dekat Bukhara (Uzbeskistan, Persia) pada tahun 370 H dan wafat di Hamdzan (Iran, Persia) pada tahun 428 H (1037 M). Ibnu Sina ahli dalam bidang filsafat dan terutama kedokteran. Diantara prestasinya adalah:
1) Ia adalah ilmuan yang pertama kali menemukan cara pengobatan dengan menyuntikkan obat di bawah kulit.
2) Menciptakan alat bantu pernafasan dari emas dan perak yang dimasukkan ke kerongkongan.
3) Ia sangat ahli di bidang kedokteran, misalnya ia menemukan adanya cacing Ancylostoma, cacing filaria penyebab penyakit gajah, pengobatan penyakit antrak (malignan anthrax).
e. Tsabit bin Qurah
Nama lengkapnya Abu al-Hasan bin MarwanTsabit bin Qurah al-Harrani. Dia dilahirkan di Harran pada tahun 221 H (836 H).
Tsabit adalah seorang penerjemah yang menguasai bahasa Arab, Suryani, Yunani, dan Ibrani. Tsabit banyak mengarang buku dalam bidang astronomi, matematika, filsafat, dan geografi. Az-Zarkali menyatakan bahwa Tsabit menulis 150 buku dalam berbagai disiplin ilmu.
Selain tokoh-tokoh di atas, masih banyak ilmuan muslim lainya yang pemikirannya menjadi landasan perkembangan ilmu pengetahuan Barat pada masa modern. Diantara para ilmuan tersebut adalah Abu Bakar al-Razi, Al-Battani, Abu al-Qasum Al- Zahrawi, Abu al-Wafa‟ al-Buzjani, Ibnu Yunus al-Mishri, al-Hasan ibn al-Haitsam, Abu al-Raihan al-Biruni, Ibnu Rusyd, Umar al-Khayyam, dan lain-lain.
C. Kemajuan IPTEK Sebagai Tantangan Umat Islam Masa
132
pengetahuan yang sangat penting bagi manusia. Sejak pertama kali manusia diciptakan, Allah SWT telah menunjukkan kelebihan Adam AS sebagai manusia pertama dibandingkan dengan makhluk lain tentang kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan. Ini dibuktikan ketika Adam AS mampu menyebutkan berbagai nama benda-benda secara lengkap, sedangkan para malaikat tidak mampu mela- kukannya.
Bahkan wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW juga berisi perintah mencari ilmu (iqra’:
membaca). Padahal, Nabi Muhammad SAW hidup di lingkungan masyarakat yang minim bahkan tidak menghargai budaya baca tulis, sehingga beliaupun dikatakan ummi, alias tidak bisa membaca dan menulis.
Di samping itu, dalam al-Qur'an terdapat banyak ayat dalam bentuk yang bervariasi menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya dengan baik, memikirkan alam di sekelilingnya, mengingat dan menyebut penciptanya yaitu Allah SWT. Sejumlah ayat yang memerintahkan manusia menggunakan akalnya untuk berpikir antara lain: surat al-Hajj:46, Ali-Imran:190-191, al-Rum:8, al- Ankabut:43, al-A'raf:185, Fathir:27-28, Yunus:101, Luqman:29 dan 31, Ibrahim:32-34, dan al-Anbiya':30-31.
َْلَو َأ اوُرَّكَفَ تَ ي ْمِهِسُفْ نَأ ِفِ
اَم َقَلَخ ُوَّللا ِتاَواَمَّسلا َضْرَْلأاَو
اَمَو اَمُهَ نْ يَ ب َّلِإ ّْقَْلْاِب
ٍلَجَأَو ىِّمَسُم َّنِإَو اًيِثَك َنِم ِساَّنلا ِءاَقِلِب ْمِّْبَِّر َنوُرِفاَكَل
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya" (Q.S. al-Rum:8).
Sejarah Islam juga menyebutkan bahwa saat umat Islam meraih kemenangan dalam perang Badar (perang pertama antara umat Islam dengan kaum kafir), umat Islam mendapatkan banyak tawanan.
Uniknya, para tawanan tersebut bisa bebas bila mereka mengajarkan baca-tulis pada umat Islam. Sebuah kebijakan yang sungguh tidak lazim bagi masyarakat Arab saat itu.
2. Merajut Asa Kebangkitan Umat Islam di Bidang IPTEK Islam sebagai agama samawi terakhir secara potensial memiliki kemampuan untuk menjadi rujukan seluruh khazanah ilmu pengetahuan. Meski saat ini umat Islam mengalami penurunan
133
dalam berbagai aspek kehidupan, benih-benih potensi kebangkitan Islam sebetulnya telah ada, namun belum terorganisasi. Kebangkitan umat Islam bisa ditumbuhkembangkan dengan mempertimbangkan aspek internal dan eksternal.
a. Aspek internal
Semangat bangkit dari keterpurukan umat Islam bisa dimulai dari potensi internal yang dimiliki oleh umat Islam. Umat Islam sebenarnya secara individual memiliki potensi besar untuk maju, namun secara kolektif umat Islam masih banyak memiliki kelemahan. Diantara kelemahan tersebut, umat Islam masih sering berseteru dalam hal perbedaan fiqh furu’iyah (tidak asasi) yang tidak perlu diperdebatkan, misalnya penggunaan qunut dalam sholat subuh. Harusnya energi umat Islam diarahkan untuk mengkaji ayat- ayat al-Qur`an dan ayat-ayat kauniyah berupa fenomena alam semesta demi mengembangkan ilmu pengetahuan.
Umat Islam harus memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk bisa bangkit dari keterpurukan dengan seluruh potensi yang dimilikinya. Potensi-potensi ini didasarkan atas pemahaman yang mendalam terhadap al-Qur‟an dan Hadis Nabi. Penghayatan makna al-Qur‟an yang dalam akan menginspirasi umat Islam untuk bisa bangkit dan maju dengan penuh semangat. Ayat al-Qur‟an yang bisa menginspirasi umat Islam untuk gigih dalam berusaha misalnya tertuang dalam QS. Alam Nasyrah, Ayat 7-8.
اَذِإَف َتْغَرَ ف ْبَصْناَف
{ 7
َلِإَو
}َكّْبَر بَغْراَف
{ 8 }
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap" (QS. 94:8).
b. Aspek eksternal
Umat Islam seharusnya tidak menutup diri dari tradisi dan ilmu yang datang dari umat non-muslim. Karena akal yang dimiliki oleh mereka yang non-muslim-pun pada hakekatnya adalah ciptaan dan anugrah dari Allah yang Esa. Sikap antipati terhadap tradisi Barat dan non-muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadikan umat Islam semakin jauh tertinggal dari kemajuan.
Umat Islam layak belajar dari sejarah kemajuan pemerintah Abbasiyah yang memiliki prestasi puncak kemajuan peradaban Islam karena menggabungkan tradisi Islam yang bersumber dari al-Qur‟an dengan khazanah Ilmu Pengetahuan dari Persia dan Yunani.
134
Al-Qur‟an adalah panduan, inspirasi dan moralitas yang akan menghindarkan umat Islam dari perilaku yang tidak terpuji dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan. Sedangkan kemajuan Barat Modern, adalah sumber umat Islam untuk maju dari keterpurukan.
Jadi langkah yang harus diambil umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan adalah dengan mempelajari seluruh prestasi Barat Modern untuk akhirnya bisa bersaing dengan mereka. Spirit kemajuan ini harus berjalan beriringan dengan moralitas al-Qur‟an supaya umat Islam tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan agama Islam.
D. Jejak Peradaban Islam Dalam Kebudayaan Indonesia