C. Etos Kerja dan Kemandirian Hidup
2. Kemandirian dalam Islam
Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa Allah sungguh sangat mencintai orang yang berjerih payah untuk mencari yang halal (HR.
al-Dailami), dan orang yang bekerja dengan tekun (HR. Baihaqi).
Bahkan, dalam hadis lain dijelaskan bahwa hanya dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah dapat menghapuskan dosa yang tidak bisa dihapus dengan pahala shalat dan sedekah atau haji (HR. Al-Thabrani).
manusia untuk mandiri dalam mengarungi hidup merupakan kunci yang diberikan Allah untuk sukses di dunia dan di akhirat kelak.
Dalam hal ini, Gymnastiar (2004) menjelaskan bahwa yang ditekankan adalah kesungguhan berikhtiar agar tidak menjadi beban bagi orang lain. Di samping itu ia harus berani mencoba dan berani menanggung resiko. Orang yang bermental mandiri tidak akan menganggap kesulitan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan dan peluang. Tindakan selanjutnya adalah mempertebal keyakinan kepada Allah, sebab Dialah Dzat pencipta sekaligus pemberi rizki.
Islam mengutamakan pemahaman bahwa setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan terbaik (Q.S. Al-tiin:4).
Potensi yang dimiliki manusia menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk menjadi mulia. Oleh karenanya setiap muslim tidak layak menjadi beban orang lain. Muslim yang mentalnya peminta dianggap rendah harga dirinya, sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah (HR. Muslim).
Demikianlah konsep kemandirian dalam Islam. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi beban bagi siapapun, namun tetap menjadikan Allah SWT sebagai tempat berharap dan meminta pertolongan. Prilaku Rasulullah SAW dalam bekerja patut dicontoh dan dijadikan teladan bagi seluruh aktivitas seorang muslim.
Semangat kerja yang dilandasi dengan ketauhidan kepada Allah SWT akan melahirkan produktivitas yang dapat menghadirkan manfaat bagi dirinya, usahanya, dan orang lain, di dunia maupun di akhirat.
Daftar Pustaka
Abdurahman, Aditya. 2012. Konsep “Do It Yourself” dan Konsep Kemandirian Islam (Online), (www.undergroundtauhid.com), diakses 7 Juni 2013.
Agung, Lukman. 2007. Menjadi Kaya Bersama Rasulullah.
Yogyakarta: Diva Press.
Al-„Assal, A.M. 1980. Sistem Ekonomi Islam: Prinsip-prinsip dan Tujuan-tujuannya. (Terj. Abu Ahmadi). Surabaya: Bina Ilmu.
Anonim. 2013. Membangun Kemandirian Anak Bangsa. Yatim Mandiri, hlm.14.
Daud, Ali M. 1988. Sistem Ekonomi Islam: Zakat dan Wakaf.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Gymnastiar, Abdullah. 2004. Sebuah Nasihat Kecil. Jakarta: Penerbit Republika.
http://ananganggarjito.blogspot.com/2008/07. E-Commerce dalam Perspektif Islam. html.
Ismail, Soeharno. 2012. Hadis Tentang Etos Kerja Islam, (Online), (http: soeharnoismail.wordpress.com) diakses 7 Juni 2013.
Lubis, S.K. 2000. Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Luth, Thohir. 2001. Antara Perut dan Etos Kerja Dalam Perspektif Islam. Jakarta: GIP.
Manan, M.A. 1993. Dasar-dasar Ekonomi Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf.
Muslehuddin, M. 1990. Sistem Perbankkan dalam Islam. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nasution, M.E. 2007. Pengantar Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta:
Kencana.
Nurdin, Muslim. at. al. 1995. Moral dan Kognisi Islam. Bandung:
Alfabeta.
Syafi‟i, M. A. et. al. 1994. Arbitrase Islam di Indonesia. Jakarta:
Badan Muamalat Indonesia.
Tasmara, Toto. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta:
GIP.
Tim Dosen PAI UM. 2011. Aktualisasi Pendidikan Islam: Respon terhadap Problematika Umat. Pasuruan: Hilal Pustaka
Lembar Kerja Mahasiswa A. Soal Dan Latihan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan ringkas dan jelas!
1. Jelaskan pengertian sistem ekonomi Islam dan prinsip-prinsip dasar sistem ekonomi Islam?
2. Ekonomi Islam mempunyai nilai-nilai dasar yang merupakan implikasi dari asas filsafat tauhid. Jelaskan nilai-nilai dasar tersebut!
3. Uraikan perbedaan nilai instrumental sistem ekonomi kapitalis, sosialis, dan sistem ekonomi Islam!
4. Kemukakan pendapat anda tentang praktik-praktik perdagangan elektronika ditinjau dari hukum Islam!
5. Apa yang akan anda lakukan bila anda memiliki tabungan di bank konvensional yang menggunakan sistem bunga? Jelaskan alasannya!
6. Sebutkan keutamaan bekerja dan etos kerja dalam perspektif Islam!
7. Jelaskan pandangan Islam tentang kemandirian hidup!
8. Apa pendapat anda tentang sebagian masyarakat Indonesia yang menjadikan mengemis sebagai profesinya? Jelaskan dengan argumen akal dan dalil al-Qur‟an atau hadis!
B. Tugas Kontekstual
Lakukan aktivitas-aktivitas berikut dan catatlah hasilnya!
1. Wawancarai seorang pedagang kaki lima atau tukang becak di sekitar tempat tinggal anda mengenai suka dan duka melakukan pekerjaan tersebut! Tanyakan kepadanya apa yang membuat dia semangat bekerja!
2. Pelajarilah kehidupan masyarakat sekitar anda. Dari sudut pandang agama, apa yang membuat negeri ini masih tertinggal jauh? Tuliskan dalam bentuk essai!
3. Pelajari dan pahami diri anda sendiri dan cobalah temukan potensi apa yang anda miliki dan bisa diberdayakan sehingga menjadi bermanfaat untuk mewujudkan kemandirian hidup ala Islam!
Kompetensi Dasar:
Memahami konsep konservasi lingkungan, pandangan Islam tentang konservasi lingkungan, dan upaya mencegah kerusakannya, dan berparti- sipasi aktif dalam melaksanakan konservasi lingkungan.
Indikator:
1. Memahami konsep konservasi lingkungan dalam perspektif Islam ;
2. Mengidentifikasi kegiatan dan tingkah laku masyarakat yang menyebabkan kerusakan lingkungan;
3. Mengkaji dampak kerusakan lingkungan;
4. Mengevaluasi upaya konservasi lingkungan yang sudah dilakukan pemerintah dan masyarakat;
5. Menumbuhkan sikap cinta lingkungan dan berpartisipasi aktif dalam melaksanakan konservasi lingkungan.
Fikih ekologi dalam bab ini merupakan satu tema yang membahas tentang konsep konservasi lingkungan, faktor dan dampak dari kerusakan lingkungan, pandangan Islam terhadap konservasi lingkungan, dan peranan manusia dalam konservasi lingkungan.
Tema tersebut penting bagi mahasiswa, agar dapat dipahami, dan disadari akan pentingnya upaya konservasi lingkungan yang juga merupakan bagian dari kegiatan ibadah kepada Allah, sehingga diharapkan mahasiswa juga ikut aktif menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar. Mahasiswa sebagai anggota masyarakat perlu menyadari bahwa membuang satu sampah di jalanan atau di tempat umum merupakan perbuatan dosa yang akan membawa dampak negatif bagi masyarakat sekarang dan generasi yang akan datang.
Sebaliknya, membuang sehelai sampah ke tempatnya atau mem- buang duri dari jalanan itu adalah ibadah, dan bahwa berjualan di
atas trotoar itu termasuk mengambil hak para pejalan kaki yang diharamkan agama (Al Fikri, 2007).
A. Konsep Konservasi Lingkungan
Dalam sejarah kemanusiaan, konservasi alam bukanlah hal yang baru. Misalnya pada tahun 252 SM, Raja Asoka dari India secara resmi mengumumkan perlindungan satwa, ikan dan hutan. Peristiwa ini mungkin merupakan contoh terawal yang tercatat dari apa yang sekarang kita sebut kawasan lindung. Pada sekitar tahun 624-634 M, Nabi Muhammad SAW juga membuat kawasan konservasi yang dikenal dengan hima’ di Madinah. Lalu pada tahun 1084 M, Raja William I dari Inggris memerintahkan penyiapan The Doomesday Book, yaitu suatu inventarisasi tanah, hutan, daerah penangkapan ikan, areal pertanian, taman buru dan sumberdaya produktif milik kerajaan yang digunakan sebagai daerah untuk membuat perencanaan rasional bagi pengelolaan pembangunan negaranya (Mangunjaya, 2007). Dengan demikian, konservasi merupakan kepentingan fitrah manusia di bumi yang dari masa ke masa terus mengalami perkembangan disebabkan kesadaran manusia untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan karena manusia mampu memikirkan kelangsungan hidup generasi kini maupun yang akan datang.
1. Pengertian Konservasi Lingkungan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan melalui proses pelestarian (Depdiknas, 2001). Konservasi merupakan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana melalui pengelolaan terencana sumber daya alam sehingga terjadi keberlanjutan serta keseimbangan alami suatu lingkungan. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam, seperti: tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan.
Dalam pandangan Islam, konservasi adalah amanah dari Allah untuk manusia. Manusia sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifatullah fil ardh) harus memahami hubungan antara dirinya dengan Allah dan lingkungan. Konservasi yang dilakukan manusia melalui pemeliharaan, pemanfaatan secara wajar, dan rehabilitasi akan memberikan efek positif terhadap lingkungan. Fikih ekologi merupakan konservasi lingkungan berbasis syariat. Konservasi
lingkungan bukan hanya bermotif penyelamatan dan pemeliharaan lingkungan secara syar’i, namun lebih dari itu memiliki tujuan spiritual, yaitu membangkitkan semangat beribadah kepada Allah melalui alam sekitar (Nursalim, 2013).
2. Lingkup Konservasi Lingkungan
Lingkup konservasi lingkungan meliputi: konservasi tanah, konservasi daerah aliran sungai (DAS), konservasi daerah pesisir dan laut, konservasi hutan, dan konservasi tipe ekosistem. Contoh upaya konservasi tanah adalah memelihara dan mempertahankan produktifitas tanah agar dapat dipergunakan secara lestari, dan menerapkan pola tanam yang dapat mengurangi erosi. Upaya yang bisa dilakukan dalam konservasi DAS antara lain melalui pengen- dalian pencemaran air, limbah rumah tangga, limbah industri,dan lain- lain. Untuk konservasi daerah pesisir dan laut, upaya yang diperlukan antara lain adanya penetapan kawasan lindung, kawasan budidaya yaitu kawasan pesisir yang diperuntukkan bagi usaha budidaya baik berupa perikanan, tambak, atau flora fauna. Contoh upaya konservasi hutan adalah menjamin pemanfaatan kayu dari hutan dan reboisasi. Adapun contoh upaya konservasi tipe ekosistem adalah kegiatan pelestarian tumbuhan dan hewan (Anonim, 2009).
B. Penyebab Kerusakan Lingkungan
Ada dua faktor penyebab kerusakan lingkungan yaitu faktor manusia dan proses alam. Faktor manusia merupakan penyebab utama kerusakan yang terjadi di bumi, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Rum:41:
ََرَهَظ
َُداَسَفلْا َ
َ فى
َّرَ بلا َ
َََو اَبمرْحَبلْا َ
َْتَبَسَك َ
َْيدْيَأ َ
َلا ساَّن
َْمُهَقْ يذُيل َ
ََضْعَ ب َ
َْيذَّلا َ اْوُلم َََع
َ
َْمُهَّلَعَل
ََنْوُعجْرَ ي َ
َ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
1. Faktor Manusia
Kerusakan lingkungan yang disebabkan kegiatan manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan kerusakan lingkungan yang dise- babkan oleh proses alam. Kerusakan lingkungan yang disebabkan kegiatan manusia terjadi dalam berbagai bentuk, seperti:
pencemaran, pengerukan, dan penebangan hutan.
Allah melarang manusia untuk merusak lingkungan, meskipun manusia sebagai khalifah diberi kuasa untuk mengelola dan memelihara alam. Kedudukan manusia dan alam semesta adalah setara di hadapan Allah (Shihab, 1995:233-234). Q.S. Al-A’raaf:56 menyebutkan:
ََلَو اْوُد سْفُ ت َ
َ فى ضْرَلأا َ
ََدْعَ ب َ اَهحَلاْصإ َ
َُهْوُعْداَو َ اًفْوَخ َ اًعَمَطَو َ
َ
ََّنإ
ََتَْحَْر َ وَللا َ
ٌَبْيرَّق َ
َ
ََنم
ََْينسْحُلما َ
َ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada- Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan), sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.”
Beberapa bentuk kerusakan yang disebabkan oleh faktor manusia, antara lain: kerusakan lingkungan akibat limbah, penebangan hutan, dan penambangan.
Beragam jenis limbah yang dibuang oleh manusia dapat berupa limbah cair maupun padat. Bila jumlah limbah di sebuah lingkungan telah melebihi ambang batas, maka akan menimbulkan kerusakan pada lingkungan, termasuk pengaruh buruk pada manusia. Salah satu contoh kasus pencemaran terhadap air adalah “Kasus Teluk Minamata” di Jepang. Ratusan orang meninggal karena memakan hasil laut yang ditangkap dari Teluk Minamata yang telah tercemar unsur merkuri (air raksa).
Penebangan hutan untuk keperluan industri, lahan pertanian, dan kebutuhan lainnya telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang luar biasa, diantaranya: timbulnya lahan kritis, ancaman terhadap kehidupan flora dan fauna dan menyebabkan kekeringan.
Selain itu, penebangan hutan secara liar juga dapat mengubah permukaan bumi.
Pengerukan yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan, seperti pertambangan batu bara, timah, bijih besi, dan lain-lain, telah menimbulkan lubang-lubang dan cekungan yang besar di permukaan tanah sehingga lahan tersebut tidak dapat digunakan lagi sebelum direklamasi. Kerusakan lingkungan akibat kegiatan penambangan dapat pula mengubah permukaan bumi. Beberapa dampak negatif akibat pertambangan yang tidak terkendali antara lain: kerusakan lahan bekas tambang, lahan perkebunan dan pertanian, kerusakan tambak dan terumbu karang di pesisir, banjir, longsor, lenyapnya
sebagian keanekaragaman hayati, kerusakan ekosistem dan sumber daya pesisir dan laut (Anonim, 2011).
2. Faktor Alam
Kerusakan lingkungan yang disebabkan faktor alam pada umumnya merupakan bencana alam seperti letusan gunung berapi, banjir, angin puting beliung, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya (Anonim, tt.). Ada beberapa faktor lain penyebab kerusakan lingkungan, antara lain (a) pertambahan penduduk yang pesat, sehingga memacu timbulnya eksploitasi terhadap sumberdaya alam hayati yang berlebihan, (b) perkembangan teknologi yang pesat, sehingga mempermudah eksploitasi keanekaragaman hayati, (c) kebijakan dan pengelolaan keanekaragaman hayati yang sangat sentralistik, bersifat kapitalis, dan tidak tepat guna, dan (d) perubahan sistem nilai budaya masyarakat dalam memperlakukan keanekaragaman hayati sekitarnya. Oleh karena itu, pengelolaan keanekaragaman hayati yang holistik, berkelanjutan dan berkeadilan sosial bagi segenap warga masyarakat, sungguh diperlukan untuk mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati (Iskandar, 2011).
C. Dampak Kerusakan Lingkungan
Dampak kerusakan lingkungan terhadap makhluk hidup semakin hari terus bertambah. Dampak tersebut berupa penyakit dan berbagai macam permasalahan lain. Penyakit tersebut dapat langsung dirasakan maupun penyakit yang timbul karena akumulasi bahan polutan dalam tubuh manusia.
Pembakaran bahan bakar minyak dan batubara pada kendaraan bermotor dan industri menyebabkan naiknya kadar CO2 di udara. Gas ini juga dihasilkan dari kebakaran hutan, yang akan berkumpul di atmosfer bumi. Jika jumlahnya sangat banyak, gas CO2 akan menghalangi pantulan panas dari bumi ke atmosfer sehingga panas akan diserap dan dipantulkan kembali ke bumi. Akibatnya, suhu di Bumi menjadi lebih panas. Keadaan ini disebut efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca dapat menyebabkan suhu lingkungan naik secara global, atau lebih dikenal dengan pemanasan global. Akibat pemanasan global ini, pola iklim dunia menjadi berubah. Permukaan laut menjadi naik akibat mencairnya es di kutub sehingga pulau-pulau kecil menjadi tenggelam.
Akibat pencemaran lingkungan adalah: (1) punahnya spesies, (2) perkembangan hama yang cepat, (3) gangguan keseimbangan