Lorok.55 Menurut beberapa sumber lainnya, sejak tahun 1950-an lah perkampungan ini muncul dan dikenal oleh masyarakat Semarang sebagai Perkampungan Nelayan Tambak Lorok.56
merupakan kawasan yang cukup rawan terhadap musibah banjir. Biasanya banjir berlangsung pada akhir dan awal tahun, karena pada bulan-bulan tersebut curah hujan cukup tinggi. Seorang warga bernama Jumani mengatakan bahwa dahulu sebelum tahun 1970-an belum terdapat kejadian banjir yang parah, bahkan sama sekali tidak ada. Pada saat itu sungai di sebelah timur Tambak Lorok tidak sebesar sungai yang ada saat ini. Dulu terdapat dua anak sungai, kemudian kedua anak sungai itu dikeruk dan digabungkan menjadi satu aliran yang cukup besar, sehingga air yang mengalir ke arah Tambak Lorok lebih deras dari sebelumnya ketika musim hujan tiba.58 Sungai yang deras itu tidak membahayakan rumah penduduk yang ada di sekitarnya, justru memudahkan nelayan untuk menyandarkan perahunya ke tepi darat.
Penduduk di sekitar Tambak Lorok semakin tertarik untuk berdatangan ke Tambak Lorok sejak 1950-an. Mereka didominasi oleh para nelayan dari beberapa daerah seperti dari Jepara, Rembang bahkan nelayan-nelayan dari Jawa Timur.
Mereka singgah di tempat ini dan mendirikan permukiman. Bahkan beberapa di antaranya sampai ada yang memiliki keturunan yang terus bertahan menempati rumah pendahulunya hingga jumlah penduduk di Tambak Lorok terus berkembang dan menjadi sebuah perkampungan padat. Kemampuan masyarakat nelayan untuk menyesuaikan dengan alam membuat para nelayan mampu mengetahui tempat-tempat yang cocok untuk persinggahan bagi perjalanan laut mereka. Tambak Lorok ini menjadi salah satu tempat yang strategis untuk merapatkan kapal ke daratan. Mereka melihat Tambak Lorok ini sebagai suatu tempat yang cocok untuk perhentian sementara, karena ujung pantainya membentuk cekungan berupa teluk, sehingga sesuai untuk merapatkan kapal dan memberi tempat istirahat bagi nelayan dari pelayaran kapalnya.59 Lambat laun mereka yang awalnya hanya singgah sementara menjadi tertarik untuk menetap di Tambak Lorok.
58Wawancara dengan Jumani, 7 Agustus 2017. Ia adalah seorang pegawai di Kantor Kelurahan Tanjung Mas yang lahir di Tambak Lorok.
59Wawancara dengan Sokeh, 6 April 2018.
Gambaran wilayah Tambak Lorok agar lebih mudah untuk dipahami, maka menggunakan peta merupakan salah satu cara yang tepat. Batas-batas wilayah Tambak Lorok dapat dilihat melalui peta yang diperoleh dari Laporan Badan Statistika Kota Semarang Tahun 1982 yang berjudul “Semarang Utara dalam Angka Tahun 1982”, peta tersebut dibuat dalam bentuk lukisan tangan, tetapi masih cukup jelas untuk diamati. Berikut ini gambar peta lokasi Kelurahan Rejomulyo:
Gambar 2.1. Peta Kelurahan Rejomulyo Tahun 1980-an (Semarang Utara dalam Angka Tahun 1982 dengan sedikit penambahan, Badan Pusat Statistika Kota
Semarang).
Berdasar pada peta tahun 1970-an di atas, dapat dijelaskan bahwa Perkampungan Tambak Lorok berada dalam wilayah administrasi Kelurahan Rejomulyo yang berada di wilayah Kecamatan Semarang Utara. Peta di atas memerlihatkan bahwa kelurahan Bandarharjo adalah kelurahan dengan luas lahan terluas pertama dan Kelurahan Rejomulyo atau Rejomulyo memiliki lahan terluas kedua di antara kelurahan lainnya di Kecamatan Semarang Utara, yaitu sekitar Tambak Lorok 1
2
3 Keterangan
Kelurahan:
1. Rejomulyo 2. Bandarharjo 3. Kemijen
2.802 km2 atau sama dengan 280.200 Ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Selatan : Kelurahan Kemijen Sebelah Timur : Kecamatan Genuk Sebelah Barat : Kelurahan Bandarharjo60
Berdasar dari luas Kelurahan Rejomulyo tersebut, sebagian besar lahannya difungsikan sebagai tempat mendirikan bangunan. Luas lahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan jumlahnya mencapai 166.100 Ha. Sisa lahan lainnya difungsikan untuk Tegalan, Kebun, Ladang dan sejenisnya sebanyak 8.500 Ha, Tambak di Kelurahan Rejomulyo tahun 1970-an itu sebanyak 35.000 Ha, sebagian besar lahan tambak berada di wilayah perkampungan Tambak Lorok dan perkampungan sebelahnya yaitu Tambak Rejo.61 Sisa lahan sebanyak 70.600 Ha ada yang digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat lainnya dan ada yang masih belum terpakai. Sekitar 16,2 % dari luas Kelurahan Rejomulyo tersebut di atas adalah luas wilayah perkampungan Tambak Lorok sendiri yaitu sekitar 452,9 km2 atau seluas 45.290 Ha. Luas perkampungan Tambak Lorok tersebut dibatasi dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara : Laut Jawa Sebelah Selatan : Sungai Banger
Sebelah Timur : Sungai Banjir Kanal Timur Sebelah Barat : Sungai Banger62
Lahan kosong di Tambak Lorok tahun 1970-an masih sangat luas dan jarak antarsatu rumah penduduk dengan rumah lainnya masih tersedia beberapa meter
60Semarang Utara dalam Angka Tahun 1982 (Semarang: Badan Pusat Statistika Kota Semarang, 1982), hlm. 3.
61Semarang Utara 1982, hlm. 9.
62Sekatia, “Kajian Permukiman Kumuh dan Nelayan Tambak Lorok Semarang, Studi Kasus Partisipasi Masyarakat”, Jurnal Jurusan Arsitektur Modul Vol. 15 No.I Januari-Juni (Universitas Diponegoro, 2015), hlm. 60.
lahan kosong. Bagian utara kawasan masih berupa tambak-tambak milik penduduk yang tinggal di sepanjang pesisir yang luas dan menyambung hingga daerah yang saat ini dikenal sebagai PRPP (Pekan Raya Promosi Pembangunan).
Potensi usaha tambak ikan dan udang di Tambak Lorok waktu itu masih sangat besar dan menguntungkan untuk dijalankan oleh masyarakat. Hal itu menjadi daya tarik bagi orang-orang yang minim keahlian dan hidup bergantung dari sumber alam seperti nelayan dan para penduduk yang tinggal di daerah pesisir.
Tabel 2.2 Produksi Ikan dengan Media Pemeliharaan di Semarang Utara Tahun 1973
Jenis
Pemeliharaan Luas Jenis Ikan Produksi (kg)
Kolam 21.830 m2 Mujahir 2.370
Lainnya 947
Tambak 133.481 Ha Bandeng 52.133
Udang 33.890
Sungai 1 Ha Mujahir 1.215
Lainnya 8.382
Sumber: Kodya Semarang dalam Angka Tahun, 1973.
Sebagian besar pendatang yang menetap di Tambak Lorok, memanfaatkan lahan pantai di wilayah Pantai Kecamatan Semarang Utara untuk media usaha perikanan tambak. Berdasar tabel di atas, jumlah usaha tambak merupakan yang terluas jika dibandingkan dengan jenis media produksi lainnya yang ada di Semarang Utara. Luas tambak 133.481 Ha tersebut sebagian besar berada di Rejomulyo dengan jumlah 82.089 Ha.63 Usaha produksi ikan yang tidak banyak membutuhkan keahlian membuat wilayah sekitar pantai di Semarang Utara, terutama di Tambak Lorok menjadi sebuah kawasan yang menarik untuk ditempati.
Pendatang yang tertarik dengan potensi alam Tambak Lorok rata-rata berasal dari daerah pesisir di timur Tambak Lorok, namun ada pula beberapa pendatang lainnya yang berasal dari daerah pedalaman di sekitar Kota Semarang. Sebab
63Kodya Semarang dalam Angka Tahun 1973 (Semarang: BPS Kota Semarang, 1973), hlm. 254.
kedatangan penduduk dari daerah pesisir timur Tambak Lorok yang mendominasi dibanding daerah lainnya bisa dilihat melalui jarak kedekatan antara Tambak Lorok dengan beberapa daerah pesisir tersebut di antaranya yaitu jarak Tambak Lorok dengan kabupaten di sebelah timur seperti Kabupaten Demak berjarak sekitar 27 km dari Tambak Lorok, jarak menuju ke Jepara sekitar 70 km, jarak menuju ke Pati 75 km, 111 km menuju Rembang dan seterusnya. Jarak dengan beberapa daerah pesisir di sebelah barat Kota Semarang di antaranya seperti Kendal yang berjarak sekitar 31 km dari Tambak Lorok, 95 km menuju ke Batang, 167 km menuju ke Tegal, 102 km ke daerah pesisir di Pekalongan dan seterusnya.64 Orang-orang yang berasal dari daerah terdekat dengan Tambak Lorok sebagaimana beberapa jarak yang telah disebutkan itu serta memiliki mata pencaharian atau keahlian sebagai nelayan dan pengolah hasil perikanan kemudian tertarik untuk datang dan menetap di Perkampungan Tambak Lorok.
Selain usaha di bidang perikanan, ada pula faktor lain yang menarik pendatang ke Tambak Lorok. Tahun 1970-an merupakan tahun penting di Tambak Lorok, sebab pada tahun ini Tambak Lorok sudah tidak hanya ditinggali oleh para nelayan saja, tetapi juga pekerja di bidang lain. Di Semarang Utara, terutama di Sekitar Rejomulyo sudah banyak bermunculan industri besar dan sedang. Hal ini dapat dilihat berdasar tabel di bawah ini.
Tabel 2.3 Jumlah Industri Besar dan Sedang di Kecamatan Semarang Utara Tahun 1972
Golongan Kegiatan Banyaknya Industri
Jumlah Pekerja
Bahan makanan 14 901
Minuman 9 243
Tembakau 6 843
Textile 5 3.052
Pakaian dan textile yang sudah jadi 4 1.474
Kayu 14 499
Meubel dan alat rumah tangga 7 93
Kertas dan barang dari kertas 4 77
Percetakan 15 510
64Jawa Tengah dalam Angka 1971, Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Jawa Tengah 1971, hlm. 1.
Kulit dan barang dari kulit 1 15
Barang dari karet 1 8
Barang logam selain pabrik mesin 10 654 Pabrik dan reparasi mesin selain mesin
listrik
4 51
Plastik 2 16
Kimia 5 353
Lain-lain 8 728
Jumlah 109 9.526
Sumber: Semarang dalam Angka, 1973.
Berdasar tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa pada tahun 1970 di sekitar Tambak Lorok sudah terdapat beberapa pabrik yang memproduksi berbagai macam kebutuhan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu faktor penting meningkatnya jumlah penduduk di Tambak Lorok.