Namun demikian perkembangan jumlah penduduknya dapat dilihat dengan bertambahnya 1 RT baru, sehingga jumlah RT di Rejomulyo menjadi 108 RT.
Jumlah penduduk di Kelurahan Rejomulyo pada tahun 1991 sebanyak 21.282 jiwa, pada tahun 1992 yaitu 20.833 jiwa. Satu tahun berikutnya, pada tahun 1993 Kelurahan Rejomulyo diubah namanya menjadi Tanjung Mas dan berpenduduk sebanyak 20.138 jiwa. Jumlah penduduk mengalami fluktuasi di sekitar angka- angka tersebut sampai tahun 1995 yang menjadi tahun terjadinya pelonjakan jumlah penduduk yang cukup signifikan. Jumlah penduduk pada tahun 1995 mengalami peningkatan pada akhir tahun sebesar 33 % menjadi 28.l09 penduduk.70 Peningkatan tersebut disebabkan oleh menjelang tahun 1995, di sekitar wilayah Tambak Lorok semakin banyak didirikan pabrik, yang menyebabkan banyak warga berdatangan dari luar Kota Semarang dan menjadi warga baru di Kelurahan Tanjung Mas. Data tertulis mengenai jumlah penduduk di Kelurahan Rejomulyo sangat terbatas, sehingga penulis mengalami kesulitan untuk mengetahui pertumbuhan penduduknya dari tahun ke tahun. Menurut data kependudukan di kelurahan tersebut tahun 1991-1995 seperti yang dapat dilihat di atas, Perkampungan Tambak Lorok masih tetap meliputi 4 RW terakhir yaitu RW XIII, XIV, XV, dan XVI.
pentingnya makna dari sebuah nama.71 Rata-rata penduduk di Tambak Lorok pada tahun 1970-an menggunakan nama Jawa yang lekat pula dengan corak Islam.
Metode penamaan yang dilakukan untuk seseorang di Tambak Lorok tidak berarti sama dengan metode pencetusan nama bagi perkampungan mereka. Awalnya sebelum perkampungan terbentuk di Tambak Lorok, masyarakat Kota Semarang mengenal tempat ini sebagai Kali Banger, karena ada sungai di wilayah ini yang bau banger atau busuk, oleh karena itu dinamakan sebagai Kali Banger. Setelah penduduk mulai berdatangan dan banyak yang membuat tambak-tambak di sekitar pantai, karena sekat atau pembatas tambak selalu ngelorok atau longsor tenggelam tergerus air laut, maka daerah ini kemudian dinamakan dengan Tambak Lorok.
Meskipun pada awalnya penamaan tempat ini lebih di dasarkan dari kejadian alam yang sering terjadi ditempat ini, namun sebagian masyarakat tetap ada yang berkeinginan mengganti nama tersebut pada tahun-tahun selanjutnya. Hingga pada tahun 1982, perkampungan nelayan Tambak Lorok kemudian mengalami pergantian nama menjadi Tambak Mulyo. 72 Pergantian nama dari Tambak Lorok menjadi Tambak Mulyo ini merupakan sebuah harapan agar warga setempat mendapat kemuliaan dan kesejahteraan hidup, karena selama ini Tambak Lorok selalu dikenal dengan keadaannya yang kumuh dan sebagian besar penduduknya terjerat dalam kemiskinan. Meskipun mengalami pergantian, nama Tambak Lorok sudah terlanjur melekat di hati warga masyarakat luas di Kota Semarang hingga sekarang.73
Masyarakat Tambak Lorok mayoritas beragama lslam. Di perkampungan ini ada sebuah masjid yang sudah berdiri sejak tahun 1957 yang dibangun di atas tanah wakaf milik almarhum H. Mashudi. Masjid ini diberi nama Masjid Sholaha.
Awal mulanya, masjid ini didirikan dengan keadaan sangat kurang layak, karena
71Sahid Teguh Widodo, “Konstruksi Nama Orang Jawa Studi Kasus Nama- Nama Modern di Surakarta” (https:// journal.ugm.ac.id/ index.php/jurnal- humaniora/article/view/1815, diunduh pada 16 September 2017).
72Wardhani, “Peranan Perempuan dalam”, hlm. 40.
73Wawancara dengan Ngatno, pada 19 Juli 2018. Ia adalah seorang warga asli Tambak Lorok berusia 73 tahun.
sebagian besar masyarakat Tambak Lorok berkemampuan ekonomi rendah.
Mereka bergotong royong semampunya untuk membangun rumah ibadah ini di Tambak Lorok. Kayun menjelaskan keadaan masjid tersebut seperti penuturannya di bawah ini.
Dulu waktu saya pertama kali tinggal di Tambak Lorok tahun 1969, masjid ini ya sudah ada, tapi kondisinya nggak sebagus sekarang ini.
Masjid ini dulu jelek sekali, ukurannya kecil, kotor, temboknya belum dicat sampai selesai. Dekat masjid ini juga ada tempat ngaji untuk anak-anak, itu pun ya juga sama-sama jelek sekali kondisinya. Tapi akhirnya bisa nyicil perbaikan lewat infaq, bantuan-bantuan dari banyak orang.74
Jumlah masjid dan mushola bertambah seiring dengan perkembangan jaman dan jumlah penduduk. Selain itu, di wilayah ini juga terdapat pemeluk agama lain seperti: Kristen Protestan. Namun, jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang beragama non-lslam sangat sedikit. Berdasar wawancara dengan ketua RW XII yaitu Bapak Suparman menyebutkan bahwa di Tambak Lorok dari tahun 1970-an sampai dengan tahun 2000 hanya terdapat sekitar satu sampai tiga atau bisa dikatakan tidak mencapai 10 keluarga yang beragama Kristen Protestan.
Selebihnya masyarakat setempat menganut agama Islam meskipun tidak semuanya menjalankan syariat Islam dengan sempurna.75
Masyarakat Tambak Lorok secara turun temurun melestarikan budaya dan tradisi yang berkaitan dengan aktivitas melaut seperti sedekah laut dan upacara
“munggah perahu”. Upacara sedekah laut biasanya dilakukan pada bulan Sura dengan mengarak kepala kerbau ke tengah lautan. Upacara ini juga diikuti dengan pergelaran wayang kulit dengan tema utamanya yaitu Tri Gangga sebagai dewa penjaga Iaut yang mengumpulkan ikan-ikan. Selain Tri Gangga, masyarakat setempat juga memercayai legenda Kromo Wurung yang memencarkan ikan-ikan,
74Wawancara dengan Kayun, 19 Juli 2018.
75Wawancara dengan Suparmo, 18 Oktober 2017. Ia adalah seorang nelayan dan juga ketua RW XIII Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang.
sehingga sulit untuk ditangkap. Adapun upacara seperti “munggah perahu” yaitu selamatan atas peluncuran perahu baru.76
Gambar 2.2. Warga Tambak Lorok Mengangkut Sajian ke Atas Perahu dalam Ritual Tradisi Sedekah Laut (http://semarangpos.com/2016/08/21/sedekah-laut-
dilarung-di-semarang-746464, diunduh pada 24 Juli 2018).
Gambar 2.3. Sajian Sedekah Laut di Tambak Lorok Dibawa di Atas Perahu (https://twitter.com/tambakmulyo/media/grid?_e_pi_=7%2cpage_id10%2c865341
44975, diunduh pada 24 Juli 2018).
76Wardhani, “Peranan Perempuan dalam”, hlm. 55.
Gambar 2.2 dan 2.3 di atas menggambarkan aktivitas masyarakat Tambak Lorok yang antusias melarung hasil bumi dan laut sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah tangkapan ikan sepanjang tahun yang telah lalu.
Sedekah laut ini merupakan ekspresi kesyukuran atas nikmat dari Sang Pencipta yang telah menciptakan laut sebagai sumber mata pencaharian bagi para nelayan.
Sedekah laut ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang mereka terima dari alam yang menjadi sumber mata pencaharian mereka. Masyarakat pesisir Tambak Lorok sangat antusias ketika menggelar ritual ini. Berbagai sajian disiapkan oleh mereka. Sesaji dalam ritual ini terdiri dari berbagai persembahan makanan, bunga, dan kepala kerbau yang ditempatkan pada sebuah tandu khusus.
Setelah upacara dan doa dipanjatkan, sesaji itupun dibawa menuju perahu dengan diiringi tabuhan-tabuhan dan rebana. Para nelayan kemudian membawanya ke tengah laut untuk dibuang sebagai persembahan. Harapan para nelayan dalam ritual yang dilakukan ini yaitu agar mereka selalu memeroleh keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah sepanjang tahun mendatang. Ritual ini juga diikuti dengan acara memandikan anak di pantai. Warga memercayai dengan mandi di laut, anak-anak mereka akan memeroleh berkat di kemudian hari serta dijauhkan dari segala ancaman penyakit.77
77Yudi Sutomo dan Taufan Yudha, ”Ritual Sedekah Laut di Semarang”, liputan6 16 Desember 2006 (https://liputan6.com/news/read134196/ritual- sedekah-laut-di-semarang, diunduh pada 24 Juli 2018).
Gambar 2.4. Pergelaran Wayang di Tambak Lorok dalam Rangkaian Tradisi Sedekah Laut (https://twitter.com/ tambakmulyo /media/ grid?e_pi_
=7%2cpage_id10%2c4074217458, diunduh pada 24 Juli 2018).
Gambar 2.5. Lomba Dayung Perahu dalam Rangkaian Tradisi Sedekah Laut (https://twitter.com/tambakmulyo/media/grid?e_pi_=7%2cpage_id10%2c7589285
035, diunduh pada 24 Juli 2018).
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, rangkaian tradisi Sedekah Laut juga diikuti dengan pergelaran wayang kulit dengan tema utamanya yaitu Tri Gangga sebagai dewa penjaga Iaut yang mengumpulkan ikan-ikan.
Selain Tri Gangga, masyarakat setempat juga memercayai legenda Kromo Wurung yang memencarkan ikan-ikan sehingga sulit untuk ditangkap. Lomba dayung perahu dan beberapa tambahan acara lainnya seperti makan tumpeng di tengah laut, rebana, lomba pukul guling di pinggiran dermaga dan lain-lainnya biasanya juga turut memeriahkan tradisi turun temurun ini.78 Beberapa dokumentasi kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar-gambar dari beberapa sumber seperti di atas.
Interaksi antarwarga dalam kegiatan sehari-hari di Tambak Lorok sangat terpengaruh oleh cara pandang dan nilai-nilai sopan santun yang diajarkan para pendahulunya. Masyarakat memiliki kebiasaan menghormati dan melayani tamu
78“Persiapan Pagelaran Wayang Sedekah Bumi Laut Tambak Lorok Semarang” (https://twitter.com/tambakmulyo/media/grid, diunduh pada 24 Juli 2018)
yang datang ke rumah mereka. Meskipun keadaan ekonominya rendah, apa pun hal terbaik yang dimilikinya dan bisa diberikan kepada tamu, maka mereka berikan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu, dan apabila tidak memungkinkan untuk memberi suatu hidangan kepada tamu maka mereka berusaha memberikan keramahan dan pelayanan yang terbaik sehingga tamu merasa nyaman dan dihormati.79
Beberapa masyarakat juga memercayai mitos bahwa di kawasan pesisir Tambak Lorok tidak boleh sembarangan mendirikan tempat tinggal. Sokeh menuturkan, konon larangan ini disampaikan leluhurnya dahulu, bahwa di Tambak Lorok ada makhluk metafisik yang juga tinggal di kawasan itu sebagai penjaga pantai. Seorang tetangga dari Sokeh yang telah meninggal, pernah melanggar aturan ini dan konon jasadnya tidak dapat dimasukkan dilubang kubur yang telah digali sesuai ukuran jasadnya dan sudah diberi ruang tambahan, namun tetap saja jasad tidak dapat masuk ke lubang kuburan di pemakaman Tambak Lorok.80
Penggolongan sosial dalam masyarakat nelayan ini dapat dilihat dari hasil studi yang ada selama ini, bahwa dalam masyarakat ini biasanya juga terbentuk dua golongan utama yang didasarkan atas kemampuan sosial ekonomi mereka, yaitu golongan nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik ialah mereka yang memiliki alat-alat produksi dan nelayan buruh tidak memiliki alat-alat produksi. Bagian kerja dalam kegiatan produksi sebuah unit perahu, nelayan buruh hanya menyumbangkan jasa tenaganya dengan memeroleh hak-hak yang sangat terbatas. Jumlah kedua golongan di Tambak Lorok dan di berbagai lokasi yang ada menunjukkan bahwa dibandingkan dengan nelayan pemilik, tingkat kehidupan sosial ekonomi nelayan buruh sangat rendah dan bahkan dapat dikatakan sebagai lapisan sosial yang paling miskin di desa-desa pesisir.81
79Wawancara dengan Kayun, 19 Juli 2018.
80Wawancara dengan Sokeh, 6 April 2018.
81Kusnadi, Konflik Sosial Nelayan Kemiskinan dan Perebutan Sumber Daya Alam (Yogyakarta: LKIS, 2002), hlm 3.
Tingkat kepedulian sosial antarsesama masyarakat Tambak Lorok cukup tinggi, meskipun dalam beberapa hal berkaitan dengan masalah senketa ekonomi masih cukup rawan terjadi permusuhan dan pertikaian. Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup mereka secara mayoritas masih rendah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih berlangsung turun temurun dari generasi ke generasi. Pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan, kerusakan lingkungan, serta dampak kekumuhan masih cukup rendah. Bahkan hingga saat ini masih ada warga Tambak Lorok yang tidak mengerti arti dari kata “kumuh”.82 Keadaan itu menggambarkan kondisi sosial masyarakat Tambak Lorok yang masih berada dalam taraf pengetahuan dan pola pikir yang rendah.
82Wawancara dengan Kayun, 19 Juli 2018.
62 BAB III
KEKUMUHAN DI PERKAMPUNGAN TAMBAK LOROK
Seiring dengan perkembangan aktivitas kehidupan dan pertumbuhan perekonomian, kebutuhan akan lahan pantai dan prasarana pendukungnya semakin meningkat. Keadaan ini akan menyebabkan timbulnya masalah di daerah pantai. Permasalahan seperti abrasi pantai, timbulnya sedimentasi, pencemaran, intrusi air laut, dan berkembangnya permukiman kumuh umum sekali terjadi di tengah-tengah permukiman pesisir. Setiap poinnya bagaikan saling mendukung satu sama lain membentuk suatu masalah yang rumit, serta tidak mudah untuk diungkapkan bagaimana proses terjadinya dan bagaimana menanggulanginya. Keinginan manusia bagaikan memaksa alam semesta untuk selalu menurutinya. Bumi diciptakan sebagai salah satu tempat beristirahat jangka pendek atau pun panjang bagi umat manusia. Upaya membentuk tempat tinggal yang dilakukan manusia sesuai dengan sifatnya sebagai makhluk sosial, mereka akan selalu berdampingan dengan manusia lainnya. Hidup manusia yang selalu berdampingan akan berkembang membentuk sebuah permukiman. Keadaan lingkungan di sekitar permukiman manusia tersebut akan terpengaruhi oleh setiap perilaku atau perbuatan manusia yang menempatinya.83
Beberapa pengaruh mungkin ada yang positif, namun juga selalu ada yang negatif.
Pengaruh positif itu misalnya lingkungan yang sehat dapat tercipta apabila mereka peduli pada kesehatan lingkungan, keadaan alam semakin indah dengan penataan lingkungan, keadaan lingkungan dapat diperbaiki apabila terjadi kerusakan, sumber daya alam di sekitarnya bisa bertambah maksimal ketika manusia pandai mengelolanya. Pengaruh sebaliknya justru lebih rawan terjadi, sebab tidak semua manusia menyadari dan memiliki pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan, sehingga sering kali terbentuk sebuah permukiman yang kumuh dan tidak sehat. Pengaruh negatif terhadap lingkungan tempat tinggal sering terjadi di beberapa wilayah. Salah satu contoh yang tepat ialah Tambak Lorok. Wilayah pesisir ini mengalami berbagai permasalahan, baik terjadi secara alamiah seperti banjir, rob, erosi, penurunan permukaan tanah, maupun yang terjadi
83Widi Agus Pratikto, Haryo Dwito Armono, dan Suntoyo, Perencanaan Fasilitas Pantai dan Laut (Yogyakarta: BPFEE-Yogyakarta, 1997), hlm. 1.
karena aktivitas sosial yang kurang baik seperti sampah dan limbah yang menumpuk di tempat-tempat yang tidak seharusnya karena kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Semua saling berkaitan dan terjadi di Tambak Lorok.
Permukiman di Tambak Lorok sudah sejak lama terkenal dengan kesan kumuh.
Istilah “kumuh” di sini sesuai dengan makna dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu kotor atau cemar. Tambak Lorok memang sangat erat dengan kondisi lingkungan yang kotor. Berdasar pada gambaran Tambak Lorok yang telah dijelaskan sebelumnya, pada masa wilayah itu belum menjadi sebuah perkampungan, secara geografis wilayah ini merupakan sebuah hamparan pesisir yang alami. Wilayah pesisir itu meskipun kotor, tetapi tidak dinilai sebagai suatu kekumuhan sebab keadaan kumuh yang dibahas adalah kekumuhan sebagai suatu akibat dari aktivitas dan keberadaan manusia. Berikut ini akan dibahas kekumuhan yang berkembang di Perkampungan Nelayan Tambak Lorok Semarang.
A. Urbanisasi dan Perilaku Kumuh Masyarakat Pendatang di Tambak Lorok
Daerah perkotaan sebagai pusat kegiatan menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk di daerah hinterland untuk berbondong-bondong bermigrasi masuk ke daerah perkotaan.
Hal ini akan berakibat terkonsentrasinya penduduk di sekitar zona inti kota (core zone) atau di zona selaput inti kota, seiring dengan pertumbuhan penduduk disebabkan oleh faktor alamiah dan adanya migrasi penduduk ke perkotaan, permintaan akan lahan untuk permukiman juga semakin meningkat, sementara luas lahan kota secara administratif tetap. Konsekunsi ekonomis yang harus disandang adalah harga akan lahan semakin meningkat. Akibat yang muncul terutama bagi imigran dan juga penduduk kota yang status ekonominya lemah, adalah rendahnya kemampuan untuk memiliki rumah.
Permasalahan selanjutnya adalah terjadinya pemadatan bangunan (densifikasi) permukiman, yang berakibat menurunnya kualitas permukiman. Dengan demikian, di daerah perkotaan akan timbul daerah-daerah permukiman yang kurang layak huni yang sangat padat, dan hal ini akan membawa suatu akibat pada kondisi lingkungan permukiman yang buruk, yang selanjutnya disebut sebagai daerah kumuh. Demikian halnya yang terjadi di Tambak Lorok yang merupakan salah satu kawasan pesisir yang dekat dengan pusat Kota Semarang. Letaknya yang berada di daerah pesisir membuat Tambak Lorok memiliki keunikan tersendiri dalam permasalahan urbanisasi dibandingkan dengan daerah dekat pusat kota pada umumnya.
Sudah sejak sebelum tahun 1950-an urbanisasi berlangsung di Tambak Lorok.
Penduduk Tambak Lorok terus berkembang hingga muncul menjadi sebuah kampung yang dikenal sebagai kampung nelayan pada tahun 1950-an. Urbanisasi kenelayanan atau yang terjadi disebabkan oleh adanya faktor profesi yang dilakukan oleh nelayan di wilayah kabupaten untuk pindah ke pusat kota besar menjadi keunikkan atau ciri khas urbanisasi di Tambak Lorok. Salah satu dari penduduk yang datang sebelum tahun 1950- an ialah orang tua dari seorang warga setempat bernama Sokeh. Orang tua Sokeh pindah dari Demak ke Tambak Lorok bersama beberapa rombongan nelayan yang memiliki kesamaan tujuan. Mereka mendirikan rumah-rumah gubuk sederhana dan tambak-tambak di sekitarnya. Memasuki tahun 1950-an perkampungan tersebut mulai ramai oleh berbagai aktivitas para warganya, baik pendatang baru atau pun yang sudah lama menetap. Sayangnya karena kehidupan masyarakat di perkampungan tersebut masih berjalan dengan berbagai keterbatasan baik dari segi materi maupun moral menjadikan perkampungan tersebut sudah dikategorikan sebagai perkampungan kumuh di Semarang.
Hal ini karena pertumbuhan penduduk yang lebih cepat daripada perkembangan sarana prasarana di Tambak Lorok. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, bertambah pula rumah-rumah gubuk yang dibangun para nelayan pendatang. Kemampuan pemerintah dan berbagai pihak terkait pembangunan belum mampu menjangkau perhatiannya hingga ke daerah pinggiran seperti Tambak Lorok.84
Para penduduk generasi pertama di Tambak Lorok, ada yang datang masih dalam keadaan melajang dan ada pula yang sudah berkeluarga. Salah satu pendatang yang sudah berkeluarga ialah orang tua dari Sokeh. Rombongan orang tua Sokeh inilah yang menjadi pelopor munculnya aktivitas permukiman di Tambak Lorok. Generasi orang tua Sokeh ini bisa jadi memiliki umur yang sama dari seorang tokoh bernama Sutho yang dijelaskan dalam tesis Titik Wardhani sebagai orang yang dikenal menjadi pendiri perkampungan Tambak Lorok. Pada tahun 1951 dan beberapa tahun selanjutnya, beberapa generasi pendatang pertama di Tambak Lorok ada yang melahirkan anak-anak mereka di kawasan pesisir ini. Merekalah generasi pertama yang menjadi penduduk dengan status kelahiran asli dari Tambak Lorok. Salah satu anak yang lahir tersebut bernama Sokeh. Di Tambak Lorok inilah Sokeh menjalani hari-harinya hingga bertumbuh dewasa dan menjadi seorang nelayan. Kelahiran dan kedatangan penduduk membuat Tambak Lorok kian
84Wawancara dengan Ahmad Sokeh, 6 April 2018. Ia adalah seorang nelayan yang lahir di Tambak Lorok.
ramai setiap tahunnya. Sayangnya sebagian besar dari mereka merupakan masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang rendah, sehingga keadaan tersebut memengaruhi keadaan ekonomi mereka. Salah satu pemandangan yang dapat menunjukkan rendahnya taraf hidup mereka ialah tempat tinggalnya yang kumuh.
Berkaitan dengan keadaan tersebut, di tengah pertumbuhan penduduk yang sedang berlangsung di Tambak Lorok, ada sebagian lapisan masyarakat Semarang yang berusaha mencoba untuk memerhatikan keadaan gang-gang kumuh tersebut. Salah satunya pada tahun 1959, sebuah organisasi wanita yang ada di Semarang pada waktu itu yaitu Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) bersama para seniman dari Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) mengadakan Pameran Operasi “Gempa Langit III”. Operasi ini memiliki salah satu tujuan mengangkat kondisi rakyat miskin menjadi isu penting yang perlu segera ditentukan solusinya bersama-sama. Markas dari operasi ini di sebuah gang sempit di sebelah pasar Johar Semarang. Pameran ini dipimpin oleh Martian yang merupakan seorang pelukis. Daerah yang menjadi sasaran operasi ini adalah wilayah Tambak Lorok dan gang-gang kumuh di kota Semarang. Operasi Gempa Langit III merupakan bentuk Turba (turun ke bawah) para seniman bersama rakyat. Realitas sosial yang terjadi di masyarakat menjadi ilham bagi karya mereka. Hasil akhir dari gerakan Turba ini kemudian dipamerkan di Semarang dan dibuka oleh Kepala Daerah kota Semarang pada 14 Juni 1959.85 Pameran ini menjadi salah satu ajang untuk mengangkat nasib rakyat yang sangat memerlukan uluran tangan dan perhatian dari pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.
Pendatang dari daerah-daerah di sekitar Kota Semarang yang nasibnya kurang beruntung secara ekonomi turut tertarik untuk bergabung dan hidup bersama-sama di tempat kumuh seperti di Tambak Lorok. Berselang sepuluh tahun kemudian setelah 1959, pemerintah menaruh perhatian ke Tambak Lorok dan berencana menjadikan lahan di sekitarnya sebagai salah satu kawasan industri di Kota Semarang sejak tahun 1970.86 Namun demikian, pergerakan pembangunan di permukiman Tambak Lorok masih terbilang lambat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Penduduk yang tinggal di
85Risdha Nugroho Budiyanto, “Aktivitas Gerwani di Kota Semarang, Tahun 1950-1965” (Skripsi pada Program Sarjana Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, 2009), hlm. 111-112.
86“Tambak Lorok dalam Master Plan Kota Semarang”, Suara Merdeka, 28 Juli 1970, hlm. 2.
Tambak Lorok terus bertambah, sedangkan sarana prasarana masih tetap belum tersedia dengan baik. Jumlah penduduk yang terus bertambah di Tambak Lorok dapat diketahui melalui data penduduk di Kelurahan Rejomulyo sebagai berikut.
Tabel 3.1
Peningkatan Penduduk Rejomulyo Tahun 1961-1990
Sumber: Semarang dalam Angka 1961, 1971, 1977; Sensus Penduduk Kota Semarang, 1980; dan Kecamatan Semarang Utara dalam Angka, 1982-1990 dalam tesis Titik Wardhani dengan pengolahan.
Peningkatan jumlah penduduk tahun 1961-1971 mencapai 3.332 jiwa. Pada tahun 1971- 1977 terjadi peningkatan jumlah penduduk yang lebih besar yaitu sebanyak 5.098 jiwa.
Peningkatan itu jauh berbeda dengan yang terjadi pada 1980-1987, jumlah peningkatan peduduk hanya mencapai 1.697 jiwa.87 Ini membuktikan bahwa tahun 1970-an merupakan tahun urbanisasi yang signifikan di Tambak Lorok dan sekitarnya.
Peningkatan penduduk di Tambak Lorok tidak disertai dengan adanya perencanaan, pengendalian dan pengawasan sehingga rumah-rumah penduduk yang dibangun di Tambak Lorok banyak yang tidak memiliki izin dari pemerintah. Pendatang
87Titik Wardhani, “Peranan Perempuan dalam Perekonomian Tambak Lorok 1970-2000” (Tesis pada Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 2015), hlm. 41-42.
Tahun Pertambahan
Penduduk Alamiah dan Migrasi (Jiwa)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
1961 (tidak ditemukan) 11.437
1971 +3.332 14.769
1977 +5.098 19.867
1980 +288 20.155
1982 +476 20.631
1983 +72 20.703
1987 +861 21.564
1989 +83 21.647
1990 +228 21.875