• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penurunan Kualitas Kesehatan Hidup Masyarakat

Pada masa prakedatangan penduduk di Tambak Lorok, kawasan tersebut masih merupakan daerah rawa-rawa dan semak belukar yang berbatasan langsung dengan laut. Sekitar tahun 1942, menjelang kedatangan orang-orang Jepang ke Semarang, daerah Tambak Lorok telah kedatangan beberapa nelayan dari Wedung (Demak), Jepara dan Bakaran (Juwana).183 Setelah tahun 1950, wilayah Tambak Lorok menjadi sebuah perkampungan nelayan dengan karateristik masyarakat yang memiliki gaya dan taraf hidup yang rendah. Tambak Lorok kemudian menjadi sebuah kawasan yang kumuh akibat aktivitas yang berdampak negatif terhadap lingkungan yang biasa dilakukan oleh masyarakat yang menempati wilayah tersebut. Sampah-sampah menumpuk di sembarang tempat. Tepi pantai dan sungai turut bercampur dengan sampah-sampah yang hanyut dan menggenang di sungai dan sekitar pantai. Aktivitas buang air besar di kali yang biasa dilakukan

183Titik Wardhani, “Peranan Perempuan dalam Perekonomian Tambak Lorok 1970-2000” (Tesis pada Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 2015), hlm. 39.

warga turut memerburuk kondisi kesehatan di wilayah setempat. Kekumuhan selanjutnya berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Permukiman atau perkampungan yang kumuh menjadi sarang yang cocok bagi bakteri dan virus pembawa penyakit berkembang biak. Kesehatan penghuni pekampungan tersebut selanjutnya terganggu oleh keberadaan bakteri dan virus tersebut.

Beberapa peneliti dunia menyampaikan hasil pengamatannya yang menunjukkan bahwa faktor utama untuk meningkatkan harapan hidup adalah sanitasi dan kebersihan yang lebih baik serta nutrisi yang lebih baik. Hal itu menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kondisi lingkungan yang baik terhadap kesehatan masyarakat yang menempati lingkungan tersebut. Salah satu studi tersebut dilakukan oleh John dan Sonja Mc. Kinlay dari Universitas Boston dan Rumah Sakit Umum di Massachusetts. Hasil penelitian mereka seirama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mc. Keown di Eropa, mereka menemukan bahwa penyebab utama menurunnya jumlah kematian di Amerika Serikat sejak tahun 1900 adalah hilangnya sebelas penyakit menular utama: tifoid, cacar, demam scarlet, campak, batuk rejan, difteria, influenza, tuberkulosis, radang paru-paru, penyakit sistem pencernaan, dan poliomielitis. Terdapat pengecualian pada influenza, batuk rejan, dan poliomielitis, semua penyakit menular itu hampir seluruhnya menurun sebelum intervensi medis muncul di tempat kejadian. Penyebab dari semua penyakit tersebut secara umum disebabkan karena sanitasi dan kebersihan yang kurang baik serta nutrisi yang kurang memadai.184

Sepanjang antara tahun 1966-1971 di Semarang dan beberapa kota lainnya di Jawa Tengah terjangkit penyakit kolera.185 Berdasar data yang penulis temukan

184Jeremy Rifkin and Ted Howard, Entropy: Into The Greenhouse World, (Published by Bantam Books, New York, United State America, 1980), hlm. 202.

185Kolera adalah penyakit menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakterium Vibrio Cholerae. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh melalui air minum yang terkontaminasi oleh sanitasi yang tidak benar atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak benar, terutama kerang. Termasuk penyakit dengan resiko kematian yang tinggi apabila tidak ditangani dengan baik dan benar (https://id.wikipedia.org/wiki/Kolera, dikunjungi pada 1 November 2018).

pada data statistik Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang terutama wilayah bagian utara termasuk Tambak Lorok merupakan yang paling banyak terjangkit penyakit ini. Beberapa data yang ada menjelaskan pada tahun 1966 terjadi 227 kasus kolera, tahun 1967 terdapat 134 penderita penyakit yang sama, tahun 1968 meningkat menjadi 163 kasus, tahun 1969 menurun menjadi 133, tahun 1970 meningkat drastis menjadi 321 penderita, dan semakin parah pada tahun 1971 yakni penderita penyakit ini telah mencapai 931 penderita.186 Angka-angka yang cukup besar jumlahnya itu tentu tidak terjadi bila tidak didorong oleh suatu sebab.

Jika diamati dari beberapa sumber informasi pada tahun yang sama, kondisi lingkungan di tempat-tempat yang terdata adanya penderita penyakit tersebut memang ditandai dengan kondisi lingkungan yang kurang sehat dan kondusif untuk perkembangan beberapa mikrobiota pengemban penyakit menular seperti kolera.

Pada bulan Juli-Agustus tahun 1969 ditemukan penderita malaria tidak hanya di Tambak Lorok, tetapi di sepanjang perbatasan antara Semarang dan Demak. Malaria belum sampai menyebar masuk ke Semarang dan masih hanya berada di daerah perbatasan. Penyakit itu menyerang penduduk di daerah permukiman kumuh di sekitar perbatasan tersebut. Semarang menjadi cukup terancam oleh penyakit yang menular ini, sebab beberapa wilayah pinggiran di Semarang pada waktu itu juga dalam kondisi yang rentan terhadap penularan penyakit seperti malaria.187

Pada tahun 1970, beberapa aktivitas negatif masyarakat Tambak Lorok yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya berlangsung beberapa tahun hingga berakumulasi dan melahirkan kekumuhan di Tambak Lorok dan sekitarnya. Hari demi hari membuat Tambak Lorok semakin dikenal dengan label kumuh. Sebuah ironi di kota metropolitan, kota besar yang ternyata salah satu sumber penopang

186Jawa Tengah dalam Angka 1971, (Semarang: Dinas Kesehatan Rakyat Provinsi Jawa Tengah dalam Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Jawa Tengah), hlm. 131.

187“Surveillance Malaria Dilakukan di Desa-Desa Sepanjang Pantai Semarang”, Suara Merdeka, 16 April 1970, hlm. 2.

kebutuhan protein hewaninya berasal dari sebuah perkampungan kumuh.

Kekumuhan tidak hanya semata-mata berdiam diri menjadi sesuatu yang pasif dan tanpa pengaruh. Ia perlahan menjelma menjadi sesuatu yang mengusik ketenangan warga di Tambak Lorok. Kesehatan warga dihantui oleh ancaman penyakit yang siap menyerang kapan saja. Apabila penyakit itu berhasil menyerang pertahanan tubuh setiap individu di wilayah Tambak Lorok tentu akan mengganggu aktivitas sosial dan perekonomian di wilayah tersebut. Pengaruhnya bahkan bisa mencapai pada lingkup yang lebih luas.

Hasil dari pengaruh kekumuhan terhadap kesehatan masyarakat di Tambak Lorok salah satunya ialah mewabahnya malaria. Pada awal tahun 1970, malaria menjalar masuk ke Semarang. Daerah di sepanjang pantai Semarang terutama daerah kumuh di Tambak Lorok dan sekitarnya menjadi tempat-tempat yang paling cepat mengalami penyebaran wabah malaria ini. Wabah itu menyerang sebagian besar permukiman di wilayah pantai Semarang yang kala itu dalam kondisi sangat kondusif bagi perkembangan hidup nyamuk dan serangga-serangga berbahaya lainnya. Walikota Semarang kala itu yaitu Letkol. R. Warsito Soegiarto, segera menerapkan kebijakan demi menangani hal itu. Surveillance malaria segera diadakan di desa-desa sepanjang pantai di Semarang. Lebih dari 133 ribu orang masuk daftar pengawasan, 117 orang sudah dinyatakan positif menderita malaria. Surveillance ini dilakukan dalam rangka untuk memberantas penyakit malaria ini. Tujuan lainnya ialah untuk menangkap beberapa jenis nyamuk antara lain viktor malaria dan anopheles sundaicus di desa-desa Tambak Rejo, Tawang Rajekwesi, Tambak Lorok dan Kemijen. Tambak Lorok dan Tambak Rejo menjadi tempat yang tergolong gawat karena keadaan lingkungan yang sangat rentan menjadi sarang bagi perkembangan nyamuk malaria. Di beberapa desa tersebut kemudian ditempatkan pos-pos pengawasan. Jumlah penduduk dari Kampung Tambak Lorok dan sekitarnya tersebut yang dinyatakan dalam pengawasan tepatnya sebanyak 133.515 orang dan bertempat tinggal dalam

23.221 rumah. Setelah dilakukan pemeriksaan darah kala itu, hasilnya terdapat 117 penderita positif malaria.188

Pada bulan Juni tahun 1970, dua badan kesehatan yang terdiri dari BUPM- DKR (Badan Usaha Penyuluhan Masyarakat - Dewan Kesehatan Rakyat) Provinsi Jateng maupun oleh BUPM-DKK (Badan Usaha Penyuluhan Masyarakat - Dinas Kesehatan Kota) Semarang di bawah pimpinan Dr. Soewondo Ps. berhasil mengumpulkan data-data mengenai perkembangan penyakit malaria di Semarang.

Data tersebut menunjukkan gejala bahwa penyakit tersebut sedang merembes ke daerah pusat Kota Semarang dari daerah sekitarnya yang menjadi tempat bertahannya penyakit selama ini. Kedua dinas itu memutuskan untuk mengadakan usaha-usaha penanggulangan dengan penyemprotan terhadap rumah-rumah yang terdapat banyak penderita penyakit malaria, termasuk di Tambak Lorok yang merupakan salah satu pusat kekumuhan di Semarang. Sekitar 23 desa di Semarang dilibatkan dalam usaha-usaha penanggulangan perluasan penyakit malaria ini.

Penanggulangan penyakit tersebut dilakukan penyemprotan untuk membasmi nyamuk ke beberapa tempat yang terjangkiti dan dimungkinkan bisa tertular oleh penyakit tersebut. Sekitar 11.493 rumah diberi penyemprotan untuk membasmi keberadaan nyamuk malaria, termasuk 890 rumah dalam kompleks asrama Brimob dan B.R. (Banteng Raider). Penyemprotan tersebut seluruhnya menggunakan bahan pestisida sebanyak 8.183 kg. Bahan-bahan itu diperoleh dari DKR Provinsi Jateng dan biaya penyemprotan dipikul bersama oleh Walikota Semarang Letkol. R.Warsito Soegiarto dan DKR Provinsi Jateng. Pemerintah menyerukan kepada seluruh masyarakat yang daerahnya diadakan penyemprotan, untuk turut membantu upaya penyemprotan agar dapat berjalan lancar. Usaha- usaha penyemprotan ini akhirnya dimulai pada tanggal 1 Juni dari daerah Krapyak dan diselesaikan dalam waktu 2 bulan.189

188“Surveillance Malaria”, hlm. 2.

189“Gejala-gejala Malaria Merembes ke Semarang”, Suara Merdeka, 1 Juni 1970, hlm. 2.

Penyakit malaria ini sudah cukup luas mengganggu daerah-daerah pinggiran Kota Semarang. Salah satu artikel Suara Merdeka tahun 1970 memuat pengamatan bahwa kemunculan penyakit itu merupakan akibat penularan oleh orang-orang pengemban bibit penyakit malaria yang keluar masuk Semarang.

Mereka ini berasal dari daerah Kendal, Demak, Purwodadi dan lain-lain yang penyakit ini selalu gigih bertahan disebabkan adanya kekumuhan di beberapa daerah tersebut. Malaria kemudian memasuki Semarang dan menempati tempat- tempat yang layak bagi perkembangannya. Permukiman kumuh di gang-gang pinggiran kota seperti Tambak Lorok merupakan salah satunya. Selain usaha- usaha penyemprotan oleh dinas yang berwenang juga diadakan penangkapan nyamuk untuk memeroleh bukti-bukti ada tidaknya jenis-jenis nyamuk yang lazim merupakan pengemban dan penyebar bibit penyakit malaria ini. Kemudian ditingkatkan dengan pembuatan slide-slide (contoh-contoh darah) dari orang- orang yang demam untuk dicari tahu secara pasti apakah demam itu disebabkan oleh penyakit malaria.190

Lokasi Tambak Lorok merupakan daerah yang lembab karena berada pada daerah peralihan antara darat dan laut. Tambak Lorok sangat rentan menjadi tempat perkembangbiakan serangga dan binatang pembawa penyakit.

Sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya penyakit yang sudah pernah menyerang Tambak Lorok ialah penyakit malaria. Kebiasaan membuang sampah sembarangan yang dilakukan masyarakat turut mendorong penyakit tersebut menyebar ke daerah Tambak Lorok dan sekitarnya ditambah pula upaya sanitasi yang kurang baik di Tambak Lorok, masyarakat di sana masih terbiasa membuang air kecil dan besar di sekitar sungai.

Pada tahun 1970 di Semarang juga marak beberapa kasus penyakit menular lainnya di antaranya ialah penyakit typhus sebanyak 225 kasus.191 Penyakit

190“Gejala-gejala Malaria”, hlm. 2.

191Penyakit typhus umumnya disebabkan karena penderita mengonsumsi makanan yang tidak higienis dan tercemar oleh bakteri salmonella typhi (https://www.halodoc.com/ yang –perlu –diketahui –tentang –penyakit –tipes, dikunjungi pada 1 November 2018).

hepatitis dialami oleh sebanyak 75 penderita.192 Penyakit difteria dialami oleh sebanyak 54 penderita.193 Pada tahun selanjutnya yaitu pada 1971 jumlah tersebut mengalami peningkatan dan sedikit pengurangan di antaranya pada penyakit typhus bertambah menjadi 228 kasus, hepatitis meningkat menjadi 137 dan difteria menurun sedikit menjadi 50 penderita.194 Penyakit-penyakit menular tersebut umumnya disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal yang kurang bersih dan sehat. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa lingkungan yang kurang bersih memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi kesehatan masyarakat yang menempatinya.

Kekumuhan atau lingkungan yang tidak bersih akibat perilaku manusia selain berdampak pada kesehatan secara langsung ternyata juga memengaruhi komposisi yang dikandung oleh tubuh biota laut. Salah satu makanan favorit masyarakat Kota Semarang turut mengalami hal tersebut pada tahun 1973.

Kekumuhan yang terbentuk oleh kebiasaan negatif masyarakat di perkampungan pesisir Tambak Lorok dan sekitarnya turut memberi andil terhadap perubahan kondisi ekosistem laut. Pada tahun 1973, terdapat berita bahwa sejak beberapa hari di awal tahun itu, para penggemar sate kerang di Kota Semarang merasakan adanya rasa pahit pada sate kerang yang dijajakan oleh penjual sate di kota ini.

Kerang yang dijajakan di Semarang, sebagian besar berasal dari tangkapan para nelayan Tambak Lorok, sebab Tambak Lorok merupakan salah satu perkampungan nelayan yang cukup besar dan terkenal di Semarang. Semula diduga, bahwa rasa pahit dari kerang tersebut adalah akibat kekeliruan bumbu

192Salah satu jenis dari penyakit menular hepatitis yaitu hepatitis E penularannya bisa disebabkan oleh sanitasi yang kurang baik dan virus hepatitis E kemudian mencemari airnya (https://www.alodokter.com/hepatitis.html, dikunjungi pada 1 November 2018).

193Penularan difteria salah satunya melalui sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteria di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga (https://www.alodokter.com/difteri, dikunjungi pada 1 November 2018).

194Jawa Tengah 1971, hlm. 130.

pada salah seorang penjual, tetapi ternyata rasa tidak sedap tersebut merata pada hampir semua penjual sate kerang di Semarang. Jelaslah bahwa hal tersebut bukan karena kesalahan bumbu, melainkan memang dari asal kerangnya. Masyarakat memerkirakan kerang yang didapat dari dasar laut di pantai itu mengandung rasa tersebut akibat adanya kotoran dari daratan yang semakin bertumpuk di pantai, terutama pantai di dekat kota. Pada waktu itu baru-baru saja diketahui bahwa di Jepang muncul suatu jenis penyakit baru yang disebut "Minamata Disease”, suatu penyakit yang berasal dari ikan laut yg terkena kotoran industri atau limbah yang dibuang kelaut.195 Hal itu membuat masyarakat Semarang semakin khawatir.

Masyarakat waktu itu semakin menilai bahwa pemerintah seperti kurang memedulikan masyarakat dalam masalah pengelolaan lingkungan. Masyarakat merasa dianggap sebagai pihak yang kurang memiliki akses informasi dalam setiap aktivitas pengelolaan lingkungan, sehingga pemerintah dapat dengan bebas membuat proyek atau program pengelolaan lingkungan yang bisa menambah pendapatan negara tanpa memerdulikan keadaan rakyatnya. Kondisi demikian membuat masyarakat merasa bahwa mereka selalu menjadi korban.196

Satu tahun kemudian yaitu tahun 1974, kondisi di atas masih terus berlanjut.

Tahun ini peningkatan pendapatan negara terus dilakukan dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada. Aktivitas produksi perikanan ditingkatkan dengan teknologi motor tempel. Motorisasi perahu nelayan ini berlangsung mulai tahun 1974. Selain menjadi solusi, ternyata hal itu juga menimbulkan masalah pada beberapa waktu selanjutnya. Air di sekitar dermaga perlahan mulai berubah berwarna hijau keruh tercampur dengan limbah bahan bakar yang terbuang, sampah-sampah yang mengapung, bangkai-bangkai ikan yang berserakan dan puluhan kapal-kapal yang tak tertata rapi semakin memerkeruh pemandangan dan air laut. Kenyamanan juga terganggu oleh bau busuk yang bertebaran di sekitar TPI dan dermaga di Tambak Lorok. Pengunjung atau pendatang dari luar yang

195“Kerang di Semarang Kena Polusi Laut”, Suara Merdeka, 26 Mei 1973, hlm.1.

196“Masyarakat Masih Sering Jadi Korban Pencemaran Lingkungan”, Kompas, 5 Juli 1995, hlm. 3.

berkunjung ke dermaga kapal dan tidak tahan terhadap bau yang menggangu tersebut biasanya akan berusaha menutup hidung mereka dengan tangan untuk mencegah bau yang kurang sedap agar tidak terhirup bebas. Berbeda dengan para nelayan dan orang-orang yang tinggal di sekitar Tambak Lorok, mereka tidak menutup lubang hidung dengan alat-alat seperti masker penutup alat pernapasan.

Mereka sangatlah terbiasa dengan bau-bau yang kurang sedap dan kurang sehat tersebut, terbukti dari orang-orang yang bersantai ria di pinggiran bantaran sungai seakan menghirup udara segar.

Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan sangat kurang sehingga masih banyak ditemui berbagai macam penyakit seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan), penyakit kulit, dan diare. Banyaknya genangan air di sekitar perkampungan akibat rob yang mulai melanda Tambak Lorok menyebabkan masyarakat rentan terhadap penyakit-penyakit kulit, pernapasan dan pencernaan.197

Pada tahun 1980, masyarakat mulai menilai bahwa kondisi lingkungan hidup kini sudah semakin gawat. Terkait hal itu, dibentuklah sebuah panitia acara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masalah lingkungan hidup.

Panitia tersebut diberi arahan secara langsung oleh Sekretaris Wilayah Daerah Provinsi Jawa Tengah yaitu Soeparno. Soeparno menilai, keadaan kualitas lingkungan yang menurun di beberapa tempat di Jawa Tengah. Salah satunya tentu di Semarang yang masih terdapat kekumuhan di Tambak Lorok. Ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, melalui upaya peningkatan kesadaran terhadap kesehatan lingkungan tempat tinggal. Pantia tersebut berharap tujuan peningkatan kesehatan masyarakat dapat tercapai dengan adanya kesadaran masyarakat terhadap permasalahan lingkungan yang sedang terjadi kala itu.198

197Wawancara dengan Jumani, 7 Agustus 2017. Ia adalah seorang pegawai di Kantor Kelurahan Tanjung Mas yang lahir di Tambak Lorok.

198“Lingkungan Hidup Sekarang Sudah Mendekati Gawat”, Suara Merdeka, 3 Juli 1980, hlm. 2.

Berbagai upaya untuk menanggulangi dan memerbaiki kondisi kesehatan masyarakat terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang. Bagi Semarang kebutuhan akan kesehatan adalah merupakan tanggung jawab dari, oleh, dan untuk semua masyarakat. Salah satu harapan Semarang dalam bidang kesehatan pada tahun 1982 ialah untuk mewujudkan kesehatan bagi semua masyarakat pada beberapa tahun yang akan datang yaitu sampai tahun 2000. Demi mewujudkan harapan itu, untuk melayani setiap keluhan penyakit bagi penderita di seluruh wilayah Semarang Utara terdapat 7 klinik KB (Keluarga Berencana) salah satunya berada di kelurahan Rejomulyo, 1 rumah sakit umum, 15 Balai Pengobatan, 7 BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak), 7 buah Puskesmas, 72 dokter praktek swasta, 77 orang bidan praktek, 1 buah rumah sakit jiwa, 76 orang tenaga dokter, 272 orang tenaga perawat, 34 dukun bayi dan 4 orang dukun sunat. Tenaga kesehatan yang telah disebutkan itu tersedia untuk melayani penduduk di wilayah Semarang Utara khususnya yang berjumlah 174.780 jiwa pada tahun tersebut.199

Meskipun upaya peningkatan pelayanan kesehatan dilakukan oleh pemerintah Kota Semarang, tetapi pola hidup dan kebiasaan kurang sehat sebagian masyarakat masih selalu ada. Mengubah perilaku kurang baik yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun dan turun temurun di tengah masyarakat memang merupakan tugas bersama yang masih perlu diselesaikan oleh berbagai pihak terkait di Semarang. Ketika kebiasaan hidup bersih sudah merata tertanam dalam pribadi setiap individu warga Semarang sampai pada mereka yang ada di gang-gang sempit seperti di Tambak Lorok, maka harapan Semarang menjadi kota yang sehat akan dapat terwujud.

Harapan selalu saja harus dicapai melalui berbagai rintangan. Pada tahun 1984, masyarakat di Tambak Lorok dan sekitarnya kembali diuji dengan adanya wabah penyakit kolera. Wabah ini tidak hanya terjadi di Semarang, tetapi beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah juga mengalami hal yang sama. Namun demikian, beberapa kota di Jawa Tengah yang memiliki jumlah penderita kolera yang tertinggi ialah Kota Semarang dan Kabupaten yang berada persis di sebelah

199Semarang Utara dalam Angka Tahun 1982 (Semarang: Badan Pusat Statistika Kota Semarang, 1982), hlm. 7.

timur kota itu yakni Kabupaten Demak. Terdapat 1.439 jiwa di Semarang yang di dominasi berasal dari Semarang Utara menderita penyakit kolera dan 15 orang meninggal karena penyakit ini pada tahun 1984, sedangkan di Kabupaten Demak terdapat 1.365 penderita kolera dan sembilan orang meninggal dunia pada tahun itu. Beberapa daerah lainnya seperti Kabupaten Semarang, Salatiga, Kendal dan Grobogan terdapat kasus kolera, namun tidak separah dua kota tersebut. Rincian jumlah penderita di beberapa daerah tersebut ialah, terdapat sebanyak 19 orang menderita kolera di Kabupaten Semarang, satu penderita di Salatiga, 445 penderita di Kendal dengan jumlah sembilan orang penderita meninggal dunia dan 186 penderita di Grobogan dengan tiga orang meninggal dunia.200 Menurut pemetaan data penyakit menular di Kota Semarang yang dilakukan oleh Nurwinda dan rekan-rekannya, Kecamatan Semarang Utara merupakan wilayah yang memiliki tingkat penyebaran penyakit menular sangat tinggi. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang sangat kondusif bagi perkembangan penyakit menular seperti demam berdarah, diare, dan tubercolusis.201

Kondisi sosial-ekonomi masyarakat Tambak Lorok yang tergolong dalam menengah ke bawah menjadi semakin terbebani ketika kesehatan salah satu anggota keluarga mereka terganggu. Hal ini terkait dengan mata pencaharian penduduk yang sebagaian besar sebagai nelayan. Penghasilan sebagai nelayan tidak seberapa besar, apalagi ketika ada nelayan yang jatuh sakit maka ia tidak dapat melaut. Apalagi ketika rob sudah mulai merusak bangunan rumah-rumah mereka, kekumuhan juga memberi dampak di sisi lain yang juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Tambak Lorok. Dampak kekumuhan dapat kita lihat ternyata tidak hanya memengaruhi kesehatan masyarakat di Tambak Lorok saja, tetapi juga merembes ke daerah di sekitarnya. Hal ini

200Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Semarang dalam Angka Tahun 1984 (Semarang: Badan Pusat Statistika Kota Semarang, 1984), hlm. 81.

201Nurwinda Latifah H, dkk. “Pemetaan Data Penyakit Menular di Kota Semarang” (lib.geo.ugm.ac.id/ojs/index.php/jbi/article/download/176/173, dikunjungi pada 26 Februari 2019).

menujukkan kepada kita, bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.