EKONOMI SEIMBANG
B. Menangkal Masalah Ekonomi dengan Dharma
Membaca
sekunder. Dalam operasionalnya, gaya hidup dan pola konsumsi manusia akan mengikuti kebudayaan, tuntutan zaman, pengaruh lingkungan sekitar, efek media, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemudahan yang dirasakan untuk mem peroleh ke butuhan hidup meng- gunakan teknologi membuat pergeseran peradaban dan perubahan sosial dari yang semula bersifat tradisional mengarah kepada modernisasi.
Masalahnya ialah tidak semua orang mampu mengendalikan diri supaya tidak terjebak dalam kesenangan indra secara berlebihan. Budaya konsumtif merupakan sebuah keperihatinan karena cenderung merugikan dari sisi pelakunya. Konsumerisme dapat menyebabkan hidup boros, malas bekerja, rendahnya daya juang serta nilai-nilai penting dalam kehidupannya.
Perilaku-perilaku demikian dapat terus meluas dan menjadi masalah yang lebih besar karena dapat menjadi salah satu indikasi kemerosotan moral anak bangsa.
Fenomena perilaku konsumtif merupakan perilaku yang cenderung bersifat mengharapkan sesuatu yang instan. Menurut Rohman (2016:238) perilaku konsumtif adalah perilaku yang mencerminkan “serba-instan,” atau perilaku yang tidak mengindahkan proses, bahkan tidak peduli dengan proses. Perilaku konsumtif juga sering dilawankan dengan perilaku produktif. Bahkan, konsumtif cenderung mengarah pada gaya hidup glamor, boros, dan hedon.
Budaya konsumtif di kalangan pelajar perlu ditanggulangi. Ajaran Buddha tentang Hukum Empat Kebenaran Mulia dan Tiga Corak Universal dapat dijadikan sebagai cara untuk menghadapi permasalahan budaya konsumtif. Empat Kebenaran Mulia yang terdiri atas dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Tiga Corak Universal yang terdiri atas corak ketidakkekalan (anicca), ketidakpuasan (dukkha), dan tanpa inti diri (anatta) merupakan satu kesatuan ajaran yang dapat digunakan untuk memaknai permasalahan perekonomian, salah satunya tentang budaya konsumtif.
Gambar 5.6 Ilustrasi Generasi Sadar Investasi
1. Menangkal Budaya Konsumtif dengan Prinsip Empat Kebenaran Mulia
Pemahaman nilai-nilai umum Hukum Empat Kebenaran Mulia dalam memaknai masalah ekonomi adalah sebagai berikut.
a. Kebenaran tentang Dukkha
Budaya konsumtif dipahami sebagai penderitaan yang berdampak buruk dan kompleks sehingga perlu dihentikan. Dampak buruk ini misalnya terganggu kegiatan belajar peserta didik karena lebih fokus pada keinginan untuk menghambur-hamburkan uang sehingga mengakibatkan kegiatan belajar terganggu.
b. Kebenaran tentang Sebab Dukkha
Pada tahap ini pelajar merefleksi penyebab munculnya budaya konsumtif dalam diri kita sehingga dapat menemukan cara untuk menghentikannya.
Umumnya, penyebab munculnya budaya konsumtif ialah keinginan dan keserakahan yang tidak terkendalikan. Selain itu, gaya hidup, gengsi, lingkungan, dan teknologi juga dapat menjadi penyebab seseorang memiliki budaya konsumtif.
c. Kebenaran tentang Lenyapnya Dukkha
Pada tahap ini, dipahami bahwa masalah budaya konsumtif dapat dihentikan sehingga muncullah pola hidup seimbang. Lenyapnya perilaku ini dapat membawa kebahagiaan dan keuntungan pada diri kita karena terbebas dari segala permasalahan yang dapat ditimbulkan dari budaya konsumtif.
d. Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha
Jalan untuk menghentikan perilaku konsumtif ialah dengan budaya hidup seimbang, hidup sederhana, memiliki pengendalian diri, dan tidak mengembangkan keserakahan.
2. Menangkal Budaya Konsumtif dengan Tiga Corak Universal
Pemahaman nilai-nilai umum Tiga Corak Universal dalam menangkal permasalahan ekonomi khususnya budaya konsumtif, dapat dijabarkan sebagai berikut.
a. Corak Ketidakkekalan (Anicca)
Pada corak ini, kita menyadari bahwa kondisi kehidupan tidaklah kekal, mengalami perubahan, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan.
Begitu juga dengan barang-barang apa yang kita inginkan maupun sudah kita miliki, semuanya juga mengalami perubahan. Berdasarkan pemahaman pada fakta ini, kita menyadari bahwa keinginan untuk memuaskan indra dengan membeli berbagai macam barang, pada dasarnya mengarah pada kondisi yang akan mengalami perubahan. Kondisi itu tidak bertahan lama.
Oleh sebab itu, hendaknya kita memiliki sikap yang bijaksana terhadap segala sesuatu.
b. Corak Ketidakpuasan (Dukkha)
Corak ketidakpuasan (dukkha) mengajarkan kepada kita untuk memiliki pemahaman bahwa apa yang kita miliki juga akan membawa penderitaan yang baru. Jika barang yang diinginkan dapat dimiliki, kita merasa bahagia.
Akan tetapi, jika tidak dapat dimiliki, kita merasa sedih; jika rusak atau hilang, kita juga menjadi sedih. Kebahagiaan karena memiliki apa yang kita sukai tidak bisa dipertahankan secara permanen. Semuanya mengalami perubahan, suka dan duka. Berdasarkan pemahaman pada fakta tersebut, kita menyadari bahwa keinginan untuk memuaskan indra dengan membeli berbagai macam barang, pada dasarnya mengarahkan kita pada kondisi yang akan membuat kita mengalami ketidakpuasan. Oleh sebab itu, hendaknya kita bersikap bijaksana terhadap segala sesuatu.
c. Corak Tanpa Inti Diri (Anatta)
Corak tanpa inti diri (anatta) menjelaskan bahwa kondisi kehidupan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan perpaduan dari berbagai aspek. Orang yang tidak menyadari kebenaran ini akan cenderung mementingkan diri sendiri dan egois, serta menganggap bahwa apa yang diinginkannya harus tercapai. Sepanjang kita menganggap memiliki diri, sikap “aku-punyaku- milikku” akan menguasai hidup kita dan membawa berbagai macam masalah. Berdasarkan pemahaman pada fakta tersebut, kita menyadari bahwa keinginan untuk memuaskan indra dengan membeli berbagai macam barang pada dasarnya akan mengarahkan kita pada sikap egois. Oleh sebab itu, hendaknya kita memiliki sikap bijaksana terhadap segala sesuatu.
Dengan demikian, kita dapat menghadapi situasi sehari-hari dengan lebih baik dan membantu kemajuan menuju kebahagiaan sejati atau pencerahan.
Berdiskusi
Diskusikan bersama teman kalian atau carilah referensi dari berbagai sumber!
1. Sebagai pelajar, bagaimana pemahaman kalian mengenai nilai-nilai umum Tiga Corak Universal dalam memaknai budaya konsumtif?
2. Bagaimana dampak budaya konsumtif bagi pelajar?
3. Bagaimana peran nilai-nilai agama Buddha dan Pancasila dasar negara dalam menghadapi budaya konsumtif?
Aktivitas Peserta Didik
Buddha bersabda tentang kesederhanaan kepada para siswa:
“Makanlah sedikit saja dan sederhanalah dalam hal makan. Dengan sedikit keinginan dan bebas dari ketamakan, dia tidak terserang penyakit keinginan. Dia berada dalam keadaan tanpa nafsu dan tenang.” (Sutta Nipata 707, Khuddaka Nikāya)