• Tidak ada hasil yang ditemukan

Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 139-143)

MENJADI PELAJAR MODERAT

C. Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah

Membaca

Moderasi beragama di lingkungan sekolah penting untuk dibudayakan sebagai upaya dalam membentengi generasi muda dari paham radikalisme dan kekerasan. Radikalisme dan kekerasan dalam konteks moderasi beragama dapat dipahami sebagai suatu ideologi dan paham dari individu atau kelompok menggunakan cara-cara kekerasan dengan mengatasnamakan agama untuk melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik. Kekerasan yang dilakukan dapat melalui kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun pikiran.

Ini merupakan dampak yang sangat mengerikan jika tidak dipahami sejak dini. Oleh sebab itu, sekolah menjadi salah satu basis pendidikan moderasi beragama yang harus didukung oleh semua pihak.

Toleransi di lingkungan sekolah harus terus dibina agar kejadian intoleransi tidak terjadi. Semua warga sekolah yang berbeda suku, agama, etnis, dan golongan dapat saling mendukung sebagai manusia. Generasi muda harus disiapkan dan dibekali tidak hanya dengan intelektualitas saja, tetapi juga emosionalitas dan spiritualitas yang baik. Semua warga sekolah memiliki tanggung jawab bersama dalam mengawasi institusinya. Sekolah harus inklusif tidak boleh eksklusif supaya tidak muncul benih-benih intoleransi dan radikalisme. Hal ini mengingatkan kita bersama betapa pentingnya penyadaran, penanaman, serta implementasi sikap dan perilaku kebangsaan di lingkungan sekolah.

Pelajar Indonesia harus memiliki sikap berkebinekaan global agar mampu menerima kemajemukan yang ada di Indonesia, bahwa keragaman adalah kenyataan hidup yang tak bisa dihindari. Dengan memiliki sikap moderasi beragama yang baik, pelajar Indonesia sudah memiliki salah satu indikator berkebinekaan global. Pelajar Indonesia harus memandang

bahwa kebinekaan sebagai kekayaan budaya dan bukan ancaman, sehingga memiliki modal penting untuk dapat hidup bersama dengan orang lain yang berbeda agama maupun berbeda aliran agamanya. Pelajar Indonesia yang memiliki rasa bertanggung jawab dan aktif berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan dunia akan menjauhkannya dari intoleransi dan radikalisme global.

Gambar 6.7 Contoh para pelajar rukun

Sumber: http://www.polresprobolinggokota.com

Intoleransi dan radikalisme menjadi isu global yang harus diselesaikan bersama. Kalian juga harus mengambil peran dan bagian. Memiliki pandangan benar dan memahami Tiga Corak Universal menjadi salah satu cara dalam memaknai masalah isu global serta upaya menghadapinya. Dalam Mahasatipatthana, Digha Nikāya Buddha menjelaskan bahwa pandangan benar adalah pengetahuan mengenai adanya dukkha, penyebab dukkha, penghentian dukkha, dan jalan menghentikan dukkha. Pandangan benar yang sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia dalam memaknai permasalahan intoleransi dan radikalisme, dijabarkan sebagai berikut.

1. Pandangan Benar tentang Dukkha

Pelajar menyadari dampak buruk dari sikap ekstremisme yang dapat memunculkan sikap intoleransi, radikalisme, perpecahan, permusuhan, kebencian, dan tindakan-tindakan yang dapat mengancam keutuhan NKRI dan menghambat kebinekaan global sehingga perlu diatasi.

2. Pandangan Benar tentang Dukkha

Pelajar merefleksi penyebab munculnya sikap ekstrem beragama dalam diri sendiri sehingga menemukan cara untuk menghentikannya. Selain itu, harus menerima keragaman yang terdapat di Indonesia dan tidak menganggap diri sendiri paling benar.

3. Pandangan Benar tentang Lenyapnya Dukkha

Pada tahap ini, pelajar menyadari bahwa sikap ekstrem yang berdampak pada intoleransi dan radikalisme dapat dilenyapkan pada diri setiap individu.

Sikap ini memunculkan kondisi kehidupan yang damai, rukun, toleran, dan saling menghargai serta memperlakukan satu sama lain dengan penuh cinta kasih. Lenyapnya paham ektrem membawa kebahagiaan hidup bagi diri sendiri maupun masyarakat luas.

4. Pandangan Benar tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha Pelajar memiliki kesadaran bahwa terdapat jalan untuk menghentikan sikap ekstrem beragama, yaitu dengan moderasi beragama. Moderasi beragama harus disadari, ditanamkan, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehingga berkembang cinta kasih, kedamaian, dan toleransi sebagai wujud kebinekaan global.

Dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai agama Buddha dan Pancasila dasar negara supaya kalian menjadi pelajar yang memiliki kebinekaan global, pemahaman nilai-nilai umum Tiga Corak Universal dalam menangkal permasalahan global khususnya intoleransi, dijabarkan sebagai berikut.

1. Corak Ketidakkekalan (Anicca)

Manusia sebagai makhluk sosial selalu mengalami perubahan dalam kehidupan. Kita tidak dapat hidup sendiri, tetapi terus berdampingan dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa kita akan selalu berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain yang memiliki perbedaan dengan kita. Kita tidak akan bisa dan tidak akan mungkin hidup tanpa orang lain, apalagi sebagai seorang pelajar. Berdasarkan fakta bahwa kehidupan ini tidak kekal dan akan selalu mengalami perubahan, penting bagi kita untuk hidup rukun dengan siapa pun, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

2. Corak Ketidakpuasan (Dukkha)

Segala bentuk intoleransi dan radikalisme membawa penderitaan, baik bagi pelaku maupun korban. Masyarakat tidak akan hidup damai jika mereka hidup di tengah masyarakat berkonflik. Begitu juga dengan lingkungan sekolah, kalian tidak akan dapat belajar dan menempuh pendidikan dengan baik dan berprestasi jika situasi dan kondisi di sekolah tersebut tidak bisa memberikan kenyamanan dan rasa aman. Berdasarkan fakta tersebut, kita harus menyadari bahwa tidak ada untungnya menebar kebencian dan antimoderasi beragama. Justru dengan mengedepankan moderasi beragama, kehidupan kita akan menjadi berkualitas.

3. Corak Tanpa Inti Diri (Anatta)

Hidup merupakan rangkaian kesinambungan dari berbagai aspek. Tidak ada inti maupun diri yang patut dibanggakan, termasuk seberapa kuat dan hebatnya diri kita dalam semua aspek kehidupan. Berdasarkan pemahaman tersebut, kita menyadari bahwa keinginan untuk intoleransi dan radikal pada dasarnya mengarah pada sikap egois. Oleh sebab itu, hendaknya kita membantu kemajuan menuju bangsa Indonesia yang berkarakter. dengan memiliki sikap bijaksana terhadap segala sesuatu dan dapat menghadapi situasi sehari-hari dengan lebih baik.

Berdiskusi

Berdasarkan materi tentang Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah, diskusikan dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Apakah pelajar harus memiliki sikap moderasi beragama?

2. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Apa dampak bagi bangsa ini jika generasi muda tidak memiliki moderasi beragama?

3. Bagaimana aksi nyata sikap moderasi beragama yang telah kalian lakukan di sekolah?

Aktivitas Peserta Didik

Membaca

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 139-143)