Orang Buta dan Gajah
B. Mengatasi Masalah dalam Pendekatan Buddhis
1. Apakah kalian pernah mengalami masalah?
2. Mengapa masalah terjadi dalam diri kalian?
3. Bagaimana cara kalian menyelesaikan masalah tersebut?
4. Tindakan apa yang perlu kalian lakukan agar masalah tersebut tidak muncul kembali?
Aktivitas Peserta Didik
Dharma tidak hanya menganjurkan untuk menghentikan segala kejahatan dan meningkatkan kebaikan. Dharma mengajarkan tentang pemurnian batin. Pemurnian batin merupakan akar dari segala kebaikan, serta sebab terjadinya kebahagiaan. Ajaran Buddha adalah sistem pelatihan batin yang paling lengkap dan efektif di dunia.
Inspirasi Dharma
Membaca
kebenaran mulia, yaitu: 1) Kebenaran mulia tentang penderitaan (Dukkha);
2) Kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan (Dukkha samudaya);
3) Kebenaran mulia tentang akhir penderitaan (Dukkha Nirodha); dan 4) Kebenaran mulia tentang jalan yang menuju akhir penderitaan (Dukkha Nirodagaminipatipada) (Dhammacakkapavattana Sutta, Samyutta Nikāya).
Cara mengatasi masalah atau problem yang timbul dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan melalui pendekatan Ajaran Buddha, yaitu dengan belajar Ajaran Buddha (pariyatti Dharma) dan mempraktikkan Ajaran Buddha (pattipati Dharma) agar dapat mengatasi problem atau masalah yang timbul tersebut.
Salah satu esensi Ajaran Buddha yang mendasari untuk mengatasi masalah ialah dengan cara berpikir kritis seperti yang tersirat dalam empat kesunyataan mulia. Cara berpikir kritis yang terdapat dalam empat kebenaran mulia, yaitu: memahami suatu masalah, melenyapkan sumber masalah, merealisasi terhentinya masalah, dan mengembangkan jalan menuju terhentinya masalah.
1. Memahami Suatu Masalah
Dalam kehidupan ini semua manusia tidak bisa lepas dari masalah. Dalam ajaran Buddha adanya masalah dalam kehidupan adalah hal yang wajar.
Buddha mengajarkan ajaran bahwa hakikat kehidupan ini adalah penderitaan (dukkha). Dengan memahami hal ini maka ketika masalah terjadi sebaiknya memahami sebagai sesuatu yang wajar. Ketika merasa wajar mengalami masalah, maka akan menanggapi masalah dengan tidak sedih berlarut-larut.
Masalah dan kesulitan akan menjadi bagian dari pengalaman hidup yang menjadikan manusia makin dewasa. Hidup manusia selalu berubah atau silih berganti dengan delapan kondisi duniawi yaitu untung, rugi, tenar, cemar, dipuji, dicela, suka, dan duka (Anggutara Nikāya VIII.6).
2. Menemukan Sumber Masalah
Buddha menekankan mengenai tanggung jawab manusia atas penderitaan di dunia. Buddha menyatakan sumber dari dukkha adalah keinginan. Orang yang diliputi keinginan tak pernah merasakan puas, banyak masalah dalam hidupnya. Orang yang mempunyai keinginan cenderung tamak sehingga menginginkan banyak hal sehingga tak segan berbuat kejahatan dan menciptakan masalah baru bagi dirinya dan orang lain.
Orang yang berusaha memuaskan nafsu keinginan ibarat memberi air garam kepada orang yang haus. Semakin minum akan bertambah haus dan dahaganya tak pernah hilang. Orang yang memuaskan nafsu keinginan, ketamakan akan tumbuh makin kuat, mudah kecewa, putus asa, sedih, frustasi dan banyak diliputi permasalahan. Selalu berusaha untuk melekatkan diri pada nafsu indera sebenarnya melestarikan penderitaan.
3. Cara Menyelesaikan Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, orang selalu berusaha untuk memenuhi dan memuaskan “keinginan” agar mencapai kebahagiaan. Akan tetapi, ketika melakukan sesungguhnya melekatkan diri pada hal-hal yang sebenarnya tidak stabil, berubah terus menerus dan tidak permanen. Buddha mengajarkan kepada para siswa bahwa segala sesuatu selalu berubah atau mengalami ketidakkekalan (anicca). Begitu juga masalah akan mengalami perubahan, akan berakhir.
Salah satu cara mengakhiri masalah ialah dengan tidak menjadikan permasalahan sebagai masalah. Orang cenderung mempermasalahkan hal yang sebenarnya bukan masalah. Buddha pernah berkata kepada para siswa
“Apa pun yang engkau pikirkan, itu akan lain jadinya.”(Sutta Nipata 3.12, Khuddhaka Nikāya, Sutta Pitaka). Maksudnya, orang yang terlalu banyak memikirkan masalah dengan berlebihan, terlalu banyak berasumsi, masalah tersebut akan makin membuatnya menderita.
4. Menjalankan Cara Menyelesaikan Masalah
Buddha telah memberikan jalan menuju akhir dukkha yang disebut satu jalan berunsur delapan. Satu jalan berunsur delapan bisa menjadi tuntunan dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial maupun pribadi. Ini merupakan solusi yang tepat jikalau “keinginan” adalah penyebab penderitaan, maka jalan penghentian penderitaan adalah dengan cara meninggalkannya, melepaskannya atau membiarkannya lenyap. Inilah yang sebenarnya merupakan tujuan dari jalan Buddha, dengan pencapaian kebahagiaan tertinggi (nibbana).
Gambar 3.5 Anak diliputi masalah
Salah satu Dharma yang bisa pelajari dan praktikkan untuk mengatasi masalah dengan lima kekuatan (pañcabala). Jika seseorang bisa memiliki dan mempraktikkan lima kekuatan tersebut, maka ketika ada masalah timbul, tidak akan membuat orang tersebut menderita. Lima kekuatan ini juga bisa digunakan untuk mengatasi rintangan batin dan mencapai tujuan hidup agar terbebas dari penderitaan.
Lima kekuatan (pañcabala) yaitu sebagai berikut.
a. Kekuatan keyakinan (saddhabala)
Ini adalah kekuatan pertama yang perlu dimiliki yaitu adanya keyakinan.
Keyakinan yang harus dimiliki umat Buddha yaitu keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha, dan jalan pembebasan (nibbana).
b. Kekuatan semangat (viriyabala)
Semangat sangat diperlukan untuk mendukung keyakinan yang sudah dimiliki. Semangat yang dimaksudkan adalah bersemangat dalam menghindari hal-hal yang buruk, dan bersemangat dalam mengembangkan hal-hal yang baik, berdaya upaya, berhasrat teguh, dan tidak menelantarkan tugas pada hal-hal yang baik.
c. Kekuatan perhatian (satibala)
Pengembangan perhatian dapat dilakukan dengan cara berhati-hati dalam bertindak, berhati-hati dalam berucap, dan memiliki perhatian pada apa yang sedang dilakukan. Apabila mempunyai perhatian yang penuh, kalian tidak akan mudah terserang oleh kekotoran batin dan perbuatan jahat.
d. Kekuatan konsentrasi (samadhibala)
Dengan kekuatan konsentrasi, meditasi dapat mengendalikan pikiran.
Semua perbuatan baik maupun buruk bersumber pada pikiran. Dengan melatih pikiran untuk berkonsentrasi, sama halnya dengan memupuk kesadaran. Pikiran yang terkonsentrasi dengan kuat dan terpusat pada suatu objek (jhana) akan lebih mudah diarahkan untuk melakukan hal-hal yang baik dan menghindari hal-hal yang buruk.
e. Kekuatan kebijaksanaan (paññabala)
Kebijaksanaan adalah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mengetahui mana yang berguna dan mana yang tidak berguna. Dalam hal ini, dengan memiliki kekuatan kebijaksanaan, kita akan mampu untuk menyadari muncul dan lenyapnya batin dan jasmani (Aṅguttara Nikāya III.10, Sutta Pitaka).
Lima kekuatan tersebut, apabila dilaksanakan dengan benar, akan dapat memperkuat batin untuk berani dan kuat dalam menghadapi segala permasalahan dan problem yang timbul dalam kehidupan. Kita bisa berani dan kuat karena telah memiliki keyakinan terhadap Dharma, semangat yang tak tergoyahkan, perhatian yang tepat, pikiran yang terkonsentrasi, dan kebijaksanaan yang luhur.
Hendaknya, seseorang seperti batu karang yang tak tergoyahkan oleh badai ombak yang menerjang.
Demikian juga halnya dalam kehidupan, seseorang haruslah tetap tegar dan tenang dalam menghadapi fenomena yang terjadi.
(Dhammapada, Pandita Vagga, Gatha 81))
Inspirasi Dharma
1. Identifikasikan satu masalah yang pernah kalian alami di sekolah!
2. Analisis permasalahan tersebut berdasarkan pendekatan empat kebenaran mulia!
3. Bagaimana cara menjalani kehidupan agar bebas dari masalah?
Aktivitas Peserta Didik
Membaca
Bacalah kisah berikut dengan saksama!