• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menjaga Keseimbangan Intelektual dan Spiritual

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 167-172)

MENJAGA KESEIMBANGAN MORAL

C. Menjaga Keseimbangan Intelektual dan Spiritual

dalam perilaku yang demikian karena hanya akan fokus pada kesenangan semata tanpa memikirkan masa depan. Peserta didik juga tidak akan dapat belajar dan menempuh pendidikan dengan baik apalagi berprestasi.

Berdasarkan pemahaman pada fakta ini, harus disadari bahwa tidak ada untungnya melakukan perbuatan tidak bermoral, Namun, dengan mengedepankan moralitas, kehidupan akan menjadi berkualitas.

3. Corak Tanpa Inti Diri (anatta)

Berdasarkan pemahaman pada fakta ini, kita menyadari bahwa keinginan untuk menjadikan pergaulan bebas dan perilaku buruk lainnya sebagai gaya hidup dan menyebabkan kemerosotan moral pada remaja pada dasarnya mengarah pada sikap keakuan, Dengan demikian, hendaknya kalian memiliki sikap bijaksana terhadap segala sesuatu dan dapat menghadapi situasi sehari-hari dengan lebih baik. Dengan berperilaku demikian kalian sudah membantu kemajuan menuju bangsa Indonesia yang berkarakter dan membuat masa depan yang cerah.

Berdiskusi

Berdasarkan materi tentang Menjadi Remaja Bermoral, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Mengapa pelajar harus memiliki sikap moralitas yang baik?

2. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa ini. Apakah dampak bagi bangsa ini jika generasi muda tidak memiliki masa depan yang baik?

3. Bagaimana implementasi moralitas yang telah kalian lakukan di sekolah, demi mewujudkan masa depan yang cerah?

Aktivitas Peserta Didik

Membaca

intelektual ini berkaitan erat dengan kesadaran akan ruang, kesadaran terhadap sesuatu yang tampak, serta penguasaan seseorang pada matematika dan logis sistematis. Wujud kecerdasan intelektual adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri pada hal-hal baru dengan menggunakan pikirannya sesuai tujuan yang ingin dicapainya sehingga tindakannya dapat terarah, dan dipikirkan dengan baik.

Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk menghadapi setiap persoalan yang ada dan mencari solusi dari setiap persoalan tersebut.

Kecerdasan inilah yang menilai bahwa tindakan atau jalan hidup yang kita jalani lebih bermakna dibandingkan dengan orang lain. Tanda dari orang yang memiliki kecerdasan spiritual dengan baik ialah kemampuan mereka untuk mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya disertai dengan kesadaran yang benar, hidup dengan tujuan yang jelas, dan mengerti tentang arti dari hidupnya sendiri.

Kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan spiritual agar terjadi keseimbangan. Orang yang cerdas secara intelektual harus memiliki moralitas yang baik agar dapat menggunakan kecerdasan yang dimilikinya dengan baik.

Oleh sebab itu, kecerdasan spiritual harus menjadi dasar dari kecerdasan intelektual.

Misalnya, pelajar Buddhis yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata terpilih mengikuti kompetisi sains nasional

maupun lomba-lomba yang bersifat keagamaan karena sudah melalui seleksi dari sekolah maupun lembaga yang berwenang. Ketika bertanding dalam perlombaan, dia harus jujur dan mampu menghadapi setiap situasi yang terjadi dalam perlombaan, termasuk kemungkinan jika dia gagal menjadi juara. Jika menjadi juara, dia tidak berbangga diri lalu menjadi sombong. Jika gagal, dia tidak menjadi frustasi tetapi menerima dengan jiwa besar dan menjadikan sebagai refleksi untuk belajar lebih baik lagi. Di sinilah terjadi keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.

Terkadang, ditemukan pelajar yang mengalami degradasi moral, padahal dia merupakan pelajar yang cerdas dan berasal dari keluarga yang berada.

Hal ini bisa saja terjadi karena karma baik yang mendukungnya terlahir di keluarga kaya, memiliki asupan gizi yang cukup, tetapi kurang mendapat

Gambar 7.9 Pelajar SMA mengikuti kegiatan Sippa Dhamma Samajja.

Sumber: https://buddhaku.my.id

perhatian dan kasih sayang dari keluarganya. Akibatnya, pada usia remaja yang sedang mencari jati diri ini, meraka terjerembab dalam pergaulan yang salah dan berakhir dengan sia-sia.

Keseimbangan intelektual dan moral perlu dijaga sejak dini oleh pelajar Buddhis supaya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dapat terbina dengan baik. Caranya ialah dengan mengamalkan nilai-nilai agama Buddha dan nilai-nilai Pancasila dasar negara sebagai pedoman untuk menjaga keseimbangan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, di antaranya seperti berikut.

1. Menyadari Kehidupan Pelajar Sangat Berharga

Pelajar adalah generasi penerus bangsa ini. Keberlangsungan bangsa Indonesia menjadi lebih baik di masa mendatang menjadi tanggung jawab para pelajar saat ini. Oleh sebab itu, pelajar harus menyadari bahwa kehidupannya sangat berharga. Banyak karya yang bisa dihasilkan sebagai seorang pelajar, dari karya yang sederhana hingga karya yang fenomenal. Tidak jarang, pelajar yang sudah mencapai kesuksesan baik secara materi maupun berprestasi di usia SMA. Hal ini karena dia menyadari hidupnya sangat berharga sehingga menggali potensi yang ada pada dirinya untuk diasah sejak dini.

2. Mengamalkan Pancasila Dasar Negara

Setiap pelajar memiliki potensi yang dapat dikembangkan dengan sebaik mungkin, tetapi intelektual saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan moralitas yang baik. Pancasila sebagai dasar negara mengajarkan supaya dalam kehidupan, dapat berpegang teguh pada pedoman yang baik sesuai dengan butir-butir dalam Pancasila. Dapat dijabarkan secara singkat implementasi Pancasila sebagai berikut.

a. Sila pertama, kita menjalankan agama Buddha yang kita yakini dengan tetap memperhatikan umat lain di sekitar kita, tidak mengganggu ketertiban umum dan keamanan pada saat mengadakan kegiatan keagamaan, menjaga toleransi antarumat beragama, dan tidak memaksakan agama kita kepada orang lain.

b. Sila kedua, dengan cara menjaga kesopanan, kebaikan budi pekerti, menjaga keseimbangan hak dan kewajiban, menghargai setiap perbedaan, dan menjaga ketenangan dalam berbagai kondisi.

c. Sila ketiga, sebagai pelajar berusaha menghasilkan prestasi akademik maupun non-akademik yang membanggakan bangsa Indonesia, baik di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional.

d. Sila keempat, mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan bersama, menghormati hasil musyawarah yang diputuskan bersama meskipun tidak sesuai dengan usulan kita, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, dan tidak memaksa orang lain agar setuju dengan apa yang kita katakan atau lakukan.

e. Sila kelima, menguatkan sikap simpati dan juga empati sosial dengan mengadakan kegiatan untuk membantu sesama, misalnya kerja bakti, donor darah, menolong orang yang sedang kesusahan, menghargai hasil karya orang lain, dan lain sebagainya.

3. Memilih Teman dan Lingkungan yang Baik

Teman dan lingkungan sangat memengaruhi kualitas kehidupan. Oleh sebab itu, pelajar harus cerdas dan bermartabat dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan. Hal ini bukan berarti harus pilih-pilih dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Menjalin hubungan baik dapat dilakukan dengan siapa saja, tetapi jika selama bergaul dengan teman tertentu atau berada dalam lingkungan tertentu merasakan ada kemajuan intelektual maupun spiritual, yang demikian hendaknya diteruskan, namun jika ternyata membawa dampak kemunduran hendaknya segera untuk meninggalkannya sebelum berakhir dengan lebih buruk. Hal yang penting juga ialah komunikasikan kepada kedua orang tua dengan siapa kita bergaul dan lingkungan seperti apa agar orang tua dapat memantau dan mengarahkan ke hal yang lebih baik.

4. Tidak Mudah Terpengaruh

Pelajar harus membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas tempat bergaul tidak sesuai dengan harapan. Ketahanan ini juga sikap madya atau netral terhadap setiap perubahan yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan zaman. Misalnya, produk gawai yang menawarkan berbagai macam kecanggihan dalam setiap rilisnya, produk fashion yang terus berubah, kemudahan belanja online lewat ecommerce. Tidak terpengaruh dengan ajakan mengomsumsi minuman keras atau narkoba, pergaulan bebas, tawuran pelajar, dan menggunakan gawai dengan bijak, merupakan pelajar yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.

Aktivitas Peserta Didik

Berdiskusi

Setelah kalian mempelajari materi mengenai Keseimbangan Kecerdasan Intelektual dan Spiritual, bacalah teks berikut, diskusikan bersama teman, kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaannya.

Bacalah narasi berikut dengan saksama!

Pada bulan September 2020, terjadi peristiwa yang sangat mengagetkan, yaitu peristiwa pembunuhan sadis yang dilakukan oleh LAS (27) bersama kekasihnya DAF (26) kepada RHW (32). LAS ternyata adalah lulusan Sarjana Kimia, salah satu universitas ternama di Indonesia. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus. Fakta ini terungkap setelah polisi melakukan rekonstruksi kasus di Mapolda Metro Jaya Jakarta Pusat.

Tindakan kriminal yang dilakukan oleh LAS dan DAF tergolong sadis, yaitu bersekongkol memeras dan menipu RHW, membunuhnya, serta memutilasinya untuk menguasai harta dari RHW. Sangat disayangkan, karena LAS tergolong cerdas, semasa kuliah, ia pernah mengikuti Olimpiade Kimia tingkat provinsi mewakili kampusnya. Saat ini LAS juga menjadi pengajar di beberapa kampus di Jakarta. Kejadian ini tentu sangat menggemparkan karena sebagai orang yang berpendidikan tinggi, tetapi melakukan perbuatan yang sangat keji tersebut.

Berdasarkan narasi tersebut, diskusikan bersama teman, kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Mengapa orang yang cerdas seperti LAS tega melakukan kejahatan seperti itu?

2. Bagaimana agar peristiwa tersebut tidak terjadi lagi?

3. Bagaimana sikap kalian sebagai pelajar agar memiliki keseimbangan intelektual dan moralitas?

4. Apa yang terjadi jika seseorang hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi tidak diimbangi dengan moralitas yang baik?

Membaca

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 167-172)