• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menjadi Pelajar Bermoral

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 162-167)

MENJAGA KESEIMBANGAN MORAL

B. Menjadi Pelajar Bermoral

Membaca

Kegiatan retret dilakukan untuk melatih peserta kegiatan menjalani hidup secara berkesadaran, misalnya saat makan, minum, mencuci piring, berbicara, dan semua aktivitas yang dilakukan dijalani dengan sadar penuh di bawah bimbingan guru pembimbing. Kegiatan uposatha atau hari keluhuran

dalam agama Buddha dilaksanakan setiap tanggal 1, 8, 15, dan 23 penanggalan lunar. Kegiatan uposatha dilaksanakan sejak terbit matahari dan berakhir keesokan harinya dengan berlatih melaksanakan Athasila. Kegiatan atthasila antara lain bertekad menghindari makan setelah lewat tengah hari, menghindari menyanyi, bermain musik, menghias diri, dan sebagainya.

Latihan meditasi juga sangat penting untuk mengembangkan kesadaran pelajar. Menurut Ven. H. Gunaratana Mahathera (tanpa tahun: 33), konsentrasi dipandang sangat tinggi, tetapi ada elemen baru yang dianggap jauh lebih penting, yaitu kesadaran. Semua meditasi bertujuan untuk mengebangkan kesadaran dan konsentrasi hanya sebagai digunakan sebagai alat. Kegiatan- kegiatan keagamaan ini dapat menjadi benteng bagi pelajar menghadapi derasnya arus globalisasi supaya dapat mengikuti perkembangan globalisasi dengan tetap mengedepankan moralitas.

Seorang pelajar harus memiliki integritas untuk berani menolak segala bentuk ajakan penyelewengan moral, agar dapat disebut sebagai pelajar bermoral. Beberapa cara agar dapat menjadi pelajar bermoral, seperti berikut.

1. Menguatkan Hiri dan Ottappa

Sebagaimana diketahui bahwa malu berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibat dari perbuatan yang salah (ottappa) merupakan Dharma pelindung dunia.

Orang yang memiliki sikap malu berbuat jahat dan takut akan akibat dari perbuatan jahatnya, berarti dia sudah mempraktikkan Dharma dengan baik.

Mengapa demikian? Karena dengan memahami kedua Dharma ini, dia akan berpikir dengan baik sebelum melakukan tindakan amoral, dia akan memikirkan dampaknya jika melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Sīla.

Gambar 7.8 Latihan meditasi untuk menguatkan moralitas.

Sejak dini, pelajar harus dikenalkan dan diikutkan dalam berbagai kegiatan religius agar dapat membentuk kepribadian yang baik, sehingga dapat menjadi bekal untuk melawan hal-hal negatif yang datang dari dalam dirinya maupun dari luar dirinya. Contoh-contoh perbuatan religius yang dapat meningkatkan kekuatan diri pelajar ialah mengikuti pabbajja, melatih atthangasila, praktik uposatha, meditasi, Pūjā bakti, dana paramita, dan sebagainya.

2. Memiliki Sahabat yang Baik

Sahabat yang baik atau disebut kalyāṇamitta merupakan sahabat yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita menjadi lebih baik. Sahabat sejati memiliki ciri suka menolong, selalu ada waktu di kala kita senang maupun susah, sahabat yang suka memberi nasehat baik, dan bersimpati dalam setiap kondisi.

Jika menemukan sahabat yang demikian, hendaknya kalian dapat terus bersamanya. Seperti yang disabdakan Buddha dalam Dhammapada: “Apabila dalam pengembaraanmu, engkau dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana, hendaknya ikutilah, dia yang akan membawa kebahagiaan dan kesadaran bagi dirimu, serta akan menghindarkan dirimu dari kesukaran dan marabahaya” (Dhammapada 328, Khuddaka Nikāya).

Buddha juga menegaskan akan pentingnya menghindari orang yang tidak baik karena mereka hanya akan membawa kemunduran, baik moral maupun intelektual. Orang yang bergaul dengan pergaulan yang salah memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam tindak kejahatan, misalnya tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan sebagainya. Sebagaimana dikhotbahkan Buddha dalam Rāhula Sutta bahwa “Bergaulah dengan kawan- kawan yang baik, kendalikanlah lima indra, maka akan memperoleh ketenangan hidup.” (Rāhula Sutta). Dalam Maṅgala Sutta juga dijelaskan tentang berkah mulia karena bergaul dengan orang bijaksana: “Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana, bergaul dengan orang yang bijaksana, itu merupakan berkah utama.” (Maṅgala Sutta, Khuddakapāṭha, Khuddaka Nikāya).

3. Orientasi ke Masa Depan

Setiap orang harus memikirkan dengan matang sebelum melakukan perbuatan, memikirkan dampaknya di masa mendatang, apakah membawa kemajuan atau kemunduruan, begitu juga sebagai seorang pelajar. Pelajar harus memiliki visi dan misi ke depan serta memiliki orientasi untuk masa depan. Dengan demikian, masa mudanya tidak dihabiskan dengan hanya mengejar kesenangan sesaat, tetapi berakibat jangka panjang. Salah satu cara untuk mencapai masa depan yang lebih baik ialah dengan melihat berbagai kesuksesan dan pencapaian orang-orang di sekelilingnya, kemudian

menjadikannya sebagai motivasi untuk membangun masa depan yang bahagia, sehingga dapat menjadi kebanggaan orang tua, bangsa, dan negara.

Dalam upaya mempersiapkan masa depan, diperlukan adanya moralitas, lingkungan, dan sahabat yang baik. karena sahabat yang baik akan mendukung dan menemani untuk mewujudkan masa depan yang cerah serta mengingatkan untuk tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Oleh karena itu, Buddha mengajarkan kita untuk bergaul dengan sahabat yang baik, seperti yang Buddha jelaskan dalam Dhammapada ”Jangan bergaul dengan orang jahat, jangan bergaul dengan orang berbudi rendah, tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi luhur.”

(Dhammapada 78, Khuddaka Nikāya).

Pelajar harus berperan serta dalam menjaga moralitas yang baik, yaitu dengan cara memahami nilai-nilai umum Hukum Empat Kebenaran Mulia dan Tiga Corak Universal, dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai agama Buddha dan Pancasila dasar negara. Tabel berikut ini pemaparan dari pemahaman nilai-nilai umum Hukum Empat Kebenaran Mulia dalam memaknai permasalahan kemerosotan moral pelajar.

Tabel 7.1 Pemahaman Nilai-Nilai Hukum Empat Kebenaran Mulia Hukum Empat

Kebenaran Mulia Pemahaman Nilai-nilai Umum

Dukkha

Memahami bahwa degradasi moral merupakan suatu permasalahan yang berdampak buruk.

Perilaku menyimpang dari norma-norma seperti seks bebas, nomophobia, tawuran, narkoba, pergaulan bebas, dan lain-lain yang dapat menghancurkan masa depan sehingga perlu ditinggalkan supaya tidak menimbulkan penyesalan di masa depan.

Sebab dukkha

Merefleksi penyebab munculnya kemerosotan moral remaja sehingga menemukan cara untuk menghentikannya. Harus bisa mengendalikan keinginan, kesenangan sesaat serta pergaulan buruk supaya terhindar dari perilaku menyimpang yang dapat merusak masa depan.

Akhir dukkha

Pelajar memahami bahwa jika tidak mengikuti perbuatan-perbuatan yang menyebabkan degradasi moral akan membuatnya terbebas dari masalah dan penderitaan. Bebas dari masalah membuatnya hidup bahagia dan memiliki masa depan yang cerah sehingga berguna bagi kedua orang tua, bangsa, dan negara Indonesia.

Jalan menuju lenyapnya dukkha

Memahami bahwa kemerosotan moral pelajar yang berdampak bagi masa depan dapat dilenyapkan pada diri setiap individu dengan cara memilih teman bergaul yang baik, memilih lingkungan yang baik, dekat dengan kedua orang tua, menumbuhkan hiri dan ottappa.

Sikap ini dapat menumbuhkan moralitas yang baik bagi pelajar, serta mendukung terwujudnya masa depan yang cerah.

Pemahaman nilai-nilai umum Tiga Corak Universal dalam menangkal masalah moralitas dijabarkan sebagai berikut.

1. Corak Ketidakkekalan (anicca)

Berdasarkan pemahaman pada fakta bahwa kondisi kehidupan tidak kekal dan selalu mengalami perubahan, kesenangan karena pergaulan bebas, narkoba, nomophobia, dan sejenisnya juga tidak dapat dipertahankan, hanya sesaat, dan akan berdampak buruk. Karena semuanya tidak kekal, perbuatan itu dapat ditinggalkan. Penting untuk memilih sahabat yang baik dalam bergaul karena sahabat yang buruk tidak akan bertahan lama mendampingi kita. Mereka hanya akan ada saat kita bahagia dan meninggalkan saat kita susah. Menjaga komunikasi yang baik dengan keluarga, menguatkan hiri dan ottappa, memilih lingkungan bergaul yang baik juga merupakan cara bebas dari permasalahan.

2. Corak Ketidakpuasan (dukkha)

Segala bentuk pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, dan sebagainya akan menimbulkan kemerosotan moral dan membawa penderitaan. Sebagai pelajar, kalian tidak akan bisa hidup damai dan menjalankan pembelajaran di sekolah dengan baik jika sudah terjerumus

dalam perilaku yang demikian karena hanya akan fokus pada kesenangan semata tanpa memikirkan masa depan. Peserta didik juga tidak akan dapat belajar dan menempuh pendidikan dengan baik apalagi berprestasi.

Berdasarkan pemahaman pada fakta ini, harus disadari bahwa tidak ada untungnya melakukan perbuatan tidak bermoral, Namun, dengan mengedepankan moralitas, kehidupan akan menjadi berkualitas.

3. Corak Tanpa Inti Diri (anatta)

Berdasarkan pemahaman pada fakta ini, kita menyadari bahwa keinginan untuk menjadikan pergaulan bebas dan perilaku buruk lainnya sebagai gaya hidup dan menyebabkan kemerosotan moral pada remaja pada dasarnya mengarah pada sikap keakuan, Dengan demikian, hendaknya kalian memiliki sikap bijaksana terhadap segala sesuatu dan dapat menghadapi situasi sehari-hari dengan lebih baik. Dengan berperilaku demikian kalian sudah membantu kemajuan menuju bangsa Indonesia yang berkarakter dan membuat masa depan yang cerah.

Berdiskusi

Berdasarkan materi tentang Menjadi Remaja Bermoral, diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Mengapa pelajar harus memiliki sikap moralitas yang baik?

2. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa ini. Apakah dampak bagi bangsa ini jika generasi muda tidak memiliki masa depan yang baik?

3. Bagaimana implementasi moralitas yang telah kalian lakukan di sekolah, demi mewujudkan masa depan yang cerah?

Aktivitas Peserta Didik

Membaca

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 162-167)