• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi Mengatasi Permasalahan Sosial dalam Perspektif Buddhis

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 194-198)

MENJAGA KESEIMBANGAN SOSIAL

B. Solusi Mengatasi Permasalahan Sosial dalam Perspektif Buddhis

Buddhisme sebagai agama (way of life) mempunyai dasar filosofi bahwa hidup merupakan masalah dan menawarkan jalan pengentasan terhadap permasalahan secara nyata. Khotbah pertama Buddha secara tegas menjelaskan bahwa semua fenomena kehidupan mengandung permasalahan, tetapi dapat diatasi dengan menghilangkan faktor penyebab masalah tersebut. (Samyutta Nikāya, V.421-422).

Setiap jenis permasalahan sosial yang terjadi memiliki solusi yang berbeda-beda dalam penanganannya. Misalnya, permasalahan pengangguran dapat diatasi dengan menyediakan banyak lapangan pekerjaan, pemerintah menjalankan program padat karya sehingga banyak menyerap tenaga kerja, akses yang mudah untuk memperoleh informasi dan mendapatkan pekerjaan, pemberian modal usaha, dan sebagainya.

Masalah kemiskinan dapat diatasi misalnya dengan memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan bantuan pendidikan, memberikan fasilitas umum yang merata di setiap wilayah, memberikan penyuluhan dan pembinaan keterampilan kepada masyarakat supaya kreatif dan inovatif, dan sebagainya.

Kenakalan remaja dapat diatasi, misalnya dengan memberikan ruang yang cukup kepada remaja untuk melakukan hal-hal positif dan produktif, memberikan pelatihan soft skill maupun hard skill, banyak melakukan aktivitas pendalaman keagamaan, menguatkan hubungan harmonis dengan keluarga, dan sebagainya.

Berita hoaks dapat diminimalisir dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam berliterasi, terutama dalam menggunakan media sosial sehingga tidak sembarangan menyebarkan informasi yang diperoleh, periksa terlebih dahulu keaslian berita dengan mencari sumbernya, turut serta dalam grup-grup antihoaks di media sosial, memanfaatkan internet dan media sosial dengan bijak, dan sebagainya.

Alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan sosial ini lebih mengacu kepada solusi yang ditawarkan untuk membangun diri sendiri. Membangun diri sendiri diharapkan dapat menjadi teladan bagi orang lain dalam menguatkan praktik baik sehingga dapat mengatasi permasalahan sosial.

Adapun alternatif solusi tersebut di antaranya sebagai berikut.

1. Mengembangkan Kemurahan Hati

Memberi sesuatu yang bermanfaat tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari pemberian itu termasuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang kita beri, merupakan inti dari kemurahan hati. Perbuatan bermurah hati sangat dianjurkan dalam agama Buddha karena hal ini merupakan praktik Dharma yang sangat luhur dan penyempurnaan parami pertama yang dilakukan oleh Buddha Gotama. Meski tanpa mengharapkan imbalan apa pun, hasil dari perbuatan yang dilakukan secara otomatis akan datang kepada pelaku kemurahan hati.

Gambar 8.8 Ilustrasi persembahan makanan oleh istri Jenderal Mallika kepada Buddha.

Saat memberi, seseorang sebaiknya tidak melakukannya sebagai tindakan fisik saja, tetapi juga dengan hati dan pikiran yang benar.

Dhammananda (2005: 245) menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara memberi sebagai tindakan normal kemurahan hati dan dana. Dalam tindakan normal kemurahan hati, seseorang memberi sebagai bentuk belas kasih dan kebaikan karena melihat orang lain yang membutuhkan bantuan. Adapun dana adalah memberi sebagai cara untuk mengembangkan kemurahan hati, mengurangi keegoisan, dan melatih kebijaksanaan.

Mengapa kemurahan hati menjadi solusi dalam mengatasi pengangguran dan kemiskinan? Hal ini berdasarkan penjelasan Buddha kepada Putri Sumana ketika Beliau sedang berdiam di dekat Savatthi di Hutan Jeta. Putri Sumana menanyakan tentang perbandingan kelahiran dari orang yang sering memberi dana dan tidak memberi dana. Buddha menjelaskan bahwa orang yang sering berdana akan lebih unggul di dalam lima hal, yaitu jangka waktu kehidupan, keelokan, kebahagiaan, kemasyuran, dan kekuatan (Anguttara Nikāya, V.31).

2. Pengendalian Diri

Pelajar harus berlatih memiliki pengendalian diri terhadap segala hal, termasuk terhadap keinginan untuk memiliki suatu barang, keinginan untuk memuaskan indra dengan bersenang-senang, dan pengendalian diri dalam menyebarkan berita maupun informasi yang belum jelas kebenarannya.

Pengendalian diri penting dikembangkan untuk memahami tujuan hidup supaya tidak terlibat dalam perbuatan yang tidak baik.

Dalam kitab Anguttara Nikāya, VI.52, Buddha menjelaskan bahwa tujuan hidup sebagai perumah tangga adalah kekayaan, yang dicari adalah pengetahuan, penopangnya adalah keterampilan, keinginannya adalah bekerja, dan cita-citanya adalah menyelesaikan pekerjaan. Berdasarkan pemahaman pada Dharma ini, sebagai pelajar, kalian harus memiliki tujuan yang jelas yaitu lulus tepat waktu, yang dicari ialah ilmu pengetahuan dan keterampilan, penopangnya ialah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, keinginananya ialah memperoleh nilai yang baik, dan cita-citanya aialah menyelesaikan studi.

Cara melatih pengendalian diri ialah dengan memiliki pandangan benar terhadap segala tindakan yang akan dilakukan, memikirkan dengan baik sebelum bertindak, dan memahami dampak yang ditimbulkan. Seperti yang disabdakan Buddha dalam kitab Sutta Nipata, bahwa orang yang terpelajar adalah orang yang telah mendengarkan semua pandangan dengan kebijaksanaan, dia mengetahui apa yang dicela dan apa yang tanpa cela, memiliki pengetahuan, terbebas, serta berada di luar kebingungan dan gangguan. (Sutta Nipata: 534, Khuddaka Nikāya).

3. Terapkan Prinsip Ehipassiko

Segala sesuatu yang diterima sebaiknya diperiksa terlebih dahulu kebenarannya, termasuk berita atau informasi yang diterima melalui media sosial. Setiap berita yang kita terima wajib untuk dibaca atau dicermati dengan teliti sebelum dibagikan kepada orang lain. Caranya, tanyakan kebenarannya kepada pemberi informasi, cek kebenarannya melalui sumber lain, dan pastikan informasinya sudah benar, baru kemudian dapat dibagikan jika perlu untuk dibagikan. Apabila informasi tersebut tidak perlu dibagikan kepada orang lain, cukup disimpan atau dihapus saja sehingga tidak menimbulkan dampak tertentu.

Buddha mengajarkan agar setiap orang untuk menjadi bijaksana dengan prinsip ajaran ehipassiko, yaitu mengundang untuk membuktikan dengan mendengarkan, merenungkan, memahami sehingga muncul kebijaksanaan intelektual (sutamaya pañña). Kemudian melakukan penyelidikan atau pemikiran dengan merenungkan terhadap apa yang telah dilihat atau didengar sehingga muncul kebijaksanaan kontemplatif antara pemahaman dan fakta (cintamaya pañña). Dengan memahami alur Dharma ini, diharapkan setiap berita yang diterima dapat ditelaah terlebih dahulu sehingga tidak menjadi bagian dari penyebar berita bohong atau hoaks.

Berdiskusi

Bacalah dengan saksama petikan khotbah Buddha berikut:

Sang Buddha menjawab: “Semua makhluk adalah pemilik perbuatannya sendiri, pewaris perbuatannya sendiri, lahir dari perbuatannya sendiri, berkerabat dengan perbuatannya sendiri, dan bergantung pada perbuatannya sendiri. Perbuatan apa pun yang akan mereka lakukan, baik ataupun buruk, perbuatan itulah yang akan mereka warisi. Karena perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan masa lampau dan kehidupan saat ini tentu berbeda-beda, keadaan pun berbeda-beda.” (Cūlakammavibanga Sutta, Majjhima Nikāya).

Berdasarkan narasi tersebut, diskusikan bersama teman kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!

1. Bagaimana permasalahan kemiskinan dan pengangguran jika dihubungkan dengan khotbah di atas?

2. Bagaimana dampak kenakalan remaja sesuai khotbah di atas?

3. Apa dampak bagi penyebar hoaks jika dikaitkan dengan khotbah di atas?

Aktivitas Peserta Didik

Membaca

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 194-198)