• Tidak ada hasil yang ditemukan

Moderasi Beragama dalam Agama Buddha

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 132-136)

MENJADI PELAJAR MODERAT

A. Moderasi Beragama dalam Agama Buddha

Beberapa tahun terakhir, muncul berbagai macam isu terkait kerukunan umat beragama dan radikalisasi di Indonesia dan bahkan juga sudah menjadi perhatian di dunia internasional. Generasi muda atau generasi milenial yang memiliki pemahaman ajaran agama yang dangkal seringkali menjadi sasaran radikalisasi. Oleh sebab itu, penanaman dan pengembangan ajaran agama yang benar kepada generasi muda menjadi sangat penting sebagai

cara pandang mereka dalam memahami dan mendalami ajaran agamanya.

Berdasarkan hal inilah, pemerintah Indonesia terus berupaya membangun pemahaman masyarakat terhadap pentingnya moderasi beragama dengan empat indikator utama, yaitu komitmen kebangsaan, sikap antikekerasan, akomodatif terhadap budaya-budaya lokal, dan toleransi.

Moderasi ialah jalan tengah. Moderasi juga berarti “sesuatu yang terbaik’’.

Sesuatu yang ada di tengah biasanya berada di antara dua hal yang buruk, contohnya ialah keberanian. Sifat berani dianggap baik karena ia terhindar dari sifat ceroboh dan sifat takut. Sifat dermawan juga dianggap baik karena ia berada terhindar dari sifat boros dan kikir. Moderasi sebagai jalan tengah diibaratkan seperti wasit yang menjadi penengah dalam pertandingan, dia tidak berpihak kepada salah satu pihak dan bersikap adil kepada siapa pun yang mengikuti perlombaan.

Dalam konteks beragama, sikap moderat merupakan pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap, dan perilaku di antara beberapa pilihan ekstrem yang ada. Ekstremisme beragama ialah cara pandang, sikap, dan perilaku yang melebihi batas- batas moderasi dalam pemahaman dan praktik beragama. Berdasarkan hal tersebut, moderasi beragama dapat dipahami sebagai cara pandang, sikap,

dan perilaku yang selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama (Tim Penyusun, 2019: 17-18).

Cara seseorang beragama harus senantiasa dimoderasi supaya tidak berubah menjadi perilaku yang berlebihan dalam menjalankan ajaran agama sehingga menjadi ekstrem. Orang yang demikian harus selalu didorong ke jalan tengah. Bukan agamanya yang harus dimoderasi karena agama sudah mengajarkan tentang moderasi. Seseorang yang menjalankan beragama dengan jalan tengah berarti sudah memiliki moderasi beragama.

Orang yang mempraktikkan moderasi agama disebut moderat. Pelajar yang mempraktikkan moderasi agama disebut pelajar moderat.

Dampak dari sikap orang yang tidak mengutamakan moderasi beragama dalam kehidupan ialah maraknya intoleransi, ektrimisme, dan fanatisme berlebihan. Pada akhirnya, hal itu akan menghancurkan kerukunan umat

Gambar 6.4 Doa bersama lintas agama.

Sumber: https://sumbar.kemenag.go.id

beragama. Sehubungan dengan bahaya dari sikap antimoderasi beragama tersebut, sikap moderasi beragama harus dipahami sejak dini oleh generasi muda. Sikap ini menjadi salah satu formula ampuh untuk merespons dinamika zaman yang sedang marak dengan intoleransi, ektremisme, dan fanatisme berlebihan. Moderasi beragama merupakan strategi kebudayaan kita dalam merawat keindonesiaan dan telah berhasil menyatukan semua kelompok agama, etnis, bahasa, dan budaya.

Agama Buddha menyadari adan menerima adanya keyakinan dan agama lain. Umat Buddha berusaha untuk hidup rukun, damai, dan harmonis melalui toleransinya yang besar terhadap ajaran lain. Ajaran Buddha tentang moderasi beragama pernah dijelaskan oleh Buddha Gotama ketika Beliau berada di kota suku Kalama yang disebut Kesaputta. Suku Kalama menanyakan kepada Buddha mengenai kebingungan mereka terhadap guru- guru spiritual mereka. Guru-guru mereka menjelaskan tentang doktrin- doktrin mereka sendiri dengan menjelek-jelekkan doktrin ajaran guru lain.

Buddha pun kemudian memberikan khotbah kepada mereka sebagai berikut.

“Nah, suku Kalama, janganlah begitu saja mengikuti apa yang telah diperoleh karena berulang kali didengar; atau yang berdasarkan tradisi; atau yang berdasarkan desas-desus; atau yang ada di kitab suci; atau yang berdasarkan dugaan; atau yang berdasarkan aksioma; atau yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus;

atau yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali; atau yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang; atau yang berdasarkan pertimbangan,

‘Bhikkhu itu adalah guru kita.’ Para Kalama, jika kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini baik, hal-hal ini tidak dapat disalahkan, hal- hal ini dipuji oleh para bijaksana, jika dilakukan dan dijalankan, hal- hal ini akan menuju pada keuntungan dan kebahagiaan,’ masuklah dan berdiamlah di dalamnya.” (Kalama Sutta, Anguttara Nikāya).

Khotbah Buddha ini menjelaskan bahwa hendaknya kita tidak langsung menerima begitu saja sebuah berita atau ajaran tanpa terlebih dahulu melakukan penyelidikan dan pembuktian. Kita harus menyadari dan mau menerima bahwa terdapat kebenaran dan keyakinan lain di luar agama yang kita yakini. Kebenaran tidak perlu dipertentangkan karena hanya akan menimbulkan perpecahan yang merugikan semua pihak.

Teladan Buddha tentang moderasi beragama dibuktikan dalam Upāli Sutta. Upāli adalah seorang murid terkemuka dari Nigantha Nataputta

dan memiliki kepandaian dalam berdebat. Karena kepandaiannya inilah, dia diutus oleh gurunya untuk berdebat dengan Buddha dan mengalahkan Buddha dalam perdebatan tersebut. Upāli mendebat Buddha tentang hal yang menghasilkan akibat yang lebih besar, yaitu perbuatan melalui pikiran, tubuh, atau ucapan. Buddha mengajarkan bahwa perbuatan melalui pikiranlah yang menghasilkan akibat yang lebih besar, sedangkan Nigantha Nathaputa mengajarkan bahwa perbuatan melalui tubuh menghasilkan akibat yang lebih besar. Pada akhir perdebatan, Upāli mengakui kebenaran ajaran Buddha dan menyatakan tekad menjadi pengikut Buddha. Buddha kemudian mengatakan kepada Upāli untuk tetap menjadi penyokong.

Tetap memberikan dana makanan kepada gurunya terdahulu beserta para siswanya, sebagaimana kebiasaan Upāli yang telah dijalankannya sejak lama.

Berdasarkan hal ini, terlihat bahwa Buddha menganjurkan beberapa hal. Para pengikut Buddha yang berasal dari keyakinan lain, walaupun telah menjadi pengikut Beliau, mereka harus tetap memberikan penghormatan kepada para guru agamanya yang terdahulu. Mereka harus menerima para gurunya dengan baik jika mereka datang ke rumah untuk meminta dana makanan. Sikap Buddha ini bisa menjadi teladan moderasi beragama dalam agama Buddha.

Berdiskusi

Terdapat beberapa pertanyaan mendasar yang harus kalian jawab.

Kalian diharapkan dapat memiliki sikap kritis terhadap isu-isu global dan dampaknya bagi berbagai aspek kehidupan.

Pertanyaan-pertanyaan berikut dapat kalian jawab dengan berdiskusi bersama teman atau membaca buku-buku referensi, agar memiliki pengetahuan dan sikap yang lebih komprehensif.

1. Mengapa bisa terjadi antimoderasi beragama?

2. Bagaimana dampak moderasi beragama terhadap berbagai aspek kehidupan?

3. Pentingkah moderasi beragama pada saat ini?

Aktivitas Peserta Didik

Membaca

Dalam dokumen Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 132-136)