Intisari Damma
B. Unsur–Unsur Budaya Buddhis
Beberapa keluarga (kulaputta) belajar Dharma melalui khotbah-khotbah (sutta-sutta), bait-bait (geyya), eksposisi-eksposisi (veyyakarana), syair- syair (gatha), pernyataan-pernyataan gembira (Udāna), kata-kata (itivuttaka), cerita-cerita kelahiran (jataka), Dharma yang menakjubkan (abbhutadhamma) dan tanya-jawab (vedalla). Setelah itu memeriksa arti ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, dan mendapat pengertian benar dari ajaran-ajaran itu. Mereka tidak belajar Dharma untuk memenangkan perdebatan, mengalami kebaikan sesuai dengan tujuan mempelajari Dharma akan memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk masa yang lama. (Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikāya)
India. Kebudayaan Buddhis bervariasi dari daerah yang satu dengan yang lain sebagaimana beragamnya bahasa dan adat istiadat.
3. Sistem Religi
Sistem religi mencakup agama dan aliran kepercayaan yang dianut oleh sekelompok masyarakat. Unsur agama dalam sebuah budaya meliputi praktik yang bersifat suci, yaitu berupa kehidupan monastik (menjalani hidup sebagai pertapa), upacara-upacara keagamaan seperti Uposatha dan Kathina yang sudah ada sejak jaman Buddha, alat-alat yang digunakan pada saat upacara, persembahan puja, maupun tradisi yang berkaitan dengan keagamaan.
Gambar 2.9 Sarana Puja di Candi Sewu
Sumber: https://www.kusalamitra.com
4. Sistem Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan merupakan unsur budaya yang terdiri atas sekelompok masyarakat yang memiliki kesamaan di dalamnya. Unsur sistem kemasyarakatan ini berperan sangat penting dalam pewarisan budaya. Umat Buddha bila dilihat dari cara menjalani kehidupan terdiri atas dua kelompok besar yaitu pabbajita (bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri) dan perumah tangga (gharavasa) yaitu upasaka upasika (Rashid, 1997:23).
5. Sistem Mata Pencaharian
Unsur berikutnya yang terdapat dalam budaya adalah sistem mata pencaharian. Unsur ini merupakan upaya manusia untuk bertahan hidup dengan melakukan berbagai kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa yang diperlukan. Dalam agama Buddha ada kelompok gharavasa (perumah tangga) adalah orang yang menjalani hidup berkeluarga, mempunyai pekerjaan seperti petani, pedagang, militer dan lain-lain yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan (Rashid, 1997:23).
6. Sistem Kesenian
Unsur terakhir dalam budaya adalah kesenian. Unsur ini berupa setiap karya atau produk yang dibuat oleh manusia dan mengandung unsur estetika atau keindahan di dalamnya. Unsur ini meliputi berbagai bentuk, mulai dari seni tari, musik, lukis, arsitektur dan lain sebagainya. Unsur kesenian juga menjadi unsur dari budaya karena seni ini juga berasal dari gagasan dan pemikiran manusia yang diimplementasikan melalui sebuah tindakan. Seni dalam agama Buddha memiliki peran penting sebagai sarana lebih mudah memahami ajaran. Ajaran Buddha yang disampaikan ke para siswa dalam bentuk gatha (syair), kotbah (sutta), tanya jawab, inspirasi sebagai bagian dari seni. Buddha memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menerangkan ajaran dengan penyajian berbeda sesuai dengan kemampuan batin para siswa.
1. Identifikasikan unsur-unsur budaya yang ada di daerahmu!
2. Jelaskan unsur-unsur budaya Buddhis?
3. Bagaimana sistem kemasyarakatan sebagai unsur budaya Buddhis ? 4. Apakah masyarakat Buddhis di daerahmu menerima keragaman
budaya Buddhis?
Aktivitas Peserta Didik
Membaca
C. Keragaman Budaya Buddhis sebagai Identitas Umat Buddha
Budaya dan agama terjalin erat dalam masyarakat dan tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Nilai kemanusiaan, keterampilan, kecerdasan, dan keindahan estetika dapat dilihat melalui praktik budaya. Budaya adalah ekspresi dari tradisi yang diperhalus, diperindah, dan diadaptasi dengan baik untuk memengaruhi kehidupan manusia. Praktik budaya dapat menginspirasi pikiran manusia.
Berdasarkan ajaran Buddha, seseorang hendaknya tidak begitu saja menerima atau menolak suatu tradisi tanpa mempertimbangkan dahulu, apakah praktik semacam itu bermanfaat dan memiliki makna baginya.
(Anggutara Nikāya I.189).
Budaya juga dapat melindungi dan mempromosikan suatu agama. Ketika memperkenalkan ajaran agama melalui praktik budaya, kegiatan keagamaan sehari-hari akan lebih menarik. Praktik budaya yang bersifat religius merupakan batu loncatan untuk memahami cara hidup religius. Mereka yang awalnya tidak beragama, pada akhirnya akan terbiasa menghadiri dan mengapresiasi kegiatan keagamaan. Dengan mengikuti kegiatan tersebut, secara bertahap, orang-orang akan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman agama yang benar.
Seorang penganut agama tidak hanya menempatkan agamanya sebagai kebudayaan atau pedoman bagi kehidupan, melainkan juga menjadikan atribut jati diri dalam interaksi sosial. (Suparlan, 1999:20).
Agama memiliki kontribusi besar dalam memperkaya budaya. Banyak pandangan yang mengatakan bahwa di negara-negara Asia, pada umumnya, praktik agama berkaitan dengan aktivitas budaya. Tarian, lagu, seni, dan drama sebagian besar terinspirasi dari mata pelajaran agama. Tanpa budaya, kegiatan keagamaan mungkin akan menjadi sangat hambar dan tidak menarik.
Pada saat yang sama, mempraktikkan agama Buddha tanpa mengganggu tradisi atau penganut agama lain merupakan bentuk toleransi. Hidup berdampingan secara damai dengan perilaku terhormat dan sikap lembut, juga dapat dianggap sebagai aspek budaya. Bentuk-bentuk budaya Buddhis sebagai identitas umat Buddha dunia, antara lain:
1. kehidupan para bhikkhu/pola hidup samana;
2. simbol-simbol Buddhis, seperti bendera Buddhis, stupa, cakra, dan swastika;
3. peninggalan budaya Buddhis, seperti candi Borobudur, candi Mendut, candi Pawon dan Candi sewu;
4. upacara keagamaan, seperti upacara Asadha Puja yang sudah menjadi tradisi rutin di Thailand, dan Waisak Puja di candi-candi yang sudah mengakar kuat bagi umat Buddha di Indonesia;
5. komunitas masyarakat Buddhis (pabbajita dan gharavasa) mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang pada sesama;
6. kitab suci dengan berbagai versi bahasa yang berbeda;
7. seni Buddhis seperti lagu, relief, dan tarian;
8. perilaku-perilaku keagamaan Buddha seperti puja bakti, pindapata, hidup berkesadaran
Gambar 2.10 Bendera Buddhis.
Sumber: http://pab.kangwidi.com
Agama Buddha yang diajarkan Buddha kepada para siswanya mempunyai kekhasan atau keunikan dibandingkan dengan agama-agama lain yang berkembang di dunia. Keunikan agama Buddha ini, akhirnya dikenal oleh masyarakat dunia. Hal ini terjadi karena agama Buddha:
1. tidak membedakan kelas atau lapisan sosial/kasta, 2. berdasarkan cinta kasih yang universal,
3. mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung, 4. merupakan agama antikekerasan,
5. berlandaskan pada Ehipassiko, dan
6. mengajarkan hukum sebab akibat. (Nasiman, 2017:82-85).
1. Apa tanggapan kalian tentang budaya Buddhis sebagai identitas umat Buddha?
2. Identifikasikan bentuk budaya Buddhis yang berbeda dengan budaya lainya.
3. Nilai-nilai apa yang bisa digali dari keragaman Budaya Buddhis sebagai identitas umat Buddha dunia?
Aktivitas Peserta Didik
Semua ilmu pengetahuan, baik yang tinggi, sedang, ataupun rendah, patut dipelajari, diketahui, dan dimengerti maknanya, walaupun tidak seluruhnya perlu diterapkan. Suatu hari kelak, jika tiba saatnya, pengetahuan itu akan membawa banyak manfaat (Khuddaka Nikāya 817).