• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian a. Jenis Penelitian

PENDAHULUAN

A. Problematika Ekspresi Budaya Tradisional di IndonesiaIndonesia

5. Metode Penelitian a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum yaitu melakukan penelitian dengan mengkaji dan menganalisis berbagai peraturan perundang-undangan, sistem hukum, asas hukum, perbandingan, yang berkaitan dengan pengaturan HKI Tradisional khususnya tentang Hak Cipta Tradisional. Selain itu juga digunakan penelitian kepustakaan yang berfungsi untuk melengkapi dan kebutuhan bahan hukum. Hal ini terkait dengan isu hukum yang akan dipecahkan dalam penulisan ini yaitu tentang analisis terhadap norma yang mengatur tentang perlindungan hak masyarakat adat atas Ekspresi Budaya Tradisional khususnya hak moral dan hak ekonomi mereka serta bentuk perlindungan

yang diberikan negara saat ini terhadap hak cipta tradisional yang tertuang dalam Undang-undang Hak Cipta No 28 Tahun 2014 yang kemudian ditinjau dari perspektif Maqashid al syari’ah.

b. Pendekatan Penelitian

Pendekatan-pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pertama, pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan perundang-undangan dilakukan terhadap berbagai aturan atau produk hukum yang berkaitan dengan HKI pada umumnya dan hak cipta terkait Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) secara khusus.

Kedua, pendekatan konseptual, (conceptual approach), yaitu untuk memahami unsur abstrak dalam alam pikiran. Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji konsep hukum yang berkaitan dengan perlindungan terhadap hak masyarakat adat atas Ekspresi Budaya Tradisional (EBT).

Ketiga, pendekatan kasus dilakukan untuk mendalami lebih jauh tentang pelanggaran-pelanggaran yang pernah terjadi terhadap pemanfaatan ekspresi Budaya Tradisional milik masyarakat adat.

keempat pendekatan perbandingan dilakukan untuk membandingkan bentuk perlindungan terhadap EBT oleh negara lain yang dalam hal ini sebagai ilmu bantu terhadap dogmatik hukum dalam mempertimbangkan pengaturan EBT ke depan. Adapun negara yang akan dijadikan perbandingan antara lain;1) negara Sri Lanka, negara ini melindungi folklor (Ekspresi Budaya Tradisional) nya melalui undang-undang Kekayaan Intelektual No. 36 tahun 2003 selanjutnya disebut undang-undang Sri Lanka. Undang-undang ini pada pasal 24 (1) melindungi Folklor dari reproduksi, pertunjukan ke publik, penyiaran, distribusi dengan kabel atau cara lain, serta adaptasi, penerjemahan, dan transformasi lain ketika Folklor tersebut digunakan untuk pengembangan budaya, sedangkan pada pasal 24 (2), menentukan bahwa izin dan pembayaran biaya tidak diberlakukan untuk penggunaan Folklor seperti penggunaan pribadi, melaporkan kejadian terkini, pengajaran, kritik komentar

dan penelitian. Selanjutnya perlindungan Folklor seharusnya tidak mencegah masyarakatnya dari penggunaan, penukaran, dan transmisi antara mereka sendiri atas Folklor dari warisan budaya mereka dengan cara tradisional dan adat serta mengembangkan Folklor tersebut dengan reaksi terus menerus dan imitasi. 25 2).

Negara Panama, adalah negara pertama di dunia yang mengakui sistem Kekayaan intelektual masyarakat asli secara sui generis dan mensahkannya dalam Undang-undang No.20. Undang-undang ini memberikan masyarakat asli hak eksklusif untuk menggunakan dan mengkomersialisasikan segala bentuk kreasi mereka. Hak tersebut antara lain, hak melarang orang lain mengklaim kepemilikan seni mereka, hak untuk melarang orang lain dari menyatakan seni bukan milik masyarakat asli, hak untuk melarang orang lain dari membuat salinan meniru seni mereka dan hak untuk melarang semua industri atau mekanik untuk mereproduksi seni dan pengetahuan tradisional tanpa melalui tangan mereka.26 Kedua negara ini dapat dijadikan sebagai perbandingan dalam membuat regulasi terhadap perlindungan ekspresi Budaya Tradsional di Indonesia.

c. Jenis dan Sumber Bahan Hukum 1) Jenis Bahan Hukum

Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang diperoleh dari sumbernya langsung yang mengikat melalui kepustakaan dengan melakukan pengkajian secara rinci. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang digunakan sebagai penunjang bahan hukum primer. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

25Indunil Abyeskere, 2007 “The Protection of Expression of folklore in Sri Lanka”

International Review of Intellectual Property and Competition Law.

26 Irma De Obaldia, “Western Intellectual Property and Indegenous Cultures: The Case of Panamanian Indigenous Intellectual Property Law”, 23 B.U. Int’l L.J.337, Boston University International Law Journal, Fall 2005, pp337 394., hal. 368

2) Sumber Bahan Hukum

(1) Bahan Hukum Primer, terdiri dari:

a. Al Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan dalil-dalil yang mendukung penelitian ini, seperti dalil tentang berbuat adil (al-Qur’an surat an nisa [4]: 58, surat al an’am [6] : 152, surat An nahl (16:90), surat Al Syura’ (42:15), Al maidah (5:8), QS. Al Fhusilat (4: 46) dan al jatsiah (45: 15) as-shad 38, an-Nisa (4: 58), an-Nisa (4: 135) dan ayat-ayat lainnya yang berkenaan dengan ini. Selanjutnya dalil berkenaan dengan larangan merugikan hak orang lain surat al Syura’ (26: 183), dalil berupa hadits tentang harta kekayaan di antaranya hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Hadits riwayat Ahmad. Selain itu terdapat dalil tentang larangan berbuat zalim seperti yang termuat dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim, dalil tentang Hak Asasi Manusia di antaranya surat al-isra’(17:70), surta al Baqarah (2: 177), surat al Maidah (QS. 5:32), surat Al A’raf (QS. 7:29, surat Al Hadid (57:25). Selain itu terdapat dalil tentang pemeliharaan akal dalam Surat Almukmin ayat 80, surat al an’am (6:50) dan surat al baqarah (2: 165), serta dalil-dalil lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Serta kaidah-kaidah Ushul fiqih khususnya yang berkaitan dengan budaya.

b. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 khususnya dalam pembukaan pada alinea ke-4, pasal 18B ayat 1

& 2, pasal 28A, pasal 28C ayat 1 & 2, pasal 28I , pasal 29 ayat 1 &

2, pasal 32 ayat 1

c. Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 449, 570, d. Hukum Adat (kearifan lokal)

e. Perjanjian TRIPs dan Konvensi-konvensi Internasional seperti konvensi Bern 1886 sebagaimana diperbaharui tahun 1997 serta perjanjian-perjanjian Internasional lainnya

f. Undang-undang Republik Indonesia nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta pasal 38 beserta penjelasannya

g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 tahun 2007 tentang Pedoman Pelestarian dan pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat

(2) Bahan Hukum Sekunder, yaitu seperti:

a. Karya tulis ilmiah yang ditulis oleh ahli hukum yang berkaitan dengan masalah yang diteliti yakni terkait perlindungan terhadap hak masyarakat Adat Ekspresi Budaya Tradisional dalam perspektif Maqahsid al syari’ah

b. Buku-buku, literatur, yang berkaitan dengan tema penulisan, artikel, internet yang juga dapat dijadikan sebagai bahan dalam penelitian ini.

(3) Bahan Hukum Tersier, antara lain dapat berupa:

a. Kamus hukum;

b. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI);

c. Kamus Bahasa Arab dan Inggris d. Ensiklopedi

Bahan-bahan hukum tersier tersebut sangat membantu dalam mencari pengertian atau makna dari beberapa kata yang belum jelas dan yang membutuhkan penjelasan secara detail.

d. Memperoleh Bahan Hukum

Pengumpulan bahan hukum, bahan hukum primer dan bahan sekunder dan tersier dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan searching internet, serta inventarisasi. Bahan hukum yang diperoleh, dikumpulkan dan dipelajari serta dikutip dari berbagai sumber seperti literatur, peraturan perundang-undangan, artikel, jurnal, makalah, atau yang berkaitan dengan judul dan permasalahan yang penulis teliti, selanjutnya setelah bahan hukum terkumpul langkah selanjutnya adalah mengklasifikasi dari bahan-bahan tersebut untuk kemudian disusun secara sistematis serta mensinkronkan antara satu

dengan yang lainnya untuk dianalisis berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku dan berkaitan dengan judul serta permasalahan yang penulis teliti.

e. Teknik Analisis Bahan Hukum

Analisis bahan hukum menyangkut kegiatan penalaran ilmiah terhadap bahan-bahan hukum sehingga dilakukan dengan penalaran deduktif-induktif yakni mengidentifikasi aturan hukum yang diterapkan terhadap peristiwa konkret yang terjadi. Analisis yang digunakan adalah normatif/preskriptif, komparatif sedangkan terhadap norma yang kurang jelas (kabur) digunakan interprestasi, sistematis.

f. Sistematika Penulisan

Penelitian disertasi ini diuraikan sistematika penulisan sebagaimana gambaran tentang penelitian ilmiah ini secara keseluruhan, artinya dalam sub bab ini akan diuraikan secara sistematis keseluruhan yang terkandung dalam disertasi ini. Secara garis besar Disertasi ini nantinya akan terbagi menjadi 6 bab yang terdiri dari:

Bab I Pendahuluan, bab menjabarkan latar belakang penelitian dari segi aspek filosofis, teoritis, problem normatif, yang kemudian dibuat rumusan masalah, tujuan penelitian yang menjawab permasalahan yang ada, manfaat penelitian, orisinalitas penelitian, desain penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II Kerangka Teori Dan Konsep, Kerangka teori yaitu berisi kajian terhadap teori-teori hukum yang dapat dijadikan sebagai dasar membangun pemikiran yang berkaitan dengan isu hukum yang ditetapkan yaitu tentang teori keadilan, teori perlindungan hukum, teori hukum alam (sunnatullah), teori penghargaan, teori benefit sharing, teori eksistensi dan teori Maqashid al Syar’ah. Selanjutnya berkaitan dengan kerangka konseptual yaitu terdiri dari a) Hak Kekayaan Intelektual b). konsep hak milik (kepemilikan), c) konsep

masyarakat adat, d). konsep Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (PTEBT), e). konsep Maqashid al Syari’ah.

Bab III merupakan bab analisis Apa makna Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (PTEBT) dalam perspektif Maqashid Al Syari’ah dengan membagi pembahasan menjadi beberapa sub bab yaitu a). Hak milik (kepemilikan) dalam Hukum Positif dan Hukum Islam b). Hak masyarakat adat atas Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), c). Konsep perlindungan hukum melalui hukum negara, hukum adat dan hukum Islam (maqashid al syari’ah)

Bab IV Analisis tentang permasalahan kedua yakni Apa bentuk perlindungan yang dapat diberikan oleh negara terhadap hak- hak masyarakat adat atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional dalam perspektif maqashid al Syari’ah dengan pembahasan beberapa sub yaitu; a). Tinjauan Umum Tentang Hak Kekayaan Intelektual, Hak Cipta, dan Ekspresi Budaya Tradisional, b). Penerapan Hak Cipta Atas Ekspresi Budaya Tradisional Indonesia serta beberapa Kasus Pelanggaran atas karya Ekspresi c). Pandangan Hukum Islam Terhadap Pelanggaran Atas Karya Cipta Ekspresi Budaya Tradisional Milik Masyarakat Adat, d). Maqashid al Syari’ah Sebagai Sebuah Pilihan Yang Tepat dalam Perlindungan Hak Masyarakat Adat Atas Ekspresi Budaya Tradisional (EBT)

Bab V merupakan bagian penutup, yang berisi kesimpulan dan hasil analisis masalah hukum yang telah dibahas sebelumnya, serta dari uraian tersebut dapat menghasilkan rekomendasi model pengaturan hukum sebagai pijakan dalam perlindungan hukum bagi masyarakat Adat atas hak mereka terhadap Ekspresi Budaya Tradisional yang sesuai dengan tujuan hukum negara, hukum Adat (kearifan lokal), khususnya hukum Islam melalui metode Maqashid al Syari’ah.

Bab 2