KERANGKA TEORETIK DAN KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Teoretik
2. Teori Keadilan
masyarakat adat ini juga perlu dilakukan, sebab masyarakat Adat selalu dalam posisi yang lemah. Kendati hukum adat diakui di negara ini namun ketika berhadapan dengan hukum negara dan itu bertentangan maka yang berlaku pastilah hukum negara.
Perlindungan ini juga perlu dilakukan untuk mencegah tindakan missapropiation (pemanfaatan tidak wajar) yang seringkali terjadi.
Mengingat lemahnya perlindungan hukum terhadap Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) yang sebagian besar lahir dari masyarakat adat ini, dan belum adanya aturan yang jelas yang melindunginya maka perlu adanya perlindungan yang lebih memihak. Tentunya dalam hal ini pemerintah sebagai penguasa sangat diperlukan perannya dalam memberikan perlindungan. Jika suatu pemerintahan telah memberikan sebuah perlindungan maka pemerintah tersebut telah menjalankan fungsi negara sebagai negara hukum yang memiliki tujuan memberikan kemanfaatan, keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi warga negaranya.
mengarah pada keadilan, adalah bukan hukum.32 Hukum yang kosong dengan nilai keadilan mengakibatkan pengaturan hukum yang keluar dari tujuan dibuatnya hukum tersebut, sehingga dapat melahirkan aturan-aturan yang bersifat diktator yang dapat membuat ketidak nyamanan dalam masyarakat.
Pengertian keadilan dari istilah Inggris justice berasal dari perkataan latin justitia yang kata dasarnya jus. Perkataan jus berarti hukum atau hak.33 Seringkali penggunaan kedua kata tersebut yakni kata “law” (hukum) dengan kata “justice” (keadilan) dianggap sepadan. Hal ini dikarenakan pandangan bahwa hukum itu adalah adil. Hal tersebut senada dengan pandangan di atas bahwa “semua hukum mengarah pada keadilan”. Dikatakan pula bahwa kata adil (al-adl) berasal dari bahasa Arab yang bermakna pertengahan, yang dalam kamus Almunawir diartikan perkara yang di tengah-tengah.34 Ini berarti bahwa adil berarti tidak berat sebelah dan tidak memihak kepada salah satu pihak.
Demikian pentingnya suatu keadilan dalam kehidupan kenegaraan untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga dalam hal ini para filsuf sepanjang masa mengerahkan pikiran mereka untuk mencari makna-makna dari keadilan tersebut. Pemikiran-pemikiran para filsuf tersebut antara lain rumusan Aristoteles mengenai keadilan berbunyi bahwa mereka yang sederajat di depan Hukum harus diperlakukan sama.35Aristoteles mengelompokkan keadilan menjadi dua yakni keadilan khusus dan keadilan umum. Keadilan umum atau legal yaitu yang menuntut perbuatan sesuai dengan undang-undang negara yang harus ditunaikan demi kepentingan umum. Sedangkan keadilan khusus yaitu digunakan untuk mewujudkan kebajikan seperti kebijaksanaan dan keberanian. Keadilan khusus bukan
32O. Notohamidjojo, Demi Keadilan dan Kemanusiaan Beberapa Bab dari filsafat Hukum, (Jakarta: BPK Gunung Mulia) hal. 84.
33The Lang Gie, Teori-teori Keadilan Sumbangan Bahan untuk Pemahaman Pancasila, (Yogyakarta: Super yogyakarta, 1979), hal 15.
34Ahmad Warson Al Munawir, Al Munawir kamus Arab-Indonesia Terlengkap (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 906.
35W. Friedmann, Teori & Filsafat Hukum Telaah Kritis Atas Teori-teori Hukum (SUSUSNAN I), (Jakarta: Rajawali Press 1990), hal.124.
dikuasai oleh motif sosial, melainkan merupakan ukuran perbuatan dalam perhubungan sesama manusia lain. Ukuran untuk keadilan khusus adalah kesamaan atau proposionalitas.
Teori keadilan Aristoteles yang dikembangkan ini dimuat dalam bukunya Nichomacean Ethics. Menurut beliau keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia (fairness in human action).
Kelayakan merupakan titik tengah antara kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak dan yang terlalu sedikit.36 Intinya bahwa keadilan adalah distribusi berwujud suatu perimbangan (proportion) agar merupakan keadilan distributif (distributive justice).37 Jadi yang dimaksud dengan “sederajat di depan hukum” tersebut adalah keadilan berdasar pada prinsip persamaan (equality). Oleh Isaiah Berlin dirumuskan menjadi “justice is done when equals are treated equally and unequals unequally”, (keadilan terlaksana bilamana hal- hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tak sama secara tak sama).38
Keadian distributive justice yang dimaksud Aristoteles ini dapat dikembangkan dalam perolehan keadilan bagi masyarakat adat atas hak-hak mereka terhadap karya tradisional yang mereka miliki.
Konteks keadilan ini sesuai dikarenakan masyarakat adat telah berjasa dalam menciptakan serta menghasilkan berbagai macam kreasi baik dalam bentuk pengetahuan tradisional maupun ekspresi budaya yang telah terpelihara secara turun-temurun, bahkan telah menjadi satu nafas dalam kehidupan mereka.
Intinya bahwa distributive justice adalah penting untuk berfungsinya ekonomi, yakni bagaimana membagikan keuntungan dalam kegiatan ekonomi,39sedangkan social justice berkenaan dengan kebutuhan ekonomi untuk mempunyai stucture dan institutions,
36The Lang Gie “Teori-teori Keadilan Sumbangan Bahan untuk Pemahaman Pancasila, (Yogyakarta: Super yogyakarta, 1979) hal. 22
37Ibid
38Ibid hal 23
39Salim H.S., Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Disertasi dan Tesis (Buku Kedua), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014), hal. 29.
jika hubungan ekonomi tidak baik akan berakibat kurangnya produktivitas.40
Kendati sangat sulit untuk dapat mewujudkan kesesuaian antara idealitas dengan realitas, namun di sinilah nilai-nilai keadilan berfungsi untuk menentukan secara nyata realitas sosial yang terjadi. Pentingnya suatu keadilan dalam penerapan hukum dalam suatu negara, Indonesia sebagai negara yang berdasarkan atas hukum menempatkan keadilan menjadi visi negara, hal ini tertera jelas dalam dasar negara Pancasila tepatnya pada sila ke dua yakni
“kemanusiaan yang adil dan beradab” serta sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 juga menyebutkan kata keadilan pada alinea satu, dua, dan empat. Melihat visi tersebut maka hendaknya keadilan yang menjadi norma pokok tersebut menjadi pedoman bagi setiap rezim kekuasaan politik. Artinya bahwa keadilan merupakan amanah konstitusi dan merupakan cita-cita luhur bangsa yang harus dijalankan.
Selain itu keadilan sosial dalam Pancasila juga memiliki paradigma berwatak ketuhanan, di mana sila pertama menjiwai sila-sila berikutnya. Manusia dalam hal ini masyarakat Indonesia meyakini bahwa ada kekuatan yang maha tinggi melebihi segalanya yaitu Tuhan. Sehingga apa yang ada di muka bumi ini merupakan rahmat dan berkah dari Tuhan.41Selanjutnya keadilan berdasarkan tuntunan Tuhan ini menegaskan prinsip persamaan (equality), tidak diskriminasi, prinsip objektif, tidak memihak, dan tidak nepotisme.
Ibnu Jubayr dalam Abdul Manan42, keadilan mempunyai empat bentuk: pertama, keadilan dalam membuat keputusan-keputusan yang sesuai firman Allah dalam al Qur’an surat an nisa [4]: 58 bahwa apabila kamu hendak menetapkan hukum di antara manusia supaya
40Ibid
41Lihat Faisal, Ilmu Hukum sebuah Kajian Kritis, filsafat, keadilan, dan Tafsir, (Yogyakarta: 2015), hal. 65
42Abdul Manan, Reformasi Hukum Islam Di Indonesia (Jakarta: PT Raja GrapindoPersada, 2006), hal. 134
kamu menetapkan dengan adil; kedua, keadilan dalam perkataan yang sesuai dengan firman Allah dalam al Qur;’an surat al an’am [6]
: 152 bahwa apabila kamu berkata maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun ia adalah kerabatnya; ketiga, keadilan dalam mencari keselamatan sesuai dengan firman Allah dalam surat al Baqarah [2]: 123, yaitu takutlah kamu pada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya, dan tidak akan memberi manfaat suatu syafaat kepadanya dan tidak pula mereka akan ditolong, keempat, keadilan dalam artian mempersekutukan Allah sesuai dengan firman Allah dalam surat al an’am [6]: 1, yakni tetapi orang-orang yang kafir memepersekutukan sesuatu dengan Tuhan.
Beberapa ayat lain yang memerintahkan untuk berbuat adil adalah perintah manusia berlaku adil dan berbuat kebaikan serta menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar QS An nahl (16:90), perlakuan adil wajib ditegakkan terhadap orang yang tidak seagama, QS. Al Syura’ (42:15) alasan apapun tidak dapat diterima untuk tidak berlaku adil, termasuk ketidaksenangan terhadap orang tertentu QS.
Al Maidah ayat 8 (5:8), berlaku adil akan lebih mendekatkan kepada ketakwaan QS. Al maidah (5:8), perbuatan baik buruk manusia tidak akan mempengaruhi kemaha adilanNya, QS. al Fhusilat ayat 46 (4:
46) dan al jatsiah ayat 15 (45: 15). Terdapat juga perintah berbuat adil dalam surat an-Nisa 58 (4: 58) tentang kewajiban memutus perkara dengan adil, an-Nisa 135 (4:135) perintah menjadi penegak keadilan dan menjadi saksi karena Allah, dan ayat-ayat lain yang tidak dapat disebutkan secara keseluruhan.
Keharusan berbuat adil dalam Islam adalah mutlak tanpa pandang bulu, keharusan tersebut baik menyangkut diri sendiri, keluarga, bahkan terhadap orang-orang yang memiliki pengaruh kekuasaan. Perintah ini tercermin jelas dalam surat an- nisa’ ayat 135:
ْوَل َو ِ ِل َءا َدَه ُش ِط ْسِقْلاِب َينِما َّوَق اوُنوُك اوُنَمآ َنيِذَّلا اَ ُّهيَأ اَي اًيرِقَف ْوَأ اًّيِنَغ ْن ُكَي ْنِإ َينِبَرْقَ ْلاَو ِنْي َدِلاَوْلا ِوَأ ْم ُكِسُفْنَأ َلَع
ْوَأ او ُوْلَت ْنِإ َو اوُلِدْعَت ْنَأ ى َوَ ْلا اوُعِبَّتَت َلَف َمِ ِب َل ْوَأ ُلاَف )135( اًيرِب َخ َنوُلَمْعَت َمِب َناَك َلا َّنِإَف او ُضِرْعُت
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar- benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS. an Nisa’:135)
Perintah untuk bertindak adil dalam menetapkan hukum suatu perkara disinggung pula pada beberapa ayat yang lainnya.
Murtadha Muthahhari menggunakan kata adil dalam empat hal, pertama, yang dimaksud dengan adil adalah keadaan yang seimbang;
kedua, persamaan dan penafian (peniadaan) terhadap perbedaan apa pun; ketiga, memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. keempat, adil adalah memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi43Pertama, Keadaan seimbang maksudnya adalah jika suatu masyarakat ingin hidupnya bertahan mapan maka hidupnya harus seimbang, di mana segala sesuatu yag ada di dalamnya harus eksis dengan kadar semestinya bukan dengan kadar yang sama. Sebab keseimbangan melihat neraca kebutuhan dengan pandangan yang relatif sesuai dengan relevansinya. Hal ini tercermin dalam surat ar-Rahman:55:7
)7( َنا َزيِْلا َع َض َو َو اَهَعَفَر َء َم َّسلا َو
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)”
43Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, Terj. Agus Efendi (Bandung: Mizan anggota IKAPI, 1981) hlm. 53 – 56
Kedua, persamaan dan penafian (peniadaan) terhadap perbedaan apa pun, maksudnya adalah memelihara persamaan ketika hak memilikinya sama. Keadilan dalam konteks ini sudah merupakan suatu keharusan. Ketiga, memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya.
Keadilan seperti ini wajib dihormati dan ditegakkan bahkan diakui secara jelas sebagai bentuk hak asasi manusia yang harus ditunaikan.
Pada keadilan bentuk ini masyarakat adat memiliki hak untuk di perlakukan adil dengan cara pemenuhan hak mereka baik secara moral maupun ekonomi terhadap hasil karya tradisional yang mereka miliki. Keempat, memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi. Jika keadilan terhadap hak-hak masyarakat adat telah terpenuhi maka eksistensi dan keberlangsungan hidup mereka akan tetap terjaga, keadilan semacam inilah yang seharusnya didapatkan oleh mereka.
Sedangkan menurut Quray Shihab ada empat makna keadilan yang dikemukakan oleh para pakar agama; pertama, adil dalam arti sama tidak membedakan dalam memutus perkara, sebagaimana disebutkan dalam surat an nisa 4:58, kedua, adil dalam arti seimbang, surat al Infithar 82: 6-7, Al Mulk 67:67, keseimbangan tidak mengharuskan persamaan kadar dan syarat bagi semua bagian unit masing-masing agar seimbang, tetapi bisa saja satu bagian berukuran kecil atau besar, sedangkan kecil dan besarnya ditentukan oleh fungsi yang diharapkan darinya, ketiga, adil dalam hal perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya; keempat, adil yang dinisbatkan kepada ilahi, dalam arti memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu.52
Makna yang terkandung pada konsepsi keadilan Islam ialah menempatkan sesuatu pada tempatnya, membebankan sesuatu sesuai daya pikul seseorang serta memberikan sesuatu sesuai haknya dengan kadar yang seimbang. Konsep keadilan dalam Islam ini jauh memiliki makna lebih dalam bahkan lebih luas, karena berkenaan dengan tanggung jawab setiap tindakan didasari atas nama Tuhan. Segala
sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt, sehingga dalam setiap tindakan lebih merasuk ke dalam jiwa, sehingga dalam menjalankannya lebih berhati-hati dan bertanggungjawab. Luasnya makna keadilan menurut Islam mencakup keseluruhan pendapat para ahli hukum tentang keadilan. Konsep keadilan Pancasila yang dianut bangsa Indonesia juga tidak bertentangan bahkan dengan konsep keadilan yang ditawarkan dalam Islam. Sehingga dalam hal ini keadilan dalam Islam dapat digunakan sebagai teori dalam menganalisis penelitian ini.