3. Pelayanan Umum
3.23. Perdagangan
3.23.1. Perdagangan Luar Negeri
Dalam struktur perekonomian terbuka, neraca perdagangan atau net ekspor menjadi salah satu indikator fundamental makro ekonomi suatu negara (Mankiw, 2007). Neraca perdagangan sendiri merupakan selisih antara nilai ekspor dan nilai impor dalam periode tertentu. Kegiatan ekspor maupun impor memiliki peran penting dalam perekonomian. Beberapa manfaat utama dari ekspor menurut Sukirno (2010) di antaranya memperluas pasar, menambah devisa negara, serta memperluas lapangan kerja. Di sisi lain, selain untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang tidak bisa dihasilkan oleh dalam negeri, transfer teknologi dan pemenuhan bahan baku untuk keperluan produksi dalam negeri yang didapatkan dari impor dapat memberikan nilai tambah (added value) bagi perekonomian.
Lebih lanjut, Arshad (2005:163) menjelaskan, kecenderungan impor yang besar tidak sepenuhnya buruk bagi suatu negara atau daerah karena akan merangsang kegiatan investasi, apabila barang yang diimpor merupakan barang modal, barang mentah, dan barang setengah jadi untuk keperluan perindustrian. Di sisi lain, kegiatan impor juga akan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Oleh karenanya kegiatan impor dan ekspor harus berjalan dengan seimbang, sebagai contoh dalam pengembangan industri substitusi impor dalam negeri harus sejalan dengan penggalakan ekspor produk yang dihasilkan oleh industri dalam negeri.
40 Perusahaan Listrik Negara. (2021). Ringankan Beban Masyarakat, Pemerintah Sudah Salurkan Stimulus Ketenagalistrikan Rp19,91 Triliun untuk 33 Juta Pelanggan. diakses dari https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2021/07/ringankan-beban-masyarakat-pemerintah-sudah-salurkan-stimulus- ketenagalistrikan-rp-19-91-triliun-untuk-33-juta-pelanggan pada 29 Mei 2022, pukul 13.30.
Gambar 3.161. Ekspor dan Impor DKI Jakarta (Juta US$) Tahun 2017-2021
2017 2018 2019 2020 2021
Ekspor DKI Jakarta 9.366,16 9.947,12 10.486,44 9.871,72 11.272,88
Ekspor Melalui DKI Jakarta 51.693,21 54.491,18 54.045,11 53.675,02 64.331,80
Impor Melalui DKI Jakarta 81.763,06 93.926,06 88.393,38 72.037,18 96.911,49
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Pada 2021, kinerja ekspor maupun impor DKI Jakarta mencapai titik tertinggi dalam lima tahun terakhir, meskipun net ekspor masih mengalami defisit sebesar US$32,58 miliar. Berdasarkan Laporan Perekonomian DKI Jakarta Tahun 2021 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, defisit neraca perdagangan DKI Jakarta bersumber dari kenaikan impor luar negeri yang mengalami akselerasi tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor luar negeri pada triwulan IV 2021. Jika dibandingkan dengan 2020, pertumbuhan impor DKI Jakarta mencapai 34,53%, sementara itu kinerja ekspor melalui DKI Jakarta hanya tumbuh sebesar 19,85% dan ekspor produk DKI Jakarta tumbuh sebesar 14,19%. Ekspor Produk DKI Jakarta adalah barang yang pengekspornya tercatat di DKI Jakarta, walaupun pabriknya berlokasi di luar DKI Jakarta. Pada 2021, ekspor produk DKI Jakarta berkontribusi sebesar 14,91% terhadap total ekspor, dan tercatat turun 0,62 persen poin dibandingkan dengan tahun 2020 (15,53%).
Gambar 3.162. Ekspor dan Impor DKI Jakarta (Juta US$) Menurut Bulan Tahun 2021
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Ekspor DKI Jakarta 845,75 927,26 998,14 971,69 720,40 1.007,60 853,80 946,30 964,00 968,20 1.036,90 987,90 Ekspor Melalui DKI Jakarta 4.717,15 4.918,59 5.570,57 5.681,44 4.370,47 5.312,49 4.936,20 5.533,70 5.567,80 5.489,60 6.176,20 5.794,20 Impor Melalui DKI Jakarta 6.945,82 6.705,06 8.050,74 7.989,79 6.537,21 8.327,86 7.698,80 8.349,60 8.279,10 8.050,40 9.484,60 10.480,40
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Pencapaian impor dan ekspor DKI Jakarta tertinggi terjadi pada triwulan IV, yakni Desember untuk impor dan November untuk ekspor. Menurut Laporan Perekonomian Provinsi DKI Jakarta 2021 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, kinerja ekspor dan impor yang meningkat pada triwulan IV terjadi akibat pemulihan ekonomi global dan meningkatnya permintaan pada pasar global dan domestik yang sebelumnya melemah akibat pandemi Covid-19. Sementara itu, ekspor barang dan jasa DKI Jakarta sepanjang 2021 relatif fluktuatif dengan perubahan yang tidak terlalu signifikan. Kendati demikian, kinerja ekspor luar negeri dirasa masih belum optimal karena indikasi dari aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno- Hatta untuk penerbangan internasional yang masih terbatas dan terkendala akibat pandemi Covid-19.
Gambar 3.163. Sepuluh Komoditas Utama Ekspor dengan Nilai Free on Board Tertinggi (Juta US$) di DKI Jakarta Tahun 2021
1.927,44 2.144,98
2.799,47 3.184,09
3.539,89 3.832,84
4.517,10 5.023,79
6.316,24
7.638,47
Ikan dan Udang Plastik dan Barang dari Plastik Pakaian Jadi Bukan Rajutan Karet dan Barang dari Karet Barang-barang Rajutan Perhiasan/Permata Mesin-mesin/Pesawat Mekanik Alas Kaki Mesin/Peralatan Listik Kendaraan dan Bagiannya
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Free on Board (FOB) merupakan metode pembayaran pengiriman yang ada pada perdagangan internasional. FOB secara sederhana diartikan sebagai harga barang yang sudah disepakati antara penjual (eksportir) dengan pembeli (importir) dengan penetapan harga yang dihitung berdasarkan pada nilai barang ditambah semua biaya sampai barang tiba di atas kapal (on board). Jika dilihat dari nilai komoditas, kendaraan dan bagiannya menjadi komoditas ekspor tertinggi bagi DKI Jakarta yang mencakup 11,87% dari total nilai ekspor. Adapun kesepuluh komoditas utama pada grafik di atas mencakup 63,61% dari total nilai ekspor DKI Jakarta. Jika dilihat dari harga komoditas tertinggi, harga komoditas perhiasan/permata dengan nilai US$4,23 juta/ton mengalami penurunan sebesar 42,75% per ton. Dengan kata lain, komoditas perhiasan/permata yang diekspor pada 2021 nilainya tidak setinggi di tahun 2020.
Jika dilihat dari pertumbuhannya, dari 10 komoditas utama ekspor tersebut, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komoditas mesin/peralatan listrik dengan 36,02%, sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada komoditas perhiasan/permata dengan 33,33% dibandingkan pada 2020. Peningkatan ekspor domestik produk otomotif, terutama motor dan alat berat yang terakselerasi di triwulan IV, disebabkan oleh kenaikan harga komoditas global dunia seperti Crude Palm Oil (CPO), kopi, dan batu bara sehingga meningkatkan daya beli petani dan permintaan motor domestik ataupun alat berat ke wilayah tambang (Bank Indonesia, 2022). Di luar 10 komoditas utama ekspor tersebut, terdapat setidaknya 7 komoditas dengan kenaikan dua kali lipat atau lebih, salah satunya senjata/amunisi yang meningkat tiga kali lipat secara volume dan 23 kali lipat secara nilai.
Gambar 3.164. Sepuluh Komoditas Utama Impor dengan Nilai Free on Board Tertinggi (Juta US$) di DKI Jakarta Tahun 2021
1.748,66 2.680,93 2.696,49 2.978,41
4.244,76 4.771,18
5.486,43 6.598,82
14.352,64 16.137,60
Logam Mulia dan Perhiasan/Permata Instrumen Optik, Fotografi, Sinematografi, dan Medis Berbagai Produk Kimia Bahan Kimia Organik Produk Farmasi Besi dan Baja Kendaraan dan Bagiannya Plastik dan Barang dari Plastik Mesin dan Perlengkapan Elektrik serta Bagiannya Mesin dan Peralatan Mekanis serta Bagiannya
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Dilihat dari nilai komoditas tertinggi, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya menjadi komoditas impor yang mendominasi hingga 17% dari total nilai impor. Adapun 10 komoditas utama impor DKI Jakarta pada grafik tersebut mencakup 63,66% dari keseluruhan nilai impor. Jika dilihat dari jenisnya, sebagian besar komoditas impor didominasi oleh bahan baku untuk keperluan industri dalam negeri yang lebih lanjut akan diolah menjadi barang jadi (final product). Jika dilihat dari harga, komoditas piranti lunak, barang digital dan barang kiriman memiliki harga tertinggi yaitu sebesar US$2,50 juta/ton yang meningkat secara signifikan sebesar 109% per ton atau dua kali lipat dibandingkan harga 2020. Dari 10 komoditas utama impor tersebut, pertumbuhan tertinggi terjadi pada produk farmasi yang naik sebesar hampir tiga kali lipat secara nilai dan 20 kali lipat secara volume. Kenaikan tersebut masih disebabkan oleh tingginya permintaan kebutuhan obat- obatan akibat pandemi Covid-19 (Kementerian Perdagangan, 2021).
Gambar 3.165. Sepuluh Negara Tujuan Utama Ekspor Terbesar Menurut Volume (Ton) Tahun 2021
490.811 705.609 711.623
993.747 1.064.717
1.101.861 1.131.102
1.234.904
1.610.072
3.570.913
Australia Korea Selatan India Thailand Filipina Malaysia Vietnam Jepang Amerika Serikat Tiongkok
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Gambar 3.166. Sepuluh Negara Tujuan Ekspor Terbesar Menurut Volume dan Nilai Tahun 2021
1.650,76 2.387,67 2.404,25 2.495,03
2.915,68 3.198,98
3.801,95
5.220,02 6.177,88
12.436,40
Australia Korea Selatan Singapura Malaysia Vietnam Thailand Filipina Jepang Tiongkok Amerika Serikat
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Secara volume, ekspor terbesar DKI Jakarta ditujukan ke pasar Tiongkok, namun secara nilai, didominasi Amerika Serikat. Nilai rata-rata komoditas yang diekspor ke Amerika Serikat adalah sebesar USD7.724/ton, sedangkan ke Tiongkok hanya sebesar USD1.730/ton. Artinya, harga rata-rata komoditas yang di ekspor ke Amerika Serikat lebih mahal 4,5 kali lipat daripada ke Tiongkok. Jika dilihat dari titik pengangkutan, 99% volume komoditas ekspor dimuat di Tanjung Priok yang mencakup 87% dari total nilai ekspor.
Gambar 3.167. Sepuluh Negara Pengimpor Terbesar Menurut Volume (Ton) Tahun 2021
1.128.494 1.135.512
1.616.728 1.737.500
2.180.322 2.605.385
2.667.772 2.741.076
2.838.592
8.411.659
Malaysia Kanada India Singapura Korea Selatan Amerika Serikat Thailand Jepang Australia Tiongkok
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Gambar 3.168. Sepuluh Negara Pengimpor Terbesar Menurut Nilai FOB (Juta US$) Tahun 2021
2.844,07 2.934,72 2.940,60 3.094,07
4.259,00 4.990,29
6.665,54 6.760,14
11.793,72
32.532,17
Taiwan Australia Vietnam India Singapura Amerika Serikat Thailand Korea Selatan Jepang Tiongkok
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta
Baik dari sisi volume maupun nilai, impor terbesar Provinsi DKI Jakarta pada 2021 berasal dari Tiongkok yang tumbuh sebesar 18,15% secara volume dan 45,45% secara nilai. Sekitar 99% volume dan nilai komoditas impor DKI Jakarta dibongkar di Pelabuhan Tanjung Priok.
Jika dilihat dari jenisnya, komoditas yang diimpor dari Tiongkok antara lain terdiri dari mesin-mesin dan perlatan mekanik, perabotan elektronik, besi dan baja, produk farmasi, bahan kimia, dan lain sebagainya.