STRUKTUR NARATIF KAKAWIN NILACANDRA
5.3 Struktur Formal KN
5.3.3 Tokoh dan Penokohan
5.3.3.3 Tokoh Kresna
Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra
hebat, busurnya lahir dari pikiran dan talinya adalah kata-kata. Kutipan (KN1, XVIII:4-5), kembali Yudhistira melepaskan anak panah yang tepat diarahkan ke kepala Nilacandra, panah itu menjadi padma dengan kembang bermacam-macam, akan tetapi semua itu kembali ke tangkai semula jernih tanpa cacat. Pada kutipan (KN1, XVIII:5) ini terjadi perubahan watak tokoh Yudhistira yang mana ia meluncur turun memeluk kepala Nilacandra seraya keluar kata-katanya yang manis halus penuh sopan santun. Di sini sifat atau watak tokoh Yudhistira kembali sebagai “Hyang Dharma”, semua kemarahan, kemurkaan lenyap menjadi kebajikan, ketenangan, kebijaksanaan. Sesungguhnya kalau berbicara masalah penokohan dalam cerita Mahabharata (pewayangan) seperti tokoh Pendawa dan Korawa telah mempunyai konsep kiwa-tengen atau kiri-kanan, baik-buruk, hitam- putih, dan sebagainya. Kiwa atau kiri identik dengan tokoh Korawa yang cenderung pengecut, jahat, penuh ambisi, mempunyai sifat raksasa, angkara murka, licik, dan sebagainya. Sementara tengen atau kanan identik dengan Pañca Paṇḍawa yang memiliki sifat atau watak kesatria, pahlawan, suka menolong, suka membela kaum yang lemah, mengalah demi kemenangan, dan sebagainya. Dengan konsep ini sebetulnya bisa melihat watak tokoh- tokoh Pendawa yang oleh pengarang umumnya digambarkan sebagai tokoh- tokoh yang baik, sempurna, tanpa cacat dan sebagainya, namun pada cerita ini ternyata ada dilukiskan dimensi watak yang lain dari biasanya. Itupun hanya terbatas pada momen-momen tertentu secara singkat dan akhirnya kembali ke watak yang sesungguhnya yakni kebenaran atau kebaikan.
Tokoh Yudhistira dalam KN hanya sekilas diketahui dimensi wataknya yang buruk, selanjutnya wataknya yang ditonjolkan adalah sebagai pembawa misi kebenaran (dharma) dengan menguraikan secara panjang lebar tentang konsep Śiwa-Buddha. Tokoh Yudhistira mewakili tokoh agama Śiwa, sedangkan Nilacandra mewakili tokoh agama Buddha.
kecuali yang kesepuluh (Kalki awatara) belum lahir ke dunia. Di dalam kitab Bhagawadgita Kresna mempunyai nama-nama lain, yakni: Arisudana, Achyuta, Bhagawan, Janardana, Gowinda, Hari, Hrishi-kesa, Yadawa, Yogeswara, Kesava, Kesinisthudana, Madhava, Madhusudana, Mahabahu, Padmanabha, Mahayogi, Purushotama, Varshneya, Wasudewa, dan Wisnu.
Nama-nama julukan tersebut ciri dari perasaan hormat, sujud, kasih sayang, bersahabat atau berteman, dan masing-masing nama itu mengandug arti yang mendalam dan simbolik (Pendit, 1994:xxx). Dalam KN beberapa nama yang disebut dalam Bhagawadgita ada juga disebutkan dalam bait- bait wirama yang digunakan pengarang, seperti nama Kesawa, Janardana, Padmanabha, dan yang lainnya.
Dalam KN ini tokoh Kresna berkedudukan sebagai tokoh utama penentang atau antagonis dari tokoh utama protagonis yakni Nilacandra, karena tokoh Kresna yang menentang atau mengkritisi ide/gagasan tokoh utama protagonis yakni Nilacandra, hingga menimbulkan konflik dalam alur cerita. Munculnya konflik ini berawal dari didengarnya keberhasilan Nilacandra memimpin kerajaan dengan aman sentosa dan bahkan membuat sorga-neraka tiruan beserta isinya di kerajaan Naraja. Oleh sebab itu, Kresna mengutus Satyaki dan Kertawarma untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut, hingga ke pelosok desa atau dusun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat kutipan KN1 (IV:7) berikut.
7. Saban rahina nàlikà bêcik umarjjaóa ta sira kabuddhi satwaha, nda mangkana purih nåpeng nagara Nàraja siha nêkêti praje rikà, kawaróna Nåpa Kåûóa Karûaóa sireki mangutusa ta dùta yàr laku, kinon Si Kåtawarmma Satyaki siran lunga yaya ri puranta ro mahas.
Terjemahannya:
7. Setiap hari baik (suci) beliau menekuni ilmu pengetahuan tingkat tinggi, begitulah kegiatan prabu Naraja dengan penuh kasih menasihati rakyatnya di sana, terdengarlah oleh prabu Kresna (lalu) ingin menyuruh utusan ke sana, disuruhlah sang Kretawarma dan Satyaki agar pergi ke luar istana untuk menyelidiki.
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Kresna secara psikologis merasa tersaingi oleh Nilacandra sebagai penampakkan sifat ke-Wisnu- annya, yang pada hakikatnya ingin menguji ketekunan iman Nilacandra menjalankan ajaran Buddha. Hal ini dibuktikan ketika Kresna mendengar berita atas keberhasilan Nilacandra, maka Kresna segera mengutus Kertawarma dan Satyaki ke negeri Naraja untuk menyelidiki kebenaran
Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra
berita itu. Ketika Kertawarma dan Satyaki telah kembali dan melaporkan hasil penyelidikan kepada Kresna, bahwa apa yang didengar Kresna sungguh-sungguh nyata bahkan kedua utusan menyatakan kagum atas apa yang mereka saksikan, Kresna pun langsung tersinggung dan bermaksud menyerang negeri Nilacandra, sebagaimana kutipan KN1 (V:3-4) berikut.
3. Rika pwang Kåtawarmma Satyaki gêlis padha waluy umulih mareng puri, dadi pweki sirojaring Nåpati Kåûóa Aladhara kadi ng kapanggiha, saha ng nàtha kalih dêngö kadi ri wåtta nira Si Kåttawarmma Satyaki, kapangpang lwir ikang kawiryya nira de nira Narapati Nìlacandra tah.
4. Wawang nàtha kalih gumoûaóa ri wìra purusa Yadu Wåûói Waódhawa, makàdi ng si paman kalih sang adhimantri nira sahana ning hane ri ya, pwa senàpati sìghra sinyangi kinon sira padha masênàha yatna weh, yayan rabdha padà yuda krama tumùta ri bala si bali ya ring laga.
Terjemahannya:
3. Lalu Kretawarma dan Satyaki segera kembali ke istana (Dwarawati), menceritakan kepada Kresna Baladewa segala hal yang dilihatnya, beringas kedua raja itu mendengar cerita sang Kretawarma dan Satyaki, seperti pelecehan dan tertandingi kekuasannya oleh raja Nilacandra.
4. Kedua raja itu segera membicarakan dengan prajurit Yadu Wresni Wandawa, terutama kepada paman dan kedua mantri serta seluruh pengikutnya, kepala prajurit (senapati) segera dipanggil dan semuanya bersujud, dan telah bersenjata lengkap diiringi prajurit ahli perang.
Kedua kutipan (KN1, V:3-4; lih. juga KN2, III:6-8; dan KN3, IV:8-12) di atas menggambarkan watak Maharaja Kresna, yang setelah mendengar hasil penyelidikan Kretawarma dan Satyaki menjadi murka. Saat itu pula Kresna mengadakan rapat dengan para keluarga dan punggawa kerajaan untuk segera menyiapkan pasukan untuk menyerang Nilacandra. Seluruh kekuatan balatentara Yadhu, para punggawa, para mantri disuruh siap siaga untuk segera berangkat bertempur ke nageri Naraja. Kresna terkenal sangat ahli dalam siasat perang, sebagaimana yang dilakukan dalam Bharatayudha ketika Kresna menjadi penasihat perang pihak Pendawa.
Kresna berhasil membangkitkan semangat Arjuna yang sudah menyerah di tengah-tengah berkecamuknya perang, karena yang menjadi lawannya adalah kerabat saudara sendiri. Dalam KN ini Kresna tidak terlalu berat untuk membangkitkan semangat bangsa Yadhu untuk berperang melawan bangsa Naraja. Semua prajurit sangat senang menuju medan laga, walaupun mereka tahu di dalam perang hanya ada dua kemungkinan, yaitu dibunuh
atau membunh.
Untuk mencapai ambisinya itu, seluruh prajurit disuruh berangkat terlebih dahulu, sedangkan Kresna dan Baladewa mendahului berangkat ke Pandawa untuk minta izin kepada Yudhistira. Hal ini dilakukan Kresna, karena disadari bahwa Naraja masih milik kekuasaan Astina. Namun, tujuan Kresna ke Astina tidak sesuai harapan, sebagaimana tampak pada kutipan KN1 (VII:1-6 dan VIII:1-2) berikut.
1. Úighran datang pwa ri Gajahwaya nàtha karwa, tandwo masuk ya ri dalêm pura Hastinendra, ngkà Pañca Paódhawa katon kahadhang makàla, harûà gunêm prasama sànak iran padhà tùt.
2. Jag prapta Kåûóa Baladewa tatà pwa lungguh, tan sangsaye hidhêp iran lawuwus nira ngka, ling Kesawa matur i Dharmmasutà ngupekûa, sajñà kaka prabhu nimitta hulun marangke.
3. Ngwang matyana ngluruganà gaja deúa úighra, bhùmìra sang prabhu manàma si Nìlacandra, denyà tinangga sira tan phahingan gatinya, anglimpadi prasama nàtha ri martya loka.
4. Denyà gawe naraka loka lan indra loka, wit Boddha pakûa nira hetunikà têmunya, ndan pwà ri sang prabhu harêp wruhi kotamanya, sang Nìlacandra ratu Nàraja deúa rakwa.
5. Buddha småtì sira makàdi kunang yateka, bedyagriwi hyawakireku yasung bhaþàra, Werocane rasika ling nåpa Kåûóa mangkà, sighrà sahur sira mahàraja Dharmmaputra.
6. Duh Keúawàntên ingulun kita nàtha dibya, yan mangkanojara ri mùrtti gumo pita ngke, ndya ngde saha ng ta gati ra si Nìlacandra, ràkanta tan manganumoda harêpta mangkà.
Terjemahannya:
1. Segera tiba di Gajahwaya kedua raja itu, lalu memasuki istana raja Astina, di sana Panca Pandawa tengah bersidang secara rutin, dengan senang hati berbincang-bincang bersama sanak saudaranya dan berpandangan sama.
2. Tiba-tiba datang Kresna dan Baladewa duduk sesuai aturan, tiada ragu pikirannya seraya berkata di sana, kata sang Kresna kepada Dharmasuta dengan jelas, “Duh kanda prabu, yang menyebabkan kami ke sini.
Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra 3. Kami ingin menyerang kerajaan Naraja secepatnya, sebuah negeri dari
seorang raja bernama Nilacandra, karena amat sombongnya dan tak terkendali perilakunya, melebihi semua raja di muka bumi ini.
4. Olehnya telah membangun neraka loka, berasal dari panganut Budha beliau bisa meraihnya, apakah paduka raja ingin tahu keutamaannya, adalah sang Nilacandra raja negeri Naraja itu.
5. Memuja Sang Budha dengan begitu utamanya, bedyagriwi badannya dan itu adalah anugerah Tuhan, Sang Budha (Werocana) beliau” demikian kata Kresna, segera dijawab oleh maharaja Dharmaputra.
6. “Duh Kresna adikku sebagai raja mulia, jika demikian dinda bercerita di sini, yang mana menyebabkan dinda marah terhadap Nilacandra, kandamu (Yudhistira) tak setuju dengan pikiranmu itu.
1. Mojar Kåûóa Aladhare Yudhiûþireki, mohun mamwit aku ri bhupati pwa úighra, mahyun taódhingani si narajendra karwa, sang wruh swargga sira têka ri pàpa kapwa.
2. Magyà-gyàn sira sakaring paþaraóanya, mangke rakwa padha têdun kalih pwa sahya, ngkànàngkat sira ngalaris tatanya mandêg, ndà nàhan humênêngê Dharmmaputra kepwan.
Terjemahannya:
1. Berkatalah Kresna Baladewa kepada Yudhistira, “aku mohon pamit kepada sang prabu segera, ingin perang tanding dengan raja Naraja berdua, yang paham akan sorga dan neraka semua”.
2. Bersiap-siap mereka meninggalkan tempat duduk, kini keduanya sama-sama turun dan menjerit, perjalanannya melaju terus tak mau dihalangi, karenanya sang Dharmaputra terdiam kebingungan.
(KN1, VIII:1-2)
Sejumlah bait kutipan di atas menggambarkan watak tokoh Kresna dengan keinginan yang menggebu-gebu dan tidak dapat dihalangi oleh siapa pun. Kutipan (KN1, VII:1-6; band. KN2, III:14- 17; KN3, IV:19-21) tersebut melukiskan watak Kresna yang selalu tidak boleh tersaingi, ia mengatakan kelakuan Nilacandra melebihi atau mengungguli semua raja di bumi ini dengan alasan bahwa Nilacandra telah membuat sorga dan neraka di bumi. Betapa panas hatinya dan Kresna pun mohon kepada Yudhistira agar diizinkan menghancurkan negeri Naraja dan rajanya. Kemudian (KN1, VIII:1-2,
lih. KN2, III:28; KN3, V:1), melukiskan watak Kresna yang tidak bisa dihalangi oleh siapa pun. Walaupun Yudhistira tidak setuju dengan tindakannya, Kresna pun tidak kecut hatinya untuk tetap menggempur Naraja. Dengan perasaan marah dan kecewa Kresna meninggalkan Astina, tanpa menoleh ke belakang lagi. Yudhistira hanya membisu menghadapi watak Kresna yang keras itu, sebab bagi Yudhistira apa yang dilakukan Nilacandra sama sekali tidak berdosa (tan hana yeka dosa). Justru semua itu adalah pendidikan atau ajaran dari manusia sejati (tan len pwa yeka pangajar manuse sajati). Kresna tidak peduli dengan nasihat Yudhistira, ia hanya punya satu tekad yakni menandingi kesaktian Nilacandra.
Kresna juga adalah tokoh yang sakti yang bisa berubah wujud apabila sedang marah. Hal ini wajar karena ia adalah tokoh jelmaan Dewa Wisnu (Wisnu Murti), sebagaimana pernah menampakkan kesaktian dengan Baladewa yang merupakan jelmaan Dewa Brahma ketika diuji oleh Śiwa berupa lingga menjulang tinggi dan pangkal yang menembus prteiwi (bumi). Brahma mencari ujung langit, sedangkan Wisnu mencari ujung bumi, akhirnya Wisnu bertemu dengan Dewi Pertiwi (Basundari), hingga melahirkan Bhoma (putra bumi). Wisnu (air) dan Pertiwi (bumi;tanah). Ketika air bercampur atau membasahi tanah, maka lahirlah Bhoma (tumbuh-tumbuhan). Dalam cerita Nilacandra kesaktian Kresna juga dilukiskan oleh pengarang, sebagaimana tersurat dalam kutipan KN1 (XIII:10-13) berikut.
10. Rêmpuh syuh laywanikang patih sak úiróna, tan polih yà ngudilì pamùk sang Bhìma, muntab kroda prabhu Kåûóa rodra krura, sanghyang Úàstràji mahàti manggalyeki.
11. Yekan dhyàyìra mijil ta Wiûówa ng gogra, yà nambut Weûóu kage binanting syuh sak, ngkà neng hùrunya linanda sanyat ya kral, sampun mangkà sinånging wiûà gni krora.
12. Wis basmì nora ngaúeûa úirónà waknya,harûàmbêk Partha tumon sira Úri Kåûóa, rotekànggà nira Wiûóumùrtikya prang,mengêt rakwàtma kaWiûóu jàtinyeki.
13. Ngke pêngpöng dhàraóa yoga sang Parthàge, sampurónànggà nira siddha kapwàng dhyàyì, pöhnyekà Wiûóu mangindarat rodrangsö, noràmpêh yo mêtu rudra bahóì netra.
Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra Terjemahannya:
10. Remuk mayat sang patih itu hancur lebur, tak dapat berkutik ketika Bhima mengamuk, meluap kemarahan prabu Kresna nampak amat dahsyat, Dewanya Sastra Utama kini didahulukan.
11. Ketika bersemadi muncul Wisnu yang besar dan tinggi, segera mengambil sang Wesnu dan dibanting hingga hancur, walaupun demikian tinggi dan kokohnya, setelah demikian (lalu) diserang racun api yang sangat dahsyat.
12. Setelah habis terbakar tiada tersisa badannya, senang hati Arjuna melihat Sri Kresna, kedua kalinya hingga badan Wisnu kini berperang, teringat itu bahwa Hyang Wisnu yang sesungguhnya.
13. Kini Arjuna tengah tekunnya bersemadi, sempurna badannya hingga mencapai dhyayi, bertujuan untuk menjadi Wisnu di dunia nyata, tak putus- putusnya keluar api dahsyat dari matanya.
Kutipan (KN1, XIII:10-13, lih. juga. KN2, VI:4; KN3, VI:27- 29), melukiskan kesaktian Kresna sebagai titisan Wisnu, yang dapat berubah menjadi Wisnu Murti berbadan besar, kuat, dahsyat, dan dapat menghancurkan jagat raya. Hal ini terjadi ketika melihat para prajuritnya telah hancur lebur oleh kekuatan Nilacandra. Dengan semadinya Kresna dapat merubah wujud menjadi “Kala Rudra” yang mengeluarkan api berbisa dari kedua matanya. Kekuatan ini mampu membumi-hanguskan jagat raya beserta segala isinya. Sebagai titisan Wisnu, tentunya analisa tokoh Kresna tidak sama dengan analisa tokoh raksasa maupun manusia biasa. Artinya analisis tokoh ini setidaknya watak dan fungsinya terkait dengan tokoh dewa dalam agama Hindu. Apa yang diajarkan Kresna baik yang bersifat Śiwatatwa maupun Buddhatatwa akan menjadi penuntun bagi penganut Śiwa-Buddha ke depan. Kedua paham ini pada hakikatnya untuk mencapai alam kebebasan (mokṣa) atau kesunyataan (nirwana).
Hal ini juga tersirat dalam kitab Bhagawadgita, (III: Sloka 31 dan 32), dan (IV: Sloka 11) sebagai berikut.
mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku dengan penuh keyakinan serta bebas dari tetek-bengek kebendaan juga bebas dari belenggu kerja (Sloka, 31:110) mereka yang selalu mencela ajaran-Ku bukan hanya untuk mengikutinya juga tidak berperasaan dan hilang kepercayaan ketahuilah, mereka buta akan kebajikan (Sloka, 32:102)
jalan manapun ditempuh manusia ke arah-Ku semuanya Ku terima dari mana- mana semua mereka menuju jalanKu oh Partha (Sloka, 11:121)
Apa yang disebutkan pada sloka Bhagawadgita di atas melukiskan tokoh Kresna dalam kapasitasnya sebagai Paramatma (Tuhan), sedangkan Arjuna sebagai simbol Atman (jiwa). Pada sloka 31-32 disebutkan dua hal, yaitu bila seseorang mengikuti ajaran-Nya dengan penuh keyakinan, terbebas dari nafsu keduniawian, maka seseorang akan terbebas dari keterikatan dan belenggu kerja. Sebaliknya, jika tidak patuh terhadap ajaran- Nya mereka buta akan kebajikan. Kemudian sloka 11 memberikan jalan kepada semua manusia untuk menempuh jalan sesuai dengan keyakinannya sendiri, asalkan berdasarkan pada kebenaran, maka manusia akan mencapai alam kebebasan yang tertinggi yaitu menyatu kembali dengan sumbernya menikmati kesenangan abadi (suka tan pawali dukha). Karena beliau adalah asal kembalinya semua mahluk atau dunia (Sang Hyang Sangkan paraning sarat). Dengan demikian, berarti tokoh Kresna dalam cerita Nilacandra ini sangat berkaitan dengan konsepsi theologi (filsafat Ketuhanan) dalam agama Hindu, yang identik dengan tokoh yang memiliki kekuatan supranatural. Dalam KN, tokoh Kresna sebagai awatara Wisnu tidak bisa lepas dari Yudhistira sebagai wujud Hyang Dharma atau Hyang Śiwa Guru, terlebih tokoh Kresna dengan Arjuna adalah pasangan yang tidak pernah terpisahkan dalam suka dan duhka.