STRUKTUR NARATIF KAKAWIN NILACANDRA
5.3 Struktur Formal KN
5.3.3 Tokoh dan Penokohan
5.3.3.4 Tokoh Werocana
Apa yang disebutkan pada sloka Bhagawadgita di atas melukiskan tokoh Kresna dalam kapasitasnya sebagai Paramatma (Tuhan), sedangkan Arjuna sebagai simbol Atman (jiwa). Pada sloka 31-32 disebutkan dua hal, yaitu bila seseorang mengikuti ajaran-Nya dengan penuh keyakinan, terbebas dari nafsu keduniawian, maka seseorang akan terbebas dari keterikatan dan belenggu kerja. Sebaliknya, jika tidak patuh terhadap ajaran- Nya mereka buta akan kebajikan. Kemudian sloka 11 memberikan jalan kepada semua manusia untuk menempuh jalan sesuai dengan keyakinannya sendiri, asalkan berdasarkan pada kebenaran, maka manusia akan mencapai alam kebebasan yang tertinggi yaitu menyatu kembali dengan sumbernya menikmati kesenangan abadi (suka tan pawali dukha). Karena beliau adalah asal kembalinya semua mahluk atau dunia (Sang Hyang Sangkan paraning sarat). Dengan demikian, berarti tokoh Kresna dalam cerita Nilacandra ini sangat berkaitan dengan konsepsi theologi (filsafat Ketuhanan) dalam agama Hindu, yang identik dengan tokoh yang memiliki kekuatan supranatural. Dalam KN, tokoh Kresna sebagai awatara Wisnu tidak bisa lepas dari Yudhistira sebagai wujud Hyang Dharma atau Hyang Śiwa Guru, terlebih tokoh Kresna dengan Arjuna adalah pasangan yang tidak pernah terpisahkan dalam suka dan duhka.
Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra
rangkaian itu menurut arah mata angin yaitu: Amoghasiddhi tempatnya di utara, Amitabha di barat, Aksobhya di timur, Ratna Sambhawa di selatan dan Werocana di tengah-tengah sebagai pusatnya.
Dalam cerita Nilacandra tokoh Werocana tidak banyak di lukiskan oleh pengarang. Deskripsi singkat tokoh ini dapat dilihat pada saat pengarang mulai menggambarkan asal usul kesaktian atau kemampuan yang dimiliki oleh tokoh Nilacandra, seperti tertera pada kutipan KN1 (I:10) berikut.
10. Hyang Werocana úåddhayà tisaya bhàra sung warà nugraha, nàhan jàti sirà nuràga ri saràt bhàwanya diwwyàrjjawa,
mwang metrì yasa dharmma makrama dumeh harûeku ring lokika, sampun panggiha denireku winucap winucap yeking catur wargga ya.
Terjemahannya:
10. Hyang Werocana (Hyang Buddha) amat pemurah memberi anugerah utama, demikian keutamaan beliau hingga tersohor di dunia dan berperilaku rendah hati, juga perilakunya dalam bersahabat sehingga disegani di masyarakat, karena telah paham olehnya seluruh ajaran catur warga itu.
Kutipan di atas (band. juga dengan KN2, I:3-4; KN3, II:3, IV:5), menjelaskan peranan Hyang Werocana yang dipuja oleh Nilacandra telah memberikan anugerah berupa kesaktian (kawisesan) tingkat tinggi dan berhak meniru apa yang ada di dunia nyata dan dunia tak nyata (sorga- neraka). Anugerah ini tentunya berdasarkan perbuatan Nilacandra yang telah mampu melaksanakan catur warga yakni: dharma, artha, kama, dan mokṣa dengan sempurna. Tokoh Werocana dalam kutipan di atas tidak digambarkan segi fisiknya, hal ini berdasarkan kenyataan bahwa tokoh- tokoh supranatural seperti Dewa atau Tuhan memang tokoh yang tidak mempunyai wujud yang tetap bahkan tidak berwujud sama sekali. Ia bersifat gaib (Acintya).
Tokoh Werocana juga dapat dilihat berdasarkan laporan Kretawarma dan Satyaki sebagai utusan Dwarawati dan dialog Kresna dengan Yudhistira, yaitu pada saat Kresna melaporkan kelakuan Nilacandra kepada Yudhistira.
Kresna bermaksud mohon izin Yudhistira untuk menyerang Nilacandra.
Di samping itu, Werocana turun ke dunia untuk melerai perang Kresna melawan Nilacandra. Kemudian Werocana minta maaf kepada Yudhistira atas kelakuan Nilacandra, sebagaimana tertera pada kutipan KN1 (VII:5);
XVI:1; XVII:4 berikut.
5. Buddha småtì sira makàdi kunang yateka, bedyagriwi hyawakireku pasung bhaþàra, Werocane rasika ling nåpa Kåûóa mangkà,sighrà sahur sira
mahàraja Dharmmaputra.
Terjemahannya:
5. Memuja Sang Buddha dengan begitu utamanya, bedyagriwi badannya dan itu adalah anugerah Tuhan, Sang Buddha (Werocana) beliau” demikian kata Kresna, segera dijawab oleh Maharaja Dharmaputra.
1. Meh yomasö Nàraja nàtha ring raóa, turun ta Werocaóa ge pratisþa ya, ing padma madhyà lawa sewu yusniûa, pwa bajra yakûeki gênêp huwus riya.
Terjemahannya:
1. Ketika akan maju prabu Naraja ke medan perang, turun Hyang Werocana dan segera bersemayam, di tengah bunga teratai yang berdaun seribu lembar, senjata bajra yang begitu sempurna nampak pada-Nya.
4. Yeka werocane nitön, ngkà lumakwà tawan tangis, ge mareng jêng udhiûþira, prapta nêmbah ta yà sìla.
Terjemahannya:
4. Diceritakan ketika itu sang Werocana, lalu berjalan sambil menangis, segera ke hadapan sang yudhistira, duduk bersila lalu menyembah.
Kutipan di atas (lih. juga KN2, III:18; KN3, IV:5, V:25) melukiskan peranan tokoh Werocana pada diri Nilacandra. Kemampuan yang dimiliki Nilacandra adalah berkat anugerah Werocana. Jadi, Werocana inilah yang menciptakan karakter yang dimiliki oleh Nilacandra. Kutipan tersebut menggambarkan peranan atau tugas Werocana untuk melerai perang antara Kresna/Yudistira dengan Nilacandra. Werocana dilukiskan turun ke dunia ketika melihat Nilacandra terlalu berani kepada Yudhistira. Ia turun dan duduk di atas bunga teratai yang berkelopak seribu. Kutipan KN1, XVII:4 di atas (lih. juga KN2, VI:30, IX:15) melukiskan ketika Yudhistira turun untuk membalas kematian adik-adiknya dengan alih rupa Rudra Murti. Dengan cepat Werocana menghampiri Yudhistira seraya mohon agar sudi memaafkan kesalahan yang telah dilakukan Nilacandra yang berani atau durhaka kepada Pendawa. Werocana paham siapa Yudistira itu sesungguhnya, sehingga akhirnya Werocana menasihati Nilacandra agar tidak berani kepada Yudhistira sebagai titisan Hyang Dharma (Dewa Kebenaran).
Sementara dalam KN3 (VIII:9), tokoh Werocana muncul ketika Rsi Andhasinga menasihati Nilacandra untuk mengurungkan niatnya membunuh Kresna. Dalam wujud bhutaraja Nilacandra diberi wejangan, akan akibat durhaka kepada Kresna sebagai titisan Wisnu yang mampu menghancurkan dunia menjadi lautan dalam sekejap. Dengan mengalahnya Werocana yang
Wacana Śiwa-Buddha dalam Kakawin Nilacandra
berstana di hati Nilacandra kepada Yudhistira sebagai wujud Hyang Dharma atau Śiwa Guru, bukan berarti Śiwa (Yudhistira) berarti lebih tinggi dari Buddha, akan tetapi sesungguhnya satu atau tunggal hanya beda nama atau sebutan-Nya. Hal ini mengingatkan pada isi teks Śiwagama, kisah ketika Bhatara Guru berada di tataran Sadaśiwa memilah wujud-Nya menjadi dua, yakni ajaran Śiwatatwa dan Buddhatatwa. Paham Śiwa memuja kebesaran Dewa Śiwa sebagai tujuan akhir, sedangkan paham Buddha memuja kebesaran Dewa Buddha sebagai tujuan akhir. Ibarat sebilah keris yang terdiri dari dua bagian yang sama, namun bermuara pada satu ujung yang sama.