• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengaruh harga, produksi, iklim, luas lahan, dan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "pengaruh harga, produksi, iklim, luas lahan, dan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENGARUH HARGA, PRODUKSI, IKLIM, LUAS LAHAN, DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP PENDAPATAN PETANI KARET

DI JORONG JAMBU LIPO KECAMATAN LUBUK TAROK KABUPATEN SIJUNJUNG

JURNAL

Oleh:

ERLA YUKESMA 12090010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG 2017

(2)

2 HALAMAN PENGESAHAN JURNAL

PENGARUH HARGA, PRODUKSI, IKLIM, LUAS LAHAN, DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP PENDAPATAN PETANI KARET

DI JORONG JAMBU LIPO KECAMATAN LUBUK TAROK KABUPATEN SIJUNJUNG

Nama : ERLA YUKESMA

NPM : 12090010

Program Studi : Pendidikan Ekonomi

Institusi : Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat

Padang, 24 Desember 2016

Disetujui Oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

(Yosi Eka Putri, SE, ME) (Jimi Ronald, M.PdE)

(3)

3 PENGARUH HARGA, PRODUKSI, IKLIM, LUAS LAHAN, DAN PENGALAMAN KERJA TERHADAP PENDAPATAN PETANI KARET DI JORONG JAMBU LIPO

KECAMATAN LUBUK TAROKKABUPATEN SIJUNJUNG Oleh

,

1Mahasiswa-prodi-pendidikan-ekonomi

2.3Dosen STKIP PGRI Sumbar

[email protected], [email protected], [email protected] ABSTRAK

Pendapatan merupakan salah satu faktor penentu utama untuk mengukur kemampuan ekonomi masyarakat. Oleh karenanya perlu di ketahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh harga, produksi, iklim, luas lahan dan pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan asosiatif. Penelitian ini menggunakan stratified random sampling (lahan luas, lahan sempit dan total). Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara harga terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 4,909> ttabel 1,29837, petani lahan sempit thitung 1,724>ttabel 1,29773, petani lahan luas thitung 5,076> ttabel 1,29773. (2) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara produksi terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 19,662> ttabel 1,29837, petani lahan sempit thitung 5,405>ttabel 1,29773, petani lahan luas thitung 21,353>ttabel 1,29773. (3) terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara iklim terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 3,750>ttabel 1,29837, petani lahan sempit thitung

1,729> ttabel 1,29773, petani lahan luas thitung 4,487> ttabel 1,29773. (4) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara luas lahan terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 2,977> ttabel

1,29837, petani lahan sempit thitung 1,338>ttabel 1,29773, petani lahan luas thitung 2,713>ttabel

1,29773. (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan antara pengalaman kerja terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 5,066> ttabel 1,29837, petani lahan sempit thitung

2,001>ttabel 1,29773, petani lahan luas thitung 5,010>ttabel 1,29773. (6) terdapat pengaruh yang signifikan antara harga, produksi, iklim luas lahan dan pengalaman kerja terhadap pendapatan. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung 2,420>ttabel 1,29837, petani lahan sempit thitung 1,785>ttabel 1,29773, petani lahan luas thitung 2,205>ttabel 1,29773 dengan taraf signifikan 0,000 < = 0,10.

ABSTRACT

Income is one of the main determining factors for measuring the ability of the local economy. It is therefore necessary to know the factors that could affect revenues. The purpose of this study was to analyze the effect of prices, production, climate, land and work experience to revenues rubber farmers in Jorong Jambu Lipo District of Lubuk Tarok Sijunjung. This research was conducted in June 2016. The type of research is descriptive and associative. This study using stratified random sampling (vast land, less land, and in total). This study used multiple linear regression analysis. The results showed that (1) there is positive and significant correlation between the price to earnings. This is evidenced by tcount 4.909> ttable 1.29837, smallholders thitung 1,724> ttable 1.29773, large land farmers thitung 5.076> ttabel 1.29773. (2) there is positive and significant correlation between the production of the income. This is evidenced by tcount 19.662> ttable 1.29837, smallholders thitung 5.405> ttable 1.29773, large land farmers thitung 21.353> ttabel 1.29773. (3) there is a negative and significant impact on revenue between climate. This is evidenced by tcount 3,750> ttable 1.29837, smallholders thitung 1,729> ttable 1.29773, large land farmers thitung 4.487> ttabel 1.29773. (4) there is positive and significant correlation between land on income. This is evidenced by tcount 2.977> ttable 1.29837, smallholders thitung 1.338> ttable 1.29773, large land farmers thitung 2,713> ttabel 1.29773. (1) there is positive and significant correlation between work experience on income. This is evidenced by tcount 5.066> ttable 1.29837, smallholders thitung 2,001> ttable 1.29773, large land farmers thitung 5.010> ttabel 1.29773. (6) a significant difference between the prices, production, land and climate work experience on income. This is evidenced by tcount 2,420> ttable 1.29837, smallholders thitung 1,785> ttable 1.29773, large land farmers thitung 2.205> ttable 1.29773 with a significant level of 0,000 <α = 0.10.

(4)

4 PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara penghasil dan pengekspor karet alam urutan kedua di dunia setelah Thailand. Tanaman karet banyak ditemukan di berbagai daerah yang ada di Indonesia, termasuk di Propinsi Sumatera Barat. Sumatera Barat merupakan salah satu sentra penghasil karet di Propinsi Sumatera Barat yang salah satunya terletak di Kabupaten Sijunjung (BPS, 2015:1).

Kabupaten Sijunjung merupakan salah satu Kabupaten di sebelah Timur Propinsi Sumatera Barat Kabupaten sijunjung memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang sektor pertanian.

Kabupaten Sijunjung merupakan daerah yang memiliki luas sebesar 3.130,80 atau 313.080 Ha.

Perekonomian di Daerah Kabupaten Sijunjung bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan, sektor perkebunan yang sangat menonjol adalah perkebunan karet. Komoditi karet merupakan salah satu komoditi prioritas yang dipilih oleh pemerintah kabupaten Sijunjung untuk perkebunan, karena berdasarkan keadaan cuaca dan juga kondisi iklim di daerah Kabupaten Sijunjung tergolong pada tipe tropis basah dengan musim hujan dan kemarau yang sering silih berganti sepanjang tahun. Iklim tropis merupakan iklim yang terjadi didaerah lintang rendah yang menerima sinar matahari sepanjang tahun. Kondisi iklim yang seperti ini sangat cocok untuk tanaman karet.

Karet merupakan salah satu hasil pertanian yang terkemuka karena hasil pertanian yang terkemuka karena hasil dari panen karet

tersebut banyak membantu dalam perekonomian masyarakat dan juga perekonomian Negara.

Petani merupakan orang yang bergerak dibidang pertanian, dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menanam, menumbuhkan dan memelihara tanaman sehingga membuahkan hasil yang bagus. Salah satu contoh tanaman yang dikelola oleh masyarakat petani seperti tanaman karet. Kecamatan Lubuk Tarok adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Sijunjung yang memiliki luas wilayah sebesar 187,60 dan terdiri dari 6 nagari dan 24 jorong. Salah satu Jorong yang ada di Kecamatan Lubuk Tarok adalah Jorong Jambu Lipo. Jorong Jambulipo memiliki potensi yang cukup besar dalam sektor pertanian.

Pendapatan petani merupakan ukuran penghasilan yang diterima oleh petani dari usaha taninya (Sannia, dkk 2013:36). Artinya hasil penjualan karet merupakan pendapatan bagi petani karet Pada umumnya masyarakat di Jorong Jambu Lipo hidup dengan mata pencarian sebagai petani karet, karena masyarakat memiliki masing- masing lahan tanaman karet. Jumlah petani karet yang memilki lahan tanaman karet sendiri adalah sebanyak 150 orang. Fenomena ini dapat dilihat dari segi banyaknya masyarakat yang mengandalkan mata pencarian sebagai petani untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.

Berikut sebaran jumlah penduduk Jorong Jambu Lipo berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :

(5)

5 Tabel 1.Sebaran Penduduk Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk

Tarok Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tahun 2015 No Jenis Pekerjaan Jumlah Jiwa

(Orang)

Persentase (%) 1

2 3 4 5 6

Petani Karet Pegawai Negeri Pedagang Wiraswasta Pertukangan Sopir

257 30 37 136 5 18

53,21 6,21 7,66 28,16 1,03 3,73

Jumlah 483 100

Dari tabel 1 dapat dilihat jumlah penduduk yang mata pencaharian sebagai petani karet adalah 257 orang, untuk mata pencaharian sebagai pegawai negri adalah 30 orang, untuk mata pencaharian sebagai pedagang adalah 37 orang, untuk mata pencaharian wiraswasta adalah 136 orang, untuk mata pencaharian sebagai pertukangan adalah 5 orang, dan mata pencaharian sebagai sopir sebanyak 18 orang. Tabel diatas menjelaskan bahwa pada umumnya penduduk Jorong Jambu Lipo lebih banyak yang bekerja sebagai petani karet dibandingkan jenis pekerjaan lainya, disebabkan karena masing-masing penduduk pada umumnya memilki lahan perkebunan karet.

Pada umumnya di masyarakat Jorong Jambu Lipo hidup dengan mata pencarian sebagai petani, yang pada umumya adalah petani karet.

Karena masyarakat di sini memiliki lahan masing-masing yang bisa dikelola untuk dijadikan sebagai lahan pertanian karet. Jumlah petani karet yang memiliki lahan tanaman keret sendiri adalah sebanyak 150 0rang.

Pendapatan petani karet pada saat sekarang ini merupakan salah satu masalah dalam kehidupan masyarakat petani karet, karena pendapatan yang diperoleh oleh petani karet selalu mengalami penurunan yang terkadang mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari terkadang tidak yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu faktor tingkat harga jual karet yang terlalu rendah, tingkat jumlah produksi yang terlalu sedikit, jumlah hari hujan yang terlalu banyak dalam satu bulan, keadaan luas lahan yang sempit serta sedikitnya pengalaman kerja yang dimilki oleh petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

Menurut Kurniawan, dkk (2012:2) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan petani karet disebabkan kurang tersedianya sarana yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan, kurang bagusnya bibit karet yang ditanami oleh petani karet, jumlah batang pohon yang disadap dengan jumlah sedikit, serta umur karet juga dapat mempengaruhi pendapatan.

Sementara itu dapat dilihat pendapatan petani karet pada tabel 2.

(6)

4 Tabel 2.Pendapatan Petani Karet Berdasarkan Harga Jual Karet Di

Kabupaten Sijunjung Tahun 2011- 2015 Tahun Pendapatan

(Rp/Tahun)

Harga (Rp/Kg)

Produksi (Ton)

Curah Hujan (mm/Bulan)

Luas Lahan (Ha) 2011

2012 2013 2014 2015

49.614.120 41.221.440 30.306.960 26.317.440 17.376.120

15.313 9.542 9.354 6.092 5.363

2.289 2.302 1.922 1.820 1.758

194,27 242,67 223,98 210,75 184,58

1.095 1.095 2.018 1.788 2.306 Sumber : Badan Pusat Statistik, 2016

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa jumlah pendapatan petani karet terbesar adalah tahun 2011 sebesar Rp49.614.120, tingkat harga sebesar Rp. 15.313 dan jumlah produksi yang dihasilkan sebesar 2.289 ton dengan melakukan penyadapan karet rata-rata 6 hari dalam 1 minggu.

Sedangkan jumlah pendapatan petani terkecil yaitu pada tahun 2015 sebesar Rp. 17.376.120, tingkat harga karet sebesar Rp. 5.363 dan jumlah hasil produksi yang dihasilkan sebesar 1.758 ton.

Pendapatan petani karet selalu mengalami fluktuasi, sehingga menyebabkan pendapatan petani terkadang mampu untuk memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga, terkadang tidak. Jadi pendapatan menurun disebabkan tingkat harga jual karet yang terlalu rendah serta diikuti oleh tingkat jumlah produksi yang menurun.

RUMUSAN MASALAH

1. Seberapa besar pengaruh harga terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung?

2. Seberapa besar pengaruh produksi terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung?

3. Seberapa besar pengaruh iklim terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung?

4. Seberapa besar pengaruh luas lahan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung?

5. Seberapa besar pengaruh pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung?

6. Apakah harga, produksi, iklim, luas lahan dan pengalaman kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung?

TUJUAN PENELITIAN

1. Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo

(7)

5 Kecamatan Lubuk Tarok

Kabupaten Sijunjung

2. Produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung

3. Iklim berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

4. Luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

5. Pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

6. Apakah harga, produksi, iklim luas lahan dan pengalaman kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

LANDASAN TEORI

Tingkat pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat merupakan salah satu faktor penentu utama untuk mengukur kemampuan ekonomi masyarakat. Indikator yang dimaksud adalah hanya bersangkutan dengan pendapatan dan pengeluaran, akan tetapi yang lebih penting adalah mengetahui besarnya ukuran perbandingan antara penerimaan dan pengeluaran. Menurut Lisnawati, (2014:58) pendapatan usaha tani adalah selisih antara penerimaan usaha tani dengan total biaya

produksi yang telah dikeluarkan selama proses produksi berlangsung.

Menurut Case & Fair, (2006:49) harga adalah jumlah yang dijual oleh suatu produk perunit dan mencerminkan berapa yang tersedia dibayarkan oleh masyarakat, artinya harga akan menentukan dan mengukur berapa hasil yang diperoleh sehingga berpengaruh terhadap pendapatan, artinya semakin tinggi tingkat harga maka akan semakin bagus pengaruhnya terhadap pendapatan yang diperoleh.

Sedangkan menurut Suwardjono, (2005:624) harga merupakan nilai tukar suatu barang dan jasa pada suatu saat dalam suatu lingkungan ekonomik

Menurut Sugiarto Silfester, (2013:3) produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa dinyatakan dalam fungsi produk, fungsi produk menunjukkan jumlah maksimum output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah input dengan menggunakan teknogi tertentu. Jadi hasil produksi akan meningkat jika keadaan iklim atau cuaca bagus, yaitu apabila keadaan cuaca panas yang kemudian diselingi oleh beberapa hari hujan.

Menurut Kateno, dkk (2007:152) iklim adalah keadaan rata-rata udara pada suatu wilayah yang relatif luas dalam jangka waktu yang lama, yaitu kira-kira tahunan bahkan puluhan tahun (suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara, awan, angin dan hujan). Menurut Mendelsohn, (2008:5) Sistem pertanian dalam zona agroekologi yang berada dilakukan dengan cara yang berbeda pula, tergantung kepada kondisi

(8)

6 agroekologi yang ada. Setiap

rumahtangga petani akan memilih tipe pertanian tertentu dengan spesies tanaman tertentu yang sesuai dan cocok dengan kondisi agroekologi setempat, sehingga penerimaan rumah tangga petani dari produksi hasil tanaman komersial yang diusahakan juga akan berbeda.

Lahan merupakan tanah yang telah diperuntukan untuk dapat dimanfaatkan oleh pemiliknya, pertanian merupakan dasar kehidupan ekonomi manusia yang digunakan sebagai sumber daya pangan, dan menyumbangkan potensi yang lain, lahan merupakan faktor penting yang mempengaruhi pendapatan petani, semakin luas lahan yang dimiliki maka semakin besar pula pendapatan yang akan diterima, begitu juga sebaliknya, jika luas lahanya sedikit maka penghasilanya juga akan sedikit (Benowati, 2013:26). Jadi lahan yang sempit akan mempengaruhi hasil produksi dan juga pendapatan.

Menurut Miranda, dkk (2015:521) Lamanya masa bekerja atau pengalaman kerja sebagai petani penyadap karet merupakan lamanya waktu atau pengalaman memiliki pekerjaan sebagai petani penyadap karet. Pada umunya hasil dari pekerjaan yang baik sangat didasari dengan adanya pengalaman kerja yang bagus. Jadi pengalaman kerja dapat menentukan keberhasilan yang akan dicapai dari melakukan suatu pekerjaan, seperti lama waktu/masa kerja yang ditempuh dalam menjalani pekerjaan, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, dan penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan. Ungkapan tersebut berarti bahwa pengalaman

kerja sangat berpengaruh dalam melakukan suatu pekerjaan.

HIPOTESIS

1. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan harga terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

: 0 : 0

2. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan produksiterhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

: 0 : 0

3. Diduga terdapat pengaruh negatif dan signifikan iklim terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

: 0 : 0

4. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan luas lahan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

: 0 : 0

5. Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

: 0 : 0

6. Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara harga, produksi, iklim, luas lahan, dan pengalaman kerja secara bersama-sama

(9)

7 terhadap pendapatan petani karet

di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

:

:

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan asosiatif.

Menurut Arikunto (2014:3) penelitian Deskriptif dan Asosiatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan , kondisi atau hal-hal lain yang dipaparkandalam bentuk laporan nilai variabel, baik satu variabel atau lebih berdasarkan indikator-indikator dari yang diteliti guna untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel atau lebih atau pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah petani karet pemilik lahan sendiri dan sekaligus sebagai pekerja yang terdiri dari 150 orang reponden petani karet, dan jumlah responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 57 orang petani karet dengan menggunakan teknik stratified random sampling (strata lahan sempit, strata lahan luas dan total lahan).

Adapun variabel dalam penelitian ini adalah variabel pendapatan (Y) sebagai variabel terikat, harga (X1), produksi (X2), iklim (X3), luas lahan (X4), dan

pengalaman kerja (X5) sebagai variabel bebasnya.

Penelitian ini dilakukan di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung pada bulan Juni 2016.

Teknik analisis data yang di gunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis regresi Linear Berganda

Analisis regresi berganda dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS Versi 16.0 dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

(10)

8 Berdasarkan hasil yang terdapat

pada Tabel di atas, maka dapat dirumuskan persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Ypetani total =1.031–0,552X1+ 1.072X2+0,241X3+0,126X4+0,289X5

Ypetani lahan sempit=

9910,587X1+1.075X2+0,1403+0,126 X4+0,242 X5

Ypetani lahan luas=

940-0,564X1+ 1.057X2+0,281 X 3

+0,172X4 +0,338X5

Dari model persamaan regresi linear berganda di atas dapat diketahui bahwa pendapatan petani keseluruhan nilai konstanta sebesar 1,031, lahan sempit 0,991 dan lahan yang luas 0,940 dengan 4,908>ttabel 1,29837 yang berarti bahwa tanpa adanya pengaruh dari variabel perubahan harga, produksi, iklim, luas lahan dan pengalaman kerja petani maka pendapatan petani keseluruhan telah mencapai 1,031, lahan sempit 0,991 dan lahan luas 0,940.

Nilai koefisien regresi perubahan harga sebesar 0,552, lahan sempit 0,587 dan lahan luas 1,057 dengan19,622 >ttabel 1,29837, Hal ini berarti adanya pengaruh negatif

Perubahan harga terhadappendap atan, apabila perubahan harga meningkat sebesar satu satuan maka pendapatan akan meningkat sebesar 0,552, lahan sempit 0,587 dan lahan luas 1,057 dalam setiap satuannya dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan.

Nilai koefisien regresi produksi petani keseluruhan sebesar 1.072, petani lahan sempit 1,075 dan petani lahan luas 1,057 dengan 3,750>ttabel 1,29837. Hal ini berarti adanya pengaruh produksi terhadap pendapatan, apabila produksi meningkat sebesar satu satuan maka pendapatan akan meningkat sebesar 1.072, petani lahan sempit 1,075 dan petani lahan luas 1,057dalam setiap satuannya.

Nilai koefisien regresi perubahan iklim sebesar 0,241, lahan sempit 0,140 dan lahan luas 0,281 dengan 2,977>ttabel 1,29837. Hal ini berarti adanya pengaruh negatif perubahan iklim terhadap pendapatan, apabila perubahan iklim menurun sebesar satu satuan maka pendapatan akan meningkat sebesar 0,241, lahan sempit 0,140 dan lahan luas 0,281 dalam setiap satuannya Analisis Regresi Linear Berganda

Pendapatan (Y) Konstanta Koefisien

Regresi Petani

Koefisien Regresi (Sempit)

Koefisien Regresi (Luas) Konstanta (a)

Harga (X1) Produksi (X2) Iklim (X3) Luas Lahan (X4) Pengalaman Kerja (X5)

1,031 0,552 1,072 0,241 0,126 0,289

0,991 0,587 1,075 0,140 0,121 0,242

2,205 5,076 2,353 4,487 2,713 5,010

(11)

9 dengan asumsi variabel lain tidak

mengalami perubahan atau konstan.

Nilai koefisien regresi luas lahan sebesar 0.126, lahan sempit 0,121 dan lahan luas 0,172 dengan 5,066>ttabel 1,29837. Hal ini berarti adanya pengaruh luas lahan terhadap pendapatan, apabila luas lahan meningkat sebesar satu satuan maka pendapatan akan meningkat sebesar 0.126, lahan sempit 0,121 dan lahan luas 0,172 dalam setiap satuannya dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan.

Nilai koefisien regresi pengalaman kerja petani keseluruhan sebesar 0,289, petani lahan sempit 0,242 dan petani lahan luas 0,338.

Hal ini berarti adanya pengaruh pengalaman kerja terhadap pendapatan, apabila pengalaman kerja meningkat sebesar satu satuan maka pendapatan akan meningkat sebesar 0,289, petani lahan sempit 0,242 dan petani lahan luas 0,338 dalam setiap satuannya dengan asumsi variabel lain tidak mengalami perubahan atau konstan

Hasil Analisis Koefisien Determinasi

Petani R

Total Petani 0,959 (a) 0,920 Berdasarkan hasil pada Tabel 26 hasil pengolahan data yang dapat dilihat pada tabel model summary diperoleh hasil nilai R Square sebesar 0,920 yang artinya 92 % perubahan pada variabel dependen (pendapatan) dapat dijelaskan oleh variabel independen (harga, produksi, iklim, luas lahan, dan pengalaman kerja). sedangkan sisanya sebesar 8% dipengaruhi oleh

variabel lain yang tidak termasuk kedalam penelitian ini.

UJI HIPOTESIS

Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua macam yaitu uji t (parsial) dan uji F (simultan).

Hasil Uji t

Pengaruh masing-masing variabel bebas (harga, produksi, iklim, luas lahan dan pengalaman kerja) terhadap variabel terikat (Pendapatan petani karet).

(12)

10 Hipotesis 1, terdapat pengaruh

positif dan signifikan antara harga (X1) terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo (Y) dengan koefisien sebesar 552. Pada Tabel dapat dilihat untuk variabel harga nilai thitung sebesar 4,909 > ttabel

sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara harga karet terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo, jika harga meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan juga meningkat sebesar 0,552 dengan asumsi variabel lain tetap.

Hipotesis 2, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara produksi (X2) terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo (Y) dengan koefisien sebesar 1,072.

Pada Tabel dapat dilihat untuk variabel produksi diperoleh nilai thitung sebesar 19,622 > ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan secara parsial antara produksi karet terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo, jika produksi meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan juga meningkat sebesar 1,072 dengan asumsi variabel lain tetap.

Hipotesis 3, terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara iklim karet terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,241. Pada tabel dapat dilihat variabel iklim diperoleh nilai thitung sebesar 3,750 > ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara iklim terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo, jika iklim meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan berkurang sebesar 0,241 dengan asumsi variabel lain tetap.

Hipotesis 4, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara luas lahan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,126. Pada Tabel dapat diperoleh nilai thitung sebesar 2,977 > ttabel sebesar 1,29837 dengan Hasil Uji Hipotesis

Model Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std.Error Beta Tolerance VIF

(Constant) Harga Produksi Iklim Luas Lahan Pengalaman Kerja

1,031 0,552 1,072 0,241 0,126 0,289

0,426 0,112 0,055 0,064 0,042 0,057

0,221 0,828 0,158 0,132 0,216

2,420 4,909 19,622 3,750 2,977 5,066

0,019 0,000 0,000 0,000 0,004 0,000

(13)

11 nilai signifikan 0,004 < α = 0,10,

berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara luas lahan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo, jika uas lahan meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan juga meningkat sebesar 0,126 dengan asumsi variabel lain tetap.

Hipotesis 5, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,289. Pada Tabel dapat dilihat untuk variabel pengalaman kerja diperoleh nilai thitung sebesar 5,066 > ttabel

sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo, jika pengalaman kerja meningkat sebesar satu satuan maka variabel

pendapatan juga meningkat sebesar 0,289 dengan asumsi variabel lain tetap.

Hasil Uji F

Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan program SPSS versi 15.0, dapat dilihat pada tabel 28 di atas menunjukkan bahwa nilai Fhitung 116,866 > Ftabel 2,39 dan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10. Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa variabel bebas (harga, produksi, iklim, luas lahan dan pengalaman kerja) secara bersama sama memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap variabel terikat (pendapatan) di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung.

PEMBAHASAN

Pengaruh Harga Terhadap Pendapatan

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien nilai thitung sebesar 4,909 > ttabel

sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < = 0,10. Hal ini berarti bahwa jika harga meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan juga meningkat sebesar 0,552 dengan asumsi variabel lain tetap. Jadi semakin meningkat harga karet maka tidak akan menurunkan pendapatan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Miranda, dkk, (2015:522) yang menyatakan bahwa kecilnya pendapatan yang diperoleh petani disebabkan karena harga karet yang rendah. Jadi harga karet merupakan faktor penentu yang dapat mempengaruhi pendapatan petani karet. Dari tingkat harga jual karet dapat menentukan seberapa besar pendapatan yang akan diperoleh

petani untuk memenuhi

kebutuhannya. Artinya semakin rendah harga karet semakin sedikit pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat petani, begitu juga sebaliknya jika harga karet tinggi maka pendapatan petani juga akan meningkat.

(14)

12 Hasil penelitian ini sesuai

dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fitz Mesakh, dkk (2006) dimana hasil penelitian menjelaskan terdapatnya pengaruh harga terhadap pendapatan petani karet di Kabupaten Labuhan Batu Selatan Kelurahan Langapayung Kecamatan Sungai Kanan. Dalam hal ini yaitu pengaruruh harga terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung (Studi Kasus Jorong Jambu Lipo).

Pengaruh Produksi Terhadap Pendapatan

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien nilai thitung sebesar 19,622 > ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10. Hal ini berarti bahwa jika produksi meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan juga meningkat sebesar 1,072 dengan asumsi variabel lain tetap. Jadi jika produksi mengalami peningkatan juga akan mempengaruhi pendapatan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Sugiarto Silfester, (2013:3) dimana hasil penelitian menyatakan bahwa produksi didefenisikan sebagai penciptaan guna, dimana guna bararti kemampuan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Artinya semakin meningkat produksi yang diperoleh maka pendapatan akan meningkat sehingga kebutuhan akan tercukupi.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Husinsyah (2005) dimana hasil penelitian mejelaskan bahwa terdapat pengaruh produksi terhadap pendapatan petani karet di Kampung Mencimai. Dalam hal ini yaitu pengaruruh produksi terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung (Studi Kasus Jorong Jambu Lipo).

Pengaruh Iklim Terhadap Pendapatan

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa iklim berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien nilai thitung sebesar 3,750 > ttabel

sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10. Hal ini berarti bahwa jika iklim meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan berkurang sebesar 0,241 dengan asumsi variabel lain tetap.

Jadi semakin bagus keadaan iklim maka akan meningkatkan pendapatan petani.

Penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Mendelsohn, (2008:3) yang menjelsakan bahwa terdapatnya pengaruh iklim kondisi agroekologi dengan kecocokan dan kesesuaian jenis tanaman yang diusahakan oleh rumah tangga petani serta kaitannya dengan pendapatan rumah tangga petanin sebagai dampak dari terjadinya perubahan iklim. Jika perubahan iklim akan meningkatkan penerimaan bersih rumah tangga petani, maka akan menguntungkan, sebaliknya jika perubahan iklim akan

(15)

13 menurunkan penerimaan petani,

maka itu akan berpengaruh.

Hasil penelitian di atas sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Ari Kurniawan, dkk (2012) dimana hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh iklim terhadap pendapatan di Desa Pangkal Baru Kecamatan Tempunak Kabupaten Sintang. Dalam hal ini yaitu pengaruruh iklim terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung (Studi Kasus Jorong Jambu Lipo).

Pengaruh Luas Lahan Terhadap Pendapatan

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien nilai thitung sebesar 2,977 > ttabel

sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,004 < α = 0,10. Hal ini berarti bahwa jika uas lahan meningkat sebesar satu satuan maka variabel pendapatan juga meningkat sebesar 0,126 dengan asumsi variabel lain tetap. Jadi, luas lahan sangat berpengaruh sehingga jika semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani maka semakin besar pendapatan yang diperoleh.

Pengaruh Pengalaman Kerja Terhadap Pendapatan

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien nilai thitung sebesar

5,066 > ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10. Hal ini berarti bahwa jika pengalaman kerja meningkat sebesar satu satuan maka pendapatan juga meningkat sebesar 289 dengan asumsi variabel lain tetap. Jadi peneglaman kerja akan menentukan seseorang dalam bekerja sehingga jika semakin banyak pengalaman kerja seseorang maka akan semakin bagus pendapatan yang diperoleh.

Penelitian ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Miranda, dkk (2015:521) yang menjelaskan bahwa pengalaman kerja sebagai petani penyadap karet merupakan lamanya masa kerja sebagai petani penyadap karet. Pada umunya hasil dari pekerjaan yang baik sangat didasari dengan adanya pengalaman kerja yang bagus. Jadi pengalaman kerja dapat menentukan keberhasilan yang akan dicapai dari melakukan suatu pekerjaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengalaman kerja memperngaruhi jumlah pendapatan.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu Azelia, dkk (2015) dimana hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat pengaruh pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Trans SP 1 Desa Pangmilang Kecamatan Singkawang Selatan Kota Singkawang Kalimantan Barat.

Dalam hal ini yaitu pengaruh pengalaman kerja terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung (Studi Kasus Jorong Jambu Lipo).

(16)

14 Pengaruh Harga (X1), Produksi

(X2), Iklim (X3), Luas Lahan (X4) dan Pengalaman Kerja (X5) Terhadap Pendapatan Petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa harga, produksi, iklim, luas lahan dan pengalaman kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien nilai Fhitung 2,420 > Ftabel 2,39 dan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10. Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa (Harga, Produksi, Iklim, Luas Lahan dan Pengalaman Kerja) berpengaruh signifikan terhadap pendapatan.

Hasil penelitian ini membuktikan jika harga meningkat maka pendapatan meningkat, jika produksi meningkat maka pendapatan meningkat, jika iklim menurun maka pendapatan meningkat, jika lahannya luas maka pendapatan meningkat, jika pengalaman kerja meningkat maka pendapatan meningkat.

PENUTUP

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa:

1. Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,552 . Nilai ini signifikan karena nilai thitung sebesar 4,909 > ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha

diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial jika harga naik sebesar satu satuan, maka pendaptan petani akan meningkat sebesar 0,552.

2. Produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 1,072.

Nilai ini signifikan karena nilai thitung sebesar 19,662> ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha

diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial jika produksi meningkat sebesar satu satuan, maka pendapatan petani akan meningkat sebesar 1,072.

3. Iklim berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,241.

Nilai ini signifikan karena nilai thitung sebesar 3,750 > ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 > α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial jika iklim meningkat sebesar satu satuan, maka pendapatan akan meningkat sebesar 0,241.

4. Luas Lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,126. Nilai ini signifikan karena nilai thitung sebesar 2,977

> ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,004 > α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak

(17)

15 dengan demikian dapat dikatakan

bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial jika luas lahan meningkat sebesar satu satuan, maka pendapatan akan meningkat sebesar 0,126.

5. Pengalaman Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo dengan koefisien sebesar 0,289.Nilai ini signifikan karena nilai thitung sebesar 5,066 >

ttabel sebesar 1,29837 dengan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial jika pengalaman kerja meningkat sebesar satu satuan, maka pendapatan akan meningkat sebesar 0,289.

6. Harga, Produksi, Iklim, Luas Lahan dan Pengalaman Kerja secara bersamaan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap Pendapatan petani karet di Jorong Jambu Lipo Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung dengan koefisien 1,031, dengan nilai Fhitung 2,420 > Ftabel 2,39 dan nilai signifikan 0,000 < α = 0,10.

Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha

diterima. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa (Harga, Produksi, Iklim, Luas Lahan dan Pengalaman Kerja) berpengaruh signifikan terhadap pendapatan artinya semakin meningkat harga karet, meningkat produksi, keadaan iklim bagus, lahannya semakin luas , dan banyak pengalaman kerja maka pendapatan akan juga akan meningkat.

SARAN

Berdasarkan hasil dari penelitian, Penulis mengemukakan saran yang diharapkan dapat bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan yang ditunjukan kepada petani karet.

1. Harga, disarankan kepada para petani agar memanfaatkan semaksimal mungkin keadaan ketika tingkat harga jual karet meningkat maka untuk segera melakukan penyadapan karet lebih banyak.

2. Produksi, disarankan kepada petani karet agar lebih meningkatkan produksi dengan cara memberikan pupuk pada karet sehingga subur dan menghasilkan banyak getah.

3. Iklim, disarankan kepada petani karet agar melakukan penyadapan dan panen karet dimusim panas, karena jika pada musim penghujan, petani tidak bisa melakukan penyadapan dengan

baik sehingga dapat

mempengaruhi pendapatan.

4. Luas lahan, diharapkan kepada petani lahan sempit untuk bisa mengolah lahan yang sempit tersebut dalam penanaman karet bisa meningkatkan pendapatan dengan cara pemberian pupuk yang bertahap sehingga getah yang dihasilkan bisa lebih banyak.

5. Pengalaman kerja, diharapkan kepada para petani karet untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang pemakaian pupuk, cara panen yang baik dan benar agar tidak merusak batang karet sehingga pengalaman kerja tersebut bisa menjadi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani karet.

(18)

16 DAFTAR PUSTAKA

Adji, Wahyu, dkk. 2004. Ekonomi.

Jakarta: PT. Glora Aksara Pratama.

Arikunto, & Suharsimi. (2014).

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revi). Jakarta: Rineka Cipta.

Benowati, & Eva. (2013). Geografi Sosial. Yogyakarta: Ombak (Anggota IKAPI).

Case, & Fair. (2006). Prinsip-Prinsip Ekonomi. Jakarta: Erlangga.

Evi Junaidi, SST, M. S. (2015).

Sijunjung Dalam Angka 2015.

Sijunjung: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sijunjung.

Husinsyah. (2006). Kontribusi Pendapatan Petani Karet Terhadap Pendapatan Petani Di Kampung Mencimai. Jurnal EPP, Volume 3(1), 9–20.

Kateno. (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu. Surakarta:

Graham Multi Grafika Sukoharjo.

Kurukulasuriya, p., & Mendelsohn, R. (2008). A Ricardian Analysis of the Impact of Climate Change on African Cropland.

ALFAJRE.

Miranda, A., Lumangkun, A., &

Husni, H. (2015). Analisa pendapatan petani karet dari hutan tanaman rakyat di trans sp 1 desa pangmilang kecamatan singkawang selatan kota

singkawang kalimantan barat.

Jurnal Hutan Lestari, Volume 3, 517–525.

Silfester, M., Robin, J. L., & Ruliana, T. (2013). Faktor-Faktor Pengaruh Pendapatan Petani Karet Di Desa Sekolaq Darat Kabupaten Kutai Barat. Jurnal Ekonomi, 1–9.

Tampubolon, Murni, Artha, C., Supriana, T., & Sihombing, L.

(2013). Analisis Tingkat Pendapaatn Petani Karet Rakyat Berdasarkan Skala Usaha Minimum. Jurnal Agribisnis, (1), 1–13.

Wahyuni, S., Gunawan, I., & Baha, E. (2013). Analisis faktor produksi yang mempengaruhi pendapatan petani karet di desa rambah hilir tengah kecamatan rambah hilir kabupaten rokan hulu. Jurnal Sungkai, Volume 1(2), 37–47.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk variabel komunikasi di peroleh nilai thitung sebesar 5,356> ttabel sebesar 1,66543 dengan nilai signifikan 0,000 < = 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian

Untuk variabel kecerdasan emosional diperoleh nilai thitung sebesar 3,634 > ttabel sebesar 1,66 dengan nilai signifikan 0,000 < 𝛼 = 0,05 berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan

Nilai koefisien ini signifikan karena nilai thitung sebesar 5,384> ttabel 0,05 1,66088, berarti H0 ditolak dan Ha diterima, dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh

Nilai thitung diperoleh sebesar 1,208 < ttabel sebesar 2,02 dengan signifikansi sebesar 0,262, berarti Ha ditolak dan H0 diterima dengan demikian dapat dikatakan bahwa tidak terdapat

Untuk variabel intensitas belajar diperoleh nilai thitung sebesar 7,792 > ttabel sebesar 1,97 dengan nilai signifikan 0,000 < 𝛼 = 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan

Untuk variabel lingkungan sekolah nilai thitung sebesar 5,517 > ttabel sebesar 1,65487 dan nilai signifikan 0,000 < α0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat

Diperoleh nilai koefisien regresi brand image sebesar 0.319, dalam nilai thitung sebesar 5,613>ttabel sebesar 1,985, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan

Brand identity diperoleh nilai thitung sebesar 4,826> ttabel sebesar 2,0117 dengan nilai signifikan 0,000< 0,05, berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian dapat dikatakan