1 Penulis :
Pemakalah pada Seminar Nasional Pendidikan IPA 2016 Tim Reviewer :
Dr. Munzil, S.Si., M.Si.
Sugiyanto, S.Pd., M.Si.
Tim Editor :
Vita Ria Mustikasari, S.Pd., M.Pd.
Safwatun Nida, S.Si., M.Pd.
Metri Dian Insani, S.Si., M.Pd.
Novida Pratiwi, S.Si., M.Sc.
Erni Yulianti, S.Pd., M.Pd.
Diterbitkan oleh :
University press – UNIVERSITAS NEGERI MALANG Jl. Semarang No. 5 Malang 65145
ISBN 978-602-73915-5-0
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, akhirnya terlaksana Seminar Nasional Pembelajaran IPA Tahun 2016 oleh Program Studi Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Seminar Nasional Pembelajaran IPA ini mengambil tema “Implementasi Kurikulum Nasional dalam Abad Literasi Sains” yang mengkaji dalam bidang Strategi Pembelajaran IPA, Media Pembelajaran IPA, Assessment Pembelajaran IPA, serta Kajian IPA dan Pembelajarannya.
Seminar ini diadakan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas karya ilmiah dan pengembangan inovasi keilmuan dalam atmosfer perguruan tinggi sebagai center of knowledge bagi kalangan tenaga pendidik (dosen dan guru) serta mahasiswa dalam rangka menyongsong abad literasi sains. Melalui kegiatan Seminar ini pula diharapkan dapat menyebarluaskan hasil-hasil penelitian di bidang pendidikan IPA serta meningkatkan minat dan potensi penelitian keilmuan bagi kalangan akademisi di lingkungan pendidikan yang lebih luas.
Penyelenggaraan Seminar ini dapat terwujud dengan baik dan lancar berkat dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua peserta dan panitia Seminar. Tak lupa kami sampaikan terima kasih pula kepada pembicara utama serta pimpinan FMIPA Universitas Negeri Malang. Akhir kata, semoga kegiatan Seminar Nasional Pembelajaran IPA Tahun 2016 ini memberikan manfaat bagi kemajuan Pendidikan IPA di Indonesia.
Panitia
3
SAMBUTAN KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN IPA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
1 OKTOBER 2016
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Semoga damai dan sejahtera senatiasa memenuhi ruang kesadaran kita, sehingga meresap dan mewarnai seluruh sendi-sendi kehidupan kita bersama. Ibu, Bapak, dan Saudara hadirin yang berbahagia, pertama-tama saya ucapkan terimakasih dan selamat bergabung dalam acara seminar nasional dan workshop pembelajaran IPA tahun 2016 di Program Studi Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Malang. Tema seminar kita kali ini adalah Implementasi Kurikulum Nasional Dalam Abad Literasi Sains.
Seminar nasional kita kali ini diikuti oleh kurang lebih 201 orang peserta, yang terdiri dari guru-guru IPA, mahasiswa calon guru IPA baik program S1 maupun S2, serta para ahli dan praktisi pendidikan IPA. Mereka semua bergabung dalam kegiatan kita ini adalah dalam rangka untuk bisa turut serta berbagi permasalahan serta solusi, kreativitas dan inovasi, serta perkembangan kurikulum pembelajaran IPA.
Berbagai maslah dalam pembelajaran IPA diantaranya adalah:
1. Perubahan kurikulum pendidikan IPA, yang selalu terjadi setiap kali ganti pemerintahan dan menteri, membawa konsekuensi munculnya berbagai masalah, tidak hanya pada tataran kebijakan di tingkat atas, tetapi juga petunjuk teknis pada tataran implementasi.
2. Para guru IPA tidak kunjung bisa memahami perubahan demi perubahan yang terjadi, yang secara nasional sudah dan selalu terjadi, untuk mendapatkan arahan yang pasti pada saat mereka harus melaksanakan kegiatan implementasi, walaupun workshop, pelatihan dan seminar telah diikutinnya berkali-kali.
3. Pergeseran paradigma pembelajaran dari teaching center menuju learning center, tidak serta merta bisa diikuti oleh pergeseran posisi guru dari mengajar menuju melayani siswanya belajar. Banyak dari guru kita yang masih sulit untuk mendeskripsikan kegiatan belajar seperti apa yang ia inginkan untuk dilakukan oleh para siswa.
4. Implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran IPA, dengan 5M-nya, masih sering disalah-pahami, sehingga menyebabkan adanya variasi penafsiran dan implementasinya di lapangan. Ada yang memahaminya sebagai urutan kegiatan yang baku sehingga harus dilaksanakan secara berurutan. Sementara ada yang memahaminya hanya sebagai pengalaman belajar, yang tidak harus urut dan lengkap 5 M, dan malah ada yang menyatakan bahwa tidak harus lengkap 5M.
5. Beragam pemaknaan terhadap kompetensi dasar yang menyebabkan variasi yang sangat lebar dalam pemilihan dan penetapan proses belajar dan hasil belajar esensial dalam pengembangan indikator prncapaian kompetensi, maupun dalam penetapan proses dan hasil belajar spesifik pada tujuan pembelajaran. Sebagian guru IPA masih memahami bahwa baik indikator maupun tujuan pembelajaran harus disusun dari yang paling sederhana menuju yang lebih kompleks, sehingga acap kali waktu pembelajaran habis untuk mengulangi pengetahuan dan keterampilan prasyarat, dan nyaris tidak sempat menyelenggarakan pembelajaran untuk pengetahuan dan keterampilan esensial yang ada pada kompetensi dasar yang dimaksud.
Dan masih banyak lagi permasalahan lainnya.
Mudah-mudahan niatan baik dan kesungguhan Ibu, Bapak dan Saudara hadirin dalam seminar nasional ini, bersambut dengan pencerahan dan hasil yang lebih baik, sehingga bisa mengsinspirasi kita untuk lebih memacu dalam menghasilkan karya kreatif dan inovatif demi terwujudnya pembelajaran IPA yang lebih baik dan lebih berkualitas. Demikian sambutan saya, teriring doa dan harapan semoga Ibu, Bapak, dan Saudara hadirin dapat mengikutinta hingga akhir acara. Selamat berseminar.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Ketua Panitia
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
SAMBUTAN ... 3
DAFTAR ISI ... 4
SUSUNAN PANITIA ... 13
IMPLEMENTASI KURIKULUM NASIONAL DAN HAMBATANNYA, Muslimin Ibrahim ... 16
PERAN KURIKULUM NASIONAL DALAM MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS Sri Rahayu ... 23
TANTANGAN PENDIDIKAN GURU IPA DI ABAD 21 Hadi Suwono ... 26
RUANG LINGKUP 1 : STRATEGI PEMBELAJARAN IPA KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH IPA PESERTA DIDIK KELAS VII SMP YANG BELAJAR DENGAN MODEL LEVELS OF INQUIRY-INTERACTIVE DEMONSTRATION Rini Eka Fibriati, Lia Yuliati, Erni Yulianti ... 33
PENGARUH MODALITAS BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR STOIKIOMETRI SISWA KELAS 10 SMA NEGERI 1 KAUMAN PONOROGO DALAM PEMBELAJARAN PROBLEM POSING-LEARNING CYCLE TIGA FASE Norainny Yunitasari ... 38
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERTANYA DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI STRATEGI CAROUSEL BERPADU SNOWBALL THROWING PADA SISWA KELAS IX G SMP NEGERI 2 GEMPOL Lilis Suryani, Erni Yulianti ... 41
ANALISIS TINGKAT KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA PEMBELAJARAN IPA MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN LEVEL OF INQUIRY-INTERACTIVE DEMONSTRATION Indah Yunitasari, Lia Yuliati, Novida Pratiwi ... 45
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI DAN HASIL BELAJAR PADA SISWA KELAS VIII E SMP NEGERI 2 GEMPOL TAHUN PELAJARAN 2016/2017 MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TSTS DAN CL-RRB Masniyah, Vita Ria Mustikasari ... 58
MEMBANGUN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA PELAJARAN IPA MELALUI COLLABORATIVE LEARNING Bambang Anwar, Munzil, Arif Hidayat ... 51
STRATEGI MEMBELAJARKAN SISTEM KALENDER ISLAM MELALUI PEMBELAJARAN IPA Dinar Maftukh Fajar, Rafiatul Hasanah, Laily Yunita Susanti ... 58
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN EKOSISTEM BERBASIS INKUIRI DENGAN SUMBER BELAJAR DANAU BETOK UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN DAN SIKAP ILMIAH SISWA KELAS VII SMPN 1 TIRIS PROBOLINGGO Endang Rahmi Nur Laili, Ibrohim, Novida Pratiwi ... 68
PEMAKALAH UTAMA
PEMAKALAH PARALEL
5
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN PENCEMARAN LINGKUNGAN BERBASIS INKUIRI TERBIMBING MELALUI PEMANFAATAN POTENSI WILAYAH INDUSTRI MOJOKERTO SEBAGAI SUMBER BELAJAR UNTUK
MENGEMBANGKAN KOMPETENSI SISWA KELAS VII SMPN 2 SOOKO
Indrias Ma’rufinia, Ibrohim, Vita Ria Mustikasari ... 73 PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN BERPENDEKATAN SAINTIFIK PADA
MATERI KINEMATIKA
Silfia Dwi Ananda, Sutopo, Novida Pratiwi ... 80 EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE
UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII A MTS TRIBAKTI KUNJANG KABUPATEN KEDIRI
Fitri Ria Nur ‘Aini, Sulistiono, Mumun Nurmilawati ... 87 IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PROBLEM BASED
LEARNING POKOK BAHASAN INDRA PENDENGARAN DAN SISTEM SONAR UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 4 KOTA MALANG,
Fitriani, Arief Hidayat, Hadi Suwono ... 91 PENGUASAAN KONSEP SUHU DAN KALOR SISWA KELAS VII SMP
TAMAN DEWASA PROBOLINGGO
Mahmuda Noviyani, Sentot Kusairi, M.Amin ... 97 PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN HUKUM-HUKUM NEWTON TENTANG
GERAK MODEL LEARNING CYCLE 5E UNTUK SMP
Ahmad Mujiono Ma’ruf, Sutopo, Erni Yulianti... 102 PENGARUH PEMBELAJARAN LEVELS OF INQUIRY TAHAP DISCOVERY LEARNING
TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATA PELAJARAN IPA
Siti Solfia Indriyanti Wilujeng, Lia Yuliati, Erni Yulianti ... 108 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E UNTUK
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IX F SMP NEGERI 1 BEJI
Zunnurin Isnaini, Sugiyanto ... 113 PENINGKATAN KEMAMPUAN DAYA INGAT SISWA MATERI SISTEM GERAK
PADA MANUSIA DI KELAS VIII C MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E DI SMP NEGERI 3 NGULING
Tuti Ismaniyah, Munzil ... 118 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP
HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VIII SMP/MTS
Firda Awalia Putri, Susriyati Mahanal, Vita Ria Mustikasari ... 126 PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA SEGI KOGNITIF
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE MENCARI PASANGAN PADA MATERI SISTEM EKSKRESI KELAS IX SMP NEGERI 3 TOSARI SATU ATAP
Dahniar Ichwan, Vita Ria Mustikasari ... 130 PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA (FISIKA)
SISWA KELAS VIII-A SMP NEGERI 1 BEJI DENGAN MENERAPKAN MODEL DIRECT INSTRUCTION (DI)
Munawaroh, Laily Rachmia Septiani ... 138
PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI
OBJEK IPA DAN PENGAMATANNYA MELAUI PEMBELAJARAN PLAYING CARD PADA SISWA KELAS VII F SMP NEGERI I BANGIL TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Trixy Putri Ismawardani, Vita Ria Mustikasari ... 142 PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA-BIOLOGI DENGAN MODEL
KOOPERIF TIPE THINK-TALK-WRITE (TTW) PADA SISWA KELAS IX-C SMP NEGERI 1 BEJI
Ekaristi Sungkawaningtyas Tuti ... 146 PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VIII D
SMP NEGERI 2 WONOREJO KABUPATEN PASURUAN
MENGGUNAKAN MODEL STAD DENGAN KOMBINASI ROLE PLAYING
Izatul Laela, Metri Dian Insani ... 150 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII
SMP MUHAMMADIYAH 3 PANDAAN MELALUI METODE
EKSPERIMEN PADA MATERI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Siti Chusnul Hidayati, Metri Dian Insani ... 153 PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IX
PADA MATERI SISTEM REPRODUKSI MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN STAD DI SMP PGRI PURWOSARI
Siti Mukaromah, Metri Dian Insani ... 158 PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VIII SMP PGRI PANDAAN
MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN EKSPERIMEN
Wiwiek Misetyowati, Metri Dian Insani ... 162 PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING METODE DISKUSI UNTUK
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR IPA SISWA KELAS VII SMP ROUDLOTUL AQOIDI BANGIL TAHUN PELAJARAN 2016-2017
Yusita Hikmah Turrohmah ... 166 PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS IX-B SMPN 2 WINONGAN
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN THINK PARE SHARE
Indarijanti ... 169 PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII B SMP PUTRI DARUT TAUHID BANGIL MELALUI PEMBERIAN TUGAS PROYEK PEMBUATAN
MODEL ATOM DAN MOLEKUL
Andik Sutrisno, Vita Ria Mustikasari ... 174 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE CAROUSEL UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGKOMUNIKASIKAN HASIL PENGAMATAN SISWA KELAS 9 SMPN 4 BANGIL
Yayuk Sudarwati, Vita Ria Mustikasari ... 178 PEMBERIAN REWARD DALAM MODEL PEMBELAJARAN STAD UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS VII-E SMP NEGERI 2 SUKOREJO KABUPATEN PASURUAN
Indah Setiyaningsih, Vita Ria Mustikasari ... 182 PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENDESKRIPSIKAN SISTEM ORGANISASI
KEHIDUPAN PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN INQUIRY SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 1
GONDANGWETAN KABUPATEN PASURUAN SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2016/2017 Anik Sulistyowati ... 184
7
PENERAPAN METODE SMALL GROUP DISCUSSION UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII-C SMP NEGERI 2 REMBANG
KABUPATEN PASURUAN
Asni Harumindari, Afi Wahidah ... 186 PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SAINS DAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KELAS VIII D SMPN 2 BANGIL
SEMESTER GANJIL TAHUN 2014 PADA MATERI GERAK PADA TUMBUHAN
Trinil Windayati ... 192 PENERAPAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA KELAS VII-F SMPN 2 BEJI KABUPATEN PASURUAN
Khalimatus Sakdiyah, Metri Dian Insani... 195 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM
ACHIEVMENT DIVISION) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 GEMPOL KABUPATEN PASURUAN
Purwanti, Metri Dian Insani ... 198 PENINGKATAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA
DENGAN METODE PEMBELAJARAN PRESENTASI KUNJUNG KARYA SISWA KELAS VII-D SMP NEGERI 1 GEMPOL
Sumiati, Erni Yulianti ... 201 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPA SISWA KELAS VIII-E SMP WALISONGO GEMPOL
Wirdianti, Erni Yulianti ... 204 PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VII C
SMPN 2 TUTUR MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
Luluk Rohmah, Munzil ... 207 PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN
METODE KUNJUNG KARYA UNTUK SISWA KELAS 9-I SMPN 1 GEMPOL
Heny Mudji Astuti, Erni Yulianti ... 213 PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DALAM MENINGKATKAN KETRAMPILAN
OBSERVASI DAN MEMBUAT KESIMPULAN SISWA KELAS VII F SMP NEGERI I GEMPOL TAHUN 2016
Budi Indriastuti, Erni Yulianti ... 216 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA PESERTA DIDIK KELAS VII-H
SMP NEGERI 1 SUKOREJO MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL STAD
Aisiah Umi Farida, Dwi Ratna Wati, Erni Yulianti ... 219 PENGEMBANGAN KREATIVITAS SISWA KELAS VII SMPN 1 GRATI MELALUI
PENERAPAN PERBANDINGAN SATUAN BAKU DAN TIDAK BAKU
Inung Ermawati, Erni Yulianti ... 221 PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA UNTUK
MENINGKATKAN KETRAMPILAN BERKOMUNIKASI DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS 8B SMPN 2 TUTUR TAHUN 2016-2017
Abd. Qodir, Sugiyanto ... 224
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VIII-G SMP NEGERI I SUKOREJO PASURUAN
Yus Setriarini, Ervan Affandy, Erni Yulianti ... 228 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS IX C
SMP NEGERI 2 SUKOREJO MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TPS (THINK PAIR SHARE)
Cik’ani, Sugiyanto ... 231 PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IX-I
SMP NEGERI 1 SUKOREJO MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
Yus Setriarini, Sugiyanto ... 236 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY UNTUK
MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES IPA SISWA KELAS VII-A
SMP NEGERI 1 LUMBANG KABUPATEN PASURUAN TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Warda Tusholicha, Sugiyanto ... 240 PENERAPAN PERMAINAN PUZZLE DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IX-A SMP YAPENAS GEMPOL TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Sriningsih , Sugiyanto... 245 PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF JIGSAW KELAS IX B SMP PUTRI DARUT TAUHID BANGIL TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Lailah, Erni Yulianti ... 251 PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TTDJ)
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI
“SISTEM REPRODUKSI” PADA SISWA KELAS IX E SMP NEGERI 1 GEMPOL KABUPATEN PASURUAN
Nailil Marom, Munzil ... 254 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA PADA PESERTA DIDIK
KELAS VIII MTS.MA’ARIF NU DURENSEWU PANDAAN MELALUI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE EKSPERIMEN MATERI TEKANAN ZAT
Umdatul Hasanah, Munzil ... 261 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL THINK PAIR SHARE (TPS)
UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN AKTIVITAS BELAJAR IPA SISWA KLAS IX F SMP NEGERI 1 LEKOK TAHUN 2016
Agustin Widiastuti, Erni Yulianti... 266 PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI
METODE PEMBELAJARAN SMALL GROUP WORK PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 3 NGULING KABUPATEN PASURUAN TAHUN AJARAN 2016 / 2017
Anik Nur Yulianingsih, Munzil ... 270 PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MATERI BESARAN DAN
SATUAN MELALUI PENERAPAN METODE PEMETAAN PIKIRAN PADA SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 1 PRIGEN
Siti Maslikhah, Munzil ... 273 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS IX E SMPN I SUKOREJO
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
Yus Setriarini, Kiswati ... 278
9
RUANG LINGKUP 2 : MEDIA PEMBELAJARAN IPA
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA BERBASIS SETS PADA TEMA PENCEMARAN LINGKUNGAN UNTUK SISWA SMP/MTS KELAS VII
Anita Dwi Suprapty, Parno, Novida Pratiwi, I Wayan Sumberartha ... 281 PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK
PADA MATERI SISTEM RESPIRASI MANUSIA
Ayu Ilfiana, Susilowati, Safwatun Nida ... 284 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TOPIK BUNYI UNTUK MENGEMBANGKAN
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII SMP
Diana Cahya Ningrum, Vita Ria Mustikasari, Arif Hidayat ... 289 PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF IPA TERPADU MATERI INTERAKSI
MAKHLUK HIDUP DAN LINGKUNGANNYA BERBASIS ANDROID UNTUK SISWA KELAS VII SMP/MTS
Maulidiyani Fuadati, Munzil, Novida Pratiwi ... 292 PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UNTUK
SISWA SMP/MTs
Riris Nurhilyatuz Zulfa, Susilowati, Safwatun Nida ... 297 ANALISIS KEBUTUHAN MEDIA MOBILE LEARNING BERBASIS ANDROID MATERI
CAHAYA UNTUK SISWA SMP
Ervan Dwi Yuliaristiawan, Erni Yulianti, Arif Hidayat ... 301 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA DENGAN MENGEKSPLISITKAN
HAKIKAT SAINS (NOS) DAN BERPIKIR KRITIS
Evi Normawati, Sri Rahayu, Novida Pratiwi ... 304 ANALISIS KEBUTUHAN VARIASI MEDIA PEMBELAJARAN IPA PADA MATERI
PERPINDAHAN KALOR SMP
Indah Puspitaningtyas, Kadim Masjkur, Erni Yulianti ... 309 SOLUSI MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI BAHAN AJAR
DENGAN PENDEKATAN SETS (SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY, AND SOCIETY) Anisa Imawati, Kadim Masjkur, Metri Dian Insani ... 312 PENGEMBANGAN PAKET IPA TERPADU BERBASIS INKUIRI TEMA PEREDARAN
DARAH MANUSIA UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA KELAS VIII SMP/MTS
Eka Trisnawati, Supriyono Koes H., Metri Dian Insani ... 316 PENGEMBANGAN MODUL IPA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES
SAINS SISWA SMP BERBASIS GUIDED INQUIRY
Sherly Amalia Eka Parameswari, Arif Hidayat, Metri Dian Insani ... 321 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER PADA TEMA
BUNYI UNTUK SISWA SMP KELAS VIII
Nur Shobiroh, Winarto, Erni Yulianti ... 324 PENGEMBANGAN PAKET PEMBELAJARAN IPA TERPADU BERBASIS INKUIRI DENGAN TEMA ENERGI SEBAGAI PELUANG UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN
PROSES SAINS SISWA SMP/MTS KELAS VII
Shellonia Aninda, Supriyono Koes H, Metri Dian Insani ... 328 PEMAKALAH PARALEL
PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU MATERI SISTEM SIRKULASI DARAH MANUSIA UNTUK SISWA SMP KELAS VIII
Ana Fatkhu Rokhmah, Susilowati, Safwatun Nida ... 335 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER
UNTUK MEMVISUALISASI KONSEP MIKROSKOPIS PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH DAN PERNAPASAN MANUSIA
Ria Lifatul Jannah, Winarto, Safwatun Nida ... 340 PEMBUATAN BAHAN AJAR MATA PELAJARAN FISIKA BERBASIS MULTIMEDIA
Fika Hastarita Rachman, Sri Wahyuni ... 345 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ANDROID MATERI ZAT ADITIF DAN ZAT ADIKTIF UNTUK TINGKAT SMP KELAS VIII
Rizky Amilia, Munzil, Novida Pratiwi ... 349 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA DENGAN MENGEKSPLISITKAN
HAKIKAT SAINS (NOS) DAN BERPIKIR KRITIS PADA TOPIK ENERGI DALAM SISTEM KEHIDUPAN
Yayang Prananda, Sri Rahayu, Safwatun Nida ... 356 PENGEMBANGAN MODEL 4D PADA BAHAN AJAR IPA DENGAN PENDEKATAN SETS
MATERI SIFAT BAHAN DAN PEMANFAATANNYA UNTUK SISWA SMP KELAS VIII,
Yeni Cahyaningsih, Parno, Metri Dian Insani ... 361 PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU MODEL CONNECTED PADA MATERI
SISTEM PENCERNAAN MAKANAN
Alif Nur Hasanah, Susilowati, Safwatun Nida ... 367 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBANTUAN KOMPUTER MATERI
PESAWAT SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP Hayati Damafitri Hasanuddin, Winarto, Vita Ria Mustikasari ... 371 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN IPA BERBANTUAN KOMPUTER PADA
MATERI GERAK LURUS UNTUK SISWA SMP/MTS KELAS VIII
Ardiansyah Fitrul Firdaus, Winarto, Safwatun Nida ... 377 PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS STS MATERI
TRANSPORTASI, RESPIRASI, DAN TEKANAN ZAT CAIR UNTUK SISWA SMP KELAS VIII Endik Irniawan, Parno, Metri Dian Insani, Munzil ... 383 PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA BERBASIS LABORATORIUM PADA MATERI
SUHU DAN KALOR UNTUK SISWA KELAS VII
Mymo Putriani, Kadim Masjkur, Vita Ria Mustikasari ... 387 ANALISIS KETERPADUAN PROGRAM PEMBELAJARAN IPA MODEL INKUIRI
TERBIMBING UNTUK SMP KELAS VII TENTANG MEKANISME MENJAGA KESTABILAN SUHU
Elok Suryaning Rahayu, Sugiyanto, Vita Ria Mustikasari ... 392 PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) DALAM PEMBELAJARAN IPA
MODEL LEARNING CYCLE 5E UNTUK SMP KELAS VII
Lailatul Afiyah, Sugiyanto, Erni Yulianti ... 395 PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENUNJANG
PERKULIAHAN FISIKA PADA PRODI IPA FMIPA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Winarto ... 398
11
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN IPA BERBANTUAN KOMPUTER UNTUK SISWA SMP/MTS KELAS VIII PADA MATERI PENGLIHATAN DAN ALAT OPTIK
Afrizal Edwin Pradana, Winarto, Safwatun Nida ... 403
RUANG LINGKUP 3 : ASSESMENT
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKUR KETERAMPILAN PROSES SAINS BERUPA AUTHENTIC ASSESSMENT PADA MATERI KALOR
Anik Tri Susanti, Susriyati Mahanal, Novida Pratiwi ... 412 IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA SMP KELAS VIII DENGAN MENGGUNAKAN
INSTRUMEN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER
Yunia Kartikawati Subagiyo, Prayitno, Metri Dian Insani ... 416 IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA TENTANG KALOR DI SMP MENGGUNAKAN
INSTRUMEN DIAGNOSTIK TWO-TIER
Atznain Iqma Miswami, Prayitno, Novida Pratiwi ... 421 ANALISIS MISKONSEPSI GERAK PADA SISWA SMP MENGGUNAKAN
INSTRUMEN DIAGNOSTIK THREE-TIER
Fia Maulida Wiyono, Sugiyanto, Erni Yulianti ... 426 IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA SMP MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP
DENGAN LINGKUNGAN MENGGUNAKAN TES TWO-TIER
Gilda Ayu Ross Pitaloka, Prayitno, Novida Pratiwi ... 430 PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES KETERAMPILAN PROSES SAINS PADA
MATERI KALOR DAN PERPINDAHANNYA
Diego Pradana, Susriyati Mahanal, Safwatun Nida... 434 PEMBUATAN EVALUASI PEMBELAJARAN BAGI GURU DENGAN EDMODO
Sri Wahyuni, Yonathan Ferry Hendrawan ... 438 ANALISIS KEMAMPUAN REPRESENTASI SISWA SMP PADA MATERI KALOR
Ida Dwi Lestari, Lia Yuliati, Hadi Suwono ... 443 EKSPLORASI KEMAMPUAN PENALARAN ILMIAH (SCIENTIFIC REASONING SKILL)
SISWA SMP KELAS VII
Anik Astari, Lia Yuliati, Hadi Suwono ... 447 PROFIL KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA MATERI SISTEM
EKSKRESI MANUSIA
Lilis Nuryanti, Siti Zubaidah, Markus Diantoro ... 451 PENGUASAAN SISWA SMP TERHADAP KONSEP INTERAKSI MAKHLUK HIDUP
DAN LINGKUNGAN
Agi Asmita, Sentot Kusairi, Munzil ... 456 KEMAMPUAN BERPIKIR ILMIAH DAN MULTI REPRESENTASI
SISWA SMP NEGERI 3 SANGGAU PADA PEMBELAJARAN IPA
Ida Fitriyati, Arif Hidayat, Munzil ... 462 PROFIL KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA MATA PELAJARAN IPA
Aris Trapsilowati, Supriyono Koeshandayanto, Hadi Suwono ... 467 POTRET KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA SMP NEGERI 2 TAMBAKBOYO
Muhammad Makhdum, Hadi Suwono, Markus Diantoro ... 473 PEMAKALAH PARALEL
PENGEMBANGAN INSTRUMEN DIAGNOSTIK TWO-TIER UNTUK MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN SMP
Vindy Foniastuti, Prayitno, Vita Ria Mustikasari ... 479 PERLUNYA PROGRAM RESITASI DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN
KONSEP DINAMIKA PERTIKEL MAHASISWA
Muhammad Reyza Arief Taqwa, Revnika Faizah ... 482
RUANG LINGKUP 4 : KAJIAN IPA DAN PEMBELAJARANNYA
STUDI PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA MATERI GETARAN, GELOMBANG DAN BUNYI
Yosepina Dua Padang, Munzil, Arif Hidayat ... 489 PERLUNYA MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBUKA PADA MATERI OPTIK
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Muhammad Taufiq Alhudaya, Arif Hidayat, Supriyono Koeshandayanto ... 492 MODELING INSTRUCTION UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN
KONSEP LMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)
Yulika Fahmanti, Mohamad Amin, Arif Hidayat ... 499 ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI SAINS SISWA SMP KELAS VII
PADA PEMBELAJARAN IPA
Evi Junia Nurhayati, Munzil, Hadi Suwono ... 504 PEMAKALAH PARALEL
13
SUSUNAN PANITIA
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN IPA 2016
Sterring Commite : Dr. Munzil, S.Pd., M.Si.
(Koordinator Prodi Pendidikan IPA)
Organizing Commite
Ketua : Sugiyanto, S.Pd.,M.Si
Sekretaris : Metri Dian Insani, S.Si.,M.Pd
Bendahara : ErniYulianti, S.Pd.,M.Pd
Co. Acara dan Humas : Safwatun Nida, S.Si, M.Pd
Anggota : Citra Larasati
Muhammad Farras Syauqi Finny Tessa Avionita Gita Ayu Septyana Siti Aisyah Raudatul Jannah Siti Aisyah Rohmatin Co. Publikasi dan Konsumsi : Novida Pratiwi, S.Si, M.Sc
Anggota : Diana Rahma Ayunita
Mahda Yulia Astary Zahrotun Nafi’ah Safitri
Mahmudah Dini Amalia
Anggraeni Dwi Puspita Anindya Primadayuning Putri Bintang Prayoga P
Co. Makalah dan Perlengkapan : Vita Ria Mustikasari, S.Pd.,M.Pd
Anggota : Nunuk Ika Lestari
Wuni Nila Cahyani Nur Fuaidah
Puteri Lailatul Fitriyah Dewi Rochmatul Isnaeni Widiya Lutfiani
Debby Novian Esti Rahardita Ella Putri Artifasari
Co. Presentasi Panelis : Metri Dian Insani, S.Si., M.Pd
Anggota : Merry Christiani
Dewi Mustikasari Dian Puji Lestari Nisa Nur Zakiyah Lailatul Nuronia
Siti Khoirun Ervin Novanti Vita Fatimah
Hana Naqiyya Nada
Co. Keamanan dan kebersihan : Achirul Chammimudin
Anggota : Andi Tri Sulistiono
Ghufron Nurpatriya K Nila Efrida Permatasari Dian Nur Cahyanti Itsna Yunida Al Husna M. Andik Rohmatullah Abdul Fattah Noor
15
PEMAKALAH UTAMA
IMPLEMENTASI KURIKULUM NASIONAL DAN HAMBATANNYA
Muslimin Ibrahim
Program Studi Pendidikan Sains PPs Unesa Email: [email protected] A. Pendahuluan
Sesuai dengan informasi yang disampaikan dalam dinamika dan perkembangan kurikulum 2013 (Maret, 2013), bahwa nama kurikulum yang berlaku sekarang tetap, yaitu Kurikulum 2013 (K-13) yang berlaku secara nasional. Dengan demikian nama tersebut akan diacu di dalam tulisan ini.
Kurikulum secara sederhana dapat didefinisikan sebagai seperangkat pengalaman yang akan dihayati peserta didik sebelum akhirnya dapat dinyatakan telah menyelesaikan suatu program pendidikan atau pelatihan tertentu. Keberhasilan suatu kurikulum di dalam menyediakan pengalaman kepada peserta didik, bergantung paling tidak kepada dua hal, yaitu written curriculum (dokumen/rancangan kurikulum) itu sendiri dan actual curriculum (Proses pembelajaran yang terjadi di ruang kelas), yang merupakan implementasinya.
Di dalam K-13 secara eksplisit dicantumkan tiga ranah: sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai
“tagihan” yang harus diwujudkan dalam hasil belajar. Selama ini sikap baru pada tataran “wacana”, dicapai sebagai nurturans effect., tidak ditagih di dalam dokumen kurikulum. Akibat dari keadaan tersebut, sikap seringkali terabaikan. Hasil penelitian yang dirilis Dikti, menyatakan bahwa pembelajaran di sekolah diarahkan 90% untuk mencapai hardskills dan hanya 10% softskills, sementara lapangan kerja menuntut sebaliknya, 80%
softskills dan 20% hardskills. Pengalaman yang diberikan tidak selaras dengan yang diperlukan.
A. Rancangan Kurikulum 2013
Meskipun Kurikulum 2013 dikembangkan mengaju kepada sumber-sumber yang sama yaitu tujuan nasional dan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum di Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang nomor 20 tahun 2003, maupun dokumen Standar Nasional Pendidikan, secara jujur diakui inilah kurikulum yang paling lengkap terutama bila dilihat dari rumusan kompetensi khususnya kompetensi inti yang ingin dicapai. Berikut ini adalah analisis mengenai rancangan K-13.
Pertama:
Salah satu elemen perubahan yang menonjol di dalam kurikulum ini adalah adanya perimbangan dan penekanan pada softskill di samping hardskill. Dalam jangka waktu yang lama telah terjadi pembelajaran di kelas yang memberi penekan pada hardskill (90%) sementara softskill hanya 10%. Itupun tidak secara sengaja diajarkan, melainkan dicapai sebaga efek nurturans, yang didasarkan pada asumsi bahwa jika seseorang berpengetahuan dan berketerampilan, dengan sendirinya akan memiliki sikap yang baik. Asumsi ini sudah lama terbukti ketidakbenarannya. Banyak orang pandai dan terampil, tetapi tidak memiliki sikap positip.
Kurikulum 2013, mencoba membalik fakta tersebut di atas. Kurikulum 2013 berorientasi kepada kebutuhan lapangan. Menurut berbagai survey dan berbagai sumber, diketahui bahwa lapangan kerja memerlukan lulusan sekolah dengan tuntutan softskill 80% sementara hardskill hanya 20%. Fakta ini menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 memberi peluang secara sengaja untuk membangun pengetahuan, keterampilan (hardskill) dan sikap spiritual dan sikap social (softskill).
Kedua
Kurikulum 2013, mengakomodasi apa yang diharapkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Di dalam bukunya beliau mengatakan: “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita”.
Apa yang diharapkan oleh Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889 – 26 April 1959) di atas sejalan dengan rumusan tujuan nasional dan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum di dalam pasal 3 Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu tercapainya sikap spritual dan sikap sosial (karakter), pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan pendidikan nasional tersebut menginginkan terbentuknya manusia Indonesia yang utuh (komprehensif). Kurikulum 2013 mencantum secara eksplisit keempat tujuan itu sebagai kompetensi inti dan menjadi tanggungjawab semua mata pelajaran untuk mencapainya. Fakta ini menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 secara sengaja menetapkan “target” yang harus dicapai adalah siswa yang cerdas dan berkarakter (sikap) kuat.
Ketiga
Pada kurikulum sebelumnya kompetensi dirumuskan berdasarkan mata pelajaran yang sudah ada terlebih dahulu. Sementara itu pada Kurikulum 2013, mata pelajaran dirumuskan berdasarkan kompetensi yang sudah dirumuskan. Hal ini mengandung pengertian bahwa mata pelajaran dirancang untuk mencapai kompetensi. Seperti sudah diutarakan pada bagian-bagian sebelumnya kompetensi inti terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan perkataan lain kompetensi inti adalah target kurikulum yang harus dicapai oleh semua mata pelajaran. Tidak seperti pada kurikulum sebelumnya, siskap dicapai melalui pembelajaran agama dan PPKn
17
sementara pelajaran lain dicapai hanya melalui efek nurturans. Fakta ini menguatkan keyakinan kalau implementasi Kurikulum 2013 mampu membentuk manusia Indonesia yang cerdas dan berkarakter kuat.
Keempat
Kurikulum 2013 memilih menggunakan pendekatan pembelajaran yang diyakini sejak lama oleh para ahli sebagai pendekatan paling baik (Sagan, 1980). Pembelajaran sains yang paling baik adalah apabila dilakukan dengan cara seperti bagaimana sains itu ditemukan (Leslie & Briggs, 1987). Sains ditemukan lewat metode ilmiah, menggunakan keterampilan proses ilmiah. Pendekatan saintifik yang dipilih untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013 merupakan pilihan tepat.
Pendekatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik menyiratkan bahwa pembelajaran menggunakan berbagai ragam keterampilan proses berpikir yang perlu dilatihkan, yaitu: pengamatan yang memunculkan masalah, diikuti oleh aktivitas menjawab masalah seperti pengamatan atau eksperimen atau kegiatan lain yang berfungsi mengumpulkan informasi, diakhiri dengan menarik simpulan berdasar data.
Simpulan merupakan jawab atas masalah yang telah berhasil diselesaikan. Disini siswa menemukan jawab terhadap masalah yang dihadapi (Discovery Learning).
Ada dua hasil belajar yang dicapai oleh siswa saat belajar menggunakan pendekatan saintifik, yaitu jawaban atas masalah, yang tidak lain adalah konten/isi pelajaran yang sedang dipelajarinya dan kedua cara (proses) menyelesaikan masalah. Keterampilan menyelesaikan masalah yang diperoleh dari pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik ini merupakan bekal yang disiapkan oleh “pembelajaran” agar siswa berhasil hidup di masa depan. Itulah sebab ahli psychology Amerika Serikat Robert Mills Gagné (21 Agustus 1916 – 28 April 2002) berpendapat bahwa kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah merupakan hasil belajar yang paling tinggi. Dengan demikian cara belajar seperti itu akan memberdayakan siswa dengan pengetahuan, dan keterampilan dan mampu menyelesaikan masalah (performance character).
Kelima
K-13 menggunakan cara pembelajaran sains yang paling baik. Di dalam rancangan K-13 secara sadar proses pembelajaran menggunakan pendekatan sebagaimana ilmu itu ditemukan, yaitu melalui metode ilmiah.
Pembelajaran yang berbasis metode ilmiah ini sejak lama dikenal sebagai pendekatan keterampilan proses. Sejak lama Leslie dan Briggs, (1978) menyatakan bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan ini merupakan cara terbaik mengajar sains. Penggunaan pendekatan keterampilan proses menyiapkan peserta didik akan kemampuan berpikir, keterampilan mengambil keputusan (Suryanti, 2012), jawaban atas masalah dan cara menyelesaikan masalah (Gagne, 1989), dan kreativitas Dyers., J.K. et al (2011).
Selanjutnya Dyers mengatakan, bahwa bahwa 2/3 kemampuan kreativitas diperoleh melalui pendidikan (pengamatan, menanya, menalar, mencoba) dan hanya 1/3 dari bakat. Bahkan Gagne sendiri mengatakan bahwa kemampuan menyelesaikan masalah merupakan hasil belajar yang paling tinggi karena secara simultan peserta didik memperoleh dua hasil belajar sekaligus, yaitu produk ilmiah (jawaban masalah) dan proses ilmiah (cara menyelesaikan masalah). Cara menyelesaikan masalah merupakan “tool” bagi peserta didik untuk belajar mandiri sepanjang hayat. Inilah yang oleh sementara pakar disebutkan sebagai “kalil”. Pembelajaran K-13 seharusnya mampu memberi “kail” kepada peserta didik, tidak hanya ikan.
Keenam
Ruang lingkup SKL sudah mencakup dimensi pengetahuan berpikir yang utuh, meliputi: dimensi pengetahuan yaitu, pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif serta dimensi proses berpikir mulai tingkat rendah, yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, sampai yang tertinggi mencipta, untuk semua level pendidikan sekolah.
Ketujuh
K-13 memperkenal pembelajaran collaborative dan cooperative. Kedua pendekatan ini saling melengkapi meskipun sering saling dipertukarkan. Pada pembelajaran kolaboratif setiap individu bertanggung jawab atas tindakan mereka, termasuk belajar dan menghormati kemampuan serta kontribusi rekan-rekan mereka.
Sedangkan pembelajaran kooperatif lebih menekankan kepada struktur interaksi yang dirancang untuk memfasilitasi pemenuhan/pencapaian tujuan bersama melalui saling ketergantungan positip di antara orang-orang yang bekerja bersama dalam kelompok. Kolaboratif memberi penekanan pada proses, sementara kooperatif lebih kepada hasil dari kerjasama, kedua pendekatan memberi penekanan pada aspek sosial dari kerjasama.
Kedelapan
Rancangan pembelajaran pada K-13 telah mengantisipasi ciri abad 21, (a) yaitu informasi terdapat di mana-mana diantisipasi dengan jalan pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu; (b) Komputasi lebih cepat memakai mesin, diantisipasi dengan cara pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah [menanya], bukan hanya menyelesaikan masalah [menjawab]; (c) Otomasisasi yang menjangkau semua pekerjaan rutin, diantisipasi dengan jalan pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analitis [pengambilan keputusan] bukan berpikir mekanistis [rutin]; (d) Komunikasi terjadi dari mana saja dan kapan saja, diantisipasi dengan jalan pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Knauss, 2014).
Kesembilan
Rancangan penilaian dilakukan menggunakan penilaian otentik sebagai mitra penilaian paper and pencil test. Dengan demikian, penilaian bersifat komprehensif, utuh mencakup semua aspek hasil belajar dan proses belajar.
Alasan-alasan yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 telah dirancang (a) memiliki target Kompetensi Inti yang komprehensif (sikap (karakter). Pengetahuan, dan keterampilan) yang harus dicapai;
(b) proses untuk mencapai kompetensi yang dimaksud merupakan cara terbaik, karena di dalam proses pembelajaran, siswa belajar ilmu melalui proses dan siswa belajar proses melalui ilmu; (c) semua guru bertanggungjawab untuk mencapai semua kompetensi itu melalui pembelajaran mata pelajarannya; Fakta ini membuat kita optimis bahwa Kurikulum 2013 memang dirancang untuk mampu membentuk manusia Indonesia cerdas dan berkarakter kuat.
Sebuah kata bijak mengatakan bahwa: “Rancangan yang baik adalah separuh dari sukses, kegagaglan di dalam membuat rancangan sama halnya dengan merancang kegagalan. Dari segi rancangan, Kurikulum 2013 sudah dibuat dengan baik, dengan demikian pembentukan manusia Indonesia yang cerdas dan berkarakter kuat sudah separuh sukses. Kesuksesan sisanya tergantung pada implementasinya (penerapannya). Marilah sekarang kita melakukan analisis tentang implementasi ini.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya dokumen K-13 telah dirancang dengan baik untuk mencapai insan Indonesia yang cerdas komprehensif dan cerdas kompetitif, sesuai Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sampai tahun 2025. Pertanyaan besar yang harus dijawab sekarang adalah bagaimana implementasinya?
B. Implementasi Kurikulum 2013
Berbicara tentang implementasi K-13 mencakup dua hal, yaitu implementasi proses pembelajaran dan implementasi penilaian.
1. Implementasi Pembelajaran
Implementasi pembelajaran di K-13 haruslah dilaksanakan mengacu kepada standar proses seperti tertuang di dalam Lampiran Permendikbud Nomor 22 tahun 2016, yaitu berupa perubahan paradigma pembelajaran seperti disajikan pada Tabel 1 berikut.
Dari pembelajaran … Ke pembelajaran …
Dengan eserta didik diberitahu Dengan peserta didik mencari tahu Dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar Dengan aneka ragam sumber belajar
Dengan pendekatan tekstual Dengan pendekatan proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah
Berbasis konten Berbasis kompetensi
Parsial Terpadu/terintegrasi
Yang menekankan jawaban tunggan Dengan pertanyaan yang kebenarannya multi dimensi
Verbalisme Aplikatif
Di samping perubahan paradigma di atas, implementasi pembelajaran pada K-13 memiliki karakteristik:
menekankan pada peningkatan dan keseimbangan antara hardskills dan softskills, pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai yang memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodho), memotivasi (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas (tut wuri handayani), mengakomdasi perbedaan individu melalui penerapan berbagai strategi pembelajaran dengan prinsip semua orang adalah guru dan pembelajaran dapat berlangsung di mana saja, dan kapan saja serta dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan keefektifan pembelajaran
Dengan demikian, K-13 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, (Observing) menanya (Questioning), menalar (Associating), mencoba (Experimenting) membentuk jejaring (Networking) untuk semua mata pelajaran. Lima 5M memang bukanlah urutan langkah pembelajaran melainkan keterampilan proses berpikir yang harus dilatihkan.
Proses pembelajaran “harus” menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Melalui substansi atau materi ajar ditransformasikan sehingga peserta didik tahu mengapa, tahu apa, dan tahu bagaimana. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) pada peserta didik.
Pembelajaran K-13 haruslah bersifat top-down ketimbang bottom-up. Implementasi project based learning adalah keniscayaan, lebih-lebih di dalam mata pelajaran IPA. Pembelajaran berbasis projek harus dilakukan dengan mengacu kriteria tertentu. Mengutip pernyataan Thomas (2000), proyek seharusnya menggunakan 5 kriteria: (a) Pembelajaran projek merupakan pusat dari kurikulum, (b) Pembelajaran projek fokus pada pertanyaan atau masalah yang mengarahkan peserta didik menyelesaikan masalah, menemukan konsep dan prinsip, (c) Pembelajaran projek melibatkan peserta didik di dalam penyelidikan yang konstruktif, membangun
19
pemahaman sendiri, (d) pembelajaran projerk berpusat pada siswa (student driven), (e) pembelajaran projek haruslah realistik, akrab dengan dunia nyata bukan “school like”. Pembelajaran K-13 menempatkan guru sebagai fasilitator yang berperan memberi kemudahan, bukan satu-satunya sumber belajar, dilaksanakan terintegrasi konten dan sikap
Idealisme implementasi K-13 seperti di atas, ternyata masih bertolak belakangf dengan realita atau kenyataan di lapangan (Tabel 2):
Tabel 2 Implementasi K-13 Antara Harapan & Kenyataan
No. Harapan Kenyataan (Realitas & Regulasi)
1. Kur 2013 mengatur perimbangan softskills dan hardskills, mengakomodasi tuntutan Lapangan kerja agar lulusan program pendidikan memiliki atau dibekali softskills (80%) dan hardskill (20%)
Pembelajaran masih berlangsung 90% Hardskill dan hanya 10% softskill
2. Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan dipandu oleh Kompetensi yang ingin dicapai-(Hakikat Kur 2013 sebagai KBK)
Pembelajaran masih berlangsung dipandu oleh tes (Ujian)-- ---Guru “jarang melihat Kurikulum”
3. Kur 2013: Pendidikan menyiapkan siswa menjadi manusia yang utuh, kompetitif, dan berhasil hidup di masanya
Pengajaran menyiapkan siswa untuk berhasil dalam kompetisi menghafal jangka pendek dan lulus ujian 4. Keberhasilan seseorang diukur berdasarkan BUKTI.
Bukti dikumpulkan menggunakan instrumen yang adekuasi dengan indikator yang akan diukur
Diperoleh bukti bahwa belum sepenuhnya seperti diinginkan---butir-butir instrumen “belum” sepenuhnya dikembangkan dari indikator kompetensi---tagihan pada UN adalah “menjelaskan, tetapi Instrumennya Pilihan Ganda
5. Target kurikulum adalah ketercapaian kompetensi Target kurikulum adalah menamatkan buku (tuntas materi dan tertib administrasi)
6. Pembelajaran dilakukan dengan menarik melalui olah hati, olah otak, olahraga, dan olah rasa
Drill mekanistik, latihan soal 7. Pembelajaran adalah proses pemberian pengalaman yang
relevan, cara terbaik untuk mencapai kompetensi, intensitas keterlibatan siswa tinggi---menghasilkan tingkat retensi dan nilai transfer tinggi
Proses termudah yang dapat dilakukan sesuai sikon
8. Scientific Approch adalah cara terbaik untuk belajar sains. 5M bukanlah tahapan pembelajaran, melainkan keterampilan proses berpikir yang harus dilatihkan
Belum sepenuhnya dapat dilakukan, bahkan tidak dilakukan Ada bukti keterampilan proses diajarkan sebagai konsep.
Beberapa kalangan memiliki persepsi bahwa 5M adalah tahapan pembelajaran
9. Sikap tidak bisa diajarkan tetapi ditularkan lewat model dan contoh diikuti pembiasaan: mulai dari KNOWING—FEELING---ACTING oleh semua Mapel
Sikap diajarkan sebagai konsep, tidak tersedia contoh yang dapat ditiru. Diajarkan secara tidak langsung sebagai efek nurturans, tetapi tidak ditagih pada asesmen
10. Pembelajaran menurut Kur 2013 dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Sebagai keterampilan yang dapat ditiru tidak tersedia contoh
11. Semua Kompetensi (Pengetahuan, Keterampilan, Sikap) yang akan dicapai harus dirancang cara mencapainya, ditentukan indikator ketercapaian, dikembangkan asesmen untuk mengases ketercapaiannya
KI-1 dan KI-2 Pembelajaran langsung pada PKn dan Agama, pada Mapel lain melalui efek nurturans
12. Kur 2013: Pembelajaran yang berkenaan dengan KD prosedural, guru memfasilitasi agar peserta didik dapat
melakukan pengamatan terhadap
pemodelan/demonstrasi oleh guru atau ahli, peserta didik menirukan, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan pemberian umpan balik, dan latihan lanjutan kepada peserta didik.
“Belum sepenuhnya dilakukan” banyak pengetahuan prosedural yang guru sendiri belum tahu caranya
13 Semua instrumen asesmen harus mengacu ke indikator KI-KD yang akan diukur dan instrumen harus adekuasi dengan kata kerja pada indikator KI-KD
Indikator KI-KD tidak semua dituliskan atau dijabarkan dari KI-KD.
14 Instrumen asesmen untuk sikap, pengetahuan, dan keterampilan dipandu oleh kata kerja di dalam indikator
Diperoleh banyak instrumen sikap di dalam RPP tidak “in- line” dengan sikap yang akan dicapai di dalam RPP
Di dalam K-13 secara eksplisit dicantumkan tiga ranah: sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai
“tagihan” yang harus diwujudkan dalam hasil belajar. Selama ini sikap baru pada tataran “wacana”, dicapai sebagai nurturans effect., tidak ditagih di dalam dokumen kurikulum. Akibat dari keadaan tersebut, sikap seringkali terabaikan. Hasil penelitian yang dirilis Dikti, menyatakan bahwa pembelajaran di sekolah diarahkan 90% untuk mencapai hardskills dan hanya 10% softskills, sementara lapangan kerja menuntut sebaliknya, 80%
softskills dan 20% hardskills. Pengalaman yang diberikan tidak selaras dengan yang diperlukan.
2. Implementasi Penilaian
K-13 adalah kurikulum berbasis kompetensi, oleh karena itu keberhasilan pembelajaran ditentukan berdasarkan ketercapaian kompetensi. Pada KBK penilaian haruslah mengukur apa yang seharusnya diukur,
sesuai dengan tagihan yang dituntut di dalam rumusan tujuan (indikator). Oleh karena jenis dan macam tuntutan beragam, penilaian pada K-13 menggunakan penilaian otentik dengan multi strategi di samping test paper and pencil. Penerapan penilaian diarahkan untuk menilai kesiapan peserta didik, proses, dan hasil belajar secara utuh.
Informasi yang dikumpulkan tentang ketiga aspek tersebut diolah untuk dijadikan dasar pertimbangan membuat keputusan tentang kapasitas, gaya, dan peroleh belajar peserta didik.
Oleh karena penilaian yang diterapkan bersifat otentik, proses penilaian dilakukan pada berbagai kesempatan: sebelum pembelajaran, selama pembelajaran, sesudah pembelajaran dan beberapa waktu setelah pembelajaran. Penilaian proses dilakukan dengan menggunakan instrumen seperti lembar pengamatan, angket, rekaman, catatan anekdot, refleksi. Penilaian hasil pembelajaran dapat dilakukan selama proses maupun setelah proses pembelajaran, dengan menggunakan: tes kinerja, tes tulis, tes lesan.
Hasil penilaian digunakan untuk membuat keputusan tentang keberhasilan peserta didik, kebijakan remedial, pengayaan, pelayanan konseling, atau keputusan lain sesuai hasil yang diperoleh.
Beberapa penyimpangan di dalam implementasi penilaian antara lain: (a) strategi asesmen yang digunakan tidak adekuasi dengan “tagihan” yang terdapat di dalam rumusan tujuan; (b) pengukuran hasil belajar yang seharusnya menggunakan tes seringkali menggunakan format nontes—sebagai contoh seringkali ada pertanyaan guru sebagai berikut: Apakah yang kalian ketahui tentang …”. Redaksi pertanyaan ini mengacu kenontes, sehingga seharusnya semua jawaban peserta didik benar, tetapi di dalam praktiknya guru menyalah jawaban siswa kalau ternyata tidak sesuai dengan “keinginan” guru.; (c) penilaian dilakukan guru menggunakan LKS sebagai instrumen. Seharusnya tidak boleh, karena LKS adalah bimbingan belajar, semua peserta didik harus menjawab benar pada saat akhir kegiatan menggunakan LKS, peserta didik yang tidak mampu, harus difasilitasi
“meniru” temannya yang telah mengerjakan dengan benar; (d) penilaian sikap hanya dengan sekali pengamatan, langsung diberi skor 4, 3, 2, atau 1. Seharusnya skor merupakan rekapitulasi dari serangkaian pengamatan panjang terhadap kemunculan indikator sikap. Skor 4 seharusnya diberikan kepada peserta didik yang selalu memunculkan indikaotr sikap, 3 untuk peserta didik yang sering, 2 untuk peserta didik yang jarang, dan 1 untuk peserta didik yang tidak pernah memunculkan indikator sikap yang sedang diamati. (e) Soal-soal yang dilampirkan di dalam RPP seringkali tidak gayut dengan tujuan/indikator; (f) indikator atau tujuan seringkali tidak mewakili KD., artinya ketika semua tujuan/indikator tercapai, KD belum tercapai. (g) Prinsip penilaian transparansi sering dilanggar, kisi-kisi ujian tidak diinformasikan kepada siswa. (h) ketika melakukan tes kinerja guru tidak membuat tugas kinerja, lembar pengamatan/lembar penilaian produk dan rubrik; (i) Prinsip bahwa penilaian bersifat mendidik, misalnya dengan mengurutkan butir soal dari yang paling udah ke yang paling sulit sering diabaikan;
(j) balikan yang diberikan seringkali mengabaikan prinsip balikan, yaitu segera, spesifik, dan memberi jalan keluar; (k) belum semua guru mengembalikan pekerjaan/tugas/jawaban tes peserta didik.
C. Faktor penentu Keberhasilan Implementasi
Keberhasilan implementasi kurikulum tidak hanya terletak peraturan perundangan serta kebijakan pemerintah, tetapi juga pada pendidik: bagaimana interpretasi, pengetahuan, dan pemahaman mereka terhadap rancangan kurikulum yang diberlakukan dan kemampuan mereka untuk menerapkan praktik-praktik pedagogik mereka. Berikut ini dijabarkan beberapa aspek dominan yang memengaruhi implementasi, bahkan berpotensi menjadi penghambat.
1. Proses sosialisasi. Keberhasilan implementasi K-13 sangat dipengaruhi oleh keberhasilan menyosialisasikan pesan K-13 kepada pelaku (guru) sangat penting. Keberhasilan sosialisasi ditentukan oleh kualitas dan keseragaman pemahaman yang dimiliki oleh instruktur atau fasilitator sosialisasi. Seringkali pemahaman di antara “mereka” tidak sama, sehingga pesan yang diterima oleh guru beragam. Keberagaman pemahaman itu boleh jadi karena strategi pelatihan yang mereka terima tidak kondusif, misalnya jumlah peserta yang terlalu banyak, metode yang digunakan ceramah, contoh tidak ada, visualisasi dan sebagainya tidak mendukung, bahasa yang digunakan tidak komunikatif dan sejumlah sebab lain.
2. Strategi Pelatihan Guru. Implementasi K-13 sebenarnya merupakan keterampilan. Melatihkan keterampilan paling baik adalah lewat modeling. Model yang tahu betul bagaimana K-13 diimplementasikan, memodelkan di depan sekelompok guru. (kelompok jangan terlalu besar), guru mengamati, kemudian kepada guru ditunjukkan RPP yang diinginkan K-13 yang relevan dengan penampilan saat modeling (Contoh yang benar),. Selanjutnya guru dibimbing model, melakukan workshop pengembangan RPP yang kemudian disimulasikan di bawah kontrol model. Strategi pelatihan ini didlakukan berjenjang dengan pengawasan yang ketat. Tidak massal dan asal cepat selesai.
3. Guru: tidak dapat dipungkuri bahwa guru berperan sangat penting dan menentukan keberhasilan implementasi K-13. Hasil penelitian John Hattie (2004) yang dikutip Supranata (2016) menyatakan bahwa guru berkontribusi 30%) dalam memengaruhi hasil belajar peserta didik. Pada kesempatan lain, penelitian yang juga dilakukan oleh John Hattie (2008) dari New Zealand dan beberapa peneliti lain di Amerika Serikat, dan Indonesia, menemukan bahwa faktor guru sangat dominan memengaruhi hasil belajar peserta didik (Tabel 3)
21
Tabel 3 Hasil Penelitian Kontribusi Terhadap Keberhasilan peserta didik
Peneliti Negara Kontribusi guru terhadap hasil
belajar peserta didik
John Hattie (2008) New Zealand 58,0%
Mourshed, Chijioke & Barber
(2010) Amerika Serikat 53,0%
Pujiastuti, Raharjo dan Widodo
(2012) Indonesia 54,5%
Beberapa aspek dari guru yang memengaruhi implementasi K-13 antara lain adalah: persepsi, pemahaman, penguasaan guru terhadap aspek-aspek implementasi, keterampilan guru di dalam mengimplementasi pembelajaran yang dituntut oleh K-13, keterbukaan guru untuk menerima perubahan, kemauan guru untuk melakukan setiap perubahan. Semua dapat berfungsi mendukung implementasi atau bahkan sebaliknya hambatan di dalam implementasi. Contoh sederhana, penguasaan guru yang tidak cukup terhadap pendekatan pembelajaran yang dituntut, akan memengaruhi kualitas implementasi dan pada gilirannya akan memengaruhi peserta didik dan juga motivasi guru untuk melaksanakan implementasi.
4. Dukungan Alat dan Fasilitas Belajar
Dalam banyak hal keterbatasan sarana, khususnya media, alat-alat belajar dapat diatasi oleh guru yang kreatif. Tetapi ketersediaan peralatan yang terlalu minim seringkali menurunkan minat dan keinginan guru untuk melakukan perubahan atau mencoba sesuatu yang baru. Keberadaan buku-buku yang diperlukan juga mendukung implementasi K-13.
5. Komitmen
Komitmen adalah kesediaan untuk berdedikasi dalam menyukseskan implementasi K-13. Komitmen semua pihak sangat diperlukan di dalam keberhasilan implementasi. Komitmen tidak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa dilatih agar menjadi komit. Komitmen muncul sebagai bentuk kesadaran diri dan tanggungjawab.
Komitmen muncul bila orang yang bersangkutan merasa terpanggil untuk melakukan dia merasa bahwa
“kalau tidak dia siapa lagi yang akan melakukannya” Komitmen politik (pemerintah) ditunjukkan dari adanya regulasi yang memungkin implementasi dilakukan, penyediaan sarana belajar; Komitmen guru ditunjukkan dari kemauan guru untuk meningkatkan kemampuan dirinya di dalam melakukan implementasi, kemauan dia belajar dan mau mengubah dirinya ke arah lebih baik.
6. Ketersediaan Model Terintegrasi Penumbuhan Sikap, melatihkan keterampilan, dan Mengajarkan Pengetahuan
Diperoleh bukti bahwa keengganan guru menerapkan K-13, karena tidak cukup banyak contoh bagaimana melakukan pembelajaran yang mengintegrasi ketiga hasil belajar di atas di dalam suatu aktivitas pembelajaran. Mengajar adalah keterampilan yang dipelajari lewat contoh dan pengamatan perilaku orang lain, sementara contoh yang diperlukan tidak cukup banyak tersedia.
Dengan asumsi bahwa (a) 75% orang belajar melalui pengamatan, (b) sikap tidak bisa diajarkan, tetapi ditularkan lewat contoh dan modeling. Berikut ini ditawarkan alternatif pola integrasi yang boleh jadi dapat dijadikan contoh.
Ide ini dimulai dari pembelajaran topik sains yang dilakukan terlebih dahulu dimulai dari masalah, kemudian masalah diselesaikan menggunakan metode ilmiah. Hasil penyelesaian masalah ini berupa jawaban terhadap masalah (konsep, prinsip, atau teori). Fenomena yang muncul saat belajar konsep dan prinsip menggunakan metode ilmiah terdapat fenomena IPA. Fenomena ini selanjutnya dijadikan model atau analogi sikap, perilaku baik. Pembelajaran dilakukan melalui olah hati untuk memengaruhi “perasaan” siswa sehingga mereka menginternalisasi analogi yang mereka amati sehingga mengubah pengetahuan (knowing) menjadi menyentuh perasaan (feeling), untuk selanjutnya diharapkan akan muncul perbuatan (acting) (Gambar 1).
Kerangka berpikir model pemaknaan:
Gambar 1 Alur Berpikir Model Pemaknaan (Ibrahim, 2014)
D. Penutup
Uraian di atas mencoba melakukan analisis mengenai rancangan sekaligus praktik implementasi K-13 dan beberapa saran agar implementasi dapat dilakukan secara baik, semoga.
Surabaya, 25 September 2016 Fenomena IPA
Informasi, fakta, konsep, teori (Penjelasan),
deskripsi, tentang fenomena & munculnya
fenomena baru
Dilakukan melalui sintaks, 1, 2, 3, 4, dan 5 (Proses penyelesaian masalah)
Berbagai perilaku positip, karakter, akhlak baik
Proses pemaknaan/
Internalisasi (Sintaks 6 dan 7) Capaian hasil
belajar
pengetahuan dan keterampilan
Capaian hasil belajar Sikap dan karakter
Domain Analog (Model)
Domain Target
Evaluasi & Refleksi
23
PERAN KURIKULUM NASIONAL DALAM MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS
Sri Rahayu Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Negeri Malang [email protected] Pentingnya Literasi Sains
Pentingnya literasi sains ditinjau dari perubahan revolusioner abad ke-21 dibidang genetika, nanosains, neurosains dan teknologi. Selain itu juga ditinjau dari permasalahan baru yang berkaitan dengan etika, moral dan isu-isu global seperti pemanasan global, pencemaran, dan krisis energi yang dapat menjadi ancaman. Literasi sains semakin diperlukan agar dapat hidup di tengah-tengah masyarakat modern. Trend dalam kebijakan pendidikan sains menekankan pentingnya literasi sains sebagai transferable outcome. Internationally, tujuan utamanya adalah agar siswa memiliki kemampuan dalam memahami dan berpartisipasi dalam perdebatan sosial mengenai pertanyaan-pertanyaan yang terkait sains dan teknologi. Fokus literasi sains adalah membangun pengetahuan siswa untuk menggunakan konsep sains secara bermakna, berfikir kritis dan membuat keputusan yang seimbang dan memadai terhadap permasalahan-permasalahan yang relevan bagi kehidupan. Literasi sains penting bagi semua siswa. Hal ini disebabkan karena sebagian besar siswa tidak akan menjadi ilmuwan yang professional.
Kharakteristik Orang Yang Berliterasi Sains
Mengetahui bahwa sains dalam konteks sosial memiliki dimensi politik, yuridis, etika dan kadang- kadang interpretasi moral.
Menggunakan pengetahuan ilmiah yang cocok dalam mengambil keputusan tentang kehidupan dan masyarakat, membuat justufikasi, menyelesaikan masalah dan mengambil tindakan.
Membedakan ilmu pengetahuan/sains dan sains semu (pseudo science) seperti astrologi, perdukunan, klenik, dan takhayul.
Mengenali sifat kumulatif ilmu sebagai "perbatasan yang tak berujung (endless frontier).”
Menyadari ilmuwan peneliti sebagai produsen ilmu pengetahuan danmasyarakat sebagai pengguna ilmu pengetahuan.
Menyadari bahwa konsep, hukum, dan teori-teori sains tidak bersifat kaku tapi pada dasarnya mereka tumbuh dan berkembang; apa yang diajarkan hari ini mungkin tidak memiliki arti yang sama besok.
Mengetahui bahwa masalah sains dalam konteks pribadi dan sosial mungkin memiliki lebih dari satu jawaban"benar", terutama masalah yang melibatkan etika, hukum, dan tindakan politik.
Memandang sains-masyarakat dan masalah personal-masyarakat sebagai hal yang membutuhkan sintesis pengetahuan dari berbagai bidang termasuk ilmu alam dan sosial.
Menyadari bahwa ada banyak hal yang belum diketahui dalam bidang sains dan penemuan yang paling signifikan mungkin akan diumumkan besok.
Menyadari bahwa masalah sains-masyarakat pada umumnya dapat dipecahkan secara kolaboratif bukan melalui tindakan sendiri saja.
Menyadari bahwa pemecahan segera terhadap masalah sains-sosial dapat menyebabkan munculnya masalah-masalah baru yang terkait di kemudian hari.
Cara Menilai Literasi Sains Siswa
Asesmen/penilaian merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar, terutama dalam menilai literasi sains. Menilai literasi sains selama masa sekolah hanya menunjukkan apakah benih-benih literasi ditemukan dalam pikiran siswa. Sedangkan literasi sains itu sendiri diperoleh sepanjang hayat. Tujuan penilaian literasi sains adalah untuk mengukur apakah pendidikan sains telah efektif dalam membangun sikap, nilai, keterampilan dasar, pengetahuan dan pemahaman sains.
Dua program survei paling komprehensif yang bertujuan untuk menilai literasi sains adalah:
The Program for International Student Assessment (PISA) of the Organization for Economic Co- operation and Development (OECD, PISA, 2005): Fokus pada ‘practical knowledge in action’
seperti mengenal pertanyaan ilmiah, mengidentifikasi bukti-bukti yang relevan, mengevaluasi kesimpulan secara kritis, mengkomunikasikan ide-ide ilmiah.
Trends in Mathematics and Science Studies (TIMSS) (NCES, 2006): Fokus pada mengingat kembali pengetahuan yang sudah diajarkan.
PISA Model of Scientific Literacy meliputi beberapa aspek, antara lain:
1. Aspek proses sains, yang meliputi hakekat sains (nature of science/NOS), prosedur sains, serta kekuatan dan keterbatasan sains serta proses kognitif misalnya, penalaran induktif/deduktif, berfikir kritis,dsb.
2. Aspek konten/ pengetahuan sains, yang meliputi Kimia, Fisika, Biologi, dsb.
3. Aspek konteks, yang meliputi isu-isu kontemporer 4. Aspek Sikap terhadap Sains
Levels of Scientific Literacy (Bybee, 1997)
1. Scientific illiteracy: Siswa yang tidak dapat mengaitkan atau merespon pertanyaan-pertanyaan sains.
Mereka tidak memiliki kosakata, konsep, konteks, atau kemampuan kognitif untuk mengidentifikasi pertanyaan yang ilmiah.
2. Nominal scientific literacy : Siswa mengenal kosakata atau isu-isu terkait sains tetapi tidak dapat menjelaskan secara bermakna. Pada tingkat ini, siswa hanya bisa menghafal nama konsep dan istilah tapi tidak bisa mendefinisikannya secara bermakna. Mereka memiliki miskonsepsi (Uno & Bybee, 1994).
3. Functional scientific literacy: Siswa dapat mendefinisikan konsep dengan benar melalui hafalan, namun pemahaman mereka tentang konsep tersebut masih terbatas. Jika dikaitkan dengan taxonomi Bloom, level ini tergolong pengetahuan (C1) (Koballa, Kemp, & Evans, 1997).
4. Conceptual scientific literacy: Siswa memahami konsep-konsep ilmiah secara konseptual dan hubungan antar konsep serta kebiasaan berfikir ilmiah, kemampuan prosedural dan pemahaman tentang proses inkuiri ilmiah. Menurut Shwartz, and Treagust (2013) conceptual scientific literacy memerlukan kegiatan mengintegrasikan dan mengatur informasi bukan hanya menghafal pengetahuan.
5. Multi-dimensional scientific literacy: Siswa memerlukan pemahaman konsep-konsep sains dan teknologi dari sudut pandang filosofis dan historis dan menghubungkannya dengan masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Mereka membuat hubungan dalam disiplin ilmu itu sendiri dan hubungan antara bidang ilmu pengetauan/sains, teknologi dan isu-isu menantang yang lebih luas yang ada dalam masyarakat. Koballa et al. (1997), menyebutnya sebagai level “true” scientific literacy.
Kemampuan Literasi Sains Siswa di Indonesia (usia 15 tahun)
The OECD definition in the 1999 Programme for International Student Assessment (PISA):
“scientific literacy is the capacity to use scientific knowledge, to identify questions and to draw evidence-based conclusions in order to understand and make decisions about the natural world and the changes made to it through human activity”
Literasi sains akan berkaitan dengan berfikir krtis yang merupakan bagian dari Higher Order Thinking Skills (HOTS)
Nature of Science (NOS
25
Berikut ini adalah hasil studi kemampuan literasi sains siswa di indonesia (usia 15 tahun),
Tahun Ranking Jumlah Negara Yang Berpartisipasi
2000 39 41
2003 38 40
2006 50 57
2009 57 63
2012 64 65
Sumber: OECD Family Database, 2015).
Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil PISA: yang kita ajarkan di sekolah berbeda dengan tuntutan zaman. Kurikulum sains yang ada saat ini dikritik oleh banyak pihak kurang peka dan kurang tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat baik lokal, nasional maupun internasional.
Kurikulum Nasional
The term curriculum refers to the lessons and academic content taught in a school or curriculum is often defined as the courses offered by a school, in a specific course or program, but it is rarely used in such a general sense in schools.
Depending on how broadly educators define or employ the term, curriculum typically refers to the knowledge and skills students a