45
ANALISIS TINGKAT KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMP PADA
berjumlah sepuluh kelas diambil dua kelas sebagai sampel yakni kelas VII-B sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-E sebagai kelas kontrol.
Instrumen penelitian berupa silabus, RPP beserta LKS, sedangkan instrumen pengukuran berupa soal tes kemampuan berpikir kritis dilakukan dengan pemberian posttest. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes kemampuan berpikir kritis yang terdiri atas 11 soal uraian. Teknik analisis data dilakukan dengan uji t dan dilanjutkan dengan perbandingan nilai rata-rata posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Uji prasyarat analisis data dilakukan sebelum uji hipotesis. Uji prasyarat yang dilakukan meliputi uji normalitas dengan teknik Lilifors dan uji homogenitas dengan menggunakan teknik Fisher.
Setelah memenuhi uji prasyarat maka dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji t.
HASIL PENELITIAN
Kegiatan pada kelas eksperimen dibelajarkan menggunakan pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration pada tingkatan inkuiri menekankan pada kemampuan proses intelektual dan kemampuan proses sains. Penelitian dilaksanakan pada kelas VII SMPN 1 Pogalan Kabupaten Trenggalek kelas eksperimen yaitu kelas VII-B. Pada kelas VII-B berjumlah 32 siswa, siswa laki-laki 16 siswa dan perempuan 16 siswa.
Pada tahap observation, guru menyajikan sebuah demonstrasi tanpa disertai penjelasan, siswa diminta untuk mengamati hasil demonstrasi. Pada tahap manipulation guru melakukan demonstasi dengan hasil yang sudah jelas. Pada tahap generalization, guru meminta siswa menjelaskan fenomena yang dibahas dengan penjelasan yang logis. Pada tahap verification, guru meminta siswa untuk membandingkan hasil demonstrasi dengan prediksi awal siswa dan prediksi akhir yang dilakukan secara berkelompok, guru mengidentifikasi miskonsepsi yang berkaitan dengan materi. Tahap application, guru meminta siswa menerapkan konsep yang sudah disudah dipahami oleh siswa.
Setelah dilakukan uji prasyarat selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Berdasarkan analisis uji t thitung sebesar 3.288 > nilai ttabel sebesar 1.66980.
Kemampuan berpikir kritis siswa smp kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, hal ini ditunjukkan dari hasil rata-rata posttest kedua kelas tersebut yaitu 85.37 > 80.68.
PEMBAHASAN
Kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration dilatihkan kepada siswa secara sistematis. Hal ini ditunjukkan dari tahap observation siswa diminta mengamati sebuh video atau demonstrasi, selanjutnya siswa diminta untuk mendeskripsikan apersepsi yang dilakukan secara lisan maupun tulisan. Pada tahap manipulation siswa
diminta untuk merumuskan hipotesis berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh siswa. Tahap ketiga yaitu generalization, membuat kesimpulan dari demonstrasi yang mereka amati dan menuliskannya dalam lembar kerja siswa. Tahap ke empat yaitu verification, siswa membandingkan hasil diskusi, dan prediksi awal siswa yang telah dibuat dengan hasil demonstrasi. Tahap terakhir yaitu application siswa menyimpulkan pembelajaran dan mengerjakan soal penerapan maupun memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Hasil yang didapat sesuai dengan pernyataan Wenning (2011a) yang menyatakan bahwa tahapan pembelajaran yang sistematis akan membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Perbedaan kemampuan berpikir kritis tersebut menunjukkan bahwa adanya pengaruh model pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada matapelajaran IPA kelas VII. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutama, dkk, (2014) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung.
Penelitian lain oleh Prabowo dan Sunarti (2015) yang menyatakan bahwa rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa di kelas eksperimen memiliki hasil yang lebih baik daripada kelas kontrol karena thitung > ttabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada mata pelajaran IPA kelas VII. Dari analisis data dapat diketahui hasil uji hipotesis menggunakan uji- t pada taraf signifikansi 0,05 menunjukkan hasil kemampuan berpikir kritis siswa sebesar thitung = 3,288. Nilai thitung tersebut lebih besar daripada nilai ttabel, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima dan dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan model pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration lebih tinggi daripada siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran level of Inquiry-discovery learning.
Perbedaan kemampuan berpikir kritis tidak terlepas dari perbedaan karakteristik model pembelajaran antara level of inquiry-interactive demonstration dan level of inquiry-discovery learning. Kedua model memiliki langkah pembelajaran yang sama yaitu observation, manipulation, generalization, verification, dan application. Tetapi proses pembelajaran didalamnya tidak sama, perbedaannya terletak pada model pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration siswa lebih berperan aktif.
Sedangkan pada model pembelajaran level of
47 Inquiry-discovery learning siswa masih banyak mendapatkan bimbingan dari guru contohnya pada saat tahap observation. Pembelajaran level of inquiry-interactive demonstration siswa diminta untuk mendeskripsikan apersepsi sendiri sedangkan pada pembelajaran level of inquiry-discovery learning siswa dibimbing oleh guru untuk mendeskripsikan apersepsi.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA siswa kelas VII SMPN 1 Pogalan yang belajar menggunakan level of inquiry- interactive demonstration dengan pembelajaran level of-inquiry discovery learning, kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMPN 1 Pogalan yang belajar dengan model pembelajaran level of inquiry- interactive demonstration lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran level of inquiry-discovery learning.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, beberapa saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
1. Level of inquiry-interactive demonstration efektif diterapkan sebagai alternatif pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada mata pelajaran IPA materi suhu dan kalor maupun materi lainnya yang karakteristik materinya sesuai dengan model pembelajaran Level of inquiry-interactive demonstration
2. Kelemahan dalam penelitian ini minimnya keterampilan siswa dalam menggunakan alat percobaan. Pada penelitian selanjutnya dapat diberikan pendampingan keterampilan dalam menggunakan alat percobaan.
DAFTARRUJUKAN
Hasrudin. 2009. Memaksimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Pendekatan kontekstual. Jurnal Tabularasa PPS
Unimed, (online),6(1):1-
13,(http://unimed.ac.id), diakses pada tanggal 09 Desember 2015
Johnson, E. 2007. Contextual Teaching & Learning.
Bandung: Mizan Learning Center (MLC) Kemdikbud. 2013a. Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah/Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Kemdikbud
Prabowo, L.S.B. dan Sunarti T. 2015. Penerapan Model Inkuiri pada Materi Alat Optik untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa kelas VIII SMP Cendekia Sidoarjo.
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPE), (online) 04(1):1-6, (http://jipe.com), diakses 09 desember 2015
Supriadie dan Darmawan. 2012. Komunikasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sutama I N., Aryana, I B. P., dan Swasta I B. J. 2014.
Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Kinerja Ilmiah pada Pelajaran Biologi Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Anlapuna. e-Jurnal Program Pasca sarjana Universitas Pendidikan Ganesa Program Studi IPA, (online) 4(1):1-14, (http://portalgaruda.org), diakses 28 April 2016
Wenning, C. J. 2011a. Experimental Inquiry in Introductory Physics Course. Journal Physics Teacher Education Summer 20111,
(online), 6(2):2-8,
(http://www.phy.ilstu.edu), diakses 27 Agustus 2015