PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS VIII D SMP NEGERI 2
151 dengan Role Playing. PTK ini dilakukan selama dua siklus, pada setiap siklusnya terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang dilaksanakan selama dua siklus pembelajaran.
Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII D SMP Negeri 2 Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Jumlah siswa 25 orang dengan rincian 19 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Kelas VIII D terdiri dari siswa yang heterogen. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan tes.
Aspek-aspek yang diamati pada kegiatan diskusi kelompok adalah perhatian pada materi diskusi, keaktifan mengikuti kegiatan diskusi, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dan menghargai saran dan pendapat sesama teman peserta diskusi. Bermain peran dilakukan untuk mengukur penguasaan siswa pada bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Dalam penelitian ini siswa berperan sebagai benda mati dalam materi pembelajaran Sistem Peredaran Darah Manusia dan Sistem Pengangkutan Air dan Zat Mineral Pada Tumbuhan.
Data peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar dianalisis kemudian ditentukan kualitasnya. Data proses pembelajaran didasarkan atas skor yang diperoleh dikalikan 100%. Data hasil belajar dianalisis dengan menghitung persentase ketuntasan kelas. Siswa dinyatakan tuntas belajar bila mendapat skor ≥ 70%, sedangkan ketuntasan kelas tercapai bila minimal 75% siswa tuntas belajar.
Dalam penelitian ini menggabungkan model STAD dengan Role Playing dengan langkah- langkah pembelajaran sebagai berikut:
1) Guru membentuk kelompok dengan jumlah anggota 7 siswa/siswi.
2) Guru menyajikan materi pelajaran yang difokuskan pada konsep-konsep penting.
3) Guru memberikan tugas pada masing-masing kelompok untuk membuat skenario role playing dari materi yang sudah mereka peroleh.
4) Guru mengacak kelompok yang akan tampil untuk memperagakan skenario.
5) Guru memberi penghargaan (rewards) kepada kelompok yang memiliki nilai/poin tertinggi.
6) Guru memberikan kesimpulan secara umum.
7) Evaluasi.
8) Penutup.
HASILDANPEMBAHASAN A. Deskripsi PTK
Dari perencanaan yang telah dibuat, pembelajaran sudah dilaksanakan menggunakan model STAD dengan kombinasi Role Playing.
Dalam pelaksanaannya sudah sesuai dengan perencanaan untuk materi Sistem Peredaran Darah pada Manusia. Pada kegiatan diskusi kelompok belum semua siswa dapat berdiskusi dengan baik.
Hal ini mungkin karena jumlah anggota dalam kelompok terlalu banyak. Dari 3 kelompok besar siswa diperoleh data bahwa terdapat 2 kelompok yang menunjukkan antusiasme dalam pembelajaran, yaitu kelompok I dan kelompok 2. Secara umum dari 2 kelompok tersebut sudah menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan pada LKS dengan bimbingan guru, selain itu juga aktif dalam berdiskusi. Adapun kelompok 3 sebagian besar belum menunjukkan antusiasme dalam pembelajaran. Hal ini dapat terlihat pada saat diskusi kelompok masih ada siswa yang kurang fokus dengan materi.
Melalui tahapan observasi dan refleksi, maka guru sebagai peneliti dan mendapat masukan dari observer yaitu:
a) Menunjuk langsung kepada siswa yang dianggap cakap dan mampu mengorganisir anggotanya bukan atas pilihan siswa sendiri. Pilihan siswa terkadang karena alasan suka atau tidak suka terhadap siswa tertentu dan bukan karena kemampuan manajerialnya.
b) Pembagian kelompok dengan anggota dalam jumlah besar bisa juga menjadi penyebab kurang optimalnya diskusi kelompok.
Selanjutnya masukan tersebut akan diterapkan sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran pada siklus berikutnya.
B. Hasil Belajar IPA
Nilai hasil belajar IPA berupa aktifitas diskusi kelompok, bermain peran, nilai rata-rata pada tes tertulis, ketuntasan belajar dan persentase peningkatan seluruh aktifitas pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Nilai Hasil Belajar pada Siklus I dan Siklus II
Dari Tabel 1 dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
1. Aktifitas diskusi kelompok pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 9,7% dari siklus I
2. Kegiatan bermain peran pada siklus II mengalami peningkatan 4,6 % dari siklus I 3. Rata-rata kelas pada siklus II mengalami
peningkatan sebesar 17,3 % dari siklus I 4. Persentase jumlah siswa yang tuntas belajar pada
siklus II mengalami peningkatan sebesar 17,6%
dari siklus I.
Dari analisis data di atas dapat diketahui bahwa pada diskusi kelompok diperoleh nilai rata-
No Aspek yang diamati
Nilai Pening katan Siklus (%)
I
Siklus II
1 Diskusi Kelompok 73 80,1 9,7
2 Bermain Peran 78,7 82,3 4,6
3
Tes tertulis a. Rata-rata kelas b. Jumlah siswa
yang tuntas belajar
74 17
86,8 20
17,3 17,6
rata pada siklus I sebesar 73 dan siklus II sebesar 80,1. Jika dikaitkan dengan indikator proses pembelajaran dapat dikatakan bahwa siswa mengajukan pertanyaan, menyampaikan ide/
gagasan, menjawab pertanyaan serta keaktifan siswa dalam diskusi pada siklus I termasuk kategori cukup dan mengalami peningkatan pada siklus II yang termasuk kategori baik. Ada peningkatan sebesar 9,7
% dari siklus I ke siklus II.
Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan bermain peran meliputi penguasaan materi dan ekspresi. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 78,7 dan mengalami peningkatan sebesar 4,6% yaitu 82,3. Dalam hal ini kegiatan bermain peran sudah baik dan mengalami peningkatan pada siklus II.
Nilai rata-rata kelas hasil tes tertulis pada siklus I sebesar 74 dan siklus II 86,8 terjadi peningkatan sebesar 17,3% sedangkan siswa yang dinyatakan tuntas belajar pada siklus I sejumlah 17 siswa dan siklus II sejumlah 20 siswa, terjadi peningkatan sebesar 17,6%. Ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif model STAD kombinasi dengan Role Playing yang dilakukan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar IPA siswa kelas VIII D SMP Negeri 2 Wonorejo.
Penerapan metode kooperatif model STAD kombinasi dengan Role Playing terbukti mampu membuat siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran serta bermain peran. Dengan keterlibatan secara kooperatif dalam pembelajaran, melalui diskusi kelompok dan melaporkan atau mempresentasikan dalam bentuk bermain peran maka dalam kelompok akan terjadi tanggung jawab bersama, masing- masing anggota kelompok memberi sumbangan pemikiran kepada kelompok, membuat keputusan bersama, melakukan dialog untuk memecahkan masalah dan mereka dapat melakukan refleksi atas keberhasilan kelompok (Lie, 2000). Dengan cara kooperatif, maka keberhasilan kelompok dapat ditingkatkan sebab permasalahan dan pemecahan masalah dipikirkan bersama. Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok atas maupun kelompok bawah yang bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas akademis mereka, kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah (Ibrohim, 2000). Dengan mengorganisasi siswa secara kooperatif maka proses belajar dan hasil belajar dapat ditingkatkan. Johnson
& Johnson dalam Ibrohim (2000) menyatakan bahwa siswa yang belajar melalui pembelajaran kooperatif akan memiliki pengalaman sains yang lebih baik. Belajar kooperatif yang menggunakan penghargaan kelompok dan akuntabilitas individu akan meningkatkan pencapaian belajar siswa.
Salah satu hasil belajar dengan teknik permainan ialah siswa akan lebih termotivasi untuk belajar, juga suasana di kelas tidak meresahkan, menakutkan, dan teknik permainan ini dapat
merangsang minat dan gairah siwa dalam proses pembelajaran. Motivasi merupakan salah satu sarana yang paling berguna pada pembelajaran dengan menggunakan teknik permainan. Rasa senang terlibat dalam proses pembelajaran dengan permainan dapat mengakibatkan para siswa akan mampu memahami apa yang akan dipelajari secara sempurna . Pembelajaran dengan teknik permainan akan melahirkan suatu persaingan yang positif antar siswa. Persaingan yang positif di dalam kelas kondusif membantu siswa-siswa untuk belajar menguasai konsep-konsep yang harus dipahami, mempraktekan keetrampilan interpersonal dan melakukan dengan tepat, sehingga diharapkan siswa dapat menikmati emosinya.
PENUTUP Kesimpulan
Dari hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD kombinasi dengan Role Playing dapat meningkatkan proses pembelajaran IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Wonorejo yaitu pada kegiatan diskusi kelompok dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 9,7%, sedangkan pada bermain peran mengalami peningkatan 4,6% dari siklus I ke siklus II.
2. Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD kombinasi dengan Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Wonorejo meningkat sebesar 17,3% dari siklus I ke siklus II.
Saran
Dari keseluruhan proses dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, saran yang perlu diper- timbangkan adalah diperlukan keterampilan guru untuk memetakan materi apa yang sesuai dengan model pembelajaran ini Guru perlu menerapkan metode pembelajaran kooperatif model STAD sebagai salah satu metode alternatif dalam kegiatan pembelajaran, atau dapat pula dengan meng- kombinasi dengan model pembelajaran yang lain.
DAFTAR RUJUKAN
Budiono, 2001. Model Pembelajaran Role Playing (online) diakses pada 30 November 2015 pukul 19.00
Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya.
Universitas Negeri Surabaya. University Press.
Lie, A. 2000. Cooperative Learning. Jakarta.
Grasindo.
Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang:
Universitas Negeri Malang.
153